Bab 17: Pelayan Kecil yang Merasa Tersakiti
Desa Keluarga Xiao letaknya cukup jauh dari kota. Yuqing meminta Kepala Pelayan Xiao untuk menyiapkan sebuah kereta kuda, sementara Pemimpin Tua Ling menunggang kuda. Tiga orang itu menantang terik matahari, bergegas menuju Penginapan Yuelai.
Yu Xu menunggu dengan sabar di Penginapan Yuelai, menengok ke kiri dan kanan, namun belum juga melihat Yun Cheng dan rombongannya. Ia pun meminta pelayan penginapan untuk menemaninya minum. Setelah dua kendi arak masuk ke perut, barulah bayangan Yuqing tampak, diikuti Yun Cheng dan Pemimpin Ling dari belakang.
Yu Xu segera mempersilakan semuanya duduk. Pelayan kembali menyajikan beberapa kendi arak dan beberapa hidangan kecil yang lezat. Setelah duduk, Yun Cheng belum sempat bicara, ia langsung menenggak arak untuk menghilangkan dahaga. Ketika memandang ke arah Yu Xu, ternyata Yu Xu pun sudah buru-buru menenggak dua mangkuk arak. Saat Yu Xu hendak menambah lagi, Yun Cheng segera menahan dan bertanya, “Yu Xu, ada apa ini? Biasanya kau bukan peminum, kenapa sekarang jadi minum? Ada urusan apa, katakan saja, selama aku bisa membantu, pasti akan kubantu.”
Yu Xu menenangkan diri sejenak lalu berkata, “Kakak, tidak ada apa-apa, kita minum saja, arak ini benar-benar nikmat.” Ia hendak menambah satu mangkuk lagi, Yun Cheng pun menemaninya. Setiap kali Yu Xu ingin menenggak, Yun Cheng pun tak ketinggalan, hingga akhirnya Yu Xu menghentikannya.
“Kakak, aku dan kakak seperguruan datang ke sini atas perintah guru. Sudah beberapa hari di sini, kini waktunya kami pergi. Aku sudah berdiskusi dengan kakak seperguruan, besok pagi kami akan berangkat. Kali ini aku mengajakmu ke sini untuk berpamitan.”
“Selama ini, kakak telah menyelamatkan nyawaku dan kakak seperguruan. Suatu hari nanti, pasti akan kubalas. Jika kelak kakak memanggil kami, aku dan kakak seperguruan akan siap menghadapi bahaya apa pun tanpa ragu.” Usai berkata, Yu Xu menenggak semangkuk arak lagi, lalu menatap Yuqing, matanya tampak berkaca-kaca.
“Yu Xu, Yuqing. Apa-apaan ini? Bukankah kita menjelajah dunia persilatan demi menjunjung nilai kesetiaan? Saling membantu di dunia persilatan adalah hal yang semestinya, tak perlu bicara soal balas budi. Ayo, habiskan mangkuk arak ini, kita tetap saudara. Pemimpin Ling, ikutlah, kita antar kepergian mereka berdua,” ujar Yun Cheng sambil tersenyum.
“Kakak, hari ini kami harus pergi. Entah kapan bisa bertemu lagi. Aku merasa sangat cocok dengan kakak, sungguh mengagumi kepribadian kakak. Aku sudah berpikir matang-matang, ingin mengikat persaudaraan meski berbeda marga. Entah bagaimana pendapat kakak?” tanya Yu Xu setelah ragu sejenak.
“Tentu saja, Yu Xu, mari kita jadi saudara. Pemimpin Ling, Yuqing, mohon jadi saksi,” jawab Yun Cheng dengan gembira.
Mereka berdua mengangguk, “Baik.”
Segera, Ling Wenju memerintahkan pelayan menyiapkan meja dengan dupa. Setelah segala sesuatunya siap, di Penginapan Yuelai itu, mereka berdua menghadap pintu dan berlutut.
“Aku, kakak Yun Cheng.”
“Aku, adik kedua Yu Xu.”
