Dukun Palsu
“Kau tampak sangat terkejut.” Hodge menuangkan segelas air hangat dan menyodorkannya, “Minumlah air ini agar lebih tenang.”
Layton menerima gelas itu, namun tak segera meminumnya. Ia hanya memegangnya dengan kedua tangan, merasakan hangat yang merembes lewat dinding gelas. Setelah ragu cukup lama, ia akhirnya berkata, “Ini kan toko penyihir! Bagaimana mungkin—maksudku, harga yang harus dibayar untuk bertransaksi dengan penyihir biasanya sangat mahal. Bahkan apotek hitam di kota tak pernah mematok harga serendah ini!”
“Memang benar ini adalah toko penyihir, tapi sebelum itu, ia adalah sebuah toko. Kami sendiri adalah pedagang yang menjual barang pada pelanggan, dan tentu saja kami memegang kejujuran serta prinsip sebagai pedagang,” ujar Hodge, menuangkan air hangat untuk dirinya sendiri, lalu menyesapnya untuk membasahi bibir yang kering. “Kau tak perlu meragukan telingamu. Harga kami memang seperti yang kau dengar, dan kau tak perlu khawatir akan ada harga tersembunyi. Percayalah, harga yang kusebutkan adalah harga akhir barang, tidak akan berubah. Jika kami mengandalkan tipu muslihat, mana mungkin toko ini ramai oleh pelanggan, bukan?”
Layton tetap tidak percaya. “Tapi ini toko penyihir. Mungkin kalian punya kemampuan untuk memikat orang, itulah sebabnya ada saja pelanggan yang datang.”
Hodge sedikit menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengamati Layton dengan tatapan penuh arti. “Aku mengerti, rupanya tamu masih menyimpan keraguan pada penyihir dan toko kecil kami. Tak perlu cemas, kami tidak akan menolak pelanggan hanya karena itu. Semua keraguanmu bisa kujawab, dan andai pun aku gagal meyakinkanmu, transaksi ini sama sekali tidak memaksa. Kau bisa keluar lewat pintu di belakang kapan saja, tak masalah.”
Ragu? Penyihir memang tak layak dipercaya!
Layton menyesap sedikit air, lalu melirik pria muda di hadapannya. Pria itu tampak sangat muda, rambutnya cokelat, tapi pada akarnya berwarna hitam—jelas warna aslinya dan cokelatnya hasil pewarnaan. Matanya aneh, meski dari kejauhan tak begitu jelas, Layton merasa sorot itu membuatnya tidak nyaman, seolah tak pernah benar-benar fokus. Selain itu, ia harus jujur, pria itu cukup menarik secara fisik.
Seorang pemuda seperti ini duduk di toko penyihir, tampak tidak pada tempatnya. Bagaimana pun, ia tidak terlihat seperti orang yang mampu mewujudkan harapan pelanggan. Bahkan kalau saja ia membuka apotek hitam di kota, orang-orang mungkin takkan percaya karena usianya yang muda.
Sejak Layton duduk dan bercakap-cakap dengannya, Hodge tampak sangat tenang. Dari pengalaman Layton, sikap seperti itu hanya dimiliki dua tipe orang: mereka yang memang benar-benar mampu, atau para penipu yang butuh keyakinan untuk menipu. Di tempat seperti lorong bawah tanah yang penuh penjahat, dan dengan usia semuda itu, Layton lebih cenderung percaya bahwa ia hanyalah penipu berkedok penyihir. Bagi Layton, itu justru lebih baik. Setidaknya, ia tak perlu khawatir kota akan dikuasai penyihir jahat sebelum bala bantuan tiba.
Seorang penipu muda. Begitulah Layton menilai Hodge saat ini.
“Aku memang tak percaya pada penyihir,” ujarnya, “makhluk jahat seperti itu mana mungkin bisa dipercaya?”
“Sepertinya tamu punya banyak prasangka pada penyihir.”
“Prasangka?” Layton mengangkat alisnya. “Kau ingin membela penyihir? Bukankah kejahatan mereka sudah cukup jadi bukti?”
“Seribu ekor domba yang jinak, pasti ada satu yang bertindak di luar dugaan. Apakah karena satu ekor yang gila, lalu semua domba dianggap gila? Tapi itu bukan inti yang ingin kusampaikan.”
Hodge melirik telapak tangan Layton di atas meja. Di pangkal ibu jarinya tampak kapalan, yang biasa dimiliki para pengguna pedang. Ia tersenyum samar, seolah menemukan sesuatu yang menarik dari tamu ini.
“Setiap orang punya pemikiran sendiri. Aku rasa tak perlu diperdebatkan di sini. Jika kau tak percaya, setidaknya berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa di toko penyihir pun bisa ada transaksi yang adil.”
“Membuktikan?”
“Seperti yang sudah kukatakan, kami akan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan. Apakah kau punya permintaan atau harapan? Silakan, biar aku yang mencarikan solusinya.”
