Bab 3: Bagaimana Seharusnya Bayi Itu Bunuh Diri?
Saat membuka mata kembali, hari sudah larut malam. Tidak ada lampu yang menyala di dalam kamar. Cahaya rembulan yang samar menyusup masuk melalui celah jendela, sekadar cukup untuk menerangi ruangan.
Xiaobao menoleh ke sisi luar tempat tidur, samar-samar ia bisa melihat siluet wajah bulat seorang wanita.
"Kriet..."
Pintu kamar didorong perlahan. Li Chengsheng melangkah masuk dengan berjinjit, sangat berhati-hati agar tidak membangunkan ibu dan anak yang sedang terlelap.
Begitu ia sampai di tepi tempat tidur dengan langkah waspada, ia mendapati dua pasang mata bulat sedang menatapnya tajam. Ia pun tersentak kaget.
Segera setelah itu, ia merendahkan suaranya.
"Istriku, kenapa belum tidur? Apa Xiaobao terbangun dan membuatmu repot?"
"Suara pintu yang kau buka terlalu keras hingga membangunkannya."
Xu Shuhui berkata dengan ketus sambil menopang tubuhnya untuk duduk bersandar di tepi tempat tidur. Memanfaatkan cahaya bulan, ia menunduk menatap ke arah sisi dalam tempat tidur dan tepat bertemu dengan sepasang mata putri kecilnya yang hitam serta jernih. Seketika hatinya terasa hangat, tatapannya pun melunak.
"Xiaobao sangat penurut. Sejak lahir sampai sekarang, dia tidak pernah menangis atau rewel, jauh lebih tidak merepotkan daripada kedua anak laki-laki itu."
"Iya, iya, Xiaobao memang penurut. Lagipula pintu rusak ini, nanti akan kucari orang untuk memperbaikinya."
Li Chengsheng menjawab sambil mengeluarkan pemantik api untuk menyalakan lampu minyak. Di bawah keremangan cahaya lilin, senyum di wajah sang istri tampak semakin lembut.
"Kau baru selesai bertugas, mengapa tidak beristirahat malah lari ke sini?"
Li Chengsheng menggosok-gosok tangannya sambil tertawa polos. Setelah telapak tangannya terasa hangat, barulah ia mengulurkan tangan untuk menggendong Xiaobao.
"Aduh, Xiaobao-ku sayang, Ayah sangat merindukanmu hari ini. Apakah kau merindukan Ayah?"
Xiaobao berada dalam dekapan sepasang tangan besar yang kuat dan kokoh. Gendongannya sangat hati-hati dan stabil. Meskipun tidak selembut pelukan ibunya, ia tetap merasa hangat.
Xiaobao mendongak menatap siluet samar di atasnya. Ayah? Ia mencoba mencari ingatan di dalam benaknya, namun sama sekali tidak menemukan bayangan apa pun.
"Ayo, biar Ayah cium Xiaobao."
Begitu sadar, ia melihat wajah besar yang mendekat ke arahnya. Xiaobao merasa enggan, ia menarik lehernya sekuat tenaga ke belakang hingga wajah kecilnya memerah. Ia mengepalkan tangan kecilnya, berusaha keras menariknya keluar dari bedong, lalu mengayunkannya ke depan.
*Buk.*
Tepat mengenai tengah wajah besar itu.
Li Chengsheng mengaduh kesakitan, disusul dengan suara tarikan napas panjang. Rasa sakit membuatnya menghentakkan kaki di tempat. "Aduh, anak perempuanku tersayang, kenapa pukulanmu sekejam nenekmu?"
Xu Shuhui tidak mengerti apa yang terjadi. Melihat pria itu sampai meringis kesakitan, ia secara refleks duduk tegak, mengambil Xiaobao dari pelukan suaminya, lalu bertanya dengan cemas.
"Ada apa ini?"
Begitu tangannya bebas, Li Chengsheng segera menutup hidungnya. Aliran hangat mulai menetes dari lubang hidungnya. Ia ketakutan dan segera mendongakkan kepala, sambil mengeluarkan sapu tangan untuk menutupi hidung, ia melirik istrinya dengan satu mata.
"Tidak apa-apa, Istriku. Xiaobao hanya sedang bercanda denganku."
Xu Shuhui menatap bayi yang masih mengepalkan tangannya di dalam pelukannya. Di mata jernih itu, terdapat kepolosan, kebingungan, dan sedikit rasa jijik.
Xu Shuhui seketika merasa serba salah. Putriku, itu ayah kandungmu, benaran dipukul?
Drama memukul ayah itu berakhir saat perut Xiaobao mulai berbunyi minta makan.
Setelah Xu Shuhui mengusir pria itu keluar, ia menepuk-nepuk Xiaobao dengan satu tangan sementara tangan lainnya membuka kancing pakaiannya. Tatapannya masih tetap lembut.
"Habis memukul Ayah jadi lapar, ya? Ibu beri susu, ya. Setelah kenyang, kita pukul lagi."
Xiaobao: "..." Jadi, Ayah memang diciptakan untuk dipukul semaunya, ya?
Saat kerah pakaian terbuka, Xiaobao sempat tertegun melihat pemandangan di depannya, namun ia segera menyadari sesuatu. Pupil matanya menyempit, sayangnya sudah terlambat.
Mulut kecilnya sudah menempel dengan sendirinya dan mulai mengisap.
Suara *nyot-nyot* terdengar di telinganya. Xiaobao: "..." Ah, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dengan mulut ini.
Setelah kenyang, Xiaobao mulai menguap berulang kali. Xu Shuhui menepuk-nepuk punggung bayinya dengan lembut sambil menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara pelan.
"Serigala datang, harimau datang, biksu tua datang membawa genderang. Ke mana harus sembunyi? Sembunyi di kuil, di kuil ada seorang bocah laki-laki..."
Mendengar ny