Penyihir
Sepuluh hari, itulah batas waktu terakhir. Karena sakit yang dideritanya, selama sepuluh hari itu Hodge tidak bisa keluar dari kamarnya. Ia hanya bisa menunggu.
Menunggu sesuatu yang terjadi dalam sepuluh hari itu, sebuah perubahan yang memberinya kesempatan untuk melarikan diri dari Kastel Pana. Ia tentu tahu kemungkinan itu sangat kecil, namun dalam keadaannya sekarang, tak ada pilihan yang lebih baik.
Jika sepuluh hari berlalu tanpa kejadian berarti, maka ia hanya bisa membawa pisau makan untuk melakukan perlawanan terakhir.
Beruntung, kesempatan itu benar-benar datang padanya.
Pada hari ketiga, seorang penunggang kuda datang dengan cepat, membawa bendera berlatar biru yang bersulamkan topi tinggi emas dan tongkat sihir, masuk ke Kastel Pana.
"Itu adalah utusan dari Serikat Penyihir." Mendengar kabar itu, McCarthy segera menghentikan pekerjaannya dan memerintahkan pelayan untuk merapikan penampilan dirinya.
"Biarkan utusan menunggu di ruang tamu, aku akan segera datang."
McCarthy, mengenakan jubah penyihir berwarna putih pucat seperti bulan, memasuki ruang tamu. Begitu ia mengangkat kepala, ia melihat utusan itu, seorang ksatria yang setia kepada serikat. Ksatria itu melepas helmnya dan meletakkannya di samping, duduk tegak di kursi kayu, kedua tangan di sisi paha, memegang bendera Serikat Penyihir.
McCarthy membungkuk ringan, menunjukkan sopan santun seorang bangsawan sejati, memberi hormat kepada ksatria—atau lebih tepatnya kepada bendera di tangan ksatria—dan berkata, "Semoga cahaya sihir menerangi kegersangan di hati, salam hormat untukmu, Tuan Ksatria."
Setelah McCarthy selesai memberi salam, ksatria itu meletakkan bendera di samping, berdiri, dan meletakkan tangan kanannya di dada, berlutut setengah, membalas salam, "Salam hormat untukmu, Tuan McCarthy."
Dengan status McCarthy, baik sebagai penyihir maupun bangsawan, ia berada di atas ksatria. Namun ia yang lebih dulu memberi salam karena ksatria itu mewakili Serikat Penyihir. Sebagai anggota serikat, ia wajib menunjukkan rasa hormat.
Setelah ia selesai memberi salam, ksatria itu kembali pada identitas murninya, dan harus memberi salam kepada McCarthy yang berkedudukan lebih tinggi.
Inilah tata krama dunia ini, bahkan di pelosok utara yang terpencil sekali pun tidak ada pengecualian.
"Siapa namamu, Tuan?" tanya McCarthy sambil mempersilakan ksatria duduk.
"Isaac Valen," jawab ksatria itu setelah duduk kembali. "Panggil saja aku Isaac, Tuan McCarthy."
"Valen..." McCarthy mengingat-ingat, lalu berkata, "Apakah berasal dari Keluarga Valen di Kota Karang?"
"Benar, Tuan."
"Begitu rupanya." McCarthy mengangguk. "Jadi, apa urusan Tuan Nois Kirk mencariku?"
Keluarga Kirk adalah keluarga bangsawan terkemuka di Utara, selama beberapa generasi menjadi penguasa Kota Karang.
Tak hanya itu, kepala keluarga Kirk turun-temurun juga adalah salah satu dari tiga belas anggota tetap Dewan Serikat Penyihir cabang Utara, sebuah posisi yang jauh lebih tinggi daripada gelar "Penatua Kehormatan" yang tampak mengilap tapi sebenarnya kecil nilainya yang disandang McCarthy.
Sedangkan Keluarga Valen dari kota yang sama adalah bawahan keluarga Kirk, bersumpah setia selama beberapa generasi.
Karena itu, jika ksatria bernama Isaac berasal dari Keluarga Valen, mudah ditebak bahwa orang di balik perintah dari Serikat Penyihir itu adalah kepala keluarga Kirk masa kini—Nois Kirk.
"Tuan Nois mengundang Anda beserta tiga penyihir Utara lainnya untuk pergi ke Hutan Pasir Dalam dalam misi pemberantasan."
Mendengar kabar itu, McCarthy tak bisa menahan diri untuk mengernyitkan dahi, "Misi pemberantasan? Hewan buas macam apa yang layak membuat seorang anggota dewan membawa tiga penyihir sekaligus?"
