Gejala Sisa
Ketika Hocky kembali ke tempat rombongan dagang berkemah, dari kejauhan ia sudah melihat bahwa rombongan telah siap berangkat. Sepertinya saat ia pergi menyelesaikan masalah perampok gunung, rombongan dagang telah mengirim beberapa orang ke Tebing Gerbang untuk membersihkan jalan yang cukup lebar bagi kereta mereka, sehingga kapan pun bisa berangkat. Hanya karena menunggunya saja, mereka masih berhenti di tempat semula.
Ia melihat Morgan dan yang lain bersama Daphne serta Hera berdiri di bagian belakang rombongan, sesekali memandang ke hutan lebat di kejauhan, jelas sedang menantikan kepulangannya.
Begitu melihat Hocky keluar setengah badan dari lebatnya hutan, Daphne segera melangkah cepat ke arahnya, wajahnya penuh amarah sambil berseru lantang, “Kau ke mana saja? Tahu tidak, itu sangat berbahaya! Meski dari kecil kau punya masalah takut suara keras, tak seharusnya kau sembarangan berlari ke mana-mana!”
Ia mendekat, lalu menarik Hocky hingga seluruh tubuhnya keluar, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ia mencubit pipi Hocky, menepuk bahu dan lengannya, lalu berjongkok memeriksa perut dan punggungnya, seraya bertanya, “Ada yang terluka atau tidak?”
Tadi ketika Hocky bertatapan mata dengan Daphne, ia melihat gadis itu terus berkedip-kedip memberi isyarat padanya.
Jadi sekarang ia dipaksa harus berpura-pura takut suara keras? Daphne, kemampuanmu mengarang cerita sungguh payah...
Namun karena sandiwara sudah dimulai, ia tentu tidak punya alasan untuk membongkar kebohongan itu. Ia pun mengerutkan kening, menurunkan suara, cukup keras agar Morgan dan yang lain bisa mendengar, “Kaki... kakiku sudah tidak terasa apa-apa lagi.” Suaranya terdengar seperti ingin menangis, sangat cocok dengan karakter yang telah disusunkan oleh Daphne.
“Makanya jangan sembarangan lari!” hardik Daphne, memelototinya, lalu menuntun Hocky berbalik menghadap Morgan. “Ketua, untuk perjalanan selanjutnya biarkan saja adikku ikut bersama kami dalam satu kereta. Ia butuh perawatan.”
Morgan mengangguk, Hocky memang sangat berjasa bagi Dunlo, apalagi mereka bertiga bersaudara, naik satu kereta pun tak ada yang salah. Ia pun langsung menyetujui usul Daphne.
Roda-roda berlapis kulit rusa pun mulai berputar perlahan, rombongan dagang kembali bergerak maju.
Di dalam kereta, Hera berdiri di ambang pintu kecil di bagian belakang, menutup pintu kayu pembatas. Pintu kecil itu hanya menutup setengah bagian bawah, sementara bagian atas tetap tertutup kain. Ia berjinjit, memegang kain tirai di kedua sisi, lalu melirik ke arah Hocky dengan sorot mata yang terlihat agak tegang.
Hocky membalasnya dengan senyuman untuk menenangkan, namun di wajahnya yang masih agak pucat, segala upaya penghiburan terasa sia-sia.
Daphne duduk di sampingnya, menuntunnya perlahan bersandar pada tumpukan pakaian, erat menggenggam tangan kanan Hocky. Karena tubuhnya telah dimodifikasi oleh kebangkitan kemampuannya, ia tidak dapat lagi merasakan perubahan suhu lewat sentuhan, tapi kulit Hocky yang mulai memucat dengan jelas menunjukkan bahwa tubuhnya perlahan-lahan menjadi dingin.
“Kau terlalu memaksakan kemampuanmu lagi, ya?” tanya Daphne dengan nada agak putus asa.
Hocky tersenyum, meski tampak dipaksakan. “Tak ada pilihan lain, mereka itu dua puluh laki-laki bertangan besi. Kalau aku tak mengeluarkan semua kemampuanku, mana mungkin bisa mengalahkan mereka semua.”
“Kedinginan?”
“Tadi bilang kakiku mati rasa itu cuma buat mendukung ceritamu. Tapi sekarang...” Ia mengerang pelan, membuka mata dengan susah payah, “Benar-benar hampir tak terasa apa-apa. Seperti darahku berhenti mengalir.”
