Bab 28: Surat Elektronik
Sebenarnya, Chen Chen tak berharap lawannya akan menyisakan nyawanya. Beberapa hari lalu, ia sudah menghubungi Cheng Cheng, dan dari sana, ia mendengar cukup banyak kasus. Kini, keamanan di seluruh dunia tengah memburuk dengan sangat cepat. Alasannya sederhana: orang yang melakukan kejahatan tak lagi mendapat hukuman.
Di berbagai belahan dunia, sudah ada kasus narapidana berat yang melarikan diri dari penjara melalui pertukaran kesadaran. Tren kejahatan yang terjadi saat ini bersifat terang-terangan, sederhana, dan kejam. Di dalam negeri, sudah dikeluarkan perintah tembak di tempat; siapa pun yang melakukan tindak kekerasan dan tidak mau menghentikan aksinya saat ketahuan, bisa langsung ditembak mati di tempat.
Banyak penjahat memilih untuk tidak beraksi, tapi jika melakukannya, mereka akan melakukannya sampai habis-habisan. Karena adanya pertukaran kesadaran, kemungkinan berhasil melarikan diri pun meningkat drastis. Asalkan tidak tertangkap basah, cukup melarikan diri dari lokasi kejadian, lalu menelan satu pil tidur, dan dalam beberapa jam saja, ia sudah bisa hidup sebagai orang lain dengan identitas yang benar-benar baru.
“Siapa sih yang tak ingin kaya? Coba ceritakan,” ucap lawan bicara Chen Chen, jelas mulai tertarik.
“Ambilkan ponselmu ke sini,” kata Chen Chen.
Orang itu menyerahkan ponselnya. Chen Chen melihatnya dan tersenyum getir, “Ada ponsel pintar, tidak?”
“Di tempat terpencil begini... tunggu, dokter ini punya...” Orang itu menggeledah saku jas putihnya, menemukan sebuah ponsel, tapi tak bisa membukanya. Ia menarik tangan yang berlumuran darah dari lawannya, membuka kunci ponsel, lalu mengulurkannya kembali pada Chen Chen.
Chen Chen menggeleng pelan, “Kalau ini bukan ponselmu, percuma juga kuberikan uangnya.”
“Itu juga benar,” orang itu mengeluarkan pisau cutter, “Kelihatannya kau sebelumnya cukup beruntung, ya? Sekarang sedang gabut, jadi, ceritakan saja, sudah berapa banyak uangmu?”
Chen Chen merasakan ujung pisau yang menekan halus di lehernya. Secara naluriah ia mencoba menengadahkan kepala, namun di belakangnya sudah tembok.
Lelaki itu usianya baru awal tiga puluhan, otot-otot di lengan menonjol, telapak tangan besar dan penuh kapalan, tampak seperti pekerja kasar. Ditambah lagi ia punya nyali untuk membunuh dan memegang pisau cutter yang tajam.
Bagaimanapun juga, hari ini ia memang tak bisa lolos dari maut.
“Dua puluh tiga juta,” Chen Chen menyebutkan jumlah itu dengan suara pelan.
Tiba-tiba ia merasa seluruh tubuhnya jadi ringan, seakan-akan beban berat yang menindih bahunya telah ia lepaskan.
Tapi pada saat yang sama, ia bisa merasakan ketegangan lawannya—angka itu jelas membuatnya terkejut.
Secara refleks, ia menjilat bibir. Dari mata lawan bicaranya, Chen Chen melihat nafsu serakah yang sangat nyata.
Pisau di lehernya pun sedikit terangkat.
Tatapan lawannya menatap lurus ke arah Chen Chen, bola matanya berputar-putar.
Chen Chen tahu apa yang sedang ia pikirkan, tapi ia tak berkata sepatah kata pun.
Setiap detik dan menit sekarang sangat berharga baginya.
Chen Chen teringat pada kontak yang pernah diberikan Cheng Cheng padanya, juga kata-kata Cheng Cheng, kalau terjadi sesuatu, “kita” bisa membantu.
Meski Cheng Cheng tak pernah mengungkapkan apa pekerjaannya, satu kata “kita” saja sudah cukup bagi Chen Chen untuk membayangkan—Cheng Cheng adalah bagian dari sebuah kelompok.
Cheng Cheng bukan pelarian seperti dirinya.
Lelaki dengan pisau cutter itu akhirnya berbicara, “Kalau kau mati, dua puluh tiga juta itu... bukankah terbuang percuma?”
“Benar,” sahut Chen Chen menyesal, “Sayang sekali, kawan, bagaimana kalau begini saja: kau lepaskan aku, kubagi setengahnya padamu.”
