Mengejar Jejak Sang Monster
Bach pulang dari berburu, memanggul bangkai seekor rusa salju dewasa dan berniat kembali ke pondoknya, namun tiba-tiba sebuah suara dari belakang menghentikannya.
"Hei, pemburu, berhenti!"
Bach menoleh dan melihat sebuah kereta kuda memasuki desa, dijaga oleh empat pengawal di sekelilingnya. Orang yang memanggilnya adalah seorang pria di depan, mengenakan zirah perak mengilap, menunggang kuda dan mendekat, kemudian turun sambil melepas helmnya.
"Orang asing?" Bach cukup terkejut. Desa kecil mereka nyaris tak pernah kedatangan orang luar, kecuali kadang-kadang pedagang keliling yang datang menukar barang. Di sini tidak ada tambang, pemandangan pun biasa saja, tak ada daya tarik apa pun. Orang luar terakhir yang pernah datang adalah si kecil Hoqi, itu pun sudah delapan tahun lalu.
Ia memperhatikan rombongan itu dengan saksama, ekspresinya makin terkejut. "Bangasawan?"
Hughes mengangkat dagunya dengan bangga. "Benar, aku Hughes, ksatria dari keluarga Becker."
"Ksatria!" seru Bach, reaksinya sesuai harapan Hughes yang langsung memasang senyum penuh kebanggaan, namun senyuman itu membeku di bibirnya.
Bach menurunkan bangkai rusa dari pundaknya, lalu dengan ramah menggenggam tangan Hughes erat-erat, wajahnya polos dan tulus. "Halo, halo, eh... siapa tadi namanya? Oh iya, Hughes."
Hughes memandang sarung tangannya yang mahal diremas oleh tangan Bach yang berlumuran darah dan kotoran binatang, otaknya sempat kosong sesaat. Segera ia menarik tangannya dan menatap Bach dengan penuh amarah. "Kurang ajar! Lepaskan tangan kotormu! Dan kau harus memanggilku 'Tuan', rakyat biasa!"
Bach menatapnya dengan pandangan aneh. "Kau ini penguasa desa?"
Hughes tidak mengerti kenapa si pemburu menanyakan itu. "Tentu saja bukan."
"Jadi kau raja?"
"Tak ada lagi perbatasan negara, sekarang seluruh daratan ini milik Kaisar Kekaisaran."
"Oh." Bach memanjangkan suaranya, "Jadi kau Kaisar?"
Hughes mulai kehilangan kesabaran. "Bukan, mana mungkin Kaisar datang ke desa kecil begini."
"Lalu kenapa aku harus memanggilmu Tuan?"
"Karena aku bangsawan dan kau rakyat jelata. Rakyat jelata harus memanggil bangsawan dengan sebutan Tuan."
"Tapi hanya penguasa, raja, dan kaisar yang dipanggil Tuan, itu semua orang tahu."
Sialan, semua orang tahu katanya! Tempat macam apa ini, aturan sederhana soal kelas sosial saja tak tahu, Hughes benar-benar dibuat naik pitam.
Terdengar tawa pelan dari dalam kereta, membuat Hughes makin malu di hadapan Karol. Suaranya naik beberapa oktaf. "Aku tidak peduli siapa yang mengajarkanmu omong kosong itu, tapi rakyat biasa harus memanggil bangsawan dengan sebutan Tuan, mengerti!"
"Baiklah, baiklah, kalau kau maksa, kubilang saja. Eh, maaf, aku lupa namamu."
Hughes mendengus kasar. "Hughes."
"Benar, Tuan Hughes."
Nada bicara itu jelas sekali hanya basa-basi, seperti sedang menenangkan anak kecil yang rewel.
Hal itu membuat Hughes semakin marah, nyaris saja ia mencabut pedangnya dan menantang Bach bertarung.
"Cukup, Hughes, jangan mempersulit orang." Karol membuka tirai kereta dan keluar bersama Fink. Berbeda dengan Hughes yang arogan, pada diri Karol tidak tampak sedikit pun keangkuhan bangsawan. Ia melangkah wajar mendekat, tersenyum dan bertanya, "Boleh tahu namamu?"
