Bab Seratus Tiga Puluh Lima: Memotong Hiu!
Meskipun tim harus menelan kekalahan dari Jazz di Salt Lake City, setakat kedatangan kembali 76ers di Philadelphia, masih banyak suporter setia "Ai-Feng" yang datang menyambut di bandara.
Hanya saja, melihat papan-papan tanda yang diangkat oleh para suporter setia tersebut, Su Feng selalu merasa dirinya sedang dikerjai...
Jika papan-papan tanda itu diterjemahkan ke dalam bahasa gaul internet masa depan, maka isinya kurang lebih akan seperti ini:
Bro Feng 30+, Bro Feng luar biasa, 76ers kalah, tapi Bro Feng tidak kalah!
Pemain termuda peraih 30+ di NBA, jika bukan Bro Feng, siapa lagi?
Fadeaway yang tampan, drive yang dominan, serta senyuman yang bebas tanpa beban itu; selama Bro Feng tidak tumbang, panji yang angkuh itu akan selalu berkibar melawan angin!
Su Feng menepuk keningnya sendiri. Benar saja, terkadang suporter sejati bahkan jauh lebih menakutkan daripada *hater*.
Masuk akal, jika hanya melihat papan-papan tanda ini, Su Feng merasa dirinya nyaris disucikan menjadi dewa.
"Hmm, sepertinya malam ini aku harus menelepon Trice."
Entah mengapa, sekarang Su Feng merasa bahwa setiap kali dirinya memiliki tanda-tanda besar kepala, ia akan langsung teringat pada McGrady.
Tentu saja, ejekan yang dapat diterima oleh Su Feng hanya terbatas pada McGrady.
Sebab, jika itu adalah jenis ejekan tanpa teman ala Carter, itu karena Carter belum masuk NBA sekarang...
Jika tidak, Su Feng pasti akan membuatnya melihat seperti apa bentuk pertahanan yang bahkan membuat pinggang Jordan kewalahan!
Jika tidak bisa menghentikannya sampai mati, Su Feng akan menggilingmu sampai mati.
Ini bagaikan Su Feng saat bermain Hearthstone di kehidupan sebelumnya, di mana ia paling suka memainkan *Control Warrior*; asalkan bisa menghukum deck *aggro*, ia bisa merasa bahagia sepanjang hari.
...
Tanggal 29, setibanya Lakers di Philadelphia, Kobe akhirnya tidak kuasa menahan godaan kuliner dan secara inisiatif menelepon Su Feng.
"Apa? Kamu mau makan Wellington steak? Maaf, sudah habis, karena dua hari lalu semuanya sudah dilahap habis oleh Ben dan Theo."
"Ha? Pizza sosis gaya Italia juga boleh? Maaf, itu juga tidak ada, dua hari lalu semuanya sudah dilahap habis oleh Ben dan Theo."
"Lobster kecil Australia? Mana ada benda semacam itu di kulkas-ku?"
"Spaghetti? Baiklah, kalau yang ini aku memang bisa membuatnya untukmu."
Kobe sangat kesal.
Mana janji makan malam mewah yang disiapkan untukku?
Begitu teringat bahwa dirinya baru bisa kembali ke Philadelphia dengan susah payah, tetapi Su Feng justru memberikan bahan-bahan makanan berharga itu kepada orang lain untuk dimakan, hati Kobe merasa sangat geram.
Philadelphia, Market Street, di apartemen Su Feng.
Setelah berselang satu bulan, saat kembali melihat Kobe, Su Feng mendapati bahwa siku Kobe jelas terlihat sedikit lebih tebal daripada sebelumnya.
Namun, jika dibandingkan dengan sikunya sendiri...
Tetap saja terasa sedikit lebih kurus.
Kobe di musim *rookie* masih tergolong ramping; sebelum ia mulai berebut *low post* sialan itu dengan Shaquille, Su Feng tahu bahwa Kobe tidak akan menaikkan berat badannya secara gila-gilaan.
"Bukan begitu, Su, aku jarang-jarang kembali ke sini, tetapi spaghetti buatanmu ini terlalu sederhana, kan?"
Melihat spaghetti di piring yang hanya berisikan saus tomat dan sedikit saus daging cincang, Kobe merasa Su Feng telah berubah.
Dulu, bahkan tanpa diingatkan oleh dirinya sendiri, Su Feng selalu menyiapkan makan malam mewah untuknya.
