Rapat
Di depan pintu rumah Hodge, empat orang prajurit tengah bersandar di sudut dinding. Tugas mengawasi para penyihir dilakukan secara bergiliran, dan masih lama hingga pergantian berikutnya. Prajurit yang lebih tua sudah mulai menguap.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah, seolah-olah sebuah wadah pecah berkeping-keping. Para prajurit langsung terjaga, menoleh ke arah rumah.
Sesaat kemudian, suara nyaring dan tajam menembus telinga mereka, membuat semua prajurit itu merasa berdengung sejenak.
Tetapi itu belum selesai. Dari jendela lantai dua, terlihat asap putih mengepul, naik ke udara, membentuk garis panjang yang segera memudar di langit malam.
Keempat prajurit itu saling berpandangan, keterkejutan jelas tergambar di mata mereka masing-masing.
Prajurit muda itu yang pertama angkat bicara, “Apa kita… harus masuk dan memeriksa?”
“Tapi Tuan Kepala Intelijen yang baru melarang kita masuk tanpa izin,” sahut yang lain, mengingat ucapan Hodge. Ia tampak ragu. Walaupun secara struktur, pasukan patroli hanya tunduk pada kepala desa dan kepala regu, namun bagi prajurit, lebih baik menghindari masalah yang tidak perlu.
“Tugas kita memang mengawasi pergerakan para penyihir.”
“Tugas kita hanya memastikan mereka tidak berkeliaran dan membuat keributan di desa,” ujar prajurit yang lebih tua. “Dan sekarang, suara ribut di lantai dua itu menandakan mereka masih ada di dalam rumah. Soal suara-suara aneh itu—mungkin bagi mereka itu hal biasa, toh mereka penyihir.”
Rasa ingin tahu pemuda selalu lebih besar. Walau begitu, ia tetap berkata, “Tapi ini…”
“Cukup.” Prajurit tua itu memotong. “Kita ini prajurit, cukup taat pada perintah. Perintah kita adalah berjaga di sini dan pastikan para penyihir tidak kabur. Jadi, kuburkan saja rasa penasaranmu, berdirilah di sini dengan baik. Paham?”
“…Paham.”
Tiba-tiba, suara derap kaki kuda bergemuruh dari ujung jalan dan dalam sekejap berhenti di depan rumah Hodge. Seekor kuda hitam pekat dengan ekor belang hitam-putih menjejak tanah. Seorang ksatria berbaju zirah lengkap melompat turun dari pelana, membuka pelindung helmnya.
Para prajurit yang berjaga segera mengenali wajah sang ksatria. “Wakil Kapten Layton, ada apa Anda ke sini?”
“Tuan Polit memanggil rapat. Aku ke sini untuk memberitahu Hodge,” jawab Layton, menatap rumah di hadapannya. Asap putih di jendela sudah hampir hilang. “Mereka masih di dalam, kan?”
“Masih, hanya saja…,” prajurit itu sempat ragu, lalu melanjutkan, “ada suara-suara aneh dari dalam.”
“Suara aneh?” Layton menatap mereka heran. “Apa yang terjadi?”
“Kami pun tidak tahu. Tuan Hodge melarang kami masuk tanpa izin.”
Layton menggeleng lalu berjalan melewati para prajurit ke depan pintu. Ia mengetuk dengan gagang besi di pintu kayu itu.
Pintu pun terbuka. Hodge mengintip, memastikan siapa yang datang. Setelah melihat Layton, ia membuka pintu lebar-lebar. “Ada apa kamu ke sini?”
Layton mengernyit melihat penampilan Hodge. Lelaki itu hanya mengenakan celana tipis, bertelanjang dada, lehernya dililit handuk katun, rambut pendeknya basah menempel di kepala, dan Layton bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya.
“Kau habis apa? Tak kedinginan berpakaian begini?” tanya Layton heran.
“Di dalam tidak terasa, tapi buka pintu langsung dingin.” Hodge pura-pura menggigil lalu mempersilakan Layton masuk.
Sebenarnya, Hodge merasa sangat tidak nyaman. Sejak pindah dari bangunan tambang tua ke rumah di desa, mereka tak lagi bisa berlatih kekuatan sihir di hutan karena selalu diawasi prajurit. Akhirnya, Daphne mengosongkan satu kamar di lantai dua untuk tempat berlatih.
Berlatih di ruang sempit tidak masalah bagi Hera, yang sudah cukup menguasai kemampuannya. Kadang, karena belum terbiasa, ia salah perhitungan, seperti vas bunga yang seharusnya bisa dipotong halus malah pecah berantakan karena getaran suara, namun itu tidak menimbulkan masalah besar, hanya suara keras yang sesekali terdengar keluar rumah.
Namun bagi Hodge, berlatih di tempat ramai seperti ini sangat berisiko. Jika sampai kehilangan kendali, tidak mudah mencari alasan. Meski Daphne selalu bersiaga, ia tetap harus sangat hati-hati mengendalikan kekuatannya yang sulit diatur, hingga membuatnya kelelahan dan mandi keringat.
Meski begitu, kali ini ia tetap kehilangan kendali. Bedanya, kali ini kekuatan gelombangnya bukan lepas ke luar, melainkan panasnya menumpuk di tubuh sendiri. Kulitnya berubah kemerahan, keringat membanjiri seluruh pori-pori, uap air menguap membentuk kabut yang menghilang ke langit.
Panas di tubuh itu tidak membuatnya merasa terbakar—tubuh yang sudah bangkit sebagai penyihir memang mengalami perubahan, setidaknya tidak terluka oleh kekuatannya sendiri. Namun kekurangan cairan karena uap air yang terus keluar membuatnya sangat menderita, sampai ia terus-menerus menggaruk punggung tangannya.
Daphne si pengendali api, dan Hera si pengendali suara, jelas tidak bisa membantunya. Akhirnya, keduanya menuangkan empat ember penuh air ke tubuh Hodge agar ia kembali dingin.
Hodge melepaskan handuk di lehernya, memeras air yang terserap, lalu cepat-cepat mengeringkan rambutnya. “Ada keperluan apa?”
“Bukan aku yang mencarimu, tapi Tuan Polit. Ia akan mengadakan rapat dan memintaku memanggilmu segera ke sana.”
“Rapat?” Hodge teringat pada sebuah buku yang pernah ia baca, tentang para pejabat penting di sekitar seorang tuan tanah: bendahara, kepala intelijen, pendeta, dan kapten pengawal. Setiap kali ada urusan penting, mereka akan menggelar rapat untuk mencari solusi yang kemudian diberikan pada sang tuan tanah.
Sebelumnya, di sisi Polit hanya ada Rhodes. Meskipun ada Harold sebagai kapten patroli, ia tak pernah mau ikut rapat semacam itu, dan sebagai legenda dari utara, Polit pun tak bisa memaksanya. Jadi, saran dari Rhodes saja sudah cukup, tak perlu mengadakan rapat.
Namun kini, dengan Hodge sebagai kepala intelijen, Polit bisa meminta pendapat lebih dari satu orang. Maka menggelar rapat saat ada masalah penting menjadi hal yang wajar—mengisi kekosongan yang dulu mungkin dirasakan Polit.
“Apa Kepala Desa kita tidak bilang masalahnya apa?” tanya Hodge.
Layton berpikir sejenak. “Aku tidak tahu banyak, hanya dengar beberapa pengusaha tambang yang suka membuat onar menolak membayar pajak tambang kuartal ini, gara-gara kasus penyerangan pedagang waktu itu.”