Keadaan Tak Terduga
Sekarang posisi mereka masih cukup jauh dari gerbang Kota Batu, namun laju rombongan kereta jelas melambat, bahkan selama hampir satu jam, mereka hanya bergerak sejauh tiga putaran roda kereta.
Di depan rombongan dagang Dunlun, tampak iring-iringan kereta dagang lain membentuk barisan panjang yang bergerak perlahan, dan di ujung pandangan, para prajurit Keluarga Raymond tengah memeriksa setiap kereta dengan teliti di pos pemeriksaan, memastikan tak ada barang mencurigakan yang disembunyikan.
Dari lima wilayah Kekaisaran, wilayah Utara adalah yang terluas, tetapi karena cuacanya yang buruk sepanjang tahun, tak banyak bangsawan yang bersedia menjadikan daerah ini sebagai tanah feodal. Di tanah yang selalu diselimuti embun beku ini, selain Adipati Utara yang memimpin, hanya terdapat tiga marquis. Dibandingkan empat wilayah lain yang masing-masing memiliki belasan marquis, jumlah marquis di Utara sangat sedikit. Namun justru karena itu, kekuatan ketiga marquis ini jauh melebihi marquis di wilayah lain.
Secara formal, mereka memang bawahan Adipati Utara, tetapi pada kenyataannya mereka membentuk kekuatan sendiri dan saling bersaing di balik layar. Di antara mereka, kekuatan Francis Raymond adalah yang paling besar—sembilan ribu tentara tetap bersenjata lengkap, setara dengan dua hingga tiga marquis biasa. Kota Batu, sebagai kota terpenting milik Keluarga Raymond, menerapkan pemeriksaan ketat bagi siapa pun yang hendak masuk atau keluar.
Rombongan Dunlun sendiri berada di baris belakang. Dengan kecepatan pemeriksaan pos di depan, mungkin baru giliran mereka saat senja tiba. Sepanjang jalan menuju gerbang Kota Batu, rombongan kereta dan para pelancong dari berbagai penjuru berbaris panjang, namun tak seorang pun berani mencoba menyerobot ke depan untuk mempercepat masuk ke kota.
Alasannya sangat sederhana. Di kedua sisi jalan, beberapa regu penunggang kuda berpatroli dengan kencang. Berbeda dari pasukan reguler Keluarga Raymond, para penunggang kuda ini bertubuh lebih kekar dan tak mengenakan pedang panjang atau tombak standar. Di tangan mereka tergenggam tongkat kayu tebal yang kokoh, bentuknya mirip penggilas adonan versi raksasa, namun batang tongkat itu tidak halus, melainkan penuh paku besi yang menonjol ke segala arah.
Para pedagang yang sudah sering melintasi jalur ini tentu mengenal pasukan berkuda ini. Mereka adalah Pasukan Disiplin Keluarga Raymond, yang bertugas menjaga ketertiban barisan menunggu pemeriksaan. Alasan para pedagang sangat patuh pada aturan adalah karena reputasi cara kerja pasukan ini yang unik.
Meskipun nama pasukan itu mengandung kata 'disiplin', pengertian disiplin menurut mereka jelas berbeda dari orang kebanyakan. Di masa lalu, sebelum ketenaran pasukan ini, sering ada pedagang yang nekat mencoba menyerobot ke depan. Menghadapi mereka, para penunggang kuda itu tidak akan repot-repot memberi peringatan, mereka bertindak langsung.
Setiap pedagang yang melanggar aturan, akan diseret keluar dari barisan oleh para pria kekar ini. Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, tongkat kayu tebal itu sudah melayang ke wajah mereka. Jika sekali pukul langsung tewas, itu sudah bagus. Jika tidak, lebih bagus lagi. Mereka akan mengikat kedua bahu sang pelanggar ke kuda dengan dua tali besar, lalu menariknya mengelilingi jalan dengan kecepatan tinggi. Setelah putaran selesai, yang tersisa hanya segumpal daging dan darah yang tak lagi berbentuk. Mayat itu akan dibiarkan di tepi jalan selama seminggu sebelum akhirnya dibersihkan.
Darahlah yang membangun reputasi Pasukan Disiplin.
Sejak itu, siapa pun yang hendak melintasi Kota Batu lebih rela menunggu berhari-hari, daripada mengambil risiko mencoba menyerobot barisan.
Sejak matahari terbit, Dunlun sudah mengantre, dan hingga matahari hampir tenggelam, barulah rombongan di depan mereka selesai diperiksa. Menyalakan api dilarang di jalan ini, sehingga makan siang mereka hanyalah makanan padat yang hambar, ditelan bersama air.
