Bab 45: Aku Memang Sedang Merampok, Lantas Kalian Bisa Apa?
Dia meludah ke tanah, lalu segera bertanya, "Siapa yang paling berkuasa di antara kalian?"
Para wanita saling berpegangan sambil mundur selangkah demi selangkah. Melihat aura dari belasan orang itu yang begitu kelam dan kejam, tak seorang pun yang berani bersuara.
Nenek Li memberanikan diri untuk maju selangkah dan hendak membuka mulut, tetapi ia ditarik ke belakang oleh Li Chengcheng yang baru saja datang karena mendengar keributan.
"Wah, rupanya kau yang bertanggung jawab?" Pria pemimpin kelompok itu menatap Li Chengcheng dari atas kuda sambil mencibir.
Li Chengcheng melindungi ibunya di belakang punggungnya, lalu berkata dengan suara berat, "Kalian mau apa?"
Pria pemimpin itu turun dari kuda, diikuti oleh anak buahnya. Ia menyunggingkan senyum dingin sambil mengamati para penduduk desa satu per satu, "Aku tidak peduli siapa pelindung kalian, tetapi di Kota Bailun ini, siapa pun yang membuka lahan dan bertani wajib membayar pajak satu tael perak setiap bulan, dan setelah panen musim gugur nanti, kalian juga harus menyerahkan delapan puluh persen dari hasil panen kalian sebagai pajak!"
Begitu ucapan itu terlontar, kerumunan langsung gempar. Suara-suara ketidakpuasan bersahut-sahutan.
"Apa? Membayar satu tael perak setiap bulan? Dan menyerahkan delapan puluh persen hasil panen setiap tahun?"
"Aturan macam apa ini?!"
"Keparat, kalian ini benar-benar tidak ingin membiarkan kami hidup!"
"Kalian sengaja datang untuk menindas kami karena Jenderal Cang sedang tidak ada. Kami, kami tidak akan membayarnya!"
Melihat hal itu, pria pemimpin tersebutmencabut goloknya dan membentak dengan suara lantang, "Sialan, aku sama sekali tidak peduli dengan jenderal sialan itu! Setibanya kalian di sini, jika kalian adalah naga, kalian harus melingkar; jika kalian adalah harimau, kalian harus berbaring! Kuberi kalian dua pilihan: pertama, bayar pajak seperti yang kukatakan; kedua, kemasi barang-barang kalian dan enyah dari sini!"
Di pekarangan kecil sebelah kediaman keluarga Li, Xiao si Gila berdiri tanpa alas kaki di halaman sambil menjulurkan lehernya untuk menonton pertunjukan, sementara bola matanya berputar-putar tanpa henti, "Hehehe, hari ini aku ingin melihat orang hebat macam apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Li ini."
"Kalian benar-benar keterlaluan! Ini bukan memungut pajak, ini jelas-jelas perampokan!" Wajah keluarga Li menjadi pucat pasi. Ini sama saja memaksa seluruh penduduk desa menemui jalan kematian.
Pria itu berjalan mendekati Li Chengcheng dengan kepala mendongak tinggi, memasang ekspresi arogan, "Aku memang sedang merampok, lalu kalian bisa berbuat apa?"
"Kau—" Li Chengcheng mengepalkan tinjunya erat-erat, lalu berbalik dan menyambar sebatang pikulan di dekat pintu. "Rumah ini kami bangun sendiri, tanah ini kami buka sendiri. Ingin kami membayar pajak? Mustahil! Ingin kami pergi? Jauh lebih mustahil lagi! Siapa pun kalian, jika kalian berani menindas kami lagi, paling buntut-buntutnya kami akan bertaruh nyawa dengan kalian!"
