Bab 75: Hari yang Membosankan bagi Li Da
Walaupun Li Da bilang ingin pergi ke warnet, setelah merasakan suasana pengap dan penuh asap di dalamnya, ia pun keluar lagi. Mungkin ini terkesan manja; dulu meski bau asap rokok di warnet sangat berat, ia tetap betah berjam-jam, tapi sekarang sudah tak tahan lagi.
Tak ada tempat lain untuk pergi, akhirnya Li Da memutuskan ke toko buku. Membaca buku lebih banyak juga hal yang baik.
Li Da memilih sebuah buku tebal berjudul "Perjalanan ke Barat," yang saking beratnya bisa dipakai sebagai batu bata untuk memukul orang. Membaca buku semacam ini memang tidak terlalu berguna untuk ujian, tapi cukup bermanfaat untuk memperkaya wawasan sastra.
Dulu saat masih sekolah, Li Da sebenarnya tidak suka membaca buku di luar pelajaran, bahkan novel karya Lu Xun pun ia kurang berminat. Namun setelah mulai menulis novel sendiri, semakin banyak ia menulis, semakin ia sadar bahwa bacaan yang ia miliki sangat terbatas, sehingga ia mulai membeli dan membaca beberapa buku.
Sayangnya, waktu luang saat itu juga tidak banyak, dan membaca buku pun terasa sulit untuk difokuskan, malah buku-buku yang dulu pernah dibaca justru lebih membekas di ingatan.
Namun, membaca versi asli novel "Perjalanan ke Barat" ini, belum lama dibaca Li Da sudah merasa agak bosan. Di satu sisi, karena ia sudah pernah menonton versi serial televisinya sehingga sudah tahu alur besarnya. Di sisi lain, karena gaya penulisan novel zaman dahulu jelas berbeda dengan cara berpikir orang zaman sekarang.
Misalnya, dalam "Perjalanan ke Barat," kisah dibuka dengan sosok kera sebagai tokoh utama, tetapi tingkah lakunya sulit untuk membuat pembaca merasa terlibat. Jika membaca "Perjalanan ke Barat" dengan sudut pandang pembaca novel daring masa kini, semuanya akan terasa penuh kekurangan.
Tentu saja, sebagai novel kuno, standar kekurangan masa kini tidak cocok untuk diterapkan pada buku ini, hanya saja novel kuno juga tidak bisa seperti novel daring yang membuat Li Da terus ingin membaca sampai habis.
Setelah sampai pada bagian kisah "Kacau Balau di Istana Langit" selesai, Li Da pun membayar dan membawa pulang bukunya.
Buku itu tetap layak dibaca, meski menurut Li Da pribadi terasa kurang seru, tapi beberapa kosa kata dan bait syair di dalamnya, siapa tahu suatu saat bisa dipakai (mencontek).
Setelah itu, Li Da jadi tidak tahu mau berbuat apa. Seandainya Luo Dongqing ada, pasti lebih menyenangkan. Sayang, entah apa yang membuat Luo Dongqing batal menepati janji.
Meski kecewa, Li Da tidak marah. Ia masih punya kelapangan hati dan cukup bisa memahami orang lain.
Tak ada yang bisa menjamin hidup tanpa kejadian tak terduga. Kalau Luo Dongqing tidak bisa datang sesuai janji, pasti ada hal yang benar-benar harus ia lakukan, kalau tidak, ia tak mungkin mengingkari janji tanpa alasan.
“Meskipun orangnya tidak datang, perayaan yang sudah dijanjikan tetap harus ada. Tadinya ingin traktir makan mala tang, sekarang cuma lolipop saja.”
Li Da melewati sebuah toko camilan, lalu masuk dan membeli beberapa lolipop yang tampak cantik. Ia memang tipe pria yang sederhana, tidak tahu harus memberikan apa, jadi akhirnya memilih lolipop.
Pesan pun dikirim ke Luo Dongqing, awalnya ingin dikirim beserta foto, tapi versi aplikasi QQ di ponselnya tidak mendukung kirim gambar.
Cukup canggung.
Selain itu, setelah mengirim pesan, Li Da merasa ini agak tidak pantas. Mala tang dan lolipop...
Emm, dipikir-pikir ini tahun 2008, jadi sepertinya tidak masalah.
Orang-orang saat itu masih polos, mendengar mala tang tidak langsung teringat pada candaan enam ribu rupiah tiga puluh dua kali.
Luo Dongqing pun tidak membalas pesannya, mungkin sedang sibuk. Li Da akhirnya pergi makan mala tang sendiri, lalu menuju bioskop di kabupaten, menonton sebuah film. Kebetulan lewat saja, jadi masuk.
Film yang diputar adalah "Cahaya Sungai Panjang Tujuh." Li Da sendiri sudah lupa kapan film ini pertama kali tayang, pokoknya bioskop ini menayangkan, jadi ia beli tiket.
Sudah lama Li Da tidak menonton film bintang komedi itu. Film-film yang ia ingat tetaplah yang klasik sewaktu kecil, sedangkan "Putri Duyung" hanya ia hafal adegan-adegan terkenalnya karena banyak parodi di situs video, membuatnya tak bisa lupa.
