Bab 133: Teman
Halaman (1/3)
Setelah dua kali bekerja sama, Lin Xia juga menyadari bahwa Fang Jiale ternyata cukup peka terhadap perasaan orang lain. Ia selalu mampu menghidupkan suasana pada waktu yang tepat. Tak heran ia memang jago acara varietas.
“Sudah telanjur datang, ya sekalian saja pergi.”
Begitulah orang-orang Tiongkok: kalau sudah telanjur datang, sekalian dibuat ramai-ramai. Jadi, berkumpul untuk membahas kerja sama kali ini terasa sangat wajar.
Ren Qiu tidak keberatan. Ia bahkan membantu menyempurnakan rencana makan bersama untuk acara kebersamaan kelompok mereka.
“Kalau tidak salah, tidak jauh dari sini ada rumah makan kecil. Dua puluh menit naik mobil, rasanya juga lumayan. Bagaimana kalau kita ke sana?”
Namun, dari balik pintu, ia melihat para wartawan dan penggemar yang sudah bergerombol di kejauhan.
“Sekarang... kita pikirkan dulu cara keluar dari sini.”
Meskipun ada petugas yang menjaga ketertiban di depan studio, antusiasme para wartawan dan penggemar tetap tidak terbendung. Di luar pagar sudah berdesakan banyak orang yang berusaha melihat dengan jelas setiap bintang yang selesai menjalani gladi bersih.
Selain wartawan yang mencari berita sensasional, ada pula orang-orang yang memang bertugas memotret para selebritas. Industri ini bahkan sudah membentuk rantai bisnis yang cukup matang.
Susunan pengisi acara Malam Tahun Baru Imlek selalu menjadi pusat perhatian setiap tahun, sehingga berbagai spekulasi bertebaran ke mana-mana.
Banyak wartawan media kecil memanfaatkan hal itu dengan berjaga di depan studio, hanya demi memotret selebritas mana yang muncul hari itu, berapa lama mereka menjalani gladi bersih, dan apakah mereka diminta tinggal lebih lama untuk perbaikan.
Ada juga sebagian selebritas yang sengaja menyewa orang untuk membuat sensasi. Walaupun tidak terpilih, mereka tetap bisa mengambil beberapa foto yang sengaja dibuat samar di sekitar studio, lalu menyebarkan bahan berita semacam, “Si anu terlihat di lokasi gladi bersih acara Malam Tahun Baru Imlek.”
Toh, jalan di sekitar sini juga tidak ditutup. Kalau bisa ikut mendulang perhatian, tentu tidak ada salahnya.
Bahkan bagi mereka yang benar-benar datang untuk mengikuti gladi bersih, beberapa acara masih mungkin dicoret. Pada malam Tahun Baru Imlek pun, sebagian acara bisa saja dibatalkan mendadak.
Fang Jiale sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Ia melambaikan tangan kepada para penggemar, lalu memperlihatkan senyum lebar yang cerah.
“Ahhh! Lin Xia! Ren Qiu! Fang Jiale! Ya ampun, ini kombinasi impian macam apa?!”
“Ke sini, ke sini! Kalian bertiga lihat ke arah sini! Senyum, dong!”
“Boleh membocorkan sedikit tentang acara kalian? Apa kalian bertiga akan bernyanyi bersama?”
“Xiaxia cantik sekali! Aslinya bahkan lebih cantik daripada di kamera!”
Di tengah keributan itu, seseorang berusaha menyelinap maju dan mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala Lin Xia. Fang Jiale menyadarinya dan segera menghalangi, lalu bersama Ren Qiu melindungi Lin Xia di antara mereka.
Setelah bersusah payah akhirnya mereka berhasil naik ke mobil. Ren Qiu menghela napas.
“Jalur di depan pintu itu benar-benar harus dibenahi. Kacau sekali.”
Lin Xia juga merasa tidak aman melihat semua orang berdesakan di sana.
“Benar. Nanti kita coba sampaikan kepada tim produksi. Setidaknya perlu dibuat jalur penyangga khusus.”
“Aku yang akan bicara dengan Sutradara Wang. Ini terlalu berbahaya.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Fang Jiale, untuk pertama kalinya, mendadak bersikap serius. Lin Xia dan Ren Qiu malah merasa tidak terbiasa melihatnya seperti itu.
Namun, begitu tiba di rumah makan, ia langsung kembali menjadi dirinya yang semula.
Dengan menu di tangan, ia terus mengoceh tanpa henti. Yang ini ingin dicoba, yang itu juga ingin dicicipi. Barulah ia sedikit menahan diri setelah Lin Xia mengancam, “Siapa yang memesan, dia yang harus menghabiskan.”
Begitu hidangan disajikan, tingkahnya menjadi lebih luar biasa lagi.
Lin Xia dan Ren Qiu saling berpandangan melihat Fang Jiale makan dengan lahap seperti angin puyuh.
Bukankah orang ini sudah terkenal selama bertahun-tahun? Ia juga murid kesayangan Wang Lang. Setidaknya, bukankah seharusnya ia lebih kaya daripada mereka berdua?
Namun, cara makannya sama sekali tidak mencerminkan status seorang bintang besar. Ia tampak seperti orang yang baru lolos dari bencana kelaparan dan sudah lama tidak makan.
Kalau tahu ia bisa makan sebanyak itu, tadi mereka seharusnya tidak mencegahnya memesan lebih banyak.
Nafsu makan Fang Jiale sungguh besar. Ia juga tidak berbicara ketika makan, hanya diam-diam memasukkan makanan ke dalam mulut seperti hamster. Hal itu membuat Lin Xia dan Ren Qiu merasa suasana dunia mendadak terlalu sunyi.
