Bab 51 Hari Ini Tidak Merampok, Ada yang Memberi Cuma-Cuma
Keesokan paginya, tatkala fajar baru menyingsing, di bawah sinar matahari pagi dan embun, kepulan asap dapur membubung tinggi dari rumah-rumah di desa.
Xiao si Manusia Gila berjalan dengan langkah gempil keluar dari pekarangan kecil keluarga Cang, berjalan terhuyung-huyung menuju rumah keluarga Li. "Hei——orang keluarga Li——Kakek lapar sekali, cepat, cepat bantu aku." Usai berkata demikian, si lelaki tua bertubuh gempur itu melihat dunianya mendadak gelap gulap dan langsung jatuh pingsan di depan gerbang pekarangan.
"Kakek Gila!"
"Pendeta Gila!"
Keluarga Li hampir ketakutan setengah mati. Enam orang dewasa mengerahkan tenaga bersama-sama untuk mengangkat lelaki tua itu masuk ke dalam rumah. Lelaki tua marga Li menekan titik di antara hidung dan bibir Xiao cukup lama hingga lelaki tua itu perlahan-lahan sadar kembali.
"Kakek Gila, Anda, ada apa dengan Anda?" Wajah lelaki tua itu pucat pasi, bagian bawah matanya menghitam, benar-benar tampak seperti orang yang umurnya sudah tidak panjang lagi.
"Hah... hah——Nasi," si lelaki tua terengah-engah hingga bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengangkat tangannya. Pendidihan darah membuat pandangannya berputar-putar dan dipenuhi bintik-bintik cahaya.
Kedua bocah itu berjalan ke ruang tamu dengan mata masih mengantuk. Melihat Kakek Gila tergeletak tak bergerak di lantai bagaikan mayat, mereka begitu ketakutan hingga langsung menjerit dan berlutut di sisi lelaki tua itu. "Kakek Gila——huwaaa, Kakek Gila, ada apa dengan Anda?——huwaaa!"
"Apa? Kakek Gila, apa yang Anda katakan?" Li Chengcheng mendekatkan telinganya ke mulut lelaki tua itu.
"Hah——menangis untuk apa? Kakek belum, belum mati! Nasi, mana nasi?"
"Nasi?" Li Chengcheng membelalakkan matanya. "Anda ini lapar, pingsan karena lapar?" Jadi maksudnya lelaki tua ini selama dua hari ini bukannya tidak makan di rumah keluarga Li, melainkan benar-benar tidak makan sama sekali?
Bubur ikan disajikan. Li Chengcheng menggunakan sendok kayu untuk menyuapi lelaki tua itu sesendok demi sesendok. Setelah setengah mangkuk masuk ke perutnya, lelaki tua itu mendapatkan kembali sedikit tenaga. Ia merampas mangkuk porselen itu dan menghabiskannya dalam beberapa tegukan. "Tambah satu mangkuk lagi! Kakek hampir mati kelaparan!"
Setelah tiga mangkuk besar bubur ikan masuk ke perutnya, warna wajah Xiao si Manusia Gila akhirnya tampak sedikit lebih baik.
"Pendeta Gila, sudah berapa lama Anda tidak makan sampai bisa kelaparan seperti ini? Ada pepatah yang bilang, manusia bagaikan besi dan nasi bagaikan baja, tidak makan sekali saja perut langsung terasa sakit karena lapar."
Xiao si Manusia Gila memutar bola matanya dan perlahan duduk tegak. "Kau pikir Kakek sengaja ingin membuat dirinya kelaparan? Jika bukan karena waktu penyelamatan yang mendesak, bagaimana mungkin tulang tua milik Kakek ini tahan disiksa seperti ini? Sungguh dosa besar! Sebenarnya berapa banyak dosa yang telah kulakukan di kehidupan sebelumnya sampai-sampai di kehidupan ini harus berutang budi begitu banyak kepada orang lain?"
"Kakek Gila, apakah ada orang di desa yang sakit? Kenapa Anda tidak memberitahu kami? Kami kan bisa ikut membantu, sehingga Anda tidak perlu kelaparan seperti ini."
