Sebuah kereta membawa Li Da kembali ke masa SMA tahun 2008, tahun di mana gadis yang duduk di sebelahnya tersenyum begitu indah, saudara sekamar di tempat tidur atas mendengkur sekeras guntur, dan guru di depan kelas berkata bahwa ini adalah angkatan terburuk yang pernah ia ajar. Tahun itu, masa muda begitu cerah, waktu berjalan tenang dan damai. 【Novel ini berfokus pada kehidupan sehari-hari, dengan sentuhan manis】 Grup pembaca: 556508246
Pukul setengah sepuluh, gerbong kedua jalur metro Junsha masih saja padat. Pada jam segini, kebanyakan penumpang adalah mereka yang pulang kerja setelah menikmati nasib baik dari sistem kerja sembilan-sembilan-enam. Dari mata mereka yang kosong dan sikap berdiri yang lesu, sudah jelas betapa mereka kelelahan. Berkat kerja 996 itu, setidaknya mereka tak perlu berdesakan di kereta pukul enam sore.
Li Da cukup beruntung; saat ia masuk ke kereta, masih ada tempat duduk kosong. Ia pun memanfaatkan waktu itu untuk memejamkan mata sejenak.
Di tengah kantuknya, Li Da mendengar suara ribut-ribut. Saat ia membuka mata, ia melihat seorang ibu paruh baya sedang bersitegang dengan gadis muda di seberangnya.
Ibu itu meminta gadis tersebut memberikan tempat duduk, tetapi si gadis juga tampak sangat lelah sehingga enggan berdiri. Ibu itu pun mulai mengomel panjang lebar, dan akhirnya dengan tanpa sungkan, ia duduk di pangkuan gadis itu. Tubuh ibu itu besar dan bulat, diameternya hampir empat puluh sentimeter; berat itu jelas tak sanggup ditanggung sang gadis. Dengan terpaksa, gadis itu berdiri, dan ibu itu pun berhasil duduk di kursi.
Setelah menang, ibu itu masih belum puas, mulutnya terus memaki tanpa henti. Orang-orang di sekitar ada yang tampak muak, tapi tak ada yang berkata apa-apa. Ada juga yang mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian itu, barangkali nanti akan diunggah ke media sosial dan mengundang beragam komentar.
Apakah orang jahat menjadi tua, atau orang tua menjadi jahat?
Gadis itu beberapa kali dibentak, ia tampak ingin membalas, tap