Namun sekarang, sejak membentuk duet baru Philadelphia bersama Allen Iverson, Kobe merasa frekuensi Su Feng menelepon dirinya pun semakin berkurang.
"Mau makan atau tidak?" ucap Su Feng sambil menatap Kobe dengan tatapan 'mata tajam penembus kebenaran'.
...
Kobe tidak menjawab, melainkan mulai menyantapnya dengan ekspresi sedih dan geram.
Menyebalkan sekali...
Kenapa cara bicara dan nada suara pria ini sekarang ikut berubah?
Setelah melahap habis sebiring besar spaghetti dalam sekali duduk, Kobe dengan rasa penasaran menatap Su Feng yang masih sibuk di dapur dan bertanya, "Apakah kamu sedang membuat makan malammu sendiri?
Apa yang hendak kamu makan?"
"Wellington steak," jawab Su Feng dengan jujur.
Kobe: "!!!"
Sialan!
Kobe tidak bisa duduk dengan tenang lagi. Ia bangkit, menatap Su Feng dengan tatapan maut, dan berkata, "Bukankah tadi kamu bilang sudah habis?"
"Betul, ini adalah potongan terakhir, tidak mungkin aku sendiri hanya makan spaghetti, kan?" jawab Su Feng sambil berkedip dan tersenym.
Kobe merasa dirinya baru saja menerima serangan kritis sebesar seratus juta poin.
Pada detik ini, suasana hatinya jauh lebih menyiksa daripada disemprot oleh McGrady sebanyak 13 kali dalam waktu 35 detik beberapa hari yang lalu.
Lupakan saja.
Mungkin...
Inilah yang dinamakan hidup?
Kobe terdiam. Ia duduk di depan meja makan, bergeming dengan ekspresi kosong.
Puluhan menit kemudian...
Saat melihat Su Feng membawa keluar porsi Wellington steak dari dapur, Kobe bersumpah, mulai hari ini dan seterusnya, ia akan memutuskan...
"Makanlah, masih melamun apa lagi?" Su Feng meletakkan porsi Wellington steak itu di hadapan Kobe sambil tersenyum.
...
Setelah terdiam cukup lama, Kobe mendongak menatap Su Feng dan bertanya, "Ini disiapkan untukku?"
"Omong kosong, dengan porsi makanmu itu, apakah sepiring spaghetti tadi cukup mengenyangkanmu?" Su Feng melirik Kobe dengan tatapan jengkel.
"Lalu kamu sendiri tidak makan?" tanya Kobe penuh rasa penasaran.
Su Feng tidak ingin memberi tahu Kobe kebenaran yang kejam itu, sebab sebelum Kobe datang, Su Feng baru saja menghabiskan satu potongan steak lainnya.
Su Feng tidak membohongi Kobe, karena pada malam Natal, bahan-bahan makanan di rumahnya memang hampir disapu bersih oleh Big Ben dan Ratliff.
Hanya saja, mengingat persahabatan tingkat kapal induk antara Kobe dan Su Feng, bagaimana mungkin Su Feng yang tahu bahwa Lakers akan berkunjung ke Philadelphia pada akhir tahun tidak meninggalkan persediaan cadangan?
Di meja makan, melihat Su Feng yang tidak menjawab pertanyaannya, Kobe yang mengira Su Feng belum makan, setelah melalui pergumulan batin yang sengit, memotong steak tersebut menjadi dua bagian.
Ia menyisakan seperempat bagian untuk dirinya sendiri, lalu menatap Su Feng dan berkata, "Aku cukup mencicipi rasanya saja, kamu makanlah bersama!"
Ya ampun...
Kobe, tahukah kamu, kecerdasan emosional yang kamu tunjukkan di hadapanku ini akan membuat Shaquille benar-benar menangis jika melihatnya di masa depan.
Bagian (1/3)
Bagian (2/3)
"Makanlah, aku tidak lapar," ucap Su Feng sambil tersenyum kepada Kobe.
"Mana boleh begitu, kamu adalah sahabat terbaikku, bagaimana bisa aku membiarkanmu kelaparan?" ucap Kobe menatap Su Feng dengan serius.
"Aku sedang berdiet akhir-akhir ini, pelatih menyuruhku mengontrol berat badan," balas Su Feng mencari alasan.
"Kamu benar-benar tidak mau makan?" Kobe menatap steak di piring sambil menelan ludah.
