Bab Satu: Su Feng yang Terlambat
Sebagai seorang guru di SMA Nefalia Philadelphia, John Harper merasa kecerdasannya sedang dipermainkan.
Dan menurut Harper, yang telah “menghina” kecerdasannya itu tak lain adalah siswa pertukaran dari Tiongkok yang kini duduk di depannya—Su Feng.
“Jadi, kau bilang, dalam perjalanan ke sekolah kau mengalami baku tembak di jalanan, dan setelah baku tembak selesai, kau menyelamatkan seorang warga yang tak kau kenal padahal dia tertembak berkali-kali, lalu karena itu kau terlambat masuk dua pelajaran?” Barangkali inilah alasan terlambat paling absurd yang pernah didengar Harper seumur hidupnya.
“Benar, Pak,” jawab Su Feng yang baru berusia 16 tahun dengan wajah tenang. Tak peduli seberapa tajam Harper menatap matanya, yang tampak hanyalah ketenangan dan sikap menerima.
“Sungguh tak masuk akal!”
Logika Harper menegaskan bahwa siswa pertukaran dari Tiongkok ini pasti sedang berbohong, mungkin karena takut akan mendapat nilai nol di ujian akhir sehingga menciptakan alasan keterlambatan yang begitu mustahil.
Namun, Harper, yang telah berkali-kali mendengar kebohongan dari para muridnya, tahu betul: seorang pembohong tak akan pernah bisa tampil setenang itu.
Selain itu, setelah memperhatikan noda darah di baju, sepatu, dan ujung celana Su Feng, Harper mulai bertanya-tanya—mungkinkah alasan yang absurd ini benar adanya?
Bagaimanapun, satu kebohongan biasanya menuntut kebohongan lain sebagai penopangnya. Dan akhirnya, Harper, yang oleh para siswa Nefalia dijuluki “Iblis Botak”, untuk pertama kalinya dalam kariernya, justru membiarkan seorang siswa tetap masuk kelas meski terlambat.
Seluruh kelas, terutama teman-teman seangkatan Su Feng, terperangah.
Demar, pemuda kulit hitam yang duduk paling dekat dengannya, menatap Su Feng penuh kekaguman. “Bro, alasan keterlambatanmu keren banget! Dan noda darah di bajumu itu, coba ceritain, gimana caranya kepikiran bikin alasan sekeren dan serapih itu?”
Su Feng hanya tersenyum pahit, mengabaikan Demar dan mulai mengeluarkan buku catatannya.
Absurd? Tentu saja.
“Kenyataan... memang terlalu absurd,” gumam Su Feng.
Namun, inilah kenyataan. Kejam, dingin, kadang bahkan tak masuk akal.
Perlu diketahui, dibandingkan kejadian aneh pagi ini, Su Feng butuh waktu dua minggu untuk mencerna kenyataan baru yang tiba-tiba hadir di hadapannya...
Bagi kebanyakan orang, tahun 2020 adalah tahun penuh keajaiban. Su Feng, yang selama hidupnya tak pernah benar-benar berkontribusi pada masyarakat, tak pernah membayangkan akan tiba hari di mana seluruh negeri bersatu menjadi “kaum rebahan”—dan itu dianggap sebagai kontribusi terbesar untuk bangsa.
Ya, Su Feng adalah salah satu dari “kaum rebahan” yang dengan penuh semangat memilih untuk berkontribusi lewat diam di rumah.
Lalu, pada suatu dini hari saat ia asyik di rumah, sebuah berita muncul di layar yang membuatnya terkejut dan merasa seperti berhalusinasi...
Dan setelah itu, hal-hal yang lebih mustahil pun terjadi...
...
“Dering... dering...”
Saat Su Feng masih tenggelam dalam ingatan, bel tanda pelajaran berakhir tiba-tiba berbunyi.
Karena alasan keterlambatannya yang nyeleneh, Su Feng yang biasanya tak menonjol di kelas, mendadak jadi pusat perhatian.
Ada yang mendekat menanyakan detail kejadian pagi itu, ada yang penasaran kenapa ia bisa setenang itu, dan ada pula yang ingin tahu dari mana inspirasinya membuat alasan seperti itu.
Tentu saja, Su Feng tahu, tak banyak yang benar-benar percaya alasan keterlambatannya adalah kejadian nyata.
Teman-teman yang bertanya detail pun hanya ingin tahu bagaimana ia membangun ceritanya.
Sedangkan noda darah di bajunya, oleh para “detektif” muda di kelas itu, dianggap sebagai properti yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Akhirnya, Su Feng malas menjelaskan lebih jauh.
“Su, kau kemari sebentar,” panggil John Harper setelah pelajaran berikutnya berakhir, tepat saat Su Feng sedang mencari cara untuk lepas dari para “detektif” tadi.
Dan uniknya, para “detektif” itu langsung berubah sikap secepat membalikkan telapak tangan. Mereka buru-buru menjaga jarak, bahkan Demar yang berdiri tak jauh dari Su Feng berbisik dengan nada usil, “Sudah kuduga, tak ada yang bisa lolos dari ‘Iblis Botak’. Kali ini Su pasti celaka.”