"Tuan, yang akan diberantas bukanlah hewan buas." Isaac berhenti sejenak, menatap mata McCarthy dengan sungguh-sungguh, lalu perlahan berkata, "Melainkan—seorang penyihir wanita."
Sorot mata McCarthy berubah, alisnya terangkat, "Penyihir wanita?"
"Benar, bahkan menurut informasi dan penilaian Tuan Nois, penyihir wanita yang ditemukan kali ini tidak biasa, sangat mungkin ia adalah anggota dewan Penyihir Wanita!"
McCarthy menarik napas dalam, terkejut karena penyihir wanita itu ternyata seorang anggota dewan. Berdasarkan informasi yang mereka miliki, jumlah anggota dewan Penyihir Wanita di seluruh benua tak lebih dari tujuh orang. Setiap penyihir wanita anggota dewan memiliki kemampuan luar biasa. Tak heran jika serikat mengerahkan tim sehebat itu ke sana.
Setelah rasa terkejutnya reda, yang tersisa di mata McCarthy hanyalah nafsu dan keinginan yang membara. Pasukan utama pemberantas penyihir jahat selalu dipimpin para penyihir, dan mereka sangat menggemari pekerjaan itu. Mungkin orang lain tak mengerti mengapa mereka begitu bersemangat dalam urusan penyihir wanita, namun hanya penyihir sendiri yang tahu betapa besarnya keuntungan dari membasmi mereka.
Dan seorang penyihir wanita setingkat anggota dewan...
McCarthy dengan cepat menyembunyikan keserakahan di matanya, memasang raut wajah serius, menatap Isaac dan mengangguk, "Saya mengerti, untuk tugas seperti ini, jelas tak ada alasan untuk absen. Apakah Tuan Nois sudah menentukan tempat berkumpul?"
"Tuan Nois telah memerintahkan, para penyihir terhormat berkumpul di Kota Kecil Linan, yang paling dekat dengan Hutan Pasir Dalam. Tuan akan menunggu kehadiran Anda di sana."
"Silakan sampaikan pada Tuan Nois, saya akan berangkat besok pagi."
***
Setelah mengantarkan Isaac pergi, McCarthy memanggil para pengikut kepercayaannya. Ia harus mengatur segala urusan selama masa ketidakhadirannya di kastel.
"Bessie, Lam," panggil McCarthy menyebut nama mereka, "Kalian berdua ikut aku ke Kota Kecil Linan."
Bessie dan Lam setengah berlutut dengan penuh semangat. Bisa mendampingi McCarthy adalah kehormatan tertinggi bagi mereka.
"Setelah kalian ikut aku pergi, posisi pengatur utama di kastel akan kosong. Selama aku pergi, aku akan memilih seseorang untuk menjabat sebagai pengganti sementara."
Mendengar itu, para pengikut lain serempak menegakkan kepala dan memasang wajah penuh harap. Mereka hampir saja meneriakkan keinginan mereka di depan McCarthy.
Pandangan McCarthy menyapu kerumunan, dan ia menemukan satu orang yang tetap tenang dan menundukkan kepala sedikit, tanpa tampak tergesa-gesa. Hal itu membuatnya puas. Tak heran jika ia telah menjadi tangan kanan McCarthy selama bertahun-tahun. Seseorang yang dipercaya mengelola urusan kastel memang harus tenang. Lihat saja para pengikut lain yang tampak tergesa-gesa, sangat mengecewakan.
"Mor, kau yang paling paham urusan dalam kastel, jadi kau yang akan memegang tanggung jawab ini."
Mor melangkah maju, berlutut setengah, "Saya pasti tidak akan mengecewakan harapan Tuan."
Ia menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ini adalah kesempatan baginya. Meski kini hanya sebatas pengganti, asalkan ia bekerja dengan baik, ia akan segera kembali menjadi orang kepercayaan utama McCarthy. Ia tak meragukannya.
"Biar kupikirkan, apa lagi yang harus kubawa."
McCarthy berpikir sejenak, lalu tiba-tiba berkata, "Oh iya, ajak juga anak laki-laki bernama Hodge itu ikut bersama kita."
Bessie berbisik mengingatkan, "Tuan, Hodge masih dalam masa sakit, Anda tahu sendiri infeksi seperti itu bisa menular."
"Aku tahu, tapi udara musim dingin akan menekan tingkat infeksinya hingga hampir nol, jadi kalian tak perlu cemas," McCarthy melambaikan tangan dan tersenyum. "Lagipula, aku juga sudah tak sabar. Dalam rombongan Tuan Nois pasti ada pendeta. Mungkin saja ia bisa membantu Hodge segera lepas dari penderitaan infeksi itu."