Bab delapan belas: Dua Jenis Orang yang Paling Aku Benci
“Mengapa kamu menatapku seperti itu?”
Li Da terkejut melihat tatapan penuh dendam dari Luo Dongqing. Dengan suara lirih, Luo Dongqing berkata, “Katakan padaku apa akhir ceritanya, baru aku akan berhenti menatapmu seperti itu.”
“Oh, kalau begitu silakan saja terus menatap. Toh, wajahku memang menawan, aku tidak takut ditatap.”
“Huh, dasar narsis!”
Luo Dongqing memalingkan wajahnya, baru sadar kalau dia lagi-lagi masuk perangkap. Saat menoleh kembali, Li Da sudah sibuk menyelesaikan langkah yang tadi belum diselesaikan Xiao Xiao.
“Apakah soal matematika itu benar-benar semenarik itu? Aku lihat kamu terus saja mengerjakannya.”
Luo Dongqing benar-benar tidak bisa mengerti. Li Da menggeleng pelan, “Ada kepuasan tersendiri ketika bertemu soal sulit lalu bisa menyelesaikannya. Ini adalah kebahagiaan yang tidak pernah bisa dirasakan oleh seorang siswa malas, jadi, lebih baik kamu tidur saja.”
“Aku…”
Luo Dongqing benar-benar ingin memaki.
Dasar menyebalkan, sedikit-sedikit mengejek dirinya, benar-benar membuat kesal!
“Aku tidak mau tidur!”
Hari ini dia benar-benar ingin menandingi Li Da.
Namun, Li Da sama sekali tidak menggubrisnya, malah terus mengerjakan soal dengan tekun.
Luo Dongqing merasa mentalnya hancur.
Dia pun tidak terima. Masa dia dicap sebagai siswa malas? Dia hanya tidak ingin belajar saja, kalau dia benar-benar bersungguh-sungguh, pasti Li Da akan terkejut setengah mati!
Akhirnya Luo Dongqing mengeluarkan buku matematika, membuka satu halaman.
Tiga menit kemudian, buku itu sudah ia tutup kembali.
Tak ada yang sulit di dunia ini, asal tahu kapan harus menyerah.
Menjelang tengah hari, akhirnya Li Da mau menulis naskah. Luo Dongqing pun kembali bersemangat dan diam-diam memperhatikan Li Da menulis.
Ekspresi Li Da sangat fokus, dan sekalipun ia menulis dengan cepat, tulisannya tetap rapi dan indah.
Li Da memang sudah terlatih. Tulisan kursifnya mengalir dengan sangat mulus.
“Kamu benar-benar seperti anak kecil yang…”
Melirik sekilas, Li Da sadar Luo Dongqing sedang menunggu naskahnya. Ia pun menggoda, namun kata terakhir sengaja ia tahan tak diucapkan.
Sebenarnya ia ingin menyamakan Luo Dongqing dengan anak anjing kecil yang kelaparan, tapi kalau bilang begitu, takutnya teman sebangkunya yang berwatak keras ini akan marah dan menggigitnya.
Lebih baik diurungkan saja.
Tapi rasa penasaran Luo Dongqing sudah terpicu, “Seperti apa?”
Li Da memutuskan mengalihkan topik, “Ada dua jenis orang yang paling aku tidak suka.”
Jantung Luo Dongqing berdebar, apa Li Da akan bilang tidak suka dirinya lagi? Tidak seperti candaan sebelumnya, kali ini Li Da tampak serius.
Luo Dongqing tiba-tiba merasa sedih. Meskipun banyak orang yang tidak menyukainya, jika mendengar langsung dari mulut Li Da, tetap saja rasanya sakit.
Namun, Li Da berkata, “Jenis yang pertama, adalah orang yang suka bicara setengah-setengah.”
Lalu, Li Da terdiam.
Luo Dongqing menunggu lama, akhirnya tak tahan bertanya, “Kalau jenis yang satu lagi?”
Li Da tidak bisa menahan tawa, “Kamu benar-benar tidak punya selera humor.”
Luo Dongqing tertegun, baru menyadari maksudnya. Seketika ia merasa jengkel, tapi juga ingin tertawa.
Namun, di dalam hati ia merasa lega. Ternyata Li Da tidak membencinya.
Tapi…
Apa dirinya perlu seperti ini? Hanya karena beberapa patah kata, kenapa ia harus peduli pada perasaan Li Da?
Luo Dongqing jadi sedikit bingung. Ia memilih diam, membalikkan badan, dan memejamkan mata.
Li Da pun tidak tahu kenapa Luo Dongqing tiba-tiba diam. Tapi ia tak ambil pusing, anak muda memang perasaannya cepat berubah.
Lebih baik menulis saja.
Bagian pengantar cerita memang paling sulit, sedangkan bagian klimaks biasanya bisa ditulis dengan lancar karena penulis pun ikut bersemangat.
Setelah pelajaran pertama siang itu berlalu, Li Da telah merampungkan seluruh naskahnya.
Sementara itu, Luo Dongqing yang tadi pagi kurang tidur kini sedang menebus rasa kantuk, dan Li Da pun tidak membangunkannya, memilih memperbaiki naskah dengan pulpen merah, sekadar mengganti beberapa kata, bukan jalan ceritanya.
Proses ini pun tidak mudah, butuh setengah jam lagi sebelum selesai.
Untungnya, dua pelajaran ini memang fisika dan biologi, pelajaran yang tidak ia sukai.
Ternyata kecepatannya melebihi perkiraan, tugas yang seharusnya selesai dalam empat hari, kini rampung dalam dua hari. Kalau ia lebih giat lagi, dua hari satu naskah…
Tapi sepertinya itu tidak bagus juga.
Kalau pelajaran terlalu diabaikan, hasil ujian pasti mengecewakan keluarga.
Li Da pun memutuskan, mulai pelajaran berikutnya, meski pelajaran eksakta yang tidak ia suka, ia harus tetap serius. Naskah nanti saja ditulis malam hari.
Saat pelajaran kimia, ia benar-benar memperhatikan, dan ternyata tidak sesulit yang ia kira.
Ternyata selama ini ia menolak sejak awal, makanya terasa sulit. Pelajaran sosial masih banyak yang ia ingat, tapi pelajaran eksakta seperti mulai dari awal lagi.
Semua harus dijalani perlahan.
Setelah pelajaran kimia berakhir, Luo Dongqing akhirnya terbangun. Di wajahnya masih ada bekas bantal, tangan dan kaki pun terasa kesemutan.
Biasanya ia hanya tidur satu pelajaran, lalu bangun dan bergerak.
Kali ini ia tidur tiga pelajaran sekaligus, benar-benar luar biasa.
“Ini angka berapa?”
Melihat Luo Dongqing yang masih kebingungan, Li Da tak tahan ingin menggodanya. Tapi begitu Li Da bicara, Luo Dongqing langsung sadar dan menatap Li Da, meski tatapannya kini tak lagi tajam, malah sedikit menggemaskan.
Melihat Luo Dongqing yang kaku dan tak berani bergerak, Li Da pun paham, lalu tersenyum, “Kakinya kesemutan, ya?”
Luo Dongqing malas menanggapi si tukang usil ini, Li Da pun berkata lagi, “Coba berdiri, berjalan sebentar, nanti juga hilang.”
Luo Dongqing percaya saja, tapi begitu berdiri, rasa geli dan kesemutan menjalar dari telapak kaki hingga seluruh tubuh, sampai ia merasa kakinya bukan miliknya lagi.
Ia hampir saja terjatuh, untung Li Da sigap menahan tubuhnya.
Ini pertama kalinya mereka berdiri begitu dekat. Li Da pun mencium aroma harum yang samar namun menenangkan dari tubuh Luo Dongqing.
“Kamu ini memang bandel, ya!”
Luo Dongqing mengeluh, tapi suaranya kini tidak sedingin biasanya, malah terdengar manja. Gadis yang baru bangun tidur memang sangat menggemaskan.
Kalau saja Li Da tidak menyuruhnya berdiri, mungkin ia tak akan merasakan sensasi kesetrum tiap kali bergerak.
Semua salah Li Da!
Li Da tidak membantah, hanya berkata, “Nah, itulah akibat tidur di kelas, paham kan!”
Sebenarnya Li Da tidak bermaksud menjebak Luo Dongqing, memang harus bergerak dulu meski awalnya tidak enak, lama-lama juga hilang.
Pelajaran terakhir adalah musik, hanya dua kali seminggu. Bagi banyak siswa, pelajaran musik, seni rupa, komputer, olahraga, serta teknologi umum adalah pelajaran yang sangat berharga.
Terutama jika ditempatkan di jam terakhir, lebih menyenangkan lagi, karena bisa pulang lebih awal untuk makan.
Biasanya pelajaran-pelajaran ini digunakan untuk bersenang-senang.
Namun, yang masuk ke kelas justru Xie Wei.
“Guru musik ada urusan, kebetulan kalian baru saja ujian, jadi hari ini saya akan membahas soal kalian.”
Melihat guru berkepala sedikit botak itu masuk, para siswa yang malas belajar langsung merintih.
Guru musik, kenapa lagi-lagi ada urusan!