Bab 39: Siasat Melukai Diri (2)
Halaman 1 dari 3
“Dasar gadis pembuat onar! Kau sendiri yang keracunan, tetapi masih ingin menjebak Jingruo?” Melihat Hongxiu pergi sesuai perintah, Selir Kedua merasa marah sekaligus cemas. “Tuan, bukankah Tuan sudah tahu sifat Jingruo? Lagi pula, hari ini tubuhnya sedang tidak sehat. Mengapa harus memanggilnya kemari?”
Tuan Xiao mengernyitkan kening dengan ragu. “Bagaimanapun juga, dia pernah menyentuh bedak Zhiling! Tentu saja, akan lebih baik jika ternyata bukan dia yang meracuninya.”
“Jadi maksud Adik, Zhiling meracuni dirinya sendiri?” Nyonya Besar menggoyangkan tubuhnya yang anggun dan berdiri di hadapan Selir Kedua. Kain sutra bermotif awan berwarna hijau zamrud yang dikenakannya berkilauan indah. “Adikku, bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang berhati lurus tidak perlu takut pada bayang-bayang? Jika Jingruo memang tidak melakukannya, ya katakan saja dia tidak melakukannya. Datang kemari untuk berhadapan langsung juga tidak akan membuatnya begitu terpojok hingga tak mampu membersihkan namanya.”
“Bibi Kedua, wajahku sudah menjadi seperti ini. Kalau keadaannya bertambah parah, bukan mustahil aku akan cacat seumur hidup. Sebagai seorang perempuan, mana mungkin aku tidak menyayangi wajahku sendiri?”
Zhiling menatap semua orang dengan wajah penuh keluh kesah. Namun memang benar, perempuan mana yang rela merusak wajahnya sendiri? Setidaknya, tak seorang pun yang hadir menyangka bahwa Zhiling akan menggunakan siasat melukai diri sendiri untuk balik menjebak Xiao Jingruo.
“Kau...” Selir Kedua menatapnya tajam, tetapi untuk waktu yang lama tak mampu membantah sepatah kata pun.
“Nona Kedua dan juru masak yang bertugas kemarin sudah dibawa kemari!” seru Hongxiu dari luar.
Yang lebih dahulu memasuki ruangan adalah seorang juru masak berusia sekitar empat puluh tahun. Ia menundukkan kepala, tampak sangat ketakutan dan pengecut. Setelah berlutut, ia memberi hormat.
“Hamba memberi salam kepada Tuan, Nyonya, dan seluruh majikan.”
Sesaat kemudian, Liu Wen menopang Xiao Jingruo. Mereka berdua berlama-lama di ambang pintu sebelum akhirnya masuk.
Wajah Xiao Jingruo menegang. Tanpa ekspresi, ia memberi salam kepada semua orang. Tatapannya yang dalam tertuju pada wajah Zhiling yang membengkak dan memerah, sementara telunjuk yang tersembunyi di balik saputangan mengepal dan bergetar.
Zhiling tersenyum tipis. Telunjuk Xiao Jingruo itu pasti membengkak karena kemarin ia sengaja membuatnya terkena pemerah pipi jelatang. Itulah sebabnya jari tersebut disembunyikan di balik saputangan.
“Kenapa kemarin kau memberikan makanan untuk pelayan kepada Nona Ketiga? Apakah kau juru masak baru? Mengapa begitu tidak tahu aturan?”
Tuan Xiao lebih dahulu memarahi juru masak itu. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya bertubi-tubi seperti petir, membuat juru masak tersebut ketakutan dan segera bersujud.
“Tuan, hamba tahu Nona Ketiga sedang dikurung, jadi hamba sudah menyiapkan makanan khusus untuknya. Namun... namun kemarin Selir Kedua juga sedang sakit, dan sebelumnya tidak memberi tahu dapur...”
“Lalu?” Nyonya Besar membuka sedikit bibir merahnya. Satu kata sederhana itu justru menambah tekanan yang membuat suasana semakin mencekam.
Juru masak itu mengangkat kepala dengan waspada dan melirik Selir Kedua. Melihat perempuan itu menggigit bibir rapat-rapat dengan wajah tenang, ia kembali bersujud berkali-kali untuk mengakui kesalahan.