Lelaki tua itu mendengus pelan dan menunjuk ke arah pekarangan kecil di seberang. "Memangnya siapa lagi yang bisa membuat Kakek merasa begitu cemas dan kelelahan selain keluarga kalian dan orang di seberang itu? Anak muda itu terkena racun parah. Demi menyelamatkannya, Kakek sampai menghabiskan seluruh energi dalam tubuhku."
"Ah~" Keluarga Li saling berpandangan. Pantas saja Jenderal Cang sudah kembali selama dua hari ini tetapi tidak pernah terlihat keluar rumah, ternyata beliau keracunan. "Saat Jenderal Cang kembali, tampaknya beliau baik-baik saja, kenapa tidak ada sepatah kata pun yang diucapkannya?"
"Anak muda itu tidak mengatakannya karena dia tidak ingin membuat warga desa khawatir. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Berkat keahlian luar biasa Kakek yang mampu menghidupkan kembali orang mati, dalam beberapa hari ke depan dia pasti sudah bisa melompat-lompat dengan lincah."
Lelaki tua itu menceritakan situasi di seberang dengan ringkas. Barulah orang-orang di situ mengerti alasan di balik keracunan Cang Mingtian. "Kakek Gila, kami telah menerima budi yang sangat besar dari Jenderal Cang. Jika ada hal yang memerlukan bantuan kami, silakan katakan saja, kami juga ingin ikut menyumbang tenaga."
Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya. "Racunnya sudah tawar, tidak perlu bantuan apa pun. Namun, penyelamatan kali ini juga harus dihitung sebagai bagian dari andil keluarga kalian. Jika bukan karena Bunga Seribu Bintang yang dikirimkan oleh orang hebat dari keluarga kalian, Kakek pun mungkin tidak akan berdaya menyelamatkannya."
Li Chengcheng tersenyum canggung. "Betul, orang hebat itu memiliki hati yang baik, beliau pastinya tidak tega melihat orang baik menemui ajalnya secara sia-sia. Eh, itu——Ibu, mari kita makan. Kalau dibiarkan sebentar lagi, buburnya bisa menjadi dingin."
"Oh, betul, betul, betul. Karena kau mengatakannya, aku juga merasa sudah kenyang."
Selain orang yang menunduk tanpa bicara, semua orang yang berbicara lidahnya mendadak menjadi kaku dan salah ucap.
Xiao si Manusia Gila mengorek-ngorek telinganya. "...Apakah aku salah dengar? Xiao Wen dan Xiao Tao, cepat berikan dua butir laktosa itu kepada Kakek agar Kakek bisa memulihkan gula darah. Pendengaran Kakek sudah mulai tidak beres."
Menyapu pandangan ke sekeliling dan tidak melihat Lingbao, lelaki tua itu kembali mencari anak itu ke seluruh penjuru rumah. "Lingbao, Lingbao si pemalas kecil, cepat bangun——Aduh——tidak bisa, Kakek masih merasa sedikit pusing. Tunggu sebentar sampai Kakek tidur dulu. Nanti setelah bangun tidur, Kakek akan mengajakmu pergi mencuri sarang burung, ya."
Lingbao berbaring di atas tempat tidur, membalikkan badan, dan menutup matanya untuk melanjutkan tidur. Ia menyadari bahwa menggunakan ruang dimensi berkali-kali ternyata memiliki efek samping: ia akan merasa sangat mengantuk dan kebingungan.
......
Awal bulan April, terik matahari semakin menyengat. Di ladang-ladang luas di tepi Sungai Qinghe, batang-batang padi muda telah tumbuh jauh lebih tinggi.
Para wanita yang mengawasi ladang dan air berdiri di tengah sawah dan di pematang sawah. Di wajah setiap orang terpancar senyuman cerah, dan ketika mereka berbicara dengan suara keras satu sama lain, nada bicara mereka penuh dengan semangat yang membara.
Di pekarangan kecil keluarga Li, seorang bayi perempuan mungil bak boneka pualam mengenakan setelan baju dan celana pendek merah muda dengan kerah miring, serta sepasang sepatu kain bermotif kepala harimau kecil berwarna merah di kakinya. Semua ini dibelikan oleh Kakek Gila dari kota untuknya. Dengan dandanan seperti ini, sekilas ia tidak berbeda dari anak yang dibesarkan di dalam keluarga kaya raya.