Layton menopang dagu, terdiam dalam pikirannya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia datang terburu-buru setelah mendengar kabar penyihir, tanpa persiapan matang, kecuali meminta anak buah menyiapkan pakaian yang cocok untuk menyusup di antara para penjahat. Ketika tiba-tiba diminta mengajukan keinginan, ia malah kebingungan.
Namun, jika toko ini mengaku mampu menyelesaikan semua masalah, permintaan yang tidak masuk akal pun tak masalah, kan? Jika gagal, itu membuktikan ia hanya penipu berkedok penyihir. Masalah di kota sudah banyak, satu lagi tak jadi soal, dan ia pun tak perlu cemas soal penyihir.
“Aku merasa sangat lelah,” ujarnya singkat dan jujur.
“Lelah? Kebetulan aku punya beberapa ramuan yang bagus.”
Layton menggeleng. “Bukan hanya fisik, juga di sini dan di sini.” Ia menunjuk kepala dan dadanya.
Ia termenung sejenak lalu menambahkan, “Bahkan lebih dari itu, aku sering merasa gelisah, resah, dan… ingin melampiaskan dengan kekerasan.”
“Mungkin itu karena tekanan hidup yang menumpuk, hingga akhirnya meledak menjadi emosi seperti itu.”
“Mungkin saja. Tapi jangan sarankan ramuan herbal, aku sudah coba dan tak berhasil,” Layton menatapnya tajam. “Bisakah kau menyelesaikan masalahku?”
Sudah sebegitu lelahkah hingga obat pun tak mempan, pikir Hodge. Ia sempat ragu, apakah harus menggunakan cara itu? Namun ia belum sepenuhnya yakin bisa menguasainya.
Melihat keraguannya, Layton makin yakin ini penipuan. Sudahlah, pikirnya, sudah cukup malam ini terbuang sia-sia. Rupanya gosip di kota memang tak bisa dipercaya.
Ia bersiap pergi, merasa tak perlu lagi membuang waktu. Namun belum sempat bangkit, suara Hodge terdengar lembut.
“Kalau begitu, ikutlah denganku.”
…
Layton mengikuti Hodge ke sebuah ruang sempit, nyaris hanya muat satu orang, mengingatkannya pada ruang interogasi yang pernah ia lihat—ruang pengap yang membuat orang merasa tertekan.
Hodge mempersilakan Layton duduk di satu-satunya kursi, lalu hendak menutup pintu, tapi Layton segera menahannya.
“Aku harus sendirian di sini?”
Hodge menilik sekeliling. “Ruangannya memang tak muat dua orang, terlalu sempit.”
“Tapi kenapa aku harus di sini?”
“Karena di sinilah keresahanmu akan dihapuskan.”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Tak perlu melakukan apa pun, cukup duduk saja.”
Setelah itu, Hodge menutup pintu dan mengunci dari luar.
Sunyi mendadak memenuhi ruang kecil itu, membuat Layton duduk tak nyaman.
“Tutup matamu.” Suara Hodge, sedikit berubah, terdengar dari lubang ventilasi, hampir membuat Layton terkejut.
Dengan segudang keluhan, ia tetap menuruti. Matanya terpejam.
“Rasakan dengan tenang,” ujar suara itu lagi.
Dan di saat itu, Layton benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda.
Padahal ruangan itu kosong, ia tiba-tiba merasa tubuhnya mulai hangat dari dalam. Padahal Blackstone ada di wilayah utara, musim salju pula. Meski mengenakan mantel bulu tebal, udara dingin tetap saja menyusup ke tubuhnya. Sebagai ksatria yang fisiknya kuat, Layton hanya mampu menahan diri agar tak menggigil.
Tapi hangat? Jarang sekali, apalagi sampai ke lubuk hati.
Perasaan ini sangat langka, sampai ia sempat kehilangan kata-kata.
Namun, kehangatan itu tak membuatnya jengah.
Hangat itu pun perlahan menjalar ke seluruh tubuh, membuat Layton merasa nyaman, lebih nyaman daripada kapan pun. Ia meregangkan tubuh semampunya.
Sejak tiba di Blackstone, hari-harinya dipenuhi urusan dengan penjahat, tuan budak, pedagang, dan wali kota Polite yang ia benci. Emosi negatif menumpuk setiap hari, sulit dilepaskan. Bahkan menebas patung kayu di tengah badai salju pun tak bisa melepaskan beban di dada.
Tapi kali ini, semua kerisauan dan kegundahan seperti lenyap begitu saja.
Yang tersisa, hanya kehangatan yang begitu langka.
“Apa ini?” tanyanya terkejut, menyadari ia menangis tanpa sadar. Namun jelas air mata itu bukan karena sedih.
“Bagaimana rasanya?” suara Hodge kembali terdengar.
“Sangat nyaman, sangat ringan.”
“Ada lagi?”
“Dan juga—” Layton buru-buru menahan diri.
Tersentuh, merasa diselamatkan.
Tak kusangka, di toko seorang penyihir aku bisa merasakan haru dan syukur seperti ini.
Mana mungkin aku bisa mengatakannya.