“Yujuan datang menyampaikan bahwa Selir Kedua sedang lapar, lalu segera membawa makanan khusus Nona Ketiga. Hamba... hamba takut Nona Ketiga kembali kelaparan. Hamba benar-benar tidak punya pilihan lain...”
Halaman 2 dari 3
“Tuan, kemarin tubuh hamba memang sedang kurang sehat sehingga tidak dapat makan bersama. Hamba juga takut penyakit hamba menular kepada semua orang.” Selir Kedua buru-buru melirik Tuan Xiao. “Itu... itu sebabnya kemarin hamba tidak berpikir terlalu banyak...”
“Sudahlah, sudahlah. Soal menukar makanan tidak perlu dibahas lagi. Mulai sekarang, dapur harus lebih memperhatikan para majikan dan belajar menyesuaikan diri dengan keadaan. Aku tidak ingin kediaman ini dipenuhi sekumpulan orang bodoh dan tak berguna!”
Masalah itu memang sepele. Setelah melampiaskan amarahnya, Tuan Xiao justru semakin mengerutkan kening.
“Jingruo, kemarin kau menukar bedak Zhiling di jalan, bukan? Namun mengapa kau lebih dahulu menggunakan bedaknya sebelum menukarnya?”
Xiao Jingruo tetap tenang, seolah selamanya tak tersentuh oleh kehormatan maupun penghinaan. Ketenangan seorang perempuan memang merupakan hal baik, tetapi ketenangannya ini terasa berlebihan. Tak ada yang tahu berapa banyak hal yang telah diam-diam ia rencanakan di dalam hati.
“Putri hanya mendengar bahwa bedak melati terasa sejuk ketika menyentuh kulit, jadi untuk sesaat ingin mencobanya. Putri sudah terbiasa menggunakan bedak kembang sepatu, maka putri menukarnya dengan milik Adik Ketiga.”
“Oh? Apakah kau tahu bahwa Zhiling berkata kau datang kemarin untuk memberinya sekotak pemerah pipi? Dia juga mengatakan bahwa karena warnanya terlalu pucat dan lembut, dia tidak menerimanya, hanya mengoleskannya sedikit untuk mencoba.” Nyonya Besar mengamati Xiao Jingruo yang selama ini tak pernah menarik perhatian. “Apakah kau juga tahu bahwa setelah kau pergi kemarin, pipi Zhiling tiba-tiba membengkak dan memerah secara tidak wajar?”
Tatapan Xiao Jingruo yang semula tenang mulai beriak.
“Jelas-jelas Adik Ketiga yang memberikannya kepadaku. Mengapa sekarang ceritanya dibalik? Adik Ketiga, kau berbohong! Mengapa kau menipu semua orang?”
Semua orang mengira ia akan terus bersikap tenang seperti itu. Tak disangka, setelah terdesak hingga tak memiliki jalan keluar, Xiao Jingruo pun menunjukkan sisi panik dan putus asanya.
“Tuan, bagaimana mungkin Tuan langsung percaya hanya karena mendengar ucapan Zhiling?” Selir Kedua melindungi putrinya. Tatapan penuh kebencian yang diarahkan kepada Zhiling membara seperti api, seolah-olah ia ingin membakar gadis itu hingga menjadi abu. “Tanpa bukti apa pun, Tuan tidak bisa menuduh Jingruo sebagai pelakunya! Zhiling penuh tipu muslihat. Dia jelas sedang mengarang cerita!”
“Benar, Tuan. Kemarin Nona datang kemari karena Nona Ketiga yang mengatakan ingin berbicara dari hati ke hati dengannya. Pemera pipi itu juga diberikan oleh Nona Ketiga.”
Pada saat genting, Liu Wen dengan berani dan setia melindungi majikannya yang masih berlutut di lantai. Dengan adanya Selir Kedua dan pelayan pribadi sebagai penjamin, Tuan dan Nyonya hanya terdiam, menimbang-nimbang segala kemungkinan.
“Sebenarnya, Adik pun tidak percaya Kakak Kedua tega mencelakakan adik tanpa alasan. Adik ingat, sebelumnya Kakak Kedua pernah menghadiahkan sebuah kantong wewangian kepada adik. Aromanya segar dan lembut.” Zhiling tersenyum memandang Xiao Jingruo. “Kakak Kedua begitu perhatian dan penuh kasih kepada adik, tentu saja adik ingin lebih dekat dengannya. Karena itu kemarin adik mengundang Kakak Kedua kemari untuk berbincang dan mengusir kebosanan.”
Zhiling tiba-tiba menambahkan kalimat itu. Begitu mendengar tentang kantong wewangian, Xiao Jingruo hampir meledak. Ia hanya bisa menggenggam saputangannya erat-erat.
“Benar, kantong wewangian itulah.” Hongxiu segera mengambil kantong tersebut dan memperlihatkannya kepada semua orang. “Jika ingin membuktikan bahwa Nona Kedua tidak bersalah, kita hanya perlu memeriksa kantong ini dan sekotak pemerah pipi yang kemarin. Lihat apakah di dalamnya terdapat biji lilin langit dan jelatang!”
Seberapa pun tenangnya Xiao Jingruo, pada saat ini semua usahanya telah sia-sia dan ia jatuh ke dalam kekalahan mutlak!
Halaman 3 dari 3
Tuan Xiao mengangguk menyetujui. “Ambilkan jarum perak.”
Hongxiu mengambil sebuah tusuk konde perak dari meja rias. Ia membuka kantong wewangian itu, melarutkan isinya dengan air, lalu segera mencelupkan tusuk konde tersebut ke dalamnya. Tak lama kemudian, permukaannya menghitam dengan jelas.
Wajah semua orang berubah berkali-kali karena terkejut. Tusuk konde yang menghitam sudah cukup membuktikan bahwa kantong wewangian itu mengandung racun. Terlebih lagi, jika diperhatikan dengan saksama, pola sulamannya semakin menegaskan bahwa Xiao Jingruo adalah orang yang paling mencurigakan.
“Kirim orang untuk menggeledah kediaman Nona Kedua sekali lagi. Pastikan pemerah pipi kemarin ditemukan.”
Hanya dengan satu kantong wewangian, ia masih belum dapat menjatuhkan hukuman. Karena itu, Tuan Xiao terpaksa kembali mengarahkan perhatian pada pemerah pipi tersebut.
Jika Xiao Jingruo benar-benar pelakunya, sungguh mengerikan.
Seorang gadis semuda itu ternyata menyimpan perhitungan sedalam ini. Ia bahkan merancang pembunuhan terhadap adik kandungnya sendiri. Jika terhadap keluarga saja ia bisa setega itu, siapa yang tahu bencana seperti apa yang akan terjadi kelak?
Selir Kedua juga begitu terkejut hingga tak mampu berkata-kata. Biasanya, jika ada yang berani mengatakan sesuatu yang buruk tentang putrinya, ia sanggup membalas dengan sepuluh bantahan. Namun ia sangat mengenal sulaman pada kantong wewangian itu. Wajahnya pucat kebiruan, tubuhnya kaku, dan ia hanya bisa menatap kosong seolah sedang berada dalam mimpi.
“Sejak kapan Adik Kedua menyimpan dendam kepada Adik Ketiga?” Xiao Muhui tak pernah menyangka bahwa adik tirinya yang selama ini ia tindas dan tampak patuh serta pendiam ternyata memiliki hati sekejam itu. “Siasat dan cara berpikirmu benar-benar tak tertandingi!”
Cemoohan, tuntutan, kebingungan...
Xiao Jingruo mendengar semuanya dengan jelas. Di dalam hati, ia sebenarnya sudah mempersiapkan diri menghadapi hal ini. Hanya saja, ia tidak menyangka langit akan membantu Zhiling. Kalau bukan karena itu, kantong wewangian yang setiap hari dikenakan Zhiling akan membuat kematiannya suatu hari nanti tampak seperti kejadian yang tak diketahui siapa pun.
Kali ini, tanpa diduga, ia justru diperhitungkan balik oleh Zhiling. Seberapa keras pun ia berusaha menghindar dan menutupinya, ia tetap tak dapat lolos dari hasil akhirnya.
“Aku yang melakukannya!”
Xiao Jingruo menjatuhkan saputangannya, memperlihatkan telunjuk yang membengkak. Gejalanya tampak persis sama seperti pada wajah Zhiling.