Bab Sembilan Belas: Sorotan Utama
Sudah menjadi rahasia umum bahwa guru olahraga sering sakit-sakitan, guru musik sering ada urusan keluarga, dan guru seni rupa hampir setiap hari izin… Pokoknya, jam pelajaran kali ini diganti jadi matematika.
Sekonyong-konyong, suara keluhan memenuhi kelas.
Xie Wei sama sekali tidak memedulikan keluhan-keluhan itu, ia berkata, “Dalam ulangan kecil kali ini, ada lima orang yang mendapat nilai sempurna, tiga belas orang mendapat nilai di atas sembilan puluh, dan lebih dari dua puluh orang belum mengumpulkan lembar jawaban.”
Setelah Xie Wei selesai merekap hasil, kelas langsung hening. Banyak siswa menatap tumpukan kertas di tangan Xie Wei, berharap-harap cemas pada nilai mereka.
Persentase siswa yang nilainya di atas sembilan puluh cukup besar, jadi Xie Wei membagikan lembar jawaban kepada beberapa siswa di depan untuk disebarkan ke teman-temannya.
Li Da mengira pelajaran kali ini pasti hanya bahas soal ulangan. Ia langsung merasa bosan dan memilih mengerjakan soal lain.
Soal-soal itu sudah ia pahami, mendengar penjelasan guru lagi tidak ada gunanya. Lebih baik waktunya digunakan untuk hal lain.
Misalnya, menulis kerangka cerita baru.
Sementara itu, Xie Wei mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, lalu melihat Li Da yang duduk di barisan belakang, diam-diam menulis sesuatu, lantas menambahkan, “Oh iya, hampir lupa, Li Da adalah yang pertama mengumpulkan jawaban, nilainya juga sembilan puluh sembilan.”
Sekejap, seluruh kelas menoleh ke arah Li Da.
Anak ini memang luar biasa!
Gaya pamer yang tidak kasat mata.
Setiap pengumuman hasil ujian, selalu jadi ajang pamer para juara kelas.
Walau hanya ulangan kecil, tapi tetap saja, saat semua orang menatapnya, Li Da merasa agak canggung. Yang dapat nilai sembilan puluh juga banyak, kenapa harus lihat aku? Lihat papan tulis saja sana!
Luo Dongqing diam-diam memutar bibirnya, lalu berkata, “Pasti ada orang yang sekarang sedang senyum-senyum dalam hati.”
Li Da langsung menimpali, “Tak kusangka kau juga tahu bagaimana perasaan juara kelas!”
Benar, setelah nilai diumumkan, para juara kelas biasanya mati-matian menahan tawa, berusaha tampak biasa saja, padahal dalam hati girang bukan main!
Tapi mendengar Li Da berkata begitu, Luo Dongqing langsung sewot.
“Kamu ini, bisanya cuma menginjak luka orang saja? Kalau berani, coba ganti posisi!”
“Lima puluh langkah menertawakan seratus langkah.”
“Kamu…”
Luo Dongqing benar-benar tak tahan, ia hendak menggigit tangan Li Da, tapi akhirnya menahan diri, lalu melepaskan tangan Li Da, membuka laci meja, mengeluarkan satu bungkus permen karet Yida, menuang segenggam ke mulut dan mulai mengunyah dengan semangat.
Li Da jadi semakin senang melihatnya, apalagi saat memperhatikan pipi Luo Dongqing yang bergerak-gerak, ia sangat ingin mencubitnya.
“Hmm hmm hmm hmm hmm! (Apa yang kamu tertawakan?!)”
Luo Dongqing dengan galak mendengus pada Li Da, lalu tanpa pikir panjang menyodorkan permen karet itu kepadanya—makanan harus dibagi dengan teman.
Meski ia kesal setengah mati, tetap saja ia tidak makan sendirian.
Luo Dongqing benar-benar membuat hati Li Da terasa lebih baik.
Sebenarnya tidak ada yang lucu, hanya saja… entah kenapa, melihat Luo Dongqing marah-marah begitu, terasa ringan di hati, bahkan semakin puas.
“Nih, permenmu.”
“Hmph!”
Luo Dongqing pura-pura tak mau peduli, meletakkan bungkus permen di laci, pas pula guru mulai mengajar.
Luo Dongqing memutuskan untuk mendengarkan pelajaran dengan sungguh-sungguh, supaya nanti tidak terus dibully oleh teman sebangkunya yang menyebalkan itu.
Namun, setelah mendengarkan guru sambil memegang lembar ujian, Luo Dongqing malah terheran-heran.
Apa ini, apa pula yang itu, maksudnya apa sih?
Sepuluh menit kemudian, Luo Dongqing lemas tergeletak di meja, kehilangan semangat hidup.
Apa benar IQ-ku… bermasalah?
