Bab 86 Simfoni "Penyanyi Merah"
Namun tak lama kemudian, para warganet menemukan hal menarik baru—yakni kehadiran Cheng Yanjun dan Lin Xia di panggung yang sama. Lagu “Tahun-tahun Itu” milik Lin Xia dan singel Cheng Yanjun saling bersaing ketat di tangga lagu Musik Bulan Mei. Pada akhirnya, warganet pun mengungkapkan bahwa Cheng Yanjun ternyata tidak pernah berhasil mengalahkan Lin Xia di papan peringkat, dan karena hal itu terlalu mencolok, berbagai media ramai-ramai mengangkat berita tersebut.
Kini, di ajang Kompetisi Seni Hua Yi, keduanya bertemu lagi—satu sebagai juri, satu sebagai peserta—sehingga semua orang menantikan pertunjukan menarik yang akan terjadi.
Kompetisi Hua Yi berjalan dengan tempo sangat cepat, tanpa banyak drama yang berlebihan. Setelah para juri diperkenalkan singkat, tanpa basa-basi, peserta pertama langsung naik ke atas panggung untuk tampil.
Melalui berbagai tahap seleksi, para peserta yang berhasil masuk ke babak utama memang memiliki kemampuan yang sangat kuat. Kecuali peserta pertama yang agak gugup dan kurang maksimal, sisanya tampil dengan sangat baik.
Hari ini, Lin Xia mendapat giliran tampil keenam, posisi yang berada agak ke tengah belakang. Namun, sistem pertandingan Kompetisi Hua Yi sangat adil; setiap peserta langsung dinilai setelah tampil, sehingga urutan penampilan tidak berpengaruh besar pada hasil akhir.
“Selanjutnya, kami persilakan peserta Lin Xia yang akan membawakan lagu berjudul ‘Aktor Merah’.”
Begitu nama Lin Xia disebut oleh pembawa acara, ia melangkah keluar dari belakang panggung. Kolom komentar di ruang siaran langsung pun langsung ramai.
“Lin Xia! Lin Xia akhirnya tampil! Gaun merahnya hari ini benar-benar cantik!”
“Kolom komentar untuk Lin Xia biar aku saja yang penuhi!”
“Asyik! Dia bakal bawain ‘Aktor Merah’! Akhirnya aku bisa ganti rekaman live yang kualitasnya jelek itu!”
Karena popularitasnya yang sangat tinggi, kolom komentar langsung meledak hingga siaran pun sempat tersendat.
Lin Xia berdiri anggun di depan panggung, mengenakan gaun merah yang elegan. Malam ini, ia akan membawakan versi simfoni dari lagu “Aktor Merah”, yang aslinya dinyanyikan oleh Li Yugang dan telah ditulis ulang liriknya oleh sang pencipta lagu.
Versi asli “Aktor Merah” bercerita tentang seorang aktor opera di masa seratus tahun silam, yang rela mengorbankan dirinya dan berjuang melawan penjajah—sebuah kisah penuh kepedihan dan kepahlawanan di zaman kacau.
Sedangkan versi simfoni “Aktor Merah” menggambarkan keadaan seratus tahun setelahnya, saat negeri telah damai, dan di zaman keemasan ini, jutaan jiwa seperti aku dan kamu memikul misi baru dari zaman yang berbeda.
Dalam Kompetisi Seni Hua Yi, peserta vokal dapat memilih antara iringan orkestra simfoni atau band elektrik. Untuk kategori musik pop, biasanya peserta memilih band elektrik sebagai pengiring.
Namun Lin Xia justru memilih iringan orkestra simfoni. Puluhan musisi duduk di belakangnya, menciptakan suasana yang megah.
“Benar-benar memilih orkestra simfoni sebagai pengiring, terasa sangat mewah.”
“Masih wajar sih, walau jarang di kategori pop. Di kategori vokal klasik, orkestra simfoni memang sudah biasa. Tapi aku juga penasaran, lagu seperti apa yang layak diiringi orkestra simfoni?”
Berbeda dengan band elektrik yang langsung menghidupkan suasana, kehadiran orkestra simfoni secara otomatis membuat kolom komentar menjadi sunyi, semua bersiap mendengarkan dengan khidmat.
Lin Xia menatap konduