Menanti angin datang
Hodge menelan ludah dengan gugup dan bertanya pelan, “Benarkah semenakutkan itu? Apakah Tuan Dunbar benar-benar tidak suka dipanggil dengan nama itu?”
“Tidak suka? Itu sudah melampaui sekadar benci. Jika ucapanmu tadi sampai terdengar orang yang salah, mungkin besok pagi kau akan ditemukan mengambang tak bernyawa di permukaan sungai pelabuhan.”
Morgan tampak ragu dan bergulat cukup lama dalam hati. Sebagai seorang pedagang, ia tahu ada hal-hal yang walaupun diketahui, sebaiknya tidak sembarangan diucapkan. Namun, mempertimbangkan jasa Hodge bagi kelompok dagangnya, ia akhirnya mendesah pelan dan memutuskan membagikan informasi yang ia tahu.
“Tadi aku seharusnya sudah bilang, Dunbar adalah anak ketiga Adipati Claire, dan nama itu… sebenarnya nama yang biasa digunakan untuk perempuan. Kau mengerti, kan? Itu sendiri sudah mengandung penghinaan.”
“Konon katanya, sejak kecil hubungan Dunbar dengan kedua kakaknya sangat buruk. Ia tumbuh kurus kering, seperti bambu yang tertiup angin saja bisa roboh. Anak-anak perempuan seusianya pun lebih tinggi dan besar darinya, jadi kedua kakaknya memberinya nama ejekan itu, menertawakan tubuhnya yang kecil dan lemah.”
“Sampai ia dewasa, amarah yang lama dipendam akhirnya meledak. Tak ada yang mengira, si bambu kecil itu ternyata tumbuh dalam lingkungan ejekan menjadi seseorang yang menakutkan. Suatu kali saat sang adipati sedang bepergian, ia menghasut pasukan penjaga keluarga untuk mengurung kedua kakaknya di istana, lalu memerintahkan anak buahnya menyeret teman-teman masa kecil yang pernah mengejeknya ke jalan dan menghajar mereka hingga terluka parah.”
“Andai hanya itu, ia paling-paling cuma dianggap bocah yang lama menahan dendam lalu membalas dengan gegabah. Yang benar-benar menakutkan adalah tindakannya setelah itu. Teman main anak adipati tentu saja anak-anak keluarga besar di Selatan. Ketika keluarga-keluarga itu hendak menuntut keadilan ke keluarga Claire, Dunbar dengan tangan besi menaklukkan dua keluarga terkuat dan memanfaatkan itu untuk menekan yang lain. Saat Adipati Claire kembali, ia terkejut melihat situasi Selatan sudah stabil dan keluarga-keluarga keras kepala itu bahkan menunjukkan rasa hormat, meski dua putranya di istana hampir saja mati kelaparan…”
“Sejak saat itu, semua orang tahu kalau putra ketiga Adipati Selatan bukan orang sembarangan, juga tahu betul pantangannya: nama itu.”
“Tapi tetap saja selalu ada orang bodoh yang otaknya cuma berisi otot tak percaya betapa mengerikannya Dunbar,” desis Morgan.
Hodge teringat percakapan para serdadu yang pernah ia dengar, “Apakah yang kau maksud itu Austin… eh, sang jenderal?”
Morgan mengangguk. “Austin adalah komandan kepercayaan Tuan Markis, memegang kendali atas tiga ribu pasukan tetap. Karena itulah, ketika baru datang dan berselisih dengan Dunbar, ia dengan sombong menggunakan nama itu untuk memanggilnya.”
“Ia pikir Dunbar tak berani menyentuhnya. Padahal ia salah besar!”
Saat berkata demikian, tubuh Morgan tampak bergetar, mengingat apa yang ia saksikan setahun lalu di Benteng Batu.
“Pernah suatu kali Austin berbuat masalah di istana, kabarnya membunuh seseorang. Korbannya orang biasa saja, dan biasanya dengan posisinya di mata Tuan Markis, bukan masalah besar. Tapi Dunbar memanfaatkan itu untuk menuntut balas, bahkan sampai diadukan ke Tuan Markis. Austin terlalu percaya diri, tidak sadar di balik Dunbar berdiri persahabatan keluarga adipati. Tuan Markis pun jelas memilih Dunbar. Kau tak akan percaya bagaimana Dunbar menghukum Austin… Ia memerintahkan orang merebus aspal untuk bahan bangunan di tengah kota, lalu Austin, sambil menjerit-jerit, dipotong-potong menjadi daging dan tulang, dilempar ke dalam kuali aspal. Aspal itu kemudian digunakan untuk menambal tembok luar istana. Aku ada di sana saat itu. Suara jeritan Austin masih terngiang di telingaku sampai sekarang…”
Tanpa sadar kening Morgan sudah dipenuhi keringat. Ia menyeka dengan tangannya, bergumam pelan.