Bach menepuk dadanya dengan santai. "Bach, panggil saja Bach."
"Paman Bach, salam kenal." Karol mengangguk. "Begini, kami datang ke desa ini karena mendengar ada kejadian aneh di sini. Kami sangat tertarik dan ingin tahu lebih banyak."
"Kejadian aneh, yang mana maksudmu?"
"Katanya ada makhluk mengerikan menyerang penduduk desa, benar begitu?"
"Oh, yang itu." Bach teringat, bergumam pelan. "Itu seharusnya hanya diketahui orang desa, dari mana kalian dengar kabar itu?"
Karol tersenyum ramah. "Kabar aneh memang sering menyebar dari mulut ke mulut, seperti burung bersayap yang terbang jauh. Tak aneh bila kami tahu. Bisakah kau ceritakan detailnya?"
"Kalau kalian memang ingin tahu, baiklah. Ini bukan rahasia apa-apa. Tapi kabar yang kalian dapat agak keliru. Memang benar ada makhluk menyerang penduduk, tapi bukan di desa."
"Oh?" Karol bertanya dengan penuh minat. Kota mereka memang cukup jauh dari desa ini, jadi wajar bila berita yang sampai jadi tidak akurat. Justru karena itu mereka perlu bertanya langsung pada warga.
Bach pun menceritakan apa yang terjadi hari itu. Ia teringat luka sebesar mangkuk di dada Hood, dan masih bergidik ngeri. "Luka tembus di dada itu saja sudah membuat kami takut, kami kira dia pasti mati, tapi ternyata bisa diselamatkan. Benar-benar ajaib."
"Setelah itu, apa yang terjadi? Setelah Hood sadar, apa dia bilang sesuatu tentang makhluk itu?"
"Tidak. Saat sadar, Hood hanya mengulang-ulang satu kalimat."
"Maksudmu ‘makhluk bawah tanah telah terbangun’?"
"Ya, itu. Atau kadang ia berteriak-teriak di dalam rumah, suaranya seisi desa bisa dengar."
"Berteriak? Ada isinya?"
"Hanya ‘aaaah’ panjang, terdengar sangat menyiksa dan menyeramkan."
"Saya mengerti." Karol mengangguk sopan. "Bisa beri tahu di mana Hood tinggal? Kami ingin melihat keadaannya, mungkin bisa dapat informasi tentang makhluk itu."
Bach mengibaskan tangan. "Sayang sekali kalian terlambat. Tadi malam Hood meninggal, katanya kematiannya mengenaskan. Ia mencakar dadanya sendiri sampai bolong, persis di bekas lukanya, lalu memecahkan jantungnya sendiri. Entah kenapa ia jadi gila, padahal lukanya sudah sembuh. Kasihan Hoqi sudah susah payah menyelamatkannya, jadi sia-sia."
"Hoqi..." Karol menggumamkan nama itu. "Itu tabib jamu itu, bukan?"
"Betul. Jangan lihat dia masih muda, tapi ilmunya luar biasa. Kalau bukan karena dia melakukan operasi pada Hood, pasti Hood sudah mati waktu itu."
"Operasi?" Karol dan Fink saling pandang, bertukar pikiran.
Tak ada yang lebih tahu sulitnya operasi selain seorang pendeta. Hanya dengan pemahaman tubuh manusia yang mendalam, operasi bisa dilakukan. Fink pun tak sembarangan melakukan operasi, apalagi seorang tabib jamu di desa terpencil bisa menyelamatkan orang lewat operasi? Sungguh luar biasa.
"Bisa beritahu di mana rumah Tabib Hoqi?" tanya Karol dengan sopan.
Bach menunjuk ke kejauhan. "Ikuti jalan kecil itu terus, di ujung desa di kiri, itulah rumah Hoqi."
"Terima kasih, Paman Bach." Karol pamit, lalu mereka bertiga berjalan menuju rumah Hoqi. Karena Hood diselamatkan oleh Hoqi, besar kemungkinan mereka akan mendapat kabar tentang makhluk itu darinya.