"Benar-benar tidak," jawab Su Feng tersenyum.
Setelah menghabiskan porsi steak tersebut, Kobe merasa puas.
Selanjutnya, Su Feng dan Kobe sempat mengobrol sejenak mengenai NBA.
Kondisi terkini Kobe cukup baik. Hingga saat ini di musim ini, ia mampu menorehkan rata-rata 9,4 poin, 2,8 *assist*, dan 2,1 *rebound*.
Bagi Kobe yang saat ini hanyalah pemain cadangan minim menit di Lakers, catatan statistik seperti itu sudah jauh lebih baik dibandingkan musim *rookie*-nya di kehidupan masa lalu Su Feng.
Namun, jika dibandingkan dengan Su Feng yang hampir diagung-agungkan oleh para suporter setianya sebagai Michael Jordan-nya Philadelphia...
Statistik seperti itu sama sekali tidak memiliki daya tawar!
Kobe kecil yang masih muda ya, aku baru saja mencetak 30+ di Salt Lake City, apa kamu tahu?
Pemain termuda peraih 30+ di NBA saat ini bermarga Su bernama Su Feng, apa kamu tahu?
Waktu bermainku saat ini tiga kali lipat darimu, apa kamu tahu?
Sayangnya, Su Feng gagal menusuk hati Kobe.
Sebab, setelah menghabiskan porsi Wellington steak tersebut, suasana hati Kobe sedang sangat bagus.
"Sudahlah, dengan pilihan tembakanmu itu, aku saja merasa cemas melihatnya," balas Kobe melakukan serangan balik.
Su Feng: "..."
"Mana ada cara bermain basket sepertimu? Cara bermainmu itu jika dikatakan dengan halus adalah penuh tekad, tetapi jika dikatakan dengan kasar adalah melakukan tembakan sembarangan," tambah Kobe.
Su Feng: "..."
Sialan!
Emosi negatif Su Feng +1, +1...
Ingat ya, Kobe, jika nanti ada kesempatan, sebaiknya kamu jangan bermain sepertiku!
Melihat ekspresi Su Feng yang tidak bisa berkata-kata, Kobe merasa sangat senang.
Sebelum beranjak pergi, Kobe merenung sejenak lalu berkata kepada Su Feng:
"Su, tunggulah, cepat atau lambat, aku akan bertarung habis-habisan denganmu di lapangan sebagai pemain utama Lakers."
Faktanya, terhadap pencapaian yang diraih Su Feng akhir-akhir ini, Kobe hanya mengeluh di mulut saja. Di dalam hatinya, ia sangat sadar bahwa meskipun saat memasuki NBA titik awal dirinya lebih tinggi daripada Su Feng, kini ia telah dilampaui oleh Su Feng.
Namun, masa depan masih begitu panjang. Kobe percaya diri, dalam hal daya tahan, dirinya sama sekali tidak akan kalah dari Su Feng.
...
Tanggal 30, CoreStates Center. Mengingat ini adalah pertandingan penutup tahun 1996, sebelum laga dimulai, pihak 76ers juga mengusung slogan perpisahan tahun 1996 dan menyambut tahun 1997 di kandang.
Saat melakukan pemanasan sebelum pertandingan, Ratliff dan Big Ben kembali "saling memuji".
Terutama ketika melihat aksi *slam dunk* brutal Shaquille saat pemanasan, Ratliff tiba-tiba merasa perutnya sedikit sakit dan dadanya terasa sesak...
Pada masa puncak kariernya, daya rusak Shaquille begitu besar hingga seluruh liga merasa gentar kepadanya.
Bahkan memaksa liga untuk memperkenalkan aturan pertahanan zona pada musim 00/01 demi membatasi pergerakannya.
Su Feng sangat paham bahwa Lakers yang diperkuat Shaquille saat ini adalah lawan paling sulit yang harus dihadapi oleh 76ers.
Kemenangan tim di Los Angeles sebelumnya memiliki banyak faktor kebetulan dan menurut Su Feng tidak layak dijadikan rujukan, sebab betapa pun tangguhnya Ratliff dan Big Ben di masa puncak mereka, mereka tetap tidak akan mampu menahan hiu raksasa ini.
Namun bagi Su Feng yang memperlakukan setiap pertandingan layaknya laga pamungkas, betapa pun sulitnya, pertandingan tetap harus dilalui!
