Bab Sembilan: Raja Naga Api
Setelah sarapan, dipimpin oleh Bai Lang, ketiganya keluar rumah. Di sepanjang jalan, mereka melewati banyak desa dan bertemu dengan bermacam-macam roh senjata, ada yang jinak dan ada pula yang galak. Bai Lang memperkenalkan satu per satu jenis roh senjata yang mereka temui, menjelaskan kepada mereka roh itu cocok dengan pemilik dan senjata seperti apa. Hal itu membuat Lin Peng semakin memahami dunia roh senjata. Sementara Bai Mo tampak sangat bersemangat, karena sejak lahir ia telah meninggalkan tempat ini, dan bahkan ketika kembali pun ia hanya tinggal di sukunya sendiri tanpa pernah pergi sejauh ini. Semua yang dilihatnya terasa baru dan menarik, ia berlarian kegirangan di sepanjang jalan, dan dengan sifatnya yang mudah bergaul, ia menjalin banyak pertemanan. Lin Peng pun langsung memberinya julukan “Si Bunga Pergaulan,” membuat Bai Lang tertawa terpingkal-pingkal. Jujur saja, sudah lama ia tidak merasa begitu santai dan sudah lama pula tidak tertawa sebebas itu.
Setelah berjalan sekitar setengah hari, ketiganya tiba di kaki sebuah gunung. Gunung itu menjulang tinggi, megah berdiri menembus awan. Lin Peng memandang ke atas, membayangkan cara apa yang harus dilakukan untuk mendaki gunung itu. Saat itu, Bai Lang mengeluarkan sebuah seruling giok dan mulai meniupnya. Suara seruling itu begitu indah, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa nyaman.
Tiba-tiba, seekor naga hitam berapi melayang turun dari atas gunung. Gerakannya sangat cepat, dalam sekejap sudah berada di hadapan mereka. Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar, lalu berhenti di tempat.
Aksi itu membuat Lin Peng dan Bai Mo sangat terkejut. Keduanya refleks melompat ke samping.
Bai Lang melihat kedua bocah itu ketakutan, ia kembali tertawa hingga tubuhnya terguncang. Dengan santai ia berkata, “Tidak apa-apa, lihat saja.”
Dari mulut naga itu terpancar cahaya biru yang redup. Jika diperhatikan lebih saksama, ternyata naga itu hanyalah naga batu. Wajah Lin Peng langsung memerah, merasa tindakannya tadi sangat memalukan, hingga ia tersenyum kikuk.
Bai Lang melambaikan tangan, “Mari kita naik.”
Ketiganya berjalan mendekati cahaya biru itu. Begitu melangkah masuk, tubuh mereka terasa bergetar, dan pemandangan di luar langsung berubah. Sebuah istana megah berdiri kokoh di depan mata. Seorang pria berbusana mewah berjalan menyambut mereka. Ketika ia sampai di hadapan Bai Lang, belum sepatah kata pun terucap. Bai Lang mengulurkan tangan, menepuk lengan kanan pria itu, lalu mereka berpelukan erat.
“Saudaraku, akhirnya kau kembali,” ujar pria berpakaian mewah itu dengan suara bergetar menahan haru.
Bai Lang menghela napas panjang dan berkata, “Aku sudah pulang. Peng’er, kemarilah, akan kukenalkan padamu.”
Lin Peng segera melangkah maju, memberi salam hormat yang dalam, “Saya, Lin Peng, junior, memberi salam hormat kepada Paman.”
Pria berpakaian mewah itu tertegun sejenak. Ia menghampiri Lin Peng dan membantunya berdiri. Ia menatap Lin Peng lama, hingga air mata memenuhi kedua matanya. Ia mengelus wajah Lin Peng, suaranya bergetar, “Kau anak Kakak, kau anak Xian’er…”
Bai Mo juga maju menghormat, “Keponakan memberi salam hormat kepada Paman.”