Daphne tak lagi berkata apa-apa. Ia hanya menatap Hocky dengan tenang dan penuh perhatian. Dari punggung tangan Hocky yang ia genggam, muncul api kecil yang melompat-lompat, membentuk tiga garis api yang berpilin, membalut tubuh Hocky dalam jaring api.
Sebagai salah satu anggota Dewan Penyihir, pemahamannya terhadap api sudah mencapai puncaknya. Meski tampak membalut Hocky, nyatanya api itu menjaga jarak dari tubuhnya, juga dari papan kayu kereta dan pakaian mereka. Dengan begitu, panasnya bisa mengalir ke tubuh Hocky tanpa membakar apa pun.
Ia kembali menghela napas pelan.
Hocky memang istimewa. Bukan hanya karena ia satu-satunya penyihir laki-laki, tetapi yang lebih penting, setelah ia melewati proses kebangkitan dan bisa menggunakan sihir penyihir, Daphne tetap tidak bisa menemukan tanda-tanda kristal merah terbentuk di tubuhnya.
Hal itu sungguh sulit dipercaya. Sumber kekuatan para penyihir perempuan berasal dari kristal merah yang terbentuk di perut mereka. Namun kini Hocky sama sekali tidak memiliki benda itu, tetapi entah bagaimana ia tetap bisa menggunakan kemampuan anehnya. Kenapa bisa begitu? Daphne pun tak tahu.
Namun, ada satu hal yang pasti—ini sepertinya bukan pertanda baik.
Selama membimbing Hera dan Hocky, ia menemukan sebuah masalah. Meski Hocky bisa menggunakan kekuatannya, tapi jika digunakan terlalu lama, tubuhnya akan tiba-tiba menjadi sangat dingin. Lamanya bervariasi, kadang hanya sekejap, kadang sampai setengah hari. Jika Daphne tidak terus menjaga suhu kulitnya, ia bisa saja membeku seperti es.
“Hocky,” suara Daphne terdengar lembut di tengah kehangatan api, “kau harus memanggilku guru.”
“Baiklah, Guru.” Ia mengganti panggilannya, meski suaranya terdengar lemah. “Menurutmu, temanmu yang tinggal di Teluk Rusa, benar-benar bisa mengatasi masalah tubuhku?”
“Aku tidak tahu,” jawab Daphne sambil menggeleng. “Apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhmu, tak bisa lagi dikenali dengan mata biasa. Jika masih ada orang di dunia ini yang bisa melihat lebih dalam, hanya Ofelia yang bisa.”
Alasan mereka melakukan perjalanan jauh ini bukan sekadar karena gubuk mereka terbakar. Rumah bisa dibangun kembali, bahan-bahan di sekitar Danau Duri sangat melimpah. Yang paling penting adalah masalah tubuh Hocky. Daphne sudah tak berdaya, membiarkan saja keadaannya terlalu berbahaya, dan ia juga tidak mungkin selalu mendampingi Hocky. Karena itu, ia memutuskan pergi ke Teluk Rusa, menemui salah satu sahabatnya yang tersisa, Ofelia si “Penelisik”, untuk memeriksa Hocky.
“Mudah-mudahan saja bisa,” gumam Hocky, mengeratkan kerah pakaiannya, “Aku tidak mau suatu hari tiba-tiba membeku jadi patung es.”
Daphne menatapnya, menggenggam tangannya lebih erat.
“Hari itu tak akan pernah tiba.”
...
Tiga hari kemudian, kereta yang bergoncang akhirnya berhenti pelan. Semua penumpang, kecuali kusir, turun dari kereta lalu berjalan ke barisan paling depan. Morgan menengadah menatap ke kejauhan, lalu menunjuk ke depan dengan wajah berseri. “Kita sudah sampai, itu dia Benteng Batu!”
Hocky mengikuti arah telunjuknya. Pandangannya menembus ladang dan pos penjagaan di depan, dan di ujung cakrawala, sosok kota mulai terlihat jelas. Sudah bertahun-tahun ia tinggal di Utara, namun baru kali ini ia melihat tembok kota yang demikian megah dan menjulang. Dari kejauhan tampak tembok itu disusun dari batu-batu raksasa, berdiri tegak selama berabad-abad diterpa salju, angin, dan hujan. Benteng itu tetap kokoh, meski para pemiliknya telah berganti puluhan kali, ia tetap diam-diam menjaga penduduk kota dari gigitan dingin Utara.
Inilah wilayah keluarga Raymond, sekaligus salah satu kota paling terkenal di Utara—Benteng Batu.