“Hari ini kami berdua bersumpah menjadi saudara. Ke depan, suka dan duka bersama, tak harus lahir di hari, bulan, dan tahun yang sama, tapi berharap mati di hari, bulan, dan tahun yang sama. Langit menjadi saksi, kami tidak akan mengingkari sumpah!” Selesai bersumpah, mereka saling memandang, memanggil kakak, adik, kakak, adik, makin akrab dari sebelumnya.
Yuqing di samping ikut bahagia untuk mereka berdua, terutama saat memandang Yun Cheng, hati Yuqing bergantian antara suka dan duka. Setelah bersumpah, mereka kembali menenggak semangkuk arak, Yuqing pun turut menemani.
Hari mulai beranjak sore, keempatnya merasa lapar, lalu memanggil pelayan untuk menambah arak dan daging. Pelayan pun sigap, sebentar saja makanan dan minuman sudah tersaji.
Keempat orang itu makan dan minum dengan gembira. Tak lama, sekelompok orang masuk ke dalam penginapan untuk minum juga. Setelah duduk, mereka memesan arak dan makanan. Beberapa kendi arak masuk ke perut, mereka pun mulai berbincang.
“Sudah dengar kabar?”
“Kabar apa?”
“Kau ini benar-benar ketinggalan info!”
“Ya sudah, aku memang ketinggalan. Sebenarnya kabar apa?”
“Kau tahu Geng Pembantai Macan?”
“Tentu saja, begitu surat hitam disebar, satu keluarga punah. Siapa di dunia persilatan yang tak tahu? Tapi ada apa dengan Geng Pembantai Macan?”
“Kau masih belum tahu juga? Beberapa waktu lalu, Geng Pembantai Macan memusnahkan Perguruan Qingcheng! Darah mengalir bagai sungai, tak tega untuk dilihat!”
“Itu kan sudah lama terjadi. Begitu besar peristiwanya, siapa di dunia persilatan yang tak tahu? Malah kudengar, Geng Pembantai Macan tak hanya memusnahkan Perguruan Qingcheng, tapi juga membakar gunungnya.”
“Kebakaran itu berlangsung tiga hari tiga malam. Gunung Qingcheng yang dulu hijau indah, berubah menjadi bukit gundul. Ada yang lewat sana bilang, bukan hanya gunungnya yang habis terbakar, tapi juga gua harta karun Perguruan Qingcheng yang berusia ratusan tahun hangus tak tersisa, bahkan seekor semut pun tak selamat. Tapi, ada kabar di dunia persilatan, sehari sebelum pembantaian, seseorang berhasil melarikan diri dari Perguruan Qingcheng. Kau tahu tentang ini?”
“Sudah dengar, katanya pendekar bambu hijau yang gagah berani, Yan Jiu. Ilmu silatnya tinggi, pantas saja bisa lolos. Tapi menurut kabar yang kudengar, dia bukan kabur sehari sebelumnya, tapi saat hari pembantaian. Kabarnya, ketua Perguruan Qingcheng, Zhiqingzi, terpaksa memerintahnya pergi di saat genting. Pendekar bambu hijau itu bukanlah orang yang takut mati. Di tengah bahaya besar, mana mungkin dia melarikan diri? Katanya, dia membawa pusaka Perguruan Qingcheng untuk membalas dendam dan membangun kembali perguruan itu di masa depan.”
“Benarkah? Apakah pusaka itu adalah warisan Perguruan Qingcheng, jurus rahasia ilmu dalam yang telah diwariskan ratusan tahun—Jurus Qingcheng Jue Tian? Tapi, katanya pusaka itu sudah lama hilang, para ketua Perguruan Qingcheng pun selalu bungkam soal itu!”
“Siapa tahu mana yang benar. Tapi kalau Yan Jiu benar membawa Jurus Qingcheng Jue Tian saat melarikan diri, sayang sekali, belum lama ini ada yang menemukan makamnya. Kalau memang pusaka itu ada padanya, pasti sudah direbut Geng Pembantai Macan.”