“Itu tentu bagus, tapi bagaimana caranya aku mengambil setengahnya?”
Chen Chen tersenyum, “Kalau kau percaya padaku, tinggalkan satu akun saja...”
“Aku tak punya akun.”
“Beli saja ponsel, buat akun baru, atau lain kali kau ganti identitas,” Chen Chen menunjuk darah di baju lelaki itu, “lalu beritahu aku akunmu.”
Orang itu menggeleng, “Kalau begitu, kau benar-benar bodoh. Setelah aku ganti identitas, di mana aku bisa menemui kau lagi?”
“Tapi uang itu ada di internet... dan kau bahkan tak punya akun.”
“Tak masalah,” katanya, “Aku kasih satu akun, kau tinggal kirim saja ke situ.”
Ia punya rekan, dada Chen Chen terasa sesak.
“Kirim sekarang pun tak ada gunanya,” kata Chen Chen, “Sekarang semua bank punya aturan, transfer jumlah besar bisa dibatalkan dalam 48 jam.”
“Tak masalah... kirim saja.”
Akun cuci uang, mungkin juga didaftarkan di luar negeri, sama seperti dirinya...
Chen Chen mengambil ponsel dokter itu, lalu mengunduh aplikasi. Ia memperhatikan tatapan lawannya yang menyoroti gerak-geriknya di layar—ada sedikit kebingungan.
Chen Chen mulai mengetik, lawannya tampak tak paham, tapi tetap memperhatikan. Ketika ia mencari aplikasi, lawannya terlihat mulai tak sabar.
Namun orang itu juga sadar Chen Chen bukan sedang menghubungi polisi.
Chen Chen menarik napas dalam-dalam. Ia sengaja di depan lawannya membuka pengaturan ponsel.
Lawannya tampak tak merasa ada yang aneh.
Ia menyalakan wifi, lalu memutus sambungan wifi.
Lawan itu tetap tidak bereaksi.
Barulah Chen Chen memulai proses unduhan.
Chen Chen berjudi dengan pengetahuannya—ia pernah dengar dari Cheng Cheng, banyak pelaku kejahatan sadis biasanya bertindak karena memang punya pengalaman, tapi mereka kebanyakan ketinggalan zaman, sama sekali tak paham ponsel pintar dan transaksi digital.
Seperti yang ia perkirakan, sinyal 4G di sini sangat buruk, kecepatan unduh nyaris nol.
Bar unduhannya bergerak satu persen saja harus menunggu belasan detik.
Lelaki itu mulai tak sabar, menatap bar kemajuan unduhan, “Kenapa lama banget?”
“Jaringannya lambat,” sahut Chen Chen, “Namanya juga desa, tak secepat di kota.”
Orang itu menatap Chen Chen, akhirnya mengalihkan pandangan, lalu mengambil ponsel, melihat sebentar, dan mengembalikannya, “Jangan macam-macam.”
Sekarang Chen Chen agak menyesal.
Andai ia tahu lawannya gaptek, ia harusnya lebih nekat, langsung menghubungi Cheng Cheng.
Tapi masih belum terlambat. Chen Chen membuka aplikasi peta di ponsel, menjalankannya di latar belakang.
“Itu aplikasi apa?” tanya lawannya.
“Aku iseng saja,” sahut Chen Chen, “Kalau ponselnya didiamkan bisa terkunci.”
Orang itu percaya begitu saja.
Karena jaringan lambat, ia harus menunggu lama hingga lokasi berhasil didapatkan. Ia segera mengambil tangkapan layar lokasi, lalu menyalin gambar itu.
Media sosial jelas tak bisa digunakan; lawannya, betapapun bodohnya, pasti kenal aplikasi itu.
Pesan instan juga tidak mungkin, perlu verifikasi identitas.
Sekarang cuma email dan SMS yang mungkin bisa dipakai, tapi SMS pasti ketahuan.
Jadi Chen Chen mencoba membuka email.
Orang itu tak menyadari.
Ia membuka email lama dari Cheng Cheng.
Lawannya tetap tak sadar, karena email itu isinya hanya data teks, berisi hal-hal yang harus diperhatikan pasca pertukaran kesadaran.
Untuk mengelabui, ia terus berpindah aplikasi, lalu mengecek unduhan.
Beberapa saat kemudian, ia kembali ke email, membuka balasan, menempelkan gambar lokasi, lalu menambah tiga huruf: SOS.
Saat akhirnya mengirim email itu, ia melihat bar unduhan baru 30 persen.