Sekarang menonton "Cahaya Sungai Panjang Tujuh" lagi, Li Da merasa film itu tidak sebagus yang ia ingat. Mungkin karena dulu sudah pernah menontonnya, dan waktu itu ia juga tidak se-kritis sekarang. Menjelang akhir film, terdengar suara tangisan dari dalam studio, membuktikan hal itu.
Bagus atau tidaknya, itu hanya pendapat pribadi Li Da.
Namun, sepuluh tahun kemudian, banyak orang berkata mereka berhutang satu tiket film pada sang bintang, dan Li Da merasa kali ini ia sudah menebusnya.
Li Da melihat ponselnya, sudah jam setengah enam.
Akhirnya sore itu terlewati juga.
Kalau tidak, ia bisa mati kebosanan.
Setelah film selesai, Li Da berdiri dan berjalan keluar, tiba-tiba melihat sosok yang familiar.
Hari ini sepertinya berjodoh dengan Tang Youyou, karena di bioskop pun ia bertemu lagi.
Tang Youyou sedang berjalan bersama seorang laki-laki. Melihat pemandangan itu, Li Da merasa sedikit tidak nyaman.
Mungkin inilah sifat dasar lelaki; meskipun sudah tak punya perasaan pada Tang Youyou dan sudah punya tujuan baru, tetap saja melihat Tang Youyou bersama pria lain menimbulkan sedikit rasa tidak enak.
Perasaan ini muncul begitu saja, tapi Li Da bisa mengendalikannya.
Ini hal yang sangat wajar, Tang Youyou juga punya hak untuk berpacaran dan menikah, masak harus menunggunya selamanya?
Sebenarnya Li Da tidak berniat menyapa, agar tidak mengganggu mereka, tapi Tang Youyou sudah lebih dulu melihatnya dan terkejut, “Li Da, kok kamu di sini?”
“Sedikit bosan, jadi nonton film saja, tak disangka bisa ketemu kamu di sini,” jawab Li Da sambil tersenyum. Laki-laki itu pun bertanya pada Tang Youyou, “Teman sekolahmu?”
Tang Youyou mengangguk.
“Nonton film sendirian, pasti sepi sekali, kalau tahu begini, tadi sekalian saja duduk bareng,” katanya.
Mendengar itu, Li Da langsung tahu, orang itu pasti saudara Tang Youyou, bukan pacar. Tapi ia tidak merasa senang atau kecewa, hanya merasa biasa saja.
“Tak apa, cuma mengisi waktu luang,” kata Li Da, menegaskan kalau ia tidak merasa kesepian.
Laki-laki itu pun tidak melanjutkan pembicaraan, sambil berjalan ia berkata pada Tang Youyou, “Nanti pulang sendiri saja, tak perlu aku antar, kan?”
“Ya, ini masih siang, tak perlu diantar,” jawab Tang Youyou.
Mendengar percakapan itu, Li Da dalam hati mencibir, saudara Tang Youyou ini memang tipe pria sederhana.
Karena orang itu sudah pergi, Li Da dan Tang Youyou pun akhirnya berjalan berdua.
Karena searah, dan kalau harus berpisah justru terasa aneh, Li Da pun memperlambat langkah, mengikuti ritme Tang Youyou.
“Barusan itu sepupumu ya?” tanya Li Da sekadar mencari bahan obrolan, tanpa maksud lain.
Tang Youyou mengangguk, lalu menjelaskan, “Aku tadi menjaga toko milik paman, jadi mereka minta sepupu menemaniku nonton film, aku coba menolak tapi tidak bisa.”
“Oh,” jawab Li Da. Merasa suasana jadi canggung, ia buru-buru menambah pertanyaan, “Belajarnya gimana sekarang?”
“Biasa saja.”
Li Da pun terdiam.
Obrolan kaku memang menyedihkan.
Mereka menyeberang jalan, tiba-tiba beberapa mobil dengan tipe yang sama melintas, Li Da pun mengingatkan, “Hati-hati mobil.”
Ia hanya memberi peringatan dengan gerakan tangan, tidak menarik atau menyentuh Tang Youyou. Setelah mobil lewat dan mereka menepi, Li Da berkata, “Konvoi mobil itu tidak ada hiasannya, jadi bukan iring-iringan pengantin, entah untuk apa.”
“Iya ya,” jawab Tang Youyou.
Obrolan pun terhenti lagi.
Li Da pun menyerah, sudahlah, memang tak bisa ngobrol lama.
Yang tidak ia sadari, di salah satu mobil yang lewat tadi, Luo Dongqing ternyata duduk di dalamnya dan melihat Li Da serta Tang Youyou menepi bersama menghindari mobil.
Tak jauh dari situ ada bioskop. Melihat adegan itu, suasana hati Luo Dongqing langsung berubah muram, sampai-sampai tante Xue yang duduk di sampingnya jadi gelisah...
Nona besar, tolong jangan bikin masalah...