Mungkin karena merasa agak tidak enak diperhatikan oleh mereka berdua, Fang Jiale menjadi sedikit canggung. Ia tidak lagi mengambil makanan, lalu menyesap teh bunga untuk menyamarkan rasa kikuknya.
Untuk meredakan suasana, Lin Xia terpaksa mencari topik secara asal.
“Ehm... hari ini kamu lapar sekali?”
“Tidak juga. Biasanya aku tidak makan sebanyak ini. Hanya saja, entah kenapa semua makanan terasa sangat harum saat makan bersama kalian.”
Nada bicara Fang Jiale terdengar begitu tulus.
Memang, ia dikenal sebagai seorang pelahap, tetapi Lin Xia selama ini mengira itu sekadar pencitraan.
Bagaimanapun, standar kecantikan di dunia hiburan selalu mengejar tubuh kurus secara tidak sehat. Selain pelawak, siapa yang benar-benar berani makan sebanyak itu?
Tak disangka, ia memang benar-benar makan sebanyak itu.
Tetapi bagaimana mungkin orang ini makan begitu banyak dan tetap tidak gemuk?
Lin Xia sungguh tidak habis pikir. Tinggi badannya kurang lebih sama dengan Ren Qiu, makan lebih banyak daripada Ren Qiu, tetapi tubuhnya malah lebih kurus.
Kenyataan yang menentang hukum kekekalan energi itu membuat kepala Lin Xia serasa terbakar. Ia bahkan tidak tahu berapa lama Fang Jiale harus mengangkat beban setelah pulang nanti untuk membakar semua kalori sebanyak itu.
Karena sudah makan terlalu banyak, Fang Jiale dengan sangat sadar diri pergi membayar tagihan. Setelah itu, ocehannya kembali mengalir tanpa henti.
Hidup ini memang tidak mudah, pikir Lin Xia sambil menghela napas.
Kalau hanya makan bersama Ren Qiu, mereka berdua bisa duduk dengan tenang. Sepanjang perjalanan pulang pun mereka hampir tidak perlu berbicara. Bukankah itu jauh lebih baik?
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Kini, dengan bergabungnya Fang Jiale, orang ini benar-benar menjadi musuh alami mereka berdua.
Mungkin karena sudah kenyang, ia semakin banyak bicara. Ia mulai dari kariernya sebagai pelawak yang tidak pernah terwujud, lalu beralih ke berbagai berita hangat dan gosip selebritas. Pokoknya, ia mengobrol serampangan dari ujung dunia ke ujung dunia lainnya.
Lin Xia dan Ren Qiu sampai dibuat kebingungan. Mereka sendiri tidak tahu sudah menjawab apa saja. Bagaimanapun, mereka tidak tega membiarkan ucapan orang jatuh begitu saja tanpa tanggapan, jadi mereka hanya bisa dengan tenang berperan sebagai pasangan lawan bicara Fang Jiale.
Melihat kebingungan mereka, Fang Jiale tidak kuasa menahan tawa. Ia mempercepat langkah, berjalan ke depan, lalu berbalik. Sambil berjalan mundur, ia berkata kepada mereka,
“Pfft, kalian berdua ini lucu sekali.”
“?”
“Tidak ada apa-apa.” Fang Jiale tertawa dan menggelengkan kepala. Melihat ekspresi mereka, seluruh tubuhnya terasa jauh lebih rileks.
“Lihat jalan, Kak. Kalau nanti kamu jatuh, aku harus mencari pasangan lain untuk Ren Qiu di mana?”
Lin Xia, yang alergi terhadap hal-hal romantis, tentu tidak akan membiarkan Fang Jiale terus berbicara seperti teka-teki yang tidak jelas. Ia langsung meraih tubuhnya dan memutarnya menghadap ke depan, lalu mengingatkannya agar tidak sampai jatuh.
Fang Jiale punya riwayat buruk. Saat gladi bersih pertunjukan malam perayaan Hari Nasional, ia pernah duduk berjongkok sampai kakinya mati rasa, lalu terjatuh begitu saja di tempat datar. Apalagi sekarang ia malah berjalan mundur—sebuah aksi yang jauh lebih sulit.
Lin Xia sungguh meragukan koordinasi tubuhnya.
Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia hiburan, tentu saja Fang Jiale tidak benar-benar bodoh. Para penggemarnya memang sering memberinya julukan seperti “husky konyol” atau “anak bodoh si tuan tanah”, tetapi kenyataannya justru berlawanan: ia adalah orang yang sangat cerdas dan berpikiran jernih.
Ia banyak bicara, tetapi sering kali itu hanya untuk menghidupkan suasana. Ia asal melontarkan berbagai hal yang tidak penting, bukan karena benar-benar ingin membicarakan sesuatu.
Ia hanya tidak ingin suasana menjadi hening, dan tidak ingin orang lain kesulitan mencari topik pembicaraan.
Namun, apa pun yang dikatakannya secara sambil lalu, Lin Xia dan Ren Qiu selalu menanggapinya.
Ia dapat merasakan bahwa mereka berdua—terutama Lin Xia—sebenarnya hanya keras di mulut, tetapi lembut di hati. Dari luar, mereka tampak sangat terganggu olehnya, tetapi setiap perkataannya selalu mereka dengarkan.
Ia sudah terbiasa diabaikan orang lain. Bahkan, ada yang terang-terangan menyuruhnya diam.
Namun, bersama mereka berdua, ia merasakan sesuatu yang sulit dipercaya.
Malam itu terasa begitu indah baginya. Seolah-olah di tengah dunia hiburan yang dipenuhi ketenaran dan kepentingan, ia akhirnya bisa memiliki sahabat sejati miliknya sendiri.
Halaman (3/3)