Bab Empat Puluh Satu: Inilah yang Disebut Masa Muda
Meskipun menguping itu kurang baik, tapi karena pembicaraan itu menyangkut dirinya, Li Da tanpa sadar menghentikan langkahnya, ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Lalu, ia mendengar suara Zhang Wei: “Begini saja, toh Tang Youyou juga tidak di asrama malam ini, kamu bicaralah dengan Yang Yu, lihat apa sebenarnya yang dia pikirkan. Kalaupun dia tidak mau membantu, setidaknya jangan sampai dia mengacau.”
“Iya, kamu bujuk dia. Kasihan sekali Da-ge kita, nanti kalau sudah berhasil bantu dia mendekati Tang Youyou, aku traktir makan.”
Li Da hanya bisa tercengang mendengarnya, wajahnya pun jadi agak aneh. Ia ingin tertawa, tapi tak bisa. Di satu sisi, ia merasa terharu—memiliki teman-teman yang diam-diam membantu dan memikirkan cara seperti ini. Namun, bantuan seperti ini memang sebenarnya tidak perlu.
Li Da mendorong pintu dan masuk. Beberapa laki-laki di kamar langsung kaget, Liu Zhe bahkan gugup bertanya, “Sejak kapan kamu pulang?”
“Eh, aku sudah menguping dari tadi.” Li Da langsung mengakui perbuatannya, tak ada yang perlu disembunyikan. Liu Zhe dan yang lain jadi agak canggung, karena rencana mereka baru sebentar saja sudah ketahuan.
“Terima kasih, tapi sebenarnya kalian tidak perlu melakukan semua ini,” ujar Li Da setelah berpikir sejenak, berniat membujuk mereka untuk berhenti. Namun, menolak niat baik teman-temannya begitu saja terasa kurang pantas, jadi ia menambahkan, “Menurutku, kalau mengejar perempuan yang disukai, seharusnya bukan dengan cara memaksa atau membuat mereka terharu. Jadikan dirimu pribadi yang lebih baik, maka perempuan akan menyukaimu dengan sendirinya.”
Para remaja itu belum pernah mendengar teori seperti ini. Di masa itu, ‘panduan rahasia’ yang tersebar adalah: harus berani, cermat, dan berwajah tebal. Banyak yang merasa itu masuk akal. Tapi setelah mendengar penjelasan Li Da, mereka menganggapnya lebih masuk akal.
Berani, cermat, dan berwajah tebal sudah jadi semacam ajaran klasik di kalangan laki-laki, entah sejak kapan dimulai. Karena keyakinan itu, lahirlah banyak ‘anjing penjilat’.
‘Anjing penjilat’ adalah sebutan untuk orang yang terus menerus mengejar tanpa kenal lelah, meyakinkan diri sendiri untuk tidak menyerah, terus mendekat dan tak mau mundur. Sekilas, tampak menyentuh—rela merendahkan diri, melepaskan harga diri—pasti karena cinta sejati, bukan?
Namun, itu sungguh kekanak-kanakan.
Cara yang benar adalah, setelah ditolak, berusahalah mengubah diri. Kalau perempuan suka dengan nilai bagus, ya belajar yang rajin. Suka badan atletis, ya rajin olahraga. Kalau suka wajah tampan... emm, yang itu susah, cari yang lain saja.
Intinya, ubah dirimu dan jadilah lebih baik. Kalau perempuan yang kamu suka tetap tidak menyukaimu, masih banyak perempuan lain yang mungkin menyukaimu.
Berusaha menjadi lebih baik demi orang yang disukai, itulah yang benar-benar menunjukkan seseorang punya tekad dan usaha. Kalau hanya menempel tanpa mengubah diri, sekadar membuat diri sendiri terharu, ya itu pantas disebut ‘anjing penjilat’. Menyukai seseorang, jangan pernah jadi ‘anjing penjilat’. Merendahkan diri sendiri, dan hasilnya pun biasanya tidak baik.
Tapi, meskipun akhirnya jadi ‘anjing penjilat’, itu bukan masalah besar. Sepanjang hidup, manusia pasti mengalami berbagai hal; tak mungkin dari awal sudah paham semua prinsip hidup. Mengerti prinsip, itu karena pernah berbuat salah dan menyesalinya.
Siapa sih waktu muda tidak pernah jadi bocah konyol?
Hari ini pun Li Da baru saja melakukan hal bodoh. Setiap orang pasti pernah bodoh, jadi ‘anjing penjilat’ bukan sesuatu yang memalukan.
“Pantas saja akhir-akhir ini kamu rajin belajar, ternyata begitu,” ujar Liu Zhe merasa dirinya tercerahkan.