Lingbao mengerutkan kening, menunduk dan memperhatikan pakaian di tubuhnya. Pakaian itu terlalu bersih dan indah, sampai-sampai ia tidak berani merangkak di atas tanah.
Aduh...... Si bayi mungil mendongakkan kepala, menatap kedua kakaknya yang tampak sama kanggungnya di sampingnya. Mereka mengenakan jubah katun tipis berwarna biru muda dan celana pendek, serta sepasang sepatu kain bersulam hitam yang masih baru, sangat mirip dengan pelayan cilik di keluarga kaya raya.
"Kakek Gila, apa hari ini kita mau pergi ke kota?" Li Wen berjalan dengan langkah hati-hati mengitari pekarangan kecil sebanyak dua kali. Karena sudah terbiasa berguling-guling di lumpur sepanjang hari, tiba-tiba mengenakan pakaian yang begitu bersih dan indah membuat mereka merasa sangat tidak terbiasa.
Xiao si Manusia Gila menyelipkan surat undangan di tangannya ke dalam jubah, mengangkat bayi perempuan di tanah, dan berkata, "Hari ini Kakek akan membawa kalian ke kota untuk makan enak dan minum puas, sekaligus membawa kalian melihat dunia luar yang luas." Selain itu, ada banyak bahan obat bagus di kediaman Hua, heh heh heh, Kakek datang!
Begitu mendengar akan pergi ke kota, mata ketiga anak itu langsung berbinar-binar. Sarang-sarang burung di pegunungan ini sudah lama habis merekajarah. Kota jauh lebih menyenangkan, banyak orang dan sangat ramai. Kedua anak lelaki itu kini tidak lagi merasa risih dengan pakaian mereka. Mereka menggelayuti lengan lelaki tua itu dan mengangguk berulang kali. "Kakek Gila, keluarga mana yang akan kita rampok hari ini?"
"Hari ini kita tidak merampok, ada orang yang mengantarkannya secara cuma-cuma." Usai berkata demikian, kaki lelaki tua itu bagaikan diterpa angin, berlari kencang menuju luar gerbang desa.
Di pekarangan kecil keluarga Cang, Cang Mingtian perlahan-lahan bangun dari kursi rebah di halaman, tersenyum dan menggelengkan kepala ke arah kepergian lelaki tua itu. "Sudah tua tetapi sifat keanak-anakannya masih saja seperti ini."
Gerakan terdengar dari dalam rumah di belakangnya. Wajah Cang Mingtian diliputi kegembiraan, dan ia melangkah cepat menuju ke dalam rumah. "Suyue," membimbing wanita yang sedang berjuang untuk bangkit itu, Cang Mingtian berkata dengan lembut, "Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu lapar?"
Wajah Suyue yang telah dibebaskan dari racun akhirnya menunjukkan sedikit rona kemerahan. Ia bersandar di sisi tempat tidur, menatap pria di hadapannya dengan tatapan kosong selama beberapa saat, lalu mengangguk. "Aku memang merasa sedikit lapar. Mingtian, sudah berapa lama aku tertidur kali ini?" Suara wanita itu terdengar sangat serak, seperti orang yang sudah lama tidak bersuara hingga hampir kehilangan suaranya.
"Jangan terburu-buru, aku akan mengambilkan bubur untukmu dulu. Makanlah sebelum kita bicara perlahan-lahan."
......
Kota Baiyun, Keluarga Hua di sebelah utara kota.
Demi merayakan ulang tahun putranya, Hua Gaoyi mengadakan perjamuan besar-besaran untuk para tamu, mengundang hampir semua kekuatan besar dan kecil yang memiliki pengaruh di dalam kota.
Gerbang utama kediaman Hua dipadati oleh para tamu yang datang dan pergi.
Suara gerbong kuda, suara percakapan, dan tawa berpadu menjadi satu. Hua Jia dan Hua Yi mengenakan pakaian brokat dengan senyuman resmi tergantung di wajah mereka, berdiri di pintu gerbang untuk menyambut para tamu.
"Tetua Jinfu! Wah, maafkan kami karena terlambat menyambut Anda di luar. Silakan masuk ke aula utama, kepala keluarga telah lama menunggu kedatangan Anda," kata Hua Jia dengan senyuman semanis bunga, membungkuk memberi hormat, dan secara pribadi memimpin orang tersebut masuk ke dalam kediaman.