"Benar! Jika mereka tidak ingin membiarkan kami hidup, kami juga tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang!" Kemarahan seketika berkobar di dada para penduduk desa. Didorong oleh keberanian yang lahir dari putus asa, mereka menyambar peralatan tani di tangan dan berdiri berdampingan dengan keluarga Li. Ada ketakutan di wajah mereka, namun yang lebih dominan adalah kemerahan karena amarah lantaran tidak ingin diinjak-injak begitu saja.
"Bertaruh nyawa? Ha? Hanya mengandalkan kalian sekumpulan orang tua, perempuan, dan anak-anak? Sekelompok bajingan rendahan memang tidak akan patuh jika tidak dipukul!" Pria itu melambaikan tangan, dan belasan anak buahnya langsung serentak mencabut golok. "Hancurkan rumah-rumah mereka satu persatu!"
Melihat pihak lawan menghunus senjata dan menyerbu ke arah gerbang pekarangan.
Li Chengcheng meraung penuh amarah, memegang tongkat pikulan di tangan dan maju paling depan. Ia mengayunkan senjatanya ke arah siapa saja, sementara kedua matanya telah membara karena murka, "Ayah, Ibu, Istriku, bawa anak-anak bersembunyi! Argh—aku akan bertaruh nyawa dengan kalian!"
Situasi seperti ini tentu saja tidak membuat keluarga Li menurut. Mereka menyambar apa saja yang ada di dekat pintu dan ikut menerjang maju.
Penduduk desa sempat terpaku sesaat, namun kemudian mereka mengayunkan alat-alat pertanian di tangan dan bergabung dalam pertarungan sengit.
Xu Shuhui mengatupkan giginya erat-erat, mendekap Lingbao, lalu berlari menuju pintu rumah utama. Setelah membaringkan bayi kecil itu ke dalam keranjang, ia mengambil sebatang kayu dan ikut menerjang keluar dengan mata yang nyaris pecah karena geram, "Li Wen, Li Tao, lindungi adik!"
Kedua bocah lelaki itu tadinya hampir menangis karena ketakutan melihat pemandangan tersebut, namun begitu mendengar kata "adik", mereka menelan mentah-mentah air mata mereka dan berlari menuju pintu rumah utama untuk menjaga adik perempuan mereka.
Di luar pekarangan, kekuatan kedua belah pihak tampak seimbang. Untungnya, peralatan tani di tangan para warga cukup panjang, dan pihak lawan bukanlah ahli bela diri sejati, sehingga untuk sementara waktu tidak ada yang mampu mengalahkan pihak lainnya.
Pria pemimpin itu melihat bahwa para penduduk desa benar-benar berani melawan. Setelah tertegun sejenak, ia merasa malu sekaligus marah, hingga secercah niat membunuh benar-benar muncul di dasarnya matanya, "Keparat, bantai mereka semua! Sekelompok bajingan tidak tahu diuntung, apa kalian benar-benar mengira aku tidak berani membantai satu desa ini?!—Argh!"
"Bum—" Raungan pria itu terhenti secara tiba-tiba. "Argh—" Disusul oleh jeritan melengking yang mengenaskan.
Pria itu mengulurkan tangan untuk menutupi dahinya sambil mundur beberapa langkah ke belakang. Sesaat kemudian, darah segar merembes keluar dari sela-sela jarinya, sementara rasa sakit yang luar biasa membuat ekspresi wajahnya berangsur-angsur berkerut.
Sebelum ia sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, belasan anak buah di sekitarnya juga menyusul memegangi kepala masing-masing sambil melolong kesakitan. Dua orang yang kurang beruntung bahkan terkena lemparan batu tepat di mata mereka, lalu jatuh tersungkur di tanah tanpa diketahui apakah masih hidup atau sudah mati.
Suasana seketika menjadi senyap—
Para penduduk desa mundur dua langkah ke belakang dengan perasaan bingung. Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, mereka melihat si orang tua gila yang berdiri di atas atap rumah keluarga Li. Hati mereka seketika merasa lega; semua orang mengira si orang tua gila lah yang melakukan tindakan tersebut, sama sekali tidak tahu betapa terkejutnya batin si orang tua gila itu saat ini.