Pria itu menatap Bai Mo, mengelus kepalanya, “Kau Bai Mo, bukan? Bagus, kau sudah pulang, kau sudah pulang.” Sambil berkata demikian, ia merangkul Bai Mo dengan tangan kirinya, dan merangkul Lin Peng dengan tangan kanan, melangkah besar menuju dalam. Sambil berjalan ia tertawa lepas, “Saudaraku, hari ini bertemu dengan dua keponakan, sungguh hari yang membahagiakan. Hari ini kita harus berpesta pora!”
Mereka pun masuk ke dalam istana megah itu, hidangan dan minuman sudah terhidang dengan rapi. Bai Lang dan pria berpakaian mewah itu duduk berdampingan di kursi kehormatan, sementara Lin Peng dan Bai Mo duduk berurutan di sisi Bai Lang. Di sisi lain, duduk dua orang yang wajahnya mirip dengan pria berpakaian mewah itu, usianya kira-kira seumuran Bai Mo.
Pria berpakaian mewah itu memperkenalkan mereka satu per satu. Lin Peng mengetahui, kedua orang itu adalah putra-putra pria itu, yang lebih tua bernama Yan Hong, dan yang lebih muda bernama Yan Qing. Adapun pria berpakaian mewah itu adalah Raja Naga Api, kepala suku Naga Api, sekaligus roh senjata ibunda Lin Peng yang telah mengikutinya selama bertahun-tahun dan punya ikatan batin yang dalam. Raja Naga Api juga menyandang gelar lain, yakni Kaisar Roh Negeri Senjata.
Raja Naga Api dan Bai Lang jelas sangat dekat, dan karena lama tak bertemu, mereka tak henti-hentinya meneguk arak.
Bai Lang mendekatkan cawan ke telinga Raja Naga Api dan berkata, “Ada satu hal penting yang harus kusampaikan, anak itu memilih mengikuti jejak ibunya.”
Raja Naga Api menghela napas, air mata telah menggantung di matanya entah sejak kapan. Dengan lembut ia berkata, “Kalau begitu, biarlah aku yang menggantikan Kakak Xian’er untuk mendidiknya dengan baik. Kau tenang saja.”
Bai Lang meneguk araknya bersama Raja Naga Api, lalu mengangkat cawan lagi, berkata pelan, “Aku ingin kedua bocah itu mempelajari ilmu rahasia Suku Kera Putih, kau tahu ilmu itu.”
Raja Naga Api meneguk araknya, lalu berkata, “Ilmu rahasia suku kalian itu tidak mudah dipelajari, aku tak bisa banyak membantu, hanya bisa tergantung pada mereka berdua. Yang bisa kujanjikan, apa yang kutahu pasti akan kuajarkan pada mereka.”
Bai Lang meneguk araknya lagi, lalu mengangkat cawan, “Ada satu hal lagi…”
Raja Naga Api melambaikan tangan, memandang Yan Qing yang duduk di bawah, “Qing’er, mulai sekarang mainlah bersama kedua kakakmu, mau?”
Yan Qing sempat tertegun, lalu segera berdiri memberi hormat, “Baik, Ayahanda.”
Ia pun menghadap Lin Peng dan Bai Mo, memberi salam, “Mulai sekarang, Yan Qing mohon bimbingan dari kedua Kakak.”
Bai Lang dan Raja Naga Api tampak sangat gembira, bukan hanya karena melihat generasi penerus, tetapi juga karena teringat pada orangtua Lin Peng, merasakan kebahagiaan atas kelanjutan ikatan di antara mereka.
Raja Naga Api menatap anak-anak itu, teringat kembali kenangan bersama Mo Xian’er. Gadis yang tabiatnya keras, terlihat sulit didekati, namun sangat menyayanginya. Gadis yang demi cinta rela meninggalkan keluarga, bahkan rela mengakhiri hidupnya sendiri. Sekali lagi matanya basah, “Kakak Xian’er, aku akan menggantikanmu mendidik anakmu.” Memikirkan itu, ia kembali meneguk araknya hingga habis.