Bab Delapan Puluh Satu: Pelacakan (1)
Keempat orang itu kembali ke tempat tinggal yang telah disiapkan oleh para penduduk desa. Malam itu, Gui mengambil sebagian bekuan darah dari tetesan darah dengan pisau kecil, lalu menyalakan tungku mungil. Prosesnya rumit hingga membuat tiga orang awam yang menyaksikan di sampingnya merasa pusing. Proses pengujian tetesan darah yang dilakukan berlangsung selama satu jam penuh. Lan Yin yang menunggu di dekatnya sempat tertidur, dan saat terbangun, ia melihat Gui masih sibuk dengan kotak besinya, terus-menerus mengganti alat di tangannya.
Pandangan Bo Lingzi terhadap pemuda ini benar-benar berubah total. Meski dirinya bukan ahli, ia bisa melihat betapa terampilnya tangan anak muda itu, seolah tengah menonton sebuah pertunjukan. Sifatnya yang suka belajar membuatnya sesekali mengajukan pertanyaan atau ikut membantu. Lan Yin, yang akhirnya terbangun, hanya bisa mengucek mata melihat pemandangan aneh itu tanpa mampu berkata-kata.
“Selesai,” ujar Gui seraya menghembuskan napas dan menyeka keringat di dahinya.
“Ada hasilnya?” tanya Lan Yin tak sabar.
Gui menjawab dengan penuh keyakinan, “Tetesan darah hitam di atas lempengan batu itu berasal dari binatang roh.”
Mendengar hasil itu, Lan Yin hampir jatuh tersungkur. “Hasil itu sudah kami duga dari awal! Jangan-jangan kau kerja setengah mati hanya untuk menyimpulkan hal itu?”
“Memastikan hal ini sangat penting, jadi memang harus kusebutkan terlebih dahulu. Jangan terburu-buru. Di dalam tubuh binatang roh itu telah disuntikkan sejumlah besar obat yang memberikan efek aneh, itulah yang disebut obat terlarang. Obat terlarang ini bermacam-macam, yang terkuat adalah jenis pertama, yakni obat katalis, dan tingkat kedua adalah jenis penguat. Obat yang ditemukan dalam tubuh binatang roh ini masuk kategori kedua.”
“Apa maksudnya jenis penguat?” tanya Bo Lingzi penasaran.
“Itu mudah dipahami. Aku beri contoh saja. Jika seseorang disuntik obat kategori pertama, kekuatannya akan meningkat berkali lipat, bentuk tubuhnya bisa berubah jadi aneh dan menjadi monster, kekuatan melonjak tapi umur jadi sangat pendek, dan tak lama kemudian pasti mati. Sedangkan jika disuntik obat jenis kedua, orang itu tidak akan mati, namun saraf dan perilakunya akan terpengaruh, bahkan cara berpikirnya berubah. Seseorang yang tadinya penakut bisa berubah menjadi sangat kejam, obat ini tidak membunuh tapi bisa mengubah seseorang. Bagiku, obat terlarang tingkat kedua justru lebih berbahaya, tentu saja, asalkan obat tingkat pertama belum benar-benar dikembangkan hingga bisa mempertahankan efek positifnya dan menghilangkan efek sampingnya. Sekarang, bayangkan yang disuntik itu bukan manusia, melainkan binatang buas. Kalian paham, kan?”
“Kalau begitu, biasanya untuk apa obat jenis ini digunakan?” tanya Long Li.
“Penjinak terbaik berasal dari para ahli binatang roh, jadi pertanyaanmu tepat. Guruku pernah bercerita, tujuan awal manusia menciptakan obat terlarang ini adalah demi memudahkan pengendalian. Sebesar apapun kemampuan binatang roh, jika tak bisa dikendalikan, ia tetap musuh. Karena hanya sedikit orang yang bisa membuat perjanjian dengan binatang roh dan tingkat keberhasilannya rendah, maka orang-orang yang tidak bisa membuat perjanjian mulai berbuat curang dan menciptakan obat untuk mengendalikan.”
“Bagaimana dengan suara seruling itu menurutmu?”
“Itu semacam alat khusus juga, mungkin untuk membatasi gerak binatang roh.”