Agar dapat melihat dengan jelas jurus yang dikeluarkan oleh sang pakar, ia sengaja terbang ke atas atap dan menggunakan jarinya untuk menahan kelopak matanya agar terbuka lebar karena takut berkedip dan melewatkan detailnya. Namun, yang membuat orang tercengang adalah, ia bahkan tidak bisa melihat dari mana batu-batu itu meluncur, "Sialan, ini cepat sekali! T—tidak salah lagi, dia memang seorang pakar sejati!"
Pria pemimpin itu melirik para anak buahnya yang masih melolong kesakitan. Ekspresinya berubah dari kebingungan menjadi kemarahan, lalu berlanjut pada ketakutan, karena ia juga melihat si orang tua gila Xiao di atas atap.
"Pa—Pak Tua Gila?" Pria itu mundur beberapa langkah lagi, lalu menoleh ke arah pohon pagoda di pintu masuk desa, tempat dua pria yang sejak awal tidak pernah turun dari kuda berada. Ia seketika memahami situasinya; ternyata ia dan sekumpulan saudaranya telah dimanfaatkan sebagai pion oleh orang lain.
Melihat situasi telah berbalik melawan mereka, ditambah lagi kenyataan bahwa lawannya adalah Xiao si Gila yang terkenal kejam, pria itu tidak berani berulah lagi. Sambil menahan rasa sakit, ia menangkupkan tangan ke arah sosok di atas atap dan memberi hormat, "Pak Tua Gila, kedatangan kami kemari hanya sekadar untuk mencari makan. Kuharap Pak Tua tidak keberatan, kami akan segera enyah dari sini." Entah itu Xiao si Gila ataupun Perusahaan Pengangkutan Air Baichuan, tidak ada satupun dari mereka yang mampu ia tompak. Peristiwa hari ini hanya bisa ia telan mentah-mentah bersama patahan giginya sendiri.
Pria itu mendahului menaiki kudanya dan kabur tergesa-gesa, diikuti oleh para anak buahnya yang memapah dua orang rekan mereka yang hidup atau mati belum jelas, lalu pergi dengan penampilan mengenaskan.
Belasan orang itu datang dengan megah dan pergi dengan penuh kehinaan.
Beberapa saat kemudian, sorak-sorai meledak di depan gerbang pekarangan kecil itu, "Kita menang! Kita menang! Ha ha!"
"Pak Tua Gila sangat hebat! Pak Tua Gila memang luar biasa!"
Sudut bibir Xiao si Gila berkedut hebat, "..." Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan hal ini. Pakar yang enggan menampakkan diri ini sungguh membuatnya serba salah.
Ia melayang turun ke tengah kerumunan, lalu berdehem dan membuka suara, "Jangan terlalu cepat senang. Apakah kalian tahu siapa orang-orang yang membuat kerusuhan tadi? Mereka adalah orang-orang dari Pengangkutan Air Baichuan! Sialan—Luo Baichuan itu adalah orang yang sangat kejam. Tunggulah saja, nanti akan ada lebih banyak masalah lagi." Sialan kau Cang Mingtian, jika kau tidak segera kembali, desa ini dikhawatirkan akan musnah dibantai orang!
Suasana santai seketika hancur oleh beberapa patah kata dari si orang tua. Para penduduk desa yang tadinya enggan memikirkan akhir cerita kini tampak memasang wajah muram, "Pak Tua Gila, mmm... mengapa Pengangkutan Air Baichuan ini datang untuk mencari masalah dengan kita?"
Orang-orang di desa hampir tidak pernah pergi keluar, dan mereka nyaris tidak tahu apa-apa tentang kekuatan di dalam kota. Tiba-tiba saja masalah datang menghampiri mereka, membuat mereka hanya bisa merasa kebingungan.