Bab Dua Puluh Sembilan: Tombak
Cheng Cheng mengikuti beberapa orang masuk ke dalam kamar.
Di dalam ruangan itu tercium bau yang tidak sedap. Siapa pun yang pernah tinggal di asrama universitas pasti akrab dengan aroma ini. Banyak orang berbaring sembarangan di dalam, sebagian besar tampak masih muda. Ada beberapa komputer, beberapa orang sedang asyik bermain game sambil mengenakan headset.
Setelah Cheng Cheng dan rombongannya masuk, sepertinya tidak ada yang memperhatikan mereka. Orang yang memimpin langsung menuju pintu sebuah kamar, yang terkunci dengan gembok sandi sederhana.
Ia membuka kunci itu, barulah beberapa orang yang sedang bermain game menyadari kehadiran mereka. “Bang Dong sudah pulang,” kata salah satu dari mereka.
Orang yang dipanggil Bang Dong melambaikan tangan, “Lanjutkan saja main kalian. Oh iya, buang sampahnya. Sudah berapa kali kubilang! Di sini banyak orang, habis makan langsung buang sampah.”
“Kami tahu, baru saja selesai makan kok,” jawab salah satu.
Bang Dong menutup pintu lalu mengambil sebuah kotak kecil dari bawah ranjang. Begitu dibuka, Cheng Cheng terkejut bukan main.
Di dalamnya berjejer senjata api. Bukan satu, melainkan enam pucuk, lengkap dengan amunisi yang tergeletak di sampingnya.
Dari pelatihan pekerjaannya, Cheng Cheng tahu sedikit tentang senjata. Ia sadar semua senjata itu adalah tipe yang biasanya digunakan polisi.
Melihat ekspresi Cheng Cheng, Bang Dong tersenyum, “Baru segini saja sudah takut? Jangan bilang soal senjata, kamu tahu nggak, di provinsi sebelah utara, ada seorang veteran yang setelah kesadarannya diganti, bawa apa keluar? Dia kabur naik panser militer! Di atasnya masih menempel meriam otomatis!”
Cheng Cheng pernah mendengar kisah itu, bahkan kabar yang lebih ekstrem, seperti ada perwira asing yang mengendalikan tombol nuklir, dan nyaris saja meluncurkan senjata nuklir setelah kesadarannya diganti.
Tapi ia tahu, sekarang peredaran senjata memang sudah jadi tren. Semua pengendalian pada dasarnya adalah kendali manusia, ketika manusia sendiri tak lagi bisa dipercaya, maka semua metode pengendalian pun sia-sia.
Namun untuk saat ini, masih ada perintah siaga militer. Siapa pun yang membawa senjata di jalan dan bertemu polisi, pasti akan langsung ditembak tanpa basa-basi.
Membawa senjata-senjata ini sebenarnya lebih banyak mendatangkan masalah.
“Di sini ada lima orang, enam senjata, masing-masing satu,” Bang Dong membagi senjata kepada mereka, lalu memberikan beberapa butir peluru ke setiap orang, kira-kira dua puluh sampai tiga puluh butir.
“Langkah pertama kita adalah mencari cara membawa senjata ini ke sekitar Pusat Penampungan Donghua, lalu menyerahkannya ke orang dalam kita di sana,” jelas Bang Dong. “Proses ini jelas sangat berbahaya, sekarang masih ada siaga militer dan jam malam, jadi saranku kita harus pelan-pelan. Sekarang di kota, kurir dan pekerja antar makanan sedang kekurangan. Beberapa tempat sudah tidak lagi mempersoalkan pekerjanya terinfeksi atau tidak. Kita bisa memanfaatkan identitas itu untuk bekerja, begitu ada kesempatan, kita sendiri yang antar senjatanya. Tak perlu kontak dengan orang lain, kalau ada kesempatan, lakukan saja. Setelah selesai, kabari di grup. Enam senjata ini, asal bisa masuk lebih dari tiga, mengambil alih sebuah pusat penampungan kecil sama sekali bukan masalah.”
Beberapa orang tampak ragu. “Tapi, Bang Dong, kita sekarang sama sekali tidak punya dokumen identitas... bahkan tempat tinggal tetap pun tidak ada, pasti akan dicurigai.”
Meskipun kini orang yang terinfeksi juga bisa melamar pekerjaan, kebanyakan posisi tetap memerlukan verifikasi data dasar sebelum mulai bekerja.
