Bab Sepuluh: Persiapan
Ketika mobil berangkat dari pusat kota, Chen Chen sebenarnya tidak terlalu optimis dengan rencana mereka.
Sulit baginya membayangkan sekelompok kakek nenek yang berdiri di tengah angin dingin, mengerumuni beberapa truk makanan untuk membeli makan. Dalam benaknya, pemandangan itu seperti adegan dari masa Republik lama, padahal kini abad ke-21, era layanan pesan antar makanan.
Ia sudah terbiasa melihat orang-orang di dalam basis berkumpul dalam kelompok kecil untuk memesan makanan secara daring. Masakan dari truk-truk makanan itu tidak pernah disentuh mereka. Semua benar-benar seperti kaum tua yang punya gengsi. Boro-boro makanan cepat saji, banyak dari mereka bahkan sudah bosan pesan antar, dan dalam satu dua hari sekali, mereka masih harus pergi ke jamuan makan.
Namun, setelah semua truk makanan itu berangkat dan tak lama kemudian notifikasi pembayaran terus bermunculan di akun pusat, barulah Chen Chen sadar, bahwa pengetahuannya soal bisnis masih sangat dangkal.
Beberapa truk makanan yang dibawa keluar, diganti dengan beberapa truk penuh manusia hidup yang datang. Renovasi lantai satu hampir rampung sepenuhnya. Selain dua ratusan orang yang sudah tinggal di dalam, jika ditambah tiga atau empat ratus orang lagi, kapasitasnya mungkin sudah cukup penuh.
Semua logistik di sini masuk lewat tangannya, jadi ia tahu pasti berapa banyak yang bisa dihidupi di tempat ini. Ia juga meminta orang ahli untuk menghitungnya. Hanya untuk konsumsi makan dan minum saja, stok yang ada cukup untuk beberapa ribu orang bertahan selama setengah bulan.
Dokter memang agak kurang, sekarang hanya ada dua ruang kesehatan darurat di lantai satu. Ia sudah mempekerjakan beberapa dokter, meski tidak bisa melakukan operasi, setidaknya pertolongan pertama dan pemeriksaan dasar masih bisa dilakukan.
Itu pun sudah cukup untuk saat ini.
Rangka pusat bantuan ini pun sudah hampir selesai. Sore harinya, para koki kembali memasak beberapa kali. Beberapa dari mereka mulai merasa keberatan, lalu mengirim seorang perwakilan untuk menemui Chen Chen membahas soal uang lembur.
Awalnya, mereka hanya setuju memasak dua kali sehari, tapi hari ini mereka sudah harus memasak empat sampai lima kali. Padahal malam belum tiba.
Beberapa pekerja serabutan bahkan sudah menyerah tak mau lanjut bekerja.
Chen Chen menyetujui permintaan mereka. Dibandingkan dengan uang yang masuk, uang lembur itu bukan apa-apa. Belum lagi setiap truk yang pulang, selalu membawa penuh orang.
Barusan Chen Chen menghitung-hitung, jika lantai dua selesai direnovasi dan bisa menampung tiga sampai empat ribu orang, skalanya sudah sama dengan sebuah sekolah besar.
Dengan skala sebesar ini, hanya dari uang makan dan uang sewa harian saja, entah berapa banyak keuntungan yang bisa didapatkan. Belum lagi jika nanti ada pemasukan dari penjualan obat, bunga pinjaman, dan seterusnya...
Sekarang, ia bahkan sudah menambah dua juta lagi dalam investasinya.
Karena ia telah melihat potensi besar di sini.
Menjelang malam, lantai satu sudah hampir penuh. Banyak pendatang baru mengeluh suhu pendingin ruangan terlalu rendah, padahal suhunya lebih dari dua puluh derajat, sudah tidak dingin lagi.
Bagi kebanyakan anak muda, suhu itu sudah cukup, bahkan mungkin panas sampai harus melepas pakaian. Tapi bagi banyak lansia, itu masih kurang hangat.
Namun suhu AC sudah ditetapkan sejak awal, itu adalah salah satu prinsip pusat bantuan. Kalau pun harus diubah, baru bisa dilakukan dua hari lagi.
Walaupun yang masuk ke dalam satu mobil adalah campuran laki-laki perempuan, tua muda, namun setelah berkeliling di pusat bantuan, para pemuda semuanya pergi, sedangkan para lansia tetap tinggal.
Sebagian besar yang menginap hanya membawa sedikit barang, mungkin hanya beberapa potong pakaian. Ada juga yang bahkan bajunya pun tidak cukup hangat, Chen Chen pernah melihat beberapa orang mengenakan berlapis-lapis pakaian musim semi dan panas untuk menahan dingin.
Selimut yang tersedia di sini semuanya tipe paling murah dari pasaran, karena sejak awal diperkirakan tempat ini akan menyalakan pemanas atau AC selama 24 jam—meski pemanas baru akan dipasang beberapa hari lagi, sementara ini hanya mengandalkan AC.