Bagaimana mungkin membiarkan hiu yang pendek, cepat, dan gempal ini merajalela di CoreStates Center?
...
Ngomong-ngomong, saat Su Feng sibuk ke sana ke mari di balik layar maupun di atas panggung...
Di sisi lain, pandangan Shaquille juga senantiasa mengawasi Su Feng.
Shaquille tentu tidak akan melupakan fakta bahwa di pertandingan sebelumnya, pemuda inilah yang melakukan *game-winning shot* untuk mengalahkan Lakers.
Terlebih lagi saat itu kejadiannya persis di depan wajahnya sendiri!
Begitu teringat bahwa setelah pertandingan usai Lakers diejek sebagai "tim kuat palsu", hati Shaquille merasa geram.
Shaquille sungguh tidak habis pikir, padahal dulu dirinya menandatangani tanda tangan untuk Su Feng dan Kobe secara bersamaan, tetapi mengapa si Kobe begitu penurut sementara si Su Feng ini begitu nakal?
Akhir-akhir ini, setiap kali Kobe masuk sebagai pemain cadangan, Shaquille selalu memberikan dorongan agar Kobe berani melakukan tembakan.
Sebab dalam pandangan Shaquille, ia harus membantu Kobe melampaui si Su Feng ini.
Lagi pula, tidak masalah sekiranya Kobe gagal memasukkan bola.
Bukankah itu berarti menambah statistik *offensive rebound* bagi dirinya sendiri?
Menurutmu itu masalah besar?
Musim ini, Shaquille mampu mencatatkan rata-rata hampir 4 *offensive rebound* per pertandingan. Di luar sana, banyak pihak berpendapat bahwa satu-satunya hal yang menghalangi Shaquille menjadi Raja *Rebound* adalah karena ia terkadang terlalu "pemalas".
Menghadapi berbagai suara miring yang mempertanyakan "kemalasannya" itu, tanggapan Shaquille tergolong sangat arogan.
Ia merasa dirinya sama sekali tidak perlu merebut *rebound* seperti layaknya Rodman, sebab ia tidak mencari uang dari hal tersebut.
Konon, setelah mendengar tanggapan Shaquille ini, pihak yang paling meradang bukanlah Rodman, melainkan suatu unit pengukuran tertentu di Chicago.
Malam ini, datang dengan ambisi meledakkan CoreStates Center, Shaquille telah berkoordinasi terlebih dahulu dengan rekan setimnya sebelum pertandingan dimulai.
Sang Hiu, ia hendak mengamuk!
...
CoreStates Center, seiring papan skor raksasa di arena mengumumkan jajaran *starting line-up* kedua tim malam ini, atmosfer di seluruh penjuru stadion perlahan mencapai puncaknya.
Lakers: Shaquille O'Neal, Elden Campbell, Corie Blount, Eddie Jones, Nick Van Exel.
76ers: Theo Ratliff, Ben Wallace, Su Feng, Jerry Stackhouse, Allen Iverson.
Malam ini, "Si Cerdik" Dave megubah susunan pemain utama tim berkat bisikan saran dari Su Feng.
Karena 76ers tidak mampu membendung Shaquille, Dave berencana untuk bermain lari cepat melawan Lakers dan mengadu tingkat efisiensi mendulang poin.
Dan mungkin sulit kamu percaya, Stackhouse yang sudah lama absen dari susunan *starting line-up* sebenarnya sempat menolak ketika pertama kali diberi tahu bahwa ia akan dipasang sebagai pemain utama malam ini.
Sebab Stackhouse yang belakangan bermain sebagai pemain cadangan merasa semakin menikmati perannya; media lokal Philadelphia bahkan memuji bahwa ia memiliki potensi bersaing memperebutkan gelar *Sixth Man of the Year*.
Dalam pandangan Stackhouse, menjadi pemain utama di tim 76ers sama sekali tidak memiliki masa depan.
Bagian (2/3)
Bagian (3/3)
Seandainya bukan demi wajah Su Feng, ia, Stackhouse, lebih memilih untuk tetap menjadi pemain cadangan kecil!
Sementara di bangku cadangan Lakers, jalan pikiran Kobe justru bertolak belakang dengan Stackhouse.
Meskipun malam ini ia masih duduk dengan "patuh" di bangku cadangan, rasa frustrasi di lubuk hati Kobe tetap sulit disembunyikan.
Kobe sama sekali tidak asing dengan Philadelphia.
