Bab Tiga Belas: Ujian Kecil
Setelah menambah mi dua kali di kantin, Li Da merasa wajahnya sedikit memerah karena malu.
Namun, sekarang ia sedang dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan banyak asupan makanan.
Untungnya, sekolah cukup adil dalam hal ini. Semangkuk mi harganya dua setengah yuan, dan meski menambah dua kali lagi, tidak akan dikenakan biaya tambahan.
Hanya saja, saat menambah mi tanpa menambah kuah, lama-lama rasanya hambar, nyaris tak ada rasa asin atau minyak. Tapi, yang penting perut kenyang. Li Da pun melangkah santai keluar dari kantin, berjalan lambat seperti seorang kakek tua; andai saja di tangannya ada termos berisi air dan beberapa butir goji, ia benar-benar akan terlihat seperti pria paruh baya yang sudah berumur.
Sesampainya di kelas, ia melihat guru matematika, Xie Wei, sudah ada di sana dan memegang beberapa lembar kertas berwarna hijau muda.
Itu adalah kertas khusus yang biasa dipakai guru-guru untuk mencetak soal ujian, harganya pun lebih murah. Hari itu, dua jam pelajaran matematika akan berlangsung berturut-turut, Xie Wei berencana mengadakan ujian kecil untuk menguji hasil belajar siswa sampai tahap ini.
Walau soal ujian belum dibagikan, suasana siswa sudah mulai terasa berbeda.
Ada tipe siswa jenius yang tenang, seperti Xiao Xiao, yang tetap membaca buku pelajaran bahasa tanpa terlihat gugup sedikit pun.
Ada juga tipe siswa berprestasi yang suka pamer, seperti seorang laki-laki di barisan paling depan—Li Da lupa namanya—yang berkata pada Xie Wei, “Bagaimana kalau soalnya dibagikan lebih awal, supaya kami bisa mulai mengerjakan?”
Tipe seperti ini memang punya kemampuan, tapi juga ingin menampakkan diri.
Xie Wei hanya menggeleng pelan dan berkata, “Tunggu sebentar lagi.”
Ada pula tipe siswa yang mudah gugup, seperti Tang Youyou. Ia terlihat berusaha keras, namun nilainya hanya di level menengah. Tidak terlalu percaya diri, tapi juga tidak buruk, sehingga tipe ini paling gelisah—khawatir nilainya jelek, tapi juga berharap nilainya bagus.
Dan, tentu saja ada tipe siswa yang sudah pasrah, seperti Luo Dongqing di sebelah Li Da, yang bahkan tidak membuka matanya.
Li Da memperhatikan sekeliling dan merasa ini sangat menarik.
Ini adalah hari kedua setelah ia terlahir kembali. Ia pun memandang segala sesuatu dengan kacamata orang luar, entah kenapa, ia memang senang mengamati kehidupan sehari-hari teman-temannya, tanpa tujuan tertentu, hanya sekadar memperhatikan saja.
Tang Youyou terlihat tegang sedang menghafal rumus, tapi sia-sia saja. Bakatnya di matematika memang sangat kurang, pelajaran lain pun sama saja, tapi ia rajin belajar. Sayangnya...
Itu pun cukup menyedihkan.
Bayangkan, seseorang yang selalu berusaha keras, mendapat nilai sama dengan orang yang setiap hari hanya bermain-main. Bukankah itu tragis?
Sementara siswa berprestasi yang mengerjakan soal seadanya saja, malah meraih nilai yang tidak bisa dicapai Tang Youyou. Bukankah itu seperti berkata, “Usahamu sia-sia, yang terpenting adalah bakat”?
Sungguh menyakitkan, bukan?
Saat Li Da sedang memperhatikan Tang Youyou, pikirannya melayang ke mana-mana. Entah kenapa, saat itu Tang Youyou seperti merasa diperhatikan, ia tiba-tiba menoleh ke belakang dan mendapati Li Da sedang menatapnya.
Ia pun buru-buru memalingkan wajah.
Li Da tidak tahu apa yang dipikirkan Tang Youyou, ia hanya melihat-lihat saja.
Saat ini, penglihatan Li Da sedang di puncak. Dengan ketajaman lima koma satu, duduk di bangku paling belakang pun ia bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas. Selagi matanya masih bagus, ia ingin memanfaatkannya sebaik mungkin.
Lima menit sebelum pelajaran dimulai, Xie Wei akhirnya membagikan soal ujian. Saat bel masuk berbunyi, di setiap meja sudah ada satu lembar soal.
“Ujian berlangsung dua jam pelajaran. Kalau ingin ke toilet, silakan di tengah ujian, tapi jangan menyontek, karena tidak ada gunanya,” kata Xie Wei sambil duduk di meja guru, sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Meski ia bertugas sebagai pengawas ujian, suasananya sangat longgar.
Seperti yang ia katakan, ujian kecil seperti ini, menyontek sama sekali tidak berarti.
Tujuan ujian ini hanya untuk mengetahui di mana letak kelemahanmu, tidak ada peringkat apalagi hukuman.
Kalau nilai tinggi bukan untuk pamer, maka tidak ada gunanya sama sekali.
Justru ujian-ujian kecil seperti inilah yang paling murni, hanya soal mengerjakan saja.
Namun, tetap saja ada yang menyontek. Duduk berdekatan, ada yang mencontek teman sebangku, ada yang buka buku. Tetapi, menyontek hanya akan menipu diri sendiri.
Luo Dongqing tetap santai, saat menerima soal, ia malah menjadikannya sebagai selimut.
Ya, menutupi kepala.
Li Da tidak ambil pusing, toh Luo Dongqing selalu berkata, “Bukan urusanmu.” Walau Li Da orang yang berhati baik, ia juga tidak suka memaksakan diri pada orang lain.
Mengingatkan sekali dua kali, itu karena ia memang suka ikut campur, sudah kebiasaan, tapi tidak lebih dari itu.
Ia pun mulai mengerjakan soal.
Soal-soal kali ini cukup sulit, lebih sulit dari soal di buku, tapi tidak terlalu rumit, tidak ada jebakan. Asal dihitung dengan benar, pasti bisa.
Sampai ke soal uraian, barulah ada tantangan. Soalnya berputar sedikit, namun Li Da menyusun semua syaratnya, menulis dan menggambar di kertas coret, tidak lama kemudian soal terjawab.
Hanya soal terakhir yang agak bermasalah. Ia sudah punya gambaran cara menjawabnya, soal itu merupakan gabungan aljabar dan geometri. Namun, banyak rumus yang sudah ia lupakan, soal-soal sebelumnya kebetulan masih ia ingat dari kemarin, jadi lancar saja. Tapi sekarang, karena lupa rumus, ia tidak bisa lanjut.
Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya mengambil buku matematika, mencari rumus yang ia butuhkan, dan langsung menyelesaikan soal tersebut.
Melihat lembar ujian penuh tulisan, Li Da merasa puas. Matematika memang paling mudah dipulihkan.
Kemudian, ia mengeluarkan pulpen merah dan menulis di samping jawaban soal terakhir, “Soal ini saya buka buku karena lupa rumus, boleh tidak diberi nilai.”
Ia mengerjakan soal hanya untuk memastikan dirinya benar, soal nilai tidak ia pedulikan.
Lagi pula, bisa ya bisa, tidak bisa ya sudah. Jika ia dapat nilai sempurna padahal menyontek buku, malah terkesan ia menyontek hanya demi nilai.
Ia melihat jam, masih ada dua puluh menit sebelum pelajaran kedua selesai. Luo Dongqing akhirnya bangun, menulis namanya di lembar soal, mengisi pilihan ganda asal-asalan: ADCD, lalu kembali tidur.
Benar-benar siswa gagal, tidak peduli apa pun.
Li Da langsung maju ke depan, menyerahkan lembar ujian, lalu ke toilet sebentar sebelum kembali dan melanjutkan mengerjakan soal lain.
Barusan ia sudah membuktikan banyak rumus yang ia lupa, jadi sekarang ia mulai mengulang kembali materi-materi sebelumnya.
Xie Wei tadinya sedang menulis rencana pelajaran, namun begitu melihat ada siswa yang sudah mengumpulkan soal, ia langsung mengambil pulpen merah dan mulai memeriksa. Pilihan ganda dan isian singkat sudah ada kunci jawabannya, tinggal memberi tanda benar atau salah.
Satu baris penuh benar semua, Xie Wei merasa sangat senang. Guru mana pun pasti suka melihat lembar ujian sempurna seperti ini, apalagi tulisan Li Da rapi sekali, lembar jawaban pun terlihat sangat indah.
Bagian isian juga semuanya benar. Bagian ini bahkan tidak butuh satu menit untuk diperiksa.
Soal uraian lebih menekankan pada cara berpikir dan prosesnya, jadi setiap langkah diperhatikan Xie Wei.
Setelah melihat beberapa soal, Xie Wei tahu, dasar siswa ini sangat kuat, pikirannya pun lincah, benar-benar siswa yang luar biasa.
Namun, saat melihat catatan di samping soal terakhir, Xie Wei jadi bingung.
Baru saja ia memuji dasar ilmunya kuat, kok bisa lupa rumus?
Tapi, setelah diperiksa, proses jawabannya tidak ada masalah sedikit pun.
Xie Wei pun memberi tanda centang di samping soal itu, namun tetap mengurangi satu poin, sekadar formalitas. Yang penting cara berpikirnya benar.
Namun, ia tetap ingin berbicara dengan Li Da.
Maka, Xie Wei membawa lembar ujian ke bawah, sementara saat itu Luo Dongqing masih tertidur pulas…