0029. Bertukar Rahasia
Sejak meninggalkan kota, Hughes belum pernah merasa sebahagia ini. Demi menenangkan Carol, ia bisa sedekat itu dengannya, menepuk lembut bahunya, menggenggam tangan mungilnya, dan Carol pun tak menunjukkan penolakan sedikit pun! Saat itu, di matanya hanya ada Carol, seluruh hatinya terikat pada sang jelita.
Hodge menghela napas, menyaksikan Hughes yang tengah mabuk kepayang. Ia paham betul bahwa niatnya untuk membujuk telah gagal. Yang paling menjengkelkan, justru ksatria yang sombong, keras kepala, bodoh, dan tergila-gila cinta inilah yang menjadi kunci keberhasilan perjalanan mereka. Seperti yang ia katakan pada penjaga tadi, pergi sendirian terlalu berisiko. Meski ia tahu jalan kembali ke desa, siapa yang bisa jamin mereka takkan diserang cacing raksasa? Melihat dari cara makhluk itu menghindari Hughes dan justru memilih penjaga yang lebih lemah, jelas ia memiliki kecerdasan dan suka menyerang korban yang terpisah.
Malam itu, Hughes tidur dengan senyum mengembang. Senyuman Carol menghangatkan hatinya, membuat dinginnya hutan salju terasa menguap, tidurnya pun jadi sangat nyenyak.
Sebaliknya, Hodge justru sulit memejamkan mata. Semakin banyak hal yang dipikirkan, makin gelisah pula dirinya. Sampai lelah pun, tidur tak kunjung datang.
Ia berbaring di dalam tenda, menajamkan pendengaran untuk menyimak suara dari luar. Tiba-tiba, ia mengerutkan dahi, merasa ada sesuatu yang ganjil.
Di luar terlalu sunyi, hanya terdengar desir angin dan rintik salju. Keheningan sesaat mungkin wajar, tapi jika berlangsung lama, tentu mencurigakan. Di luar masih ada penjaga yang bertugas. Dalam cuaca sedingin ini, mana mungkin seseorang diam saja tanpa bergerak untuk waktu lama? Pasti mereka butuh berdiri dan menghangatkan badan.
Dengan hati-hati, Hodge bangkit, mengenakan jubah, lalu perlahan membuka tirai tenda. Di dekat api unggun, ia melihat seorang duduk dengan kepala tertunduk dalam.
Ia mendekat, duduk berhadapan dengan penjaga itu. Melihat matanya terpejam rapat dan napasnya teratur, Hodge hanya bisa menggeleng dan menepuk bahunya.
“Hmm—uh.” Penjaga itu terbangun, tampak gugup saat melihat Hodge.
Hodge menepuk bahunya, menenangkan, “Kalau lelah, masuklah ke dalam. Tidur di luar dalam cuaca begini bisa membeku.”
“Tapi ini giliranku berjaga—”
“Sudahlah.” Hodge menegur sambil tertawa kecil. “Dengan keadaanmu sekarang, jangankan berjaga, diseret serigala pun kau takkan sadar. Pergilah, toh aku juga belum bisa tidur. Nanti kalau giliranmu, baru gantian.”
“Baiklah.” Penjaga itu memang sudah sangat mengantuk, lalu masuk ke dalam tenda.
Hodge menggosok-gosokkan tangan, meniupkan napas panas ke telapak, sembari memikirkan rencana esok hari. Karena setelah Carol menyatakan sikap, Hughes dan Fink memilih bertahan, satu-satunya cara kembali dengan selamat adalah menyingkirkan cacing raksasa secepat mungkin.
Beberapa hari lalu, ia sempat berdiskusi dengan Fink, apakah cacing raksasa masih mempertahankan naluri dan kebiasaan cacing biasa. Hasilnya, kemungkinan besar memang demikian. Jadi untuk memancing cacing itu keluar, mereka sudah punya ide: memakai umpan yang biasa digunakan untuk menangkap cacing biasa, yang kemungkinan besar juga akan efektif untuk cacing raksasa.
Bahan pembuat umpan itu tidak terlalu sulit didapat, hampir semuanya bisa ditemukan di hutan salju ini. Hal itu lumayan menghemat waktu dan tenaga.
“Seandainya dulu aku tak terlalu serakah,” Hodge menertawakan dirinya sendiri. Meski rekomendasi dari pendeta sangat menggiurkan, syaratnya adalah ia dan Fink harus selamat. Kalau mati, segalanya sia-sia. Ia sangat menghargai nyawanya.
Namun ia sadar, sekalipun diberi kesempatan kedua, ia tetap takkan menolak. Justru karena ia mencintai hidupnya, di dunia seperti ini ia butuh status yang cukup kuat demi melindungi diri, walau harus mengambil resiko.
Di tengah salju yang lebat, seorang diri di luar tenda, ia merasa bosan. Tak ada yang bisa dilakukan, ia pun berjalan mengelilingi api unggun, sekalian mengumpulkan bahan untuk membuat umpan. Beberapa bahan tambahan justru paling baik dipetik pada malam hari.