Teman-teman yang lain pun menatap Su Feng dengan ekspresi penuh rasa puas atas kemalangan orang.
Anak muda, kau benar-benar masih hijau!
Alasan seperti itu, mana mungkin bisa menipu Harper...
“Su, maaf, tadi aku salah meragukanmu. Kau adalah kebanggaan Nefalia!” Begitu Su Feng berdiri di hadapan John Harper, guru kulit putih yang agak gemuk itu tiba-tiba memeluknya erat.
Eh...
Apa-apaan ini? Kunci gembok manusia?
Tubuh Harper yang pendek dengan hidung penuh bintik-bintik bergesekan di dada Su Feng, membuatnya merasa sedikit mual...
Seluruh kelas langsung gempar.
Demar yang tadinya menunggu Su Feng celaka kini hanya bisa melongo.
“Teman-teman, mari kita beri tepuk tangan untuk Su. Kita wajib memberi penghormatan tertinggi pada pahlawan Nefalia!” usai memeluk Su Feng, John Harper berbicara kepada seluruh kelas.
Sebagian besar murid langsung bertepuk tangan, walau ekspresi mereka masih penuh keterkejutan.
“Baru saja aku menerima telepon dari pembimbing akademik. Polisi sedang mencari seorang siswa pertukaran dari Nefalia...”
“Karena pagi ini, di dekat Market Street, terjadi penembakan. Seorang warga tertembak berkali-kali dan terkapar. Saat semua orang panik dan berlarian, seorang yang tenang dan pemberani berdiri membantu.”
“Ia langsung menelepon polisi, memberikan informasi soal pelaku dan ciri-cirinya, lalu terus-menerus menyemangati korban hingga tim medis tiba…”
“Orang yang tenang, pemberani, dan rela berkorban itu adalah muridku—teman kalian, Su.” Usai berkata demikian, mata Harper menatap Su Feng penuh hormat.
Di Amerika, negeri yang menjunjung “kebebasan, perdamaian, dan demokrasi”, tindakan berani semacam itu jarang didorong. Tapi semakin Harper menceritakan detail kejadian pagi itu, semakin terkejut teman-teman sekelas Su Feng.
“Astaga, sudah mengalami kejadian begini dia masih bisa sekolah?”
“Tenang sekali, ya?”
“Orang Tionghoa memang seberani ini?”
“Jangan-jangan dia Superman?”
Melihat suasana kelas yang benar-benar heboh, kini Su Feng sendiri malah bingung... meski apa yang diceritakan John Harper memang benar, Su Feng yakin ia sama sekali tidak meninggalkan nama saat itu!
Sebagai murid teladan yang sejak kecil dibesarkan di bawah ajaran merah, Su Feng selalu menolong tanpa mencari pujian.
Tapi ia lupa, ia mengenakan seragam SMA Nefalia... dan di seluruh SMA itu, hanya ada satu siswa Tiongkok: dirinya.
“Su, izinkan aku menyampaikan rasa hormatku yang terdalam. Tapi kupikir hari ini kau tak perlu masuk kelas, beristirahatlah, dan polisi juga perlu bantuanmu dalam penyelidikan,” ujar John Harper penuh perhatian.
Su Feng hanya mengangkat bahu, tetap dengan ekspresi tenang.
“Apa dia manusia?” Melihat wajah Su Feng tanpa sedikit pun perubahan, Demar tiba-tiba merasa ingin sekali berkunjung ke Tiongkok setelah lulus nanti...
...
“Su, kau baik-baik saja?” tanya Inspektur Lainer saat Su Feng duduk di depannya.
“Ya, Pak. Saya siap kapan saja,” jawab Su Feng tenang.
Lainer menarik napas dalam-dalam. Ia harus mengakui, sikap tenang anak ini jauh di atas rata-rata usia sebayanya. Bahkan bagi Lainer yang berpengalaman, ia tetap merasa kagum.
Meski Lainer sudah mendapat gambaran umum dari koleganya tentang kejadian pagi itu, ia tetap sulit percaya, seorang siswa 16 tahun bisa setenang itu dalam kekacauan.
“Menurut penyelidikan kami, saat itu seorang pria berbaju hitam menembak seorang warga berkali-kali hingga situasi kacau. Dari rekaman CCTV, kami melihat seorang siswa Tiongkok berada tak jauh dari lokasi...”
“Ia langsung berlindung di titik yang aman, lalu setelah pelaku melarikan diri, ia menelepon polisi dari toko terdekat, memberi petunjuk arah pelarian pelaku serta ciri-ciri fisik...”
“Kemudian, setelah memastikan situasi aman, ia mendekati korban dan memberikan pertolongan. Menurut saksi, siswa Tiongkok itu terus menyemangati korban hingga bantuan tiba...”
“Seluruh proses itu, bahkan polisi berpengalaman pun belum tentu bisa setenang dia.”