Awalnya dikira itu sudah cukup.
Ternyata, masih jauh dari cukup.
Di beberapa area tengah memang terasa nyaman, tapi di dekat pintu keluar masuk dan kamar kecil, suhu terasa jauh lebih dingin.
Banyak lansia yang sudah batuk saat masuk.
Tapi seperti beberapa hari sebelumnya, tak seorang pun mengeluh.
Sebab semua orang merasa hidup mereka di sini hanya sementara.
Batuk bukan masalah, asal tak sampai mati.
Tentu saja, untuk mencegah penularan penyakit, semua yang batuk dipisahkan dan ditempatkan di satu area tersendiri.
Semua orang menerima kondisi itu.
Sebagian besar yang mau tinggal di sini memang sudah kehabisan uang di rekening mereka.
Namun saat makan malam, satu per satu tetap enggan makan masakan kantin, masih ingin memesan makanan dari luar.
Tapi kini waktu pengantaran jauh lebih lama—karena siapa pun yang sudah terinfeksi, tak ada lagi yang mau jadi kurir.
Sementara di kota ini, jumlah pesanan makanan daring pun makin tak terhitung.
Banyak yang akhirnya terpaksa makan di kantin.
Untungnya, kepala pusat tidak berharap bisa untung besar dari penjualan makanan saja, jadi harga makanan di sini tetap terjangkau.
Sebagian besar orang pun makan dengan cukup puas.
Seusai makan malam, orang-orang mulai berkumpul dalam kelompok kecil, mengobrol, bercanda, bermain kartu.
Ada juga yang memilih tidur lebih awal—mereka biasanya dianggap pemula.
Para veteran sudah menemukan polanya, tidur terlalu cepat di cuaca seperti ini kemungkinan besar ketika berpindah ke tubuh orang lain, mereka juga akan menempati tubuh orang yang biasa tidur cepat.
Di zaman ini, siapa yang masih tidur selekas itu? Pasti orang yang punya pekerjaan berat.
Dan jika mengikuti jam tidur normal, tidur jam enam atau tujuh malam, saat terbangun nanti akan masuk waktu dini hari, sekitar pukul satu atau dua.
Di tengah malam musim dingin bersalju, kalau nasib buruk berpindah ke tubuh gelandangan, bisa saja tewas kedinginan.
Maka banyak yang berpengalaman sengaja begadang hingga larut malam.
Banyak orang akan memilih tidur menjelang pagi, agar bangun siang dan mengurangi risiko mati beku.
Chen Chen termasuk yang tidur lebih awal sekarang.
Ia sudah tidak lagi bermain dalam permainan itu, tak perlu lagi menghitung risiko setiap kali terbangun.
Sebagian besar barang dikirim dini hari, Chen Chen harus bangun tengah malam. Dahulu, mungkin ia tak bisa memahami dirinya yang sekarang, sudah punya kekayaan miliaran, namun masih bekerja melayani orang setiap hari.
Jujur saja, menghitung pemasukan dan pengeluaran setiap hari, bagi kemampuan matematikanya, sama sulitnya seperti dulu bekerja di pabrik.
Tapi anehnya, ia justru semakin bersemangat setiap harinya.
Ketika Chen Chen terbangun, waktu sudah menunjuk pukul dua dini hari. Hampir semua orang sudah tidur, hanya beberapa yang insomnia berkumpul di sudut, berbicara pelan-pelan.
Di aula besar, suara dengkuran berat terdengar di mana-mana, bercampur dengan bisikan batuk.
Seperti biasa, Chen Chen turun ke bawah, menuju gudang untuk menerima barang dan memeriksa stok.
Penanggung jawab yang ditunjuk kepala pusat di sini kabarnya adalah sepupunya sendiri, seharusnya bergantian tugas dengan Chen Chen, tapi saat Chen Chen turun, orang itu sudah tak ada.
Kabarnya, ia sudah tertular penyakit, setiap hari harus ke rumah sakit untuk rontgen, memantau perkembangan penyakitnya—bukan karena takut, tapi justru karena menantikan sesuatu.
Sisanya, ada belasan satpam dan pekerja yang baru saja berganti shift di sana. Chen Chen, seperti biasa, mengatur pekerja untuk makan terlebih dahulu, lalu bersiap membongkar barang dan mengatur satpam berpatroli.
Hari ini barang yang datang sangat banyak, tiga truk besar berturut-turut tiba.
Kepala pusat mendengarkan saran Chen Chen, membeli banyak selimut tebal, juga beberapa pemanas listrik sederhana.
Selain itu, ada juga banyak ikat pengaman, ranjang pasien portabel, semprotan lada, serta alat anti huru-hara untuk para satpam.
...
Chen Chen merasa masih ada yang kurang?
Ternyata yang kurang adalah suara dukungan dan suara bulanan...