“Lagipula, meski Jurus Qingcheng Jue Tian berhasil dibawa keluar oleh Yan Jiu, apa gunanya? Geng Pembantai Macan sangat misterius, di dunia persilatan hanya terdengar namanya, tak ada yang pernah benar-benar melihat mereka. Mereka sanggup memusnahkan Perguruan Qingcheng yang sudah berdiri ratusan tahun hanya dalam sehari, kekuatannya sungguh luar biasa. Mana mungkin Yan Jiu seorang mampu melawannya.”
Sambil berbincang dan minum, arak pun habis. Mereka serentak memanggil pelayan, “Pelayan!” Pelayan akhirnya mendengar dan berlari mendekat. Seorang pria kekar berkata marah, “Hei pelayan, apa telingamu disumpal? Sampai serak aku memanggilmu, baru juga kau keluar. Cepat bawa arak! Tak lihat kami sedang asyik minum?” Pelayan hanya bisa tersenyum kecut menahan kesal.
Mendengar percakapan mereka, hati Yu Xu terkejut. Untung saja mereka tak tahu Yan Jiu pernah mencari gurunya, apalagi urusan mereka berdua mengantarkan surat. Yu Xu berpikir, melirik Yuqing, yang wajahnya pun berubah. Keduanya saling berpandangan, sama-sama paham perasaan masing-masing.
Yun Cheng yang duduk di samping mendengar semuanya dengan jelas. Ia berdiri dan menghampiri kelompok itu. Ketika mereka hendak bertanya ada urusan apa, Yun Cheng berkata, “Maaf mengganggu, bolehkah aku menanyakan, apakah benar kabar tentang Perguruan Qingcheng yang kalian bicarakan tadi?”
Kelompok itu sedang asyik minum, seorang pemuda berwajah lesu melirik sekilas, merasa tak senang dengan orang asing yang tiba-tiba ikut campur, sehingga tak ingin menanggapi Yun Cheng.
Namun Yun Cheng mendesak, “Saudara, maaf mengganggu, bolehkah aku tahu apakah kabar itu benar?” Karena mereka sudah agak mabuk dan ingin main-main, salah satu dari mereka tiba-tiba hendak mencabut golok besar di sampingnya. Namun belum sempat terhunus, tangannya sudah lebih dulu dicengkeram Yun Cheng.
“Saudara, aku menghormatimu, hanya ingin memastikan kabar tadi benar atau tidak, mengapa harus marah?” Pemuda yang tangannya dicengkeram itu merasa, andai dia bergerak sedikit saja, tangannya pasti patah oleh pria ini. Hatianya sudah menyesal, namun demi harga diri dunia persilatan, ia pura-pura gagah, “Kalau kau ingin membunuh, bunuh saja! Tak perlu banyak omong! Aku tak mau bicara, kau mau apa?!”
Teman-teman minumnya juga bangkit, menghunus pedang meminta Yun Cheng melepaskan. Yun Cheng tetap tenang, menatap lelaki itu dan bertanya, “Saudara, sebenarnya kabar yang kau bilang tadi benar atau tidak?”
Saat itu Yu Xu, Yuqing dan lainnya juga berdiri. Melihat Yun Cheng punya teman, tampaknya semuanya orang keras, mereka pun mengalah, merasa tak perlu ribut hanya karena urusan sepele.
Salah satu dari mereka yang berwajah tenang berkata, “Soal Perguruan Qingcheng seluruh dunia persilatan sudah tahu, mohon lepaskan saudara kami. Di dunia persilatan, lebih baik menambah teman daripada musuh.”
Yun Cheng memastikan sekali lagi, setelah yakin, ia pun melepaskan orang itu dan berkata, “Saya hanya ingin bertanya, tidak menyangka sampai begini. Biar saya yang bayar arak kalian, semoga kalian tak mempermasalahkan lagi.”
Ucapan Yun Cheng sangat baik, namun pria yang tangannya tadi dicengkeram tidak terima. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menebaskan golok ke arah Yun Cheng. Yun Cheng hanya tertawa, dengan beberapa jurus saja berhasil membuat mereka semua lari tunggang langgang. Namun pada saat itu juga, Yun Cheng tiba-tiba jatuh pingsan.