Sebab ia adalah "Putra Philadelphia".
Hingga hari ini, masa-masa kejayaan Lower Merion masih kerap terlintas di benak Kobe.
Melihat Su Feng mengenakan jersey nomor 23 76ers, kau bilang Kobe tidak merasa iri? Mana mungkin!
Ketahuilah, ini adalah skenario peran utama yang paling sangat ia inginkan.
Pemain utama!
Lain kali saat datang berkunjung ke Philadelphia, aku pasti harus menjadi pemain utama tim Lakers!
Di pinggir lapangan, Kobe mengepalkan tangan kecilnya. Sementara di atas lapangan, setelah Shaquille memenangi *tip-off* pertama bagi Lakers, Nick Van Exel mendribble bola melewati garis tengah.
Shaquille melangkah dengan langkah kakinya yang mengerikan, berjalan menghampiri Ratliff langkah demi langkah.
Ratliff yang sempat menerima konseling psikologis dari Su Feng sebelum pertandingan tampak tidak begitu panik kali ini. Ia dengan sigap mengambil posisi di depan (*fronting*) untuk berupaya semaksimal mungkin mengganggu penerimaan bola Shaquille.
Di saat bersamaan, pandangan Big Ben juga mengawasi secara ketat gerak-gerik Eddie Jones yang bersiap mengoper bola lambung kepada Shaquille.
Kendati Big Ben dan Ratliff telah mengerahkan kemampuan terbaik mereka hingga batas maksimal pada penguasaan bola tersebut, Shaquille tetap berhasil menerima bola dengan cara yang beringas dan tidak masuk akal, lalu menghantamkan *slam dunk* dua tangan setelah menubruk Big Ben.
Itulah Shaquille!
2 berbanding 0!
Shaquille yang berhasil mencetak poin tampak sangat bangga. Namun tepat saat ia hendak melakukan selebrasi "langkah penguasa"...
Big Ben justru telah berlari ke garis *baseline* dan langsung melepaskan operan cepat.
...
Shaquille yang baru saja melangkah pada gerakan selebrasi pertamanya nyaris terkilir pinggangnya.
Tim 76ers ini sungguh keterlaluan!
Setelah bergabung dengan Lakers, berat badan Shaquille meningkat cukup pesat. Menghadapi tim yang memiliki *center* tangguh seperti ini, meredam kekuatannya lewat kecepatan adalah satu-satunya cara.
Tentu saja, Shaquille saat ini masih sangat lincah berlari. Nah, lihatlah, pada penguasaan bola kali ini, bukankah ia berhasil mundur kembali bertahan dengan membawa segelintir rasa jengkel di wajahnya?
Melihat Shaquille yang tampak kurang senang, Su Feng membatin dalam hati, jika baru begini saja kamu sudah tidak senang, sebentar lagi bukankah paru-parumu akan dibuat meledak karena marah?
Mau bagaimana lagi, menghadapi Shaquille, menggunakan cara-cara konvensional jelas tidak akan mempan.
Sebab hiu raksasa ini, jika dapat diselesaikan dengan cara konvensional, maka NBA tentu tidak perlu sampai memberlakukan aturan pertahanan zona demi meredamnya.
Di atas lapangan, serangan perdana 76ers juga membuahkan hasil. Iverson mengecoh Nick Van Exel sebelum memasukkan bola melalui tembakan jarak menengah.
Barisan perimeter Lakers periode ini, selain Eddie Jones, semuanya adalah titik-titik kebocoran pertahanan.
Tembakan jarak menengah pendek semacam itu adalah salah satu senjata andalan Iverson. Dan kebetulan sekali, titik tembakan Iverson tadi berada di area yang tidak terjangkau oleh jangkauan blok Shaquille.
Berbalik menyerang, Lakers membangun serangan dan Shaquille kembali meminta bola di area *post*.
Ratliff mengerahkan seluruh sisa tenaga dalam tubuhnya kali ini, namun hanya lewat sedikit ayunan bokong dari Shaquille, Ratliff kembali terlempar menjauh...
Jujur saja, kekuatan fisik Shaquille ini benar-benar mengerikan.
4 berbanding 2. Shaquille berhasil mencetak poin dengan mudah setelah menyingkirkan Ratliff sebelum bantuan pertahanan dari Big Ben sempat tiba. Pada saat bersamaan, dari bangku cadangan 76ers, Dave memanggil Rick Hendrickson untuk bersiap masuk.
