Bab 132: Empat Saudara Perempuan Keluarga Bunga (Dua)
Lian Yuncheng mendengarkan percakapan itu dengan perasaan yang kian mencemaskan. Semakin ia mendengar, semakin ia merasa ada yang tidak beres. Hatinya gelisah bukan main, ingin rasanya ia segera terbang ke tempat yang disebut Taman Sepi itu.
Namun, saat ini sang Dewi sedang tak sadarkan diri, dan Hua Ying'er tampak berniat jahat serta ingin mencelakai sang Dewi. Bagaimana mungkin ia bisa pergi begitu saja?
"Nona Yu'er, kondisi sang Dewi saat ini sangat kritis dan tidak bisa menunggu lagi. Segala dendam yang kalian miliki terhadapnya, kuharap bisa dikesampingkan untuk sementara. Aku, Lian Yuncheng, bersedia menanggung semuanya. Namun, sang Dewi tidak boleh mati, kumohon segera berikan pertolongan," ucap Lian Yuncheng dengan tenang.
"Kau ingin menanggungnya? Tongtian telah membunuh orang tua kami, dendam ini tak terbayarkan dengan nyawa. Memangnya kau sanggup menanggungnya?" Saat berkata demikian, Hua Ying'er tiba-tiba mengeluarkan dua batang jarum perak dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah Lian Yuncheng. Hua Mei'er yang melihat jarum itu berteriak cemas, dan Hua Yu'er pun tampak terkejut bukan kepalang. Namun, jarum itu terlalu cepat hingga Lian Yuncheng tidak sempat bereaksi dan seketika tertancap di tubuhnya. Lian Yuncheng pun ambruk ke lantai, meski matanya tetap terbuka.
"Adik Keempat, mengapa kau menggunakan jarum itu untuk mencelakai orang? Sudah berapa kali kukatakan, keluarga Hua kita memegang teguh prinsip untuk menyembuhkan dan menolong sesama. Kau secara pribadi meracuni jarum itu saja sudah salah, dan hari ini kau malah menggunakannya untuk melukai orang. Aku sungguh kecewa padamu." Setelah Hua Yu'er berkata demikian, Hua Ying'er mencibir dan menjawab, "Kakak Sulung, orang ini telah terkena Jarum Dewa Pembeku Darahku dan akan segera tewas. Jangan terus menceramahiku, bukankah cukup jika aku tidak menggunakannya lagi nanti?"
"Hanya saja, Kakak Sulung tidak boleh menyelamatkan sang Dewi itu. Tidakkah kau ingat bagaimana ayahnya, Tongtian, memperlakukan orang tua kita dulu? Hari ini, ketika dia jatuh ke tangan kita, membunuhnya saja sudah terlalu ringan baginya. Jika kau tetap menyelamatkannya, apakah kau tidak merasa berdosa pada mendiang orang tua kita?"
"Semboyan keluarga kita adalah menyembuhkan tanpa memandang asal-usul. Lagipula, Tongtian adalah Tongtian, dan putrinya adalah putrinya. Saat aku pergi sebelumnya, aku mendengar bahwa meskipun Xiao Xiao adalah seorang Dewi dari sekte sesat, sifatnya cukup baik dan disukai oleh banyak orang di dunia persilatan. Saat ini, sekte Emei menangkapnya namun tidak membunuhnya, bahkan melindunginya sedemikian rupa, pastilah karena mereka mempertimbangkan hal itu," sahut Hua Yu'er.
"Aku hanya bertanya padamu, apakah yang kau berikan padanya untuk diminum adalah Rumput Matahari Bulan?" Hua Yu'er duduk di kursi dekat pintu sambil menatap Xiao Xiao.
"Memangnya kenapa jika itu benar, atau jika itu salah? Kakak Sulung, mengapa kau masih terobsesi dengan prinsip menyembuhkan orang itu? Jika punya waktu, mengapa kau tidak lebih memperhatikan adikmu ini? Kau tidak tahu betapa menderitanya aku setiap hari. Aku merasa tubuhku semakin memburuk, setiap malam aku kesakitan hingga tidak bisa tidur. Bukankah kau ahli menyembuhkan orang? Cobalah obati aku dulu."
"Apakah kau mengonsumsi pil laknat itu lagi? Sudah berapa kali kubilang, pil itu tidak boleh dimakan, mengapa kau masih saja melakukannya? Cepat katakan, sudah sampai sejauh mana efeknya sekarang?" Hua Yu'er menatap adik keempatnya dengan cemas.
"Sampai sejauh mana? Tidakkah kau melihatnya? Dua jarum saja sudah bisa merobohkan pria ini, khasiat obatnya sungguh luar biasa. Aku merasa tenaga dalamku berubah setiap hari, bahkan seolah terus bertambah setiap detiknya," ucap Hua Ying'er dengan tawa getir.
"Kau benar-benar tidak sayang nyawa! Kau tahu pil itu hanya memacu pertumbuhan secara paksa dan cepat atau lambat akan membunuhmu, tapi kau tetap memakannya. Jika kau mendengarkan kakakmu, mulai sekarang berhentilah mengonsumsinya. Aku akan mencari cara untuk menghilangkan kecanduan obat itu darimu. Namun jika kau masih ingin memakannya, bahkan dewa sekalipun tidak akan bisa menolongmu," ujar Hua Yu'er dingin.
