Bab Enam Puluh Dua Arus Bawah (1)
Lan Yin segera sadar dari keterkejutannya dan langsung melompat mundur. Mata pedang menancap ke tanah berlumpur, suasana pun menjadi hening. Tidak meledak? Lan Yin sempat tertegun, kemudian melihat pria bertopeng di seberang sedang memegangi pisau belati yang ditusukkan Long Li dengan sekuat tenaga, darah perlahan-lahan menetes dari jari-jarinya. Tangan satunya menggenggam gagang pedang berantai dan menariknya kuat-kuat.
Mata pedang yang tertancap di tanah langsung memantul ke atas, rantai pedang itu menyusut dan mengunci rapat. Pria bertopeng itu segera menyerang dengan sapuan pedang, dan Long Li dengan susah payah menangkisnya menggunakan belati lain. Percikan api yang menyilaukan pun bermunculan saat logam saling beradu.
Barulah Lan Yin menyadari, bukan karena serangan musuh kurang dekat sehingga tak mengenai sasaran, melainkan karena serangan mendadak dari samping oleh Long Li yang memaksanya mundur.
Walaupun ia berhasil menyelamatkan dirinya dari bahaya, kini rekannya justru terjebak dalam krisis. Senjatanya digenggam erat oleh lawan. Melepaskan senjata memang bisa membuatnya lolos, namun bagi seorang pembunuh bayaran, kehilangan senjata adalah kehinaan besar, dan harga dirinya tak akan membiarkannya.
Long Li tak mungkin bertahan lama, kedua belah pihak kian menambah kekuatan. Senjata kecil dan tajam seperti belati tidak tahan lama dalam adu kekuatan, dan pada akhirnya akan patah.
"Hampir saja kau berhasil menyerangku secara diam-diam. Cara bergerakmu sangat mengagumkan," ujar pria bertopeng itu sambil tertawa kecil. "Sayang sekali, hanya itu yang patut dipuji. Sebagai pembunuh, kecepatan adalah kunci kemenangan. Jika kau sedikit lebih cepat, mungkin aku benar-benar akan terluka."
"Hentikan nada menggurumu. Aku sudah cukup mendengarnya!"
"Aku akan mematahkan senjatamu, lalu kepalamu. Buang saja senjatamu, kau mungkin masih punya kesempatan untuk hidup."
"Kau benar-benar yakin sudah menang?"
Lan Yin langsung menusukkan pedangnya ke punggung pria bertopeng itu. Long Li memang sepenuhnya didesak, namun musuh juga tak bisa bergerak. Tujuannya jelas: menciptakan peluang bagi rekannya menyerang. Begitu terbebas dari bahaya, Lan Yin segera memahami maksud rekannya dan langsung menyerang.
Lawan tampaknya lengah, tak menyangka bantuan datang secepat itu. Lan Yin berdiri sigap, mata pedang dengan mudah menembus punggung lawan. Namun di wajahnya tak tampak kegembiraan, justru ekspresi tertegun.
Sensasi pedang yang menancap ke tubuh menyiratkan ada sesuatu yang aneh. Luka kian melebar, tapi tak ada darah yang mengalir. Kepala pria bertopeng itu tiba-tiba meledak, berguling ke tanah, lalu berubah menjadi butiran pasir halus. Seluruh tubuhnya pun runtuh, hanya meninggalkan segumpal pasir di tanah. Tak ada apa pun selain itu.
"Itu hanya tubuh pengganti," ujar Long Li sambil memasukkan kembali belatinya ke dalam sarung di ikat pinggang, wajahnya berkerut.
"Kapan itu terjadi?" Lan Yin benar-benar tak tahu kapan lawan menggunakan tubuh pengganti dan meloloskan diri.
"Aku juga tidak tahu," Long Li menggeleng, "Orang itu benar-benar menakutkan. Ia tak mau membuang waktu dengan kita karena ingin mengejar pejabat itu. Mungkin, sejak mengalahkan prajurit bayaran dari Serikat Petir Api, ia sudah pergi."
Lan Yin terbelalak, "Mana mungkin!"
"Ia seorang penyihir pasir. Tubuh pengganti yang tadi tidak bisa digunakan saat bertarung, jadi hanya bisa dilakukan sebelum kita sempat menyerangnya."
"Tapi kita terus mengawasinya, kenapa kita tak menyadari apa pun?"
"Teknik pengganti memang trik untuk melarikan diri. Dia pasti bersembunyi dalam bayangan, meninggalkan tubuh pengganti untuk menguji kita."
"Menguji?"
"Mungkin untuk mengetahui tujuan kita datang ke kota ini. Orang itu juga utusan seseorang, kemungkinan dikirim oleh kekuatan lain. Pejabat yang dilindungi serikat ini sepertinya benar-benar penting, banyak pihak mengincarnya."
Masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati Lan Yin. Ia pun bertanya, "Aku memang pernah mendengar tentang teknik pengganti di bidang sihir. Konon mudah dikenali, meski merupakan salinan tubuh asli dan bisa dikendalikan dengan pikiran. Tapi kemampuannya sangat rendah, hanya sekadar pajangan."
"Tubuh pengganti hanya memiliki sepersepuluh kekuatan tubuh asli, makanya kukatakan orang itu sangat menakutkan. Hanya dengan tubuh penggantinya saja, kita sudah terdesak ke ujung tanduk."
"Tidak mungkin!"
"Masih banyak prajurit bayaran yang hebat di luar sana, sementara kita masih terlalu lemah. Inilah perbedaan kekuatan."
Lan Yin benar-benar terpukul. Belum lama ini, ia baru saja diserang oleh seseorang yang tak dikenal di padang, dan sekarang harus menghadapi duel para pengguna senjata aneh yang jarang ditemui. Semakin banyak musuh kuat bermunculan di hadapannya, padahal ini baru permukaan dunia para prajurit bayaran.
Namun, di tengah keterpurukan, semangat juangnya justru berkobar. Selama ini Lan Yin hanya menjadikan gurunya sebagai tujuan yang harus dikejar, terlalu tinggi tanpa tahu seberapa besar jarak di antara mereka. Kini ia dengan tegas memutuskan untuk melepaskan tujuan yang tak terjangkau itu, dan mulai mengejar serta melampaui musuh-musuh kuat yang kini berdiri di hadapannya.
"Ayo pergi," ujar Long Li.
Lan Yin memasukkan pedang besarnya ke sarung, merapikan bajunya yang acak-acakan, lalu mengikuti rekannya.
"Tunggu... tunggu sebentar!"
Sebuah suara terdengar tak jauh dari sana. Long Li menoleh dan mendapati seorang prajurit bayaran yang terluka parah berusaha mengangkat tangannya. Luka-lukanya begitu parah hingga ia tak mampu bangkit.
"Meskipun... aku tidak tahu tujuan kalian datang ke sini, tapi aku ingin memohon sesuatu!" Suaranya tak keras, namun setiap kata terdengar jelas.
Long Li terus melangkah, seolah tak mendengar permintaan itu.
"Tunggu sebentar!" Kali ini suara permohonan itu terdengar lebih keras.
Lan Yin melirik rekannya. Wajah Long Li tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia spontan ingin menolong, bukan karena kasihan, melainkan karena tak tahan melihat kesombongan pria bertopeng tadi. Namun, ia juga tak mau terlibat dalam masalah yang tak perlu.
"Ada urusan apa?" Lan Yin yang didorong rasa penasaran, berjalan mendekat.
"Apakah kau ingin aku mengantarmu pulang? Atau mencari rekanmu? Lukamu parah, kau butuh perawatan," ujar Lan Yin, mengerti maksudnya. Tak bisa bangkit dari jalanan, tentu ia ingin seseorang membantunya kembali. Asalkan bukan dirinya yang harus menggendong, urusan lain masih bisa dipertimbangkan.
"Semua rekanku sudah meninggalkan kota ini. Permohonanku pada kalian adalah masalah yang sangat penting."
"Apa yang lebih penting dari nyawamu?" Lan Yin berjongkok, menatap matanya. "Jangan sungkan, kalau memang harus aku yang menggendong, itu pun tak masalah. Aku orang yang baik hati, tak akan membiarkan orang terlantar begitu saja."
"Bukan itu! Aku memohon kalian untuk mencari seseorang. Aku yakin kalian bukan sekutu para penyerang. Tuan Yan sekarang masih ada di penginapan, hanya ada satu orang yang melindunginya. Tapi para penyerang itu bukan dari satu kelompok, entah berapa kekuatan yang bersembunyi di sini. Tolong sampaikan informasi penting ini padanya!"
"Orang yang kalian lindungi masih di kota? Lalu tadi..."
"Itu semua hanya umpan. Tuan Yan hanya ingin ditemani satu orang sebagai pengawal."
"Berarti rencana kalian sangat berhasil. Tak hanya kami, bahkan pria bertopeng itu pun tertipu. Orang yang kalian lindungi sekarang sangat aman."
"Tidak!" Mogu membelalakkan mata, memegang erat pergelangan tangan Lan Yin. "Kemunculan penyerang kedua berarti ada kemungkinan pihak ketiga, keempat. Keadaan Tuan Yan sekarang sangat berbahaya!"
"Siapa yang cukup sabar pasti akan menyadari kejanggalan ini. Para prajurit bayaran yang bersembunyi di hutan belum tentu satu kelompok dengan para penyerang. Berapa banyak musuh yang bersembunyi di sini masih belum jelas." Tanpa sadar, Long Li juga mendekat.
"Tolonglah! Segeralah kembali ke penginapan dan cegah Tuan Yan keluar. Selama ia tetap di sana dan tak menampakkan diri, sementara ini ia masih cukup aman."