Morgan dan Markus melangkah ke pos pemeriksaan, menyerahkan dokumen dan catatan perjalanan dagang tahun-tahun sebelumnya yang sudah mereka siapkan pada prajurit yang bertugas. Bersama dokumen itu, mereka juga menyelipkan sekantong uang logam yang cukup berat. Puluhan tahun melintasi jalur ini, mereka tahu benar bahwa 'uang pelicin' akan mempermudah pemeriksaan tanpa harus khawatir dipersulit.
Benar saja, prajurit itu tampak sangat senang dengan kantong uang tersebut. Apalagi rombongan Dunlun memang hanya terdiri dari beberapa kereta saja, sehingga pemeriksaan berlangsung cepat. Namun saat mereka hampir diizinkan masuk kota, seorang prajurit tiba-tiba memperhatikan Daphne di antara kerumunan, matanya langsung berbinar.
"Kamu, ke sini." Ia melambaikan tangan pada Daphne.
Daphne berjalan ke depan, masih belum paham maksudnya, sampai ia menyadari tatapan sang prajurit yang terus menempel di lekuk dadanya. Barulah ia mengerti.
"Aku curiga kamu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di dadamu. Ayo ke sini, akan kami periksa," kata prajurit itu, lalu bersama dua rekannya hendak membawa Daphne ke rumah batu di pos pemeriksaan—bangunan kecil tanpa jendela, hanya ada pintu. Tiga pria dan satu wanita masuk ke sana, bahkan tanpa perlu berpikir panjang pun, semua tahu apa yang kemungkinan besar akan terjadi.
Hodge segera melangkah maju, menahan mereka. Dengan suara berat ia berkata, "Dia adalah tabib rombongan kami. Sepertinya tidak perlu sampai seperti ini."
Di mana pun juga, tabib herbal selalu dihormati. Hodge sengaja menyebutkan status itu agar para prajurit tidak bertindak sewenang-wenang.
Prajurit itu menghentikan langkah, berbalik menatap Daphne, lalu menoleh pada Hodge di sampingnya. "Tabib? Apa kamu punya sertifikat dari Perkumpulan Herbal?"
"Tidak ada," jawab Daphne spontan. Kenyataannya, memang banyak tabib herbal yang tidak memiliki sertifikat dari perkumpulan, namun identitas mereka tetap diakui. Secara logika, hal ini mudah dijelaskan, tetapi di mata prajurit yang memang berniat mempermainkan mereka, justru dijadikan celah.
"Tidak ada? Justru makin mencurigakan!" Suara prajurit itu keras dan tak memberi celah. "Cepat kemari, kami harus memeriksa apakah kamu benar-benar orang mencurigakan!"
Kening Hodge berkerut tipis. Tampaknya para prajurit itu memang bertekad mencari gara-gara dengan mereka.
"Kami berhak menolak pemeriksaan yang tidak wajar," kata Hodge.
Prajurit yang memimpin itu memperlihatkan giginya, menatap Hodge dengan sinis. "Anak muda, memeriksa orang mencurigakan memang tugas kami. Tak ada istilah wajar atau tidak wajar. Kamu membela dia seperti ini, jangan-jangan kalian memang satu komplotan."
Ia memperhatikan Hodge lebih saksama—meski seorang pria, wajahnya bahkan lebih menarik dari wanita yang sejak tadi ia incar. Tanpa ragu ia memutuskan, "Kamu juga harus kami periksa dengan saksama."
Hodge menarik tangan Daphne, mundur selangkah.
Melihat itu, prajurit langsung mencabut pedangnya, menatap mereka dengan kelam. "Apa? Mau kabur? Sudah jelas kalian mencurigakan!"
Morgan yang melihat situasi makin buruk segera berlari dan menyerahkan sekantong uang lagi, mencoba menengahi.
Prajurit itu menerima uang itu tanpa sungkan, tetapi sama sekali tidak berniat membiarkan Daphne dan Hodge lolos. Ia malah mendorong Morgan dan membentaknya, "Minggir! Kalau tidak mau masalah, jangan ikut campur!"
Genggaman Hodge pada tangan Daphne terasa kaku. Ia benar-benar tak menyangka akan menghadapi masalah seperti ini saat hendak masuk kota. Ia mencoba menghitung kemungkinan jalan keluar di benaknya, namun tak satu pun terasa tepat.
Haruskah ia nekat membuka identitas dan menerobos paksa?
Tepat ketika para prajurit itu mengangkat pedang dan mulai mendekat untuk menangkap mereka, suara derap kuda bagai halilintar tiba-tiba memecah ketegangan, memaksa situasi yang tegang itu berubah.