“Baik, Su, sekarang coba kau ingat baik-baik semua yang terjadi pagi tadi, sedetail mungkin.” Setelah beberapa saat memperhatikan Su Feng, Lainer pun berbicara.
Proses penyelidikan pun berjalan cepat karena Su Feng menjelaskan semuanya dengan runtut dan jelas. Namun, Lainer memperhatikan Su Feng sedikit ragu saat menandatangani berita acara.
Justru keraguan kecil itu mengingatkan Lainer, bahwa siswa Tiongkok di depannya itu—pada akhirnya—hanyalah seorang anak.
“Jangan khawatir, Nak. Kau adalah saksi, dan pelaku sudah kami tangkap. Kau bisa sedikit tenang sekarang.” Waktu itu Lainer mencoba menenangkan Su Feng.
Padahal kenyataannya, Lainer tak tahu, alasan Su Feng ragu adalah karena ia melihat tanggal di lembar tanda tangan...
28 Mei 1994.
...
Karena Su Feng masih anak-anak, pihak sekolah memberinya cuti khusus seminggu agar ia bisa menenangkan diri di rumah. Mereka juga menawarkan bantuan psikolog jika dibutuhkan.
Namun entah kenapa, baik John Harper maupun Inspektur Lainer, mereka yakin anak ini sepertinya sama sekali tak butuh konseling...
Hatinya... benar-benar terbuat dari baja.
“Ah, ternyata menerima identitas baru memang butuh waktu,” gumam Su Feng setibanya di apartemen Market Street.
“Sial, siapa yang paham rasanya tiba-tiba lompat dari generasi 90-an ke 70-an!”
“Kenapa dulu aku nggak tuntasin nonton ‘Chronicles of the Celebrated Years’, sekarang kalau mau nonton episode terakhir, harus nunggu dua puluhan tahun lagi.”
Selesai ganti pakaian, bosan di rumah, Su Feng memutuskan untuk bermain basket agar pikirannya lebih rileks.
Kalau tidak, ia yakin dirinya akan benar-benar depresi.
Ternyata, baik di 2020 maupun 1994, hal yang paling dicintai Su Feng tetaplah basket.
Dan lucunya, setelah memastikan dirinya benar-benar kembali ke tahun 1994, dan internet era 90-an memberitahunya bahwa sejarah dunia ini sama persis dengan dunia lamanya, Su Feng sempat bermimpi, andai saja di kehidupan sekarang ia bisa jadi bintang basket, main di NBA, dan menikahi wanita kaya nan cantik.
Tapi realita tetaplah realita. Ia tahu, kemampuan basketnya di kehidupan sebelumnya sebatas hobi. Jadi impian itu hanya sekadar andai-andai.
Lagipula, karakter utama di novel basket macam Lin Yi dalam ‘Raja Penjaga Lapangan’ yang hidupnya begitu mulus, di seluruh dunia, hanya penulisnya si Dungu Shui Duan Qiao saja yang berani menulis cerita seperti itu...
Tapi bagi Su Feng yang begitu mencintai basket, bermain adalah cara terbaik untuk melepas penat.
Bagaimanapun, baru saja mengalami perjalanan lintas waktu dan baku tembak, bahkan Su Feng pun butuh waktu untuk menenangkan diri...
“Di zaman tanpa DOTA, tanpa auto chess, bagaimana caranya aku bertahan hidup?” sambil membawa bola basket menuju lapangan dekat Market Street, Su Feng menggerutu sendiri.
Di Amerika, negeri basket, mencari lapangan basket bukanlah perkara sulit. Dan di sini, tak perlu khawatir ada ibu-ibu penggemar dansa yang akan mengusir demi menguasai lapangan.
Mungkin karena masih jam sekolah, begitu tiba di lapangan, Su Feng mendapati hanya dirinya sendiri di sana.
Mengelus bola basket di tangan, menatap ring di depannya, Su Feng tersenyum tipis...
Lalu, ia mulai bergerak dengan serangkaian aksi menawan.
Bagi Su Feng, penggemar berat Kobe Bryant, mencetak poin bukanlah yang utama, yang penting adalah tampil keren.
Memutar pinggang, mengayun kaki, melayang di udara, lalu menembak.
Itu benar-benar tembakan fadeaway yang sempurna, gaya yang bahkan membuat ibunya pun bangga.
Tentu saja, dengan gaya sekeren itu, ring basket di sana...
Berdecit nyaring!
Menolak masuk!
Namun, pada detik bola memantul menjauh, mulut Su Feng tiba-tiba membentuk lingkaran O.
Andai John Harper dan Inspektur Lainer melihat ekspresi Su Feng kini, mereka pasti akan terkejut.
Ternyata Su Feng bukan tipe tanpa ekspresi?
Su Feng benar-benar terperanjat.
Tanpa memedulikan bola yang menggelinding jauh, ia menatap kedua telapak tangannya, menepuk-nepuk kepala memastikan dirinya tidak berhalusinasi, dan menatap layar yang tiba-tiba muncul di depan matanya, lalu terdiam dalam pikirannya...
...