“Pokoknya, lupakan saja nama itu untuk selamanya.”
…
“Benar kau tak ikut ke Jalan Serikat Dagang bersama kami?” tawar Morgan.
Hodge menggeleng pelan, menolak dengan sopan, “Tidak, kami akan mencari penginapan di sekitar sini. Begitu kapal menuju Pelabuhan Lawan Angin berangkat, kami akan pergi.”
“Baiklah.” Morgan tidak memaksa. Lagi pula, mereka pun tak akan lama tinggal di Benteng Batu. Rempah-rempah yang dibawa kelompok dagang kali ini tidak banyak dan pembeli mereka sudah tetap, jadi urusan akan lekas selesai. Perjalanan ke Seran adalah inti utama perdagangan mereka. Karena Hodge tak sejalan tujuan, menahan pun tak ada gunanya, justru bisa menimbulkan rasa tidak nyaman.
Ia menepuk bahu Hodge dan berkata dengan ramah, “Kelompok dagang kami kemungkinan berangkat lusa pagi. Jika selama waktu itu kau menemui masalah, datanglah ke Jalan Serikat Dagang, Serikat Dunro selalu menjadi sahabatmu.”
“Baik.” Hodge mengangguk.
“Semoga perjalanan kalian lancar.” Morgan melambaikan tangan pada mereka bertiga, lalu kembali ke rombongan yang perlahan bergerak pergi.
Malam mulai merambat. Dalam bayang-bayang gelap, Hodge bersama Daphne dan Hera mencari penginapan dekat pelabuhan.
Uang yang mereka miliki sangat terbatas. Harta Hodge sudah habis dijarah waktu desanya diserang, sementara Daphne nyaris tidak pernah bersentuhan dengan manusia biasa, apalagi memahami soal uang. Sisa uang yang ada pun didapatkan dari menjual ramuan herbal seadanya, jumlahnya sangat terbatas. Biaya hidup di Benteng Batu pun terbilang mahal, jadi mereka harus berhemat, kalau tidak, biaya naik kapal pun bisa-bisa tidak cukup.
“Satu kamar?” tanya pemilik penginapan, menatap Hodge dan dua perempuan di belakangnya dengan pandangan ambigu, seolah-olah iri.
Hodge sadar arah pikiran sang pemilik, tapi ia tidak peduli. Yang membuatnya gusar adalah sang pemilik penginapan menunda-nunda setelah menerima uang. Ia mengetuk meja kayu, berdeham, “Bisakah kami dapatkan kuncinya?”
“Tentu, tentu.” Pemilik itu mengambil gantungan kunci dari bawah meja, mencari-cari sebentar, lalu menyerahkan satu kunci pada Hodge.
Kamar murah jelas tak bisa diharapkan terlalu baik. Begitu masuk, mereka bahkan melihat salah satu sudut kamar dindingnya rembes air.
“Kalian tidur di ranjang, aku di kursi.”
Hodge langsung memutuskan. Tapi di kamar hanya ada satu selimut, jadi ia harus tidur dengan pakaian lengkap.
“Bagaimana kalau aku saja yang tidur di kursi?” usul Daphne, “Kau tahu, suhu tubuhku tak terpengaruh udara luar.”
“Tidak, kau dan Hera tidur di ranjang.”
Hodge bersikeras, mematikan lampu minyak di meja, duduk di kursi dan memejamkan mata. “Selamat bermimpi indah,” bisiknya pelan.
…
“Kapal ke Pelabuhan Lawan Angin? Kau harus menunggu,” ujar seorang kapten kapal di dermaga, sambil mengisap daun ungu dengan santai.
Hodge mengernyit. “Kenapa? Aku bisa membayar lebih.”
Sang kapten meludah, lalu menggosok-gosok telapak tangannya yang kasar.
“Bukan soal uang. Angin dalam beberapa hari ini aneh, kapal-kapal nyaris semuanya berhenti. Harus tunggu sampai angin stabil baru bisa berlayar. Kalau memaksa berangkat sekarang, sama saja cari mati.”
“Berapa lama harus menunggu?”
“Siapa yang tahu? Mungkin hanya beberapa hari, mungkin satu-dua pekan.” Kapten itu mengangkat bahu. “Semoga saja arah angin sialan ini segera stabil, kalau tidak, aku pun tak sanggup lagi menggaji para awak kapal.”