“Seruling dan obat terlarang dipakai sekaligus—jelas makhluk bawah tanah ini bukan makhluk biasa, sampai-sampai yang mengendalikan pun kesulitan,” gumam Bo Lingzi.
“Bisa kah kita melacak keberadaan binatang roh itu dari tetesan darahnya?” Lan Yin langsung bertanya pada intinya.
“Bisa. Aku baru saja membuat alat pelacak, alat ini bisa membantu kita menemukan tempat lain yang juga terdapat tetesan darah.” Gui menjawab dengan penuh percaya diri, “Inilah alatnya.”
Di tangannya tampak sebuah benda mirip kompas, dengan anak panah yang tertancap bekuan darah hitam.
Terhadap karya barunya ini, Gui sangat bangga. “Aku sudah menamainya ‘Pelacak Sasaran Unik Kilat Akurat Tak Tertandingi’!”
“Namanya panjang sekali...” Lan Yin menghela napas, “Sebut saja pelacak, siapa yang bisa mengingat nama sepanjang itu.”
“Ini bukan alat biasa, ini adalah hasil puncak dari kecerdasan manusia!” ujar Gui dengan penuh semangat.
“Bukankah kau hanya ingin terdengar hebat? Kau juga pernah membanggakan kandang binatang buatanmu yang kau klaim sempurna, dan menamainya Kandang Neraka. Kau bilang, meskipun yang ditahan itu naga sungguhan, dia takkan bisa kabur, meski akhirnya tetap jebol.”
Ucapan itu langsung membuat senyum Gui membeku.
“Sudah, aku tak peduli apa namanya, yang penting apakah alat itu benar-benar bisa dipakai?” sela Bo Lingzi cepat-cepat.
“Tidak perlu khawatir. Alat ini bukan melacak darahnya, melainkan aroma obat yang terkandung di dalam darah itu.” Gui mengangkat satu jari, sambil menggeleng perlahan. “Ini tidak akan terpikirkan oleh ahli binatang roh kelas tiga atau empat. Singkatnya—ini bukti kehebatan.”
“Melacak aroma, seberapa jauh jangkauannya?” tanya Bo Lingzi lagi.
“Seratus meter!”
“Hanya seratus meter?” Lan Yin menjulurkan lidah, “Kalau begitu, kapan kita akan menemukannya? Bagaimana kalau makhluk bawah tanah itu berjalan beberapa li baru meneteskan darah lagi? Bukankah kita akan kelelahan?”
Gui memandangnya dengan remeh, “Kau kira aku tidak memikirkan itu? Perhatikan baik-baik alat pelacak unikku ini...”
“Sebut saja namanya singkat,” Long Li akhirnya ikut bicara.
“Oh, baiklah. Di alat pelacak buatanku ini ada satu jarum penunjuk lagi, tahu untuk apa?” Ketiganya menggeleng.
“Jarum itu menunjukkan seberapa kuat efek obatnya. Paham maksudku? Sekalipun binatang roh itu mengamuk dan berlari ke mana-mana, pada akhirnya tetap tak bisa lepas dariku. Karena efek obat akan perlahan melemah di dalam tubuhnya, tetesan darah itu ibarat jejak kaki, dan bagi pemburu ulung, sekali melihat jejak saja sudah tahu ke mana arah buruan pergi.”
“Luar biasa, benar-benar cerdas,” Bo Lingzi mengagumi kepandaian dan keahlian Gui.
“Mau bagaimana lagi, aku memang berbakat. Guruku yang linglung itu sampai merengek-rengek memaksa agar aku mau jadi muridnya,” Gui menggaruk wajahnya, tampak sedikit malu.
“Mudah-mudahan kali ini alatmu tidak seperti kandang waktu itu...” Lan Yin menahan sisa kalimatnya, “Aku sudah tak sabar ingin melihat siapa sebenarnya peniup seruling itu, ayo berangkat!”
Long Li melihat ke kiri dan kanan, “Ada yang perlu dipersiapkan lagi?”
“Semuanya sudah siap,” Bo Lingzi menepuk tabung anak panah di punggungnya.
“Aku cukup membawa satu senjata.”
“Aku... mau ke belakang dulu... agak gugup,” Gui akhirnya berkata.