Luo Dongqing mulai meragukan dirinya sendiri.
Saat itu, Li Da baru saja selesai menulis kerangka cerita. Melihat Luo Dongqing seperti ikan asin kehilangan harapan hidup, ia tidak tahan lalu tertawa pelan, namun kali ini Luo Dongqing bahkan tidak punya tenaga untuk marah.
Li Da lalu mengambil buku matematika dan meletakkannya di meja Luo Dongqing. Gadis itu terpaksa duduk tegak, menatap Li Da dengan bingung.
Ngomong-ngomong, kalau tidak sedang menelungkup, Luo Dongqing selalu duduk tegak sempurna, berbeda dengan Li Da yang lama-lama pasti membungkuk sedikit.
Mungkin karena dadanya tidak membebani, jadi gadis duduk tegak itu lebih melelahkan daripada laki-laki.
“Kamu saja belum tahu poin-poin penting, makanya susah paham penjelasan guru. Nih, lihat bagian ini.”
Li Da sambil bicara, membuka buku dan menandai bagian penting untuknya.
“Hafalkan hukum-hukum ini, lalu soal-soal di buku sebenarnya mudah sekali, hanya perlu kamu paham cara menggunakannya. Setelah sedikit mengerti, baru coba kerjakan soal sendiri.”
Dalam matematika, Li Da memang cukup berpengalaman. Mulailah dengan soal mudah untuk pemahaman dasar, lalu lanjutkan ke soal sulit untuk melatih pemahaman lanjutan.
Untuk yang lebih sulit lagi…
Jujur saja, itu soal kemampuan otak, bukan hanya soal usaha. Tapi berusaha tetap bisa menyelesaikan sebagian besar masalah.
Tanpa memberi Luo Dongqing kesempatan membantah, Li Da langsung menandai semua bagian penting untuknya.
“Sudah, kamu baca sendiri. Pulang nanti kerjakan soal, biar makin paham. Jangan begadang, tidur cepat biar sehat.”
“Siapa suruh kamu ngatur!” sahut Luo Dongqing setengah memprotes, nadanya tidak sedingin tadi, malah terdengar agak malu.
Li Da tidak ambil pusing, dia tahu membedakan orang yang benar-benar kesal dan yang cuma gengsi saja.
“Kalau kamu bisa kerjakan soal-soal ini tanpa melihat jawaban, besok aku kasih lihat naskah baruku.”
“Siapa juga yang peduli!” balas Luo Dongqing dengan mulut, tapi dalam hati ia sudah mengingat soal-soal yang ditandai Li Da.
Li Da pun kembali ke kegiatannya. Walau sempat terganggu sebentar, baginya waktu tidak begitu mendesak, belum sampai harus kejar-kejaran.
Membantu teman sebangku yang lucu merangkum pelajaran bukanlah pemborosan waktu.
Mungkin hanya Li Da yang merasa Luo Dongqing itu lucu. Luo Dongqing sendiri, kalau tidak ada urusan, selalu pasang muka dingin, seperti tidak ingin didekati siapa pun, suara bicaranya pun seolah penuh jarak. Namun di mata Li Da, itu hanya gaya anak kecil yang sok dewasa.
Satu jam pelajaran berlalu, Li Da hanya menulis pengantar singkat untuk naskahnya.
Setelah membereskan naskah, ia menoleh, melihat Luo Dongqing mengeluarkan bukunya sendiri, hendak membandingkan dan menandai bagian penting seperti yang dilakukan Li Da.
Buku Luo Dongqing sangat bersih, hampir seperti baru.
“Pakai saja bukuku untuk belajar di rumah, toh malam aku tidak butuh. Kalau aku mau pakai, aku pinjam bukumu saja.”
“Baiklah.” Luo Dongqing tidak banyak protes, ia mengeluarkan tas dan memasukkan buku matematika Li Da, lalu setelah berpikir, menambahkan satu buku latihan ke dalamnya.
Baru saat itulah Li Da menyadari, tas Luo Dongqing benar-benar kosong…
Benar-benar siswa malas, pulang pun tidak bawa buku.
“Sepertinya hari ini kamu benar-benar akan belajar, sekalian saja baca buku bahasa juga. Lanting Jixu, ini harus dihafal dan ditulis ulang.”
Li Da mengeluarkan bukunya lagi, membuka halaman yang dimaksud lalu menunjukkan pada Luo Dongqing. Gadis itu membelalakkan mata, “Jangan harap aku bakal belajar di rumah, aku cuma pura-pura saja. Jangan senang dulu!”
“Iya, iya, besok saja aku senang. Nih, bukunya.”
Li Da meletakkan buku bahasa di meja Luo Dongqing, lalu membawa mangkuk nasi pergi makan.
Luo Dongqing mendengus pelan, kemudian memasukkan buku Li Da ke dalam tasnya…