"Hehe, Kakak Sulung, begitukah caramu peduli padaku? Kau tahu mengapa aku memakannya. Kakak Ketiga, kau juga tidak tahu? Aku melakukan ini semua demi keluarga Hua kita, demi membalas dendam darah orang tua kita. Lalu kalian? Kalian hanya tahu cara menceramahi atau sibuk bersolek, siapa di antara kalian yang pernah berkorban sedikit pun untuk keluarga ini?"
"Kuberitahu kalian, memang benar kalian adalah kakak-kakakku. Namun, jangan harap kalian bisa memerintahku seenaknya hanya karena status itu. Aku, si bungsu, bukan lagi anak kecil atau pengikut kalian, melainkan kepala pengurus keluarga Hua ini. Jika bukan karenaku, jangan harap kalian bisa hidup tenang, apa kalian tidak sadar?" Semakin Hua Ying'er bicara, semakin ia marah dan suaranya pun kian meninggi.
Namun, saat ia berkata demikian, Hua Yu'er dan Hua Mei'er hanya menunduk diam tanpa membantah. Saat itu, seorang wanita lain masuk dari luar. Ia membawa sebilah pedang pendek yang sangat indah, berkilauan penuh permata, dengan gagang yang tampak terbuat dari emas murni, memancarkan cahaya menyilaukan di bawah sinar matahari.
Setelah wanita itu masuk dan melihat Hua Ying'er terus mengoceh sementara Hua Yu'er dan Hua Mei'er terdiam, ia segera memahami situasinya. Ia pun mendekati Hua Ying'er dengan senyuman, membelai tangannya dengan lembut sambil berkata, "Adik Keempat, kenapa lagi-lagi marah? Jangan ikuti mereka, marah itu merusak kesehatan. Lihat, Kakak Kedua membawakanmu sesuatu yang bagus."
Sambil berkata begitu, ia menyerahkan pedang pendek tersebut kepada Hua Ying'er. Melihat kedatangannya, suasana hati Hua Ying'er tampak jauh lebih baik. Ia berkata, "Kakak Kedua, kau sudah kembali," lalu menerima pedang itu dengan hati-hati seolah takut lecet, dan mendekapnya erat sambil mengamatinya dengan teliti.
Kakak Kedua, Hua Deng'er, melihat Kakak Sulung dan Adik Ketiga terdiam, menciptakan suasana yang canggung. Saat ia hendak bicara, tiba-tiba ia melihat seseorang terbaring di ruang samping. Tidak, ada dua orang; seorang pria dan seorang wanita, yang satu terbaring di dipan empuk, dan yang lain di lantai.
Yang di dipan tentu adalah sang Dewi, sementara yang di lantai tak lain adalah Lian Yuncheng. Hua Deng'er terkejut dan melihat ke arah Fang'er di sampingnya, lalu bertanya dengan tergesa, "Fang'er, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang-orang ini, dan mengapa pria ini tergeletak di lantai?"
Fang'er yang berada di dekat mereka merasa gemetar dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Hua Deng'er tidak terburu-buru, melainkan menghampiri Fang'er dengan senyum ramah, "Kak Fang'er, ada apa ini? Jangan takut, katakan pelan-pelan padaku, Deng'er akan membelamu."
Mendengar ucapan Hua Deng'er, Fang'er justru tampak semakin takut dan terus melangkah mundur, seolah ingin menjauh darinya. Wajar jika Fang'er bersikap demikian, sebab Hua Deng'er adalah tipe orang yang bermuka dua, licik, dan suka menindas yang lemah.
Di antara keempat bersaudara itu, ia adalah yang paling berhati busuk, namun sering kali berpura-pura lembut hingga banyak orang tertipu dan mencurahkan isi hati mereka padanya. Namun, di balik kelembutan itu tersimpan hati yang kejam; sejak pandangan pertama ia sudah merencanakan cara untuk mencelakai orang tersebut, dan segala tindakannya setelah itu hanyalah sandiwara untuk menunjukkan betapa murah hatinya ia, agar korbannya merasa bersalah bahkan saat sedang menderita.
Fang'er tidak akan tertipu olehnya. Lagipula, ia tumbuh di samping Hua Yu'er sejak kecil, sehingga tidak mudah bagi Hua Deng'er untuk menjebaknya. Namun, kali ini situasinya berbeda; Fang'er tahu Kakak Sulung sedang sedih, dan amukan Hua Ying'er yang luar biasa membuat Hua Yu'er pun tak berkutik. Ia tahu tempat itu bukan untuknya, dan sebagai pelayan, ia sebaiknya tidak ikut campur dalam urusan persaudaraan mereka.
Melihat Fang'er terus mundur dan mengabaikannya, Hua Deng'er sudah mengerti situasinya. Ia segera maju untuk meraih tangan Fang'er, membuat gadis itu ketakutan setengah mati. Beruntung, saat itu Hua Ying'er memanggil Hua Deng'er untuk mendekat, sehingga Fang'er memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.