Status tempat tinggal tetap dan surat keterangan dari tetangga adalah syarat utama dalam mencari kerja.
Berdasarkan kebiasaan pemeriksaan polisi saat ini, jika seseorang tidak memiliki status tetap lebih dari dua minggu, hampir mustahil mendapat pekerjaan.
Jadi, kalau mereka ingin menyusup ke Pusat Penampungan Donghua, setidaknya harus menunggu dua puluh hari lagi.
...
Kakek Fang Yiming telah pergi.
Sudah lebih dari 24 jam tidak ada kabar untuk keluarga. Sesuai dengan perjanjian sebelumnya.
Orang asing yang kini menduduki tubuh kakeknya mengamuk di panti jompo, bahkan mengancam akan bunuh diri.
Ibu Fang Yiming sempat menjenguk sekali. Meski telah sepakat untuk menganggap kakek yang baru sebagai orang asing, namun melihat tubuh keluarga sendiri dipermainkan oleh orang yang sama sekali tak dikenal, ibunya tetap tak kuasa menahan emosi.
Akhirnya Fang Yiming sendiri yang memaksa ibunya pulang dari panti jompo.
Ponsel kakeknya telah diamankan, dan pihak panti sudah diberi penjelasan.
Karena siaga darurat, kini panti jompo pun sudah mendapat izin dari banyak keluarga, jika penghuni menolak kerja sama, pihak panti boleh mengambil tindakan tegas.
Pada dasarnya, tidak jauh beda dengan Pusat Penampungan Donghua.
Hasil proyek terakhir Fang Yiming sudah keluar, makalahnya ditulis asal-asalan oleh Lin Xiao.
Kesimpulannya pun tidak istimewa.
Rata-rata tingkat emosi orang yang telah melalui pergantian kesadaran jauh lebih rendah dibanding mereka yang belum mengalami.
Khususnya pada kelompok lansia, berdasarkan data dari berbagai kota, pusat penampungan, panti jompo, dan lembaga sosial, bisa dipastikan terlepas dari usia dan latar belakang sebelum pergantian, begitu masuk ke tempat-tempat seperti itu, seseorang pasti akan mengalami depresi, perilaku inisiatif berkurang, cenderung melamun, diam, bahkan menunjukkan gejala seperti demensia.
Hasil penelitian ini menegaskan satu hal: pertanyaan apakah manusia menjadi tua karena fisik atau mental.
Banyak orang percaya bahwa lansia pun bisa tetap aktif, dan faktor penentu utama perilaku adalah mental.
Namun statistik Fang Yiming jelas tidak mendukung anggapan itu. Yang menentukan perilaku manusia tetaplah tubuh mereka.
Ada dua dokter dari kota lain yang melakukan penelitian serupa. Mereka menemukan bahwa kesadaran yang berpindah ke tubuh berusia rata-rata di atas 60 tahun, tingkat kriminalitasnya naik dua ribu persen, mencapai puncak di usia 65, lalu menurun akibat kemunduran fisik.
Di negara-negara Afrika, sudah terjadi pembantaian massal yang menargetkan lansia.
Di negeri ini, beberapa pelaku kelompok bunuh diri aktif sudah mulai menyuarakan pendapatnya di media sosial, mengklaim bahwa membunuh lansia bukanlah dosa, melainkan demi meningkatkan kualitas hidup manusia.
Yang menarik, suara penentangan terhadap mereka tidak cukup kuat.
Bahkan orang tua seusia Fang Yiming dan Lin Xiao, saat membicarakan topik ini, bukan menolak pendapat itu, melainkan mengakui bahwa usia tua memang banyak kendalanya.
Hanya mereka yang benar-benar mengalami penuaan, seperti orang tua dan kakek Fang Yiming, yang mengerti.
Tampaknya dari perkataan kedua orang tuanya, mereka sudah mulai menerima kemungkinan pergantian kesadaran di masa depan.
Sebelum adanya teknologi ini, orang enggan membicarakan penuaan bukan karena bisa menerima, melainkan karena tak berdaya mengubahnya.
Sejak zaman dahulu, keabadian adalah impian tertinggi manusia. Bangsa Tionghoa bermimpi makan pil keabadian, bangsa asing membayangkan bisa abadi dengan meminum darah manusia.
Kini, impian itu mungkin bisa terwujud dalam bentuk lain.
Dalam godaan sebesar ini, tak ada kekuatan yang bisa menghentikan.