Ketika asyik berkeliling, tiba-tiba matanya menajam. Ia melihat bayangan samar tak jauh dari situ, hanya sudut kecil yang terlihat, sangat mudah terlewatkan.
Serigala salju? Cacing raksasa? Atau binatang buas, mungkin monster?
Hodge menahan napas, melangkah perlahan mendekat, bersembunyi di balik semak dan pohon, mendekati bayangan itu.
Semakin dekat, sosok itu semakin jelas, dan ia pun mendengar suara gesekan lembut.
Ayo, aku ingin tahu apa sebenarnya itu.
Ia menahan napas, sedikit mencondongkan kepala, mengintip dengan cepat.
Pemandangan di depannya membuat Hodge amat terkejut.
Ternyata itu bukan monster seperti yang ia duga, melainkan seorang wanita.
Carol. Ia menggunakan kesempatan saat penjaga mengantuk untuk diam-diam keluar tenda.
Carol berjongkok di tanah, di bawah sinar bulan ia tampak mengambil segenggam salju, meniupnya hingga sedikit mencair, lalu menggosokkan salju itu ke kedua tangannya—seolah sedang membersihkan tangan.
Apa yang membuatnya, di tengah malam begini, berani meninggalkan api unggun demi mencuci tangan dengan salju? Setidaknya, selama beberapa malam terakhir saat Hodge berjaga, Carol tak pernah melakukan hal ini.
Tunggu—baru saja, tangan mungilnya terus digenggam Hughes…
Apa karena itu? Jika benar demikian—
Hodge tak berani membayangkan lebih jauh. Gadis bangsawan yang selalu tampak ramah dan hangat, mungkinkah ia seseram itu?
Ia hendak beranjak pergi. Orang cerdas tak akan menampakkan diri pada saat seperti ini, bahkan di masa depan pun tidak. Ia akan mengubur rahasia ini dalam-dalam, dan mulai berhati-hati terhadap Carol.
Tiba-tiba, sebatang ranting patah terinjak kakinya, menimbulkan suara. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk terdengar di keheningan malam.
“Siapa di situ? Keluar!” Suara Carol terdengar dingin, matanya menatap ke arah semak.
Hodge pasrah, melangkah keluar dari bayangan pohon. Karena sudah ketahuan, berpura-pura panik hanya akan menambah masalah.
“Kau rupanya.” Nada suara Carol semakin tajam.
Hodge menatapnya lekat-lekat, menyadari bahwa mata Carol telah kembali normal, tak tampak bekas air mata atau bengkak. Sulit dipercaya, sesaat lalu ia begitu sedih, kini bisa menata diri secepat itu.
Keyakinan Hodge pun semakin kuat.
“Kau melihatnya, bukan?” tanya Carol, nadanya menuntut.
“Melihat… apa?” Hodge berpura-pura terkejut, lalu tersenyum menyesal, “Maaf, aku hanya keluar mengumpulkan ramuan karena giliran berjaga. Kalau kau tak bersuara, aku pun tak tahu kau ada di sini.”
Berpura-puralah sebaik mungkin, sepandai mungkin, meski konyol sekalipun. Di saat genting seperti ini, orang yang tak pandai berakting sembilan dari sepuluh pasti tolol, sisanya—setengah tolol.
“Kau sudah melihatnya.” Carol tak lagi bertanya, melainkan memastikan.
Menghadapi sorot matanya, Hodge tahu tak bisa lagi mengelak. Ia pun menghela napas, “Tak ada apa-apa, hanya kebiasaan saja. Gadis bangsawan punya sedikit kebiasaan menjaga kebersihan, apa salahnya?”
“Kau kira aku bodoh?”
“Aku justru menganggapmu jauh lebih pintar dari kebanyakan orang.”
“Kalau begitu, jangan perlakukan aku seperti orang bodoh.”
Hodge menyerah. “Lalu, apa yang ingin kau lakukan, Nona Carol?”
“Setiap orang punya rahasia, dan tak ingin rahasianya tersebar.” Carol mendekat, bicara makin perlahan, “Jadi, aku harus memastikan kau takkan mengatakannya.”
“Aku bersumpah, demi nama dewa.”
“Sumpah? Aku tak pernah percaya sumpah.”
Carol bergerak secepat kilat, Hodge hanya merasakan pipinya sedikit panas. Begitu sadar, ia segera mundur dua langkah, menatap Carol yang sedang mengelap bibirnya.
Dengan tatapan misterius, Carol berkata, “Bagaimana jika aku membangunkan yang lain sekarang juga? Saat mereka datang dan melihat keadaan kita, menurutmu apa yang akan mereka pikirkan, terutama Hughes? Apa yang akan ia lakukan?”
“Bisa jadi aku bernasib buruk.” Hodge tertawa getir. Perempuan ini benar-benar…
“Lebih buruk dari yang kau bayangkan, percayalah.”
Carol berhenti sejenak, menatap tajam, “Jadi, jangan katakan pada siapa pun. Kita sudah bertukar rahasia, hanya kita berdua yang mengetahuinya.”