Setelah memastikan bahwa Ratliff memang kesulitan membendung Shaquille, Dave bersiap melakukan pergantian pemain.
Di lapangan, melihat Rick Hendrickson yang berdiri di pinggir lapangan dengan postur tubuh bahkan lebih kurus dari Ratliff, Shaquille merasa sedikit meremehkan.
Sebab bahkan Ratliff saja tidak mampu menghentikannya, apakah 76ers berharap orang ini bisa menghentikannya?
Tentu saja Hendrickson tidak mampu menghentikan Shaquille.
Terlebih lagi, pemain yang hendak ia gantikan bukanlah Ratliff.
76ers menyerang. Selepas Iverson memaksakan pelanggaran tangan (*hand-check*) dari Nick Van Exel, Hendrickson masuk menggantikan Big Ben.
Di bangku cadangan Lakers, Del Harris tampak kebingungan...
Karena ia tidak bisa memahami apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Dave ini?
Ben Wallace ini sedang bermain dengan cukup baik, pertahanan bantuannya juga berjalan lumayan, mengapa malah ditarik keluar?
Sayangnya, Su Feng tidak bisa mendengar isi hati Harris, jika tidak ia pasti akan memberi tahu Harris: Pertanyaan bodoh apa itu? Kita hendak melakukan strategi *Hack-a-Shaq*, masakan mau membiarkan Big Ben tetap di lapangan untuk saling potong poin dengan kalian?
Sayang sekali, bukan berarti Su Feng tidak pernah berusaha menyelamatkan persentase tembakan bebas Big Ben.
Bahkan teknik lemparan unik ala "mengayunkan timba" pun pernah ia ajarkan untuk dilatih oleh Big Ben, namun...
Entah apakah Big Ben memiliki "beban citra", saat melatih teknik lemparan "mengayunkan timba" tersebut, ia melempar lebih buruk daripada lemparan bebas normalnya sehari-hari.
Sebelum berhasil meyakinkan Big Ben untuk menerima teknik "mengayunkan timba" secara total, Su Feng merasa lemparan bebas pemain ini sudah tidak tertolong lagi.
Di lapangan, sekembalinya masuk, Hendrickson langsung memasang *screen* untuk Su Feng. Lakers tidak begitu familier dengan karakteristik permainannya. Namun melihat postur tubuhnya, para pemain Lakers mengira ia adalah tipe pemain berkarakter seperti Christian Laettner.
Mau bagaimana lagi, para pemain cadangan 76ers semuanya adalah senjata rahasia, sebab bahkan para penggemar setia 76ers sendiri terkadang tidak tahu apa keunggulan spesifik dari para cadangan tim mereka...
Hendrickson adalah pemain yang dipilih 76ers pada putaran kedua tahun ini. Ia sempat berlatih bersama trio inti pada kompetisi musim panas. Gaya bermainnya cenderung lembut, namun ia memiliki kemampuan tembakan jarak jauh yang cukup mumpuni.
Tebakan para pemain Lakers di lapangan memang benar, pemain ini memang berkarakter tipe Laettner.
"Apakah mereka ingin meratakan ruang tembak dan menarik lini pertahanan kita keluar?" di bangku cadangan Lakers, Del Harris membatin dengan penuh kebingungan kala melihat Hendrickson berdiri bergeming di sudut lapangan (*corner*).
Jepret!
Selepas *screen* dari Hendrickson, tembakan *jump shot* Su Feng meleset. Shaquille mengamankan *rebound*, namun tepat saat Shaquille bersiap mengoper bola kepada Van Exel, Hendrickson yang tadinya bergeming tiba-tiba bergerak...
Ia melompat tanpa ragu menerjang ke arah Shaquille, lalu dengan tubuh sedikit bergetar memberikan pelukan erat yang penuh kehangatan kepada Shaquille.
Shaquille: "???"
Kamu sudah gila ya!
...
Catatan Penulis: Ya ampun, bagian paruh kedua bab ini telah direvisi setidaknya sebanyak 9 kali dan ditulis ulang 9 kali. Bikin lelah setengah mati! Pembaruan 15.000 kata telah disajikan, Ah Q sudah kehabisan tenaga, selamat malam para pembaca budiman! Memohon dengan sangat dukungan tiket bulanan, tiket rekomendasi, *bookmark*, serta donasi tip! Sampai jumpa besok!
Bagian (3/3)