Li Da hanya bisa terdiam. Sudahlah, malas menjelaskan lebih lanjut. Sekarang ia sadar, meskipun sudah bilang tidak ada perasaan lagi ke Tang Youyou, teman-temannya tetap tidak percaya. Biar saja mereka salah paham, setidaknya mereka tidak perlu repot-repot lagi.
“Bagaimanapun juga, aku benar-benar terharu dengan perhatian kalian,” ujar Li Da sekali lagi mengucapkan terima kasih. Ini bukan sekadar basa-basi, ia memang benar-benar merasa tersentuh. Jangan bilang laki-laki dewasa berusia dua puluh tujuh tahun tidak mudah terharu; justru setelah melalui kerasnya hidup, ia makin bisa merasakan ketulusan persahabatan di masa sekolah.
Namun, setelah mendengar ucapan Li Da, seisi kamar langsung bereaksi. Liu Yang bahkan mengusap lengannya sambil berkata, “Astaga, jangan ngomong segitunya deh, aku sampai merinding.”
“Iya betul, ih!” seru yang lain, menunjukkan rasa geli. Beberapa laki-laki tertawa terbahak, suasana kamar pun jadi riang.
Li Da jadi agak malu diperlakukan begitu, tapi tetap bersikeras berkata, “Aku cuma asal ngomong, jangan dianggap serius, kan jadi nggak lebay. Sudahlah, aku mau mandi.”
Dengan membawa handuk, ia berlari keluar. Saat mandi, senyum tak lepas dari wajahnya.
Inilah yang disebut masa muda! Setelah kejadian tadi, Li Da merasa dirinya seolah makin dekat dengan sosok dirinya yang berusia enam belas tahun.
Meski demikian, saatnya belajar tetap harus belajar. Selesai mandi, ia mencuci baju lalu menjemurnya, kemudian pergi ke kelas untuk membaca buku. Kali ini, ia pergi bersama Zhang Wei.
Di tengah jalan, seorang perempuan berjalan ke arah mereka. Zhang Wei pun menyambutnya, lalu berkata pada Li Da dengan nada sedikit menyesal, “Pacarku datang, kamu naik ke atas sendiri ya.”
Li Da hanya bisa terdiam. Ternyata, perempuan itu adalah pacar Zhang Wei, Lin Shan. Wajahnya biasa saja, tidak jelek, juga tidak terlalu cantik. Lin Shan menyapa Li Da, lalu segera membawa Zhang Wei pergi.
Entah apa yang akan mereka lakukan, mungkin hanya duduk bersama atau mengobrol. Meski sekolah Lu Ming sangat ketat, hampir setiap kelas tetap ada saja yang berpacaran. Masa remaja memang masa di mana benih cinta mulai tumbuh. Anak laki-laki dan perempuan hatinya mudah bergetar, apalagi mereka seharian lebih sering bersama teman sekolah dibanding keluarga, jadi perasaan itu wajar saja muncul.
Tapi, Li Da sendiri belum pernah mendengar kisah soal kehamilan atau aborsi di sekolah. Belakangan, dalam film-film remaja yang terkenal, isinya selalu tentang aborsi atau kehamilan, seolah-olah semua anak muda pacaran sebebas itu. Kadang ia sampai berpikir, jangan-jangan dulu ia sekolah di tempat yang salah.
Tentu saja, Li Da sadar, pasti tetap ada yang melanggar aturan, karena di hutan yang besar pasti ada saja burung yang berani. Namun, kebanyakan pasangan di sekolah, paling berani hanya saling bergandengan tangan, atau saat malam berjalan-jalan di lapangan, mungkin melakukan hal yang sedikit lebih berani, tapi yang berlebihan jelas tidak mungkin.
Kalau sudah libur, biasanya keluarga juga akan mengawasi ketat. Kalau tidak bisa dikontrol, ya sudah, tidak ada yang bisa dilakukan.
Tapi, bagi anak SMA, bisa menggenggam tangan pacar saja sudah cukup membuat bahagia seharian.
Li Da memperhatikan Zhang Wei dan Lin Shan berjalan bersama. Zhang Wei tampak berhati-hati, mencoba meraih tangan Lin Shan. Lin Shan beberapa kali menghindar, baru kemudian membiarkan tangannya digenggam. Mereka pun berjalan ke tempat yang lebih sepi, sampai akhirnya Li Da tak bisa melihat mereka lagi.
Setelah keduanya menghilang dari pandangan, barulah Li Da menyembunyikan senyum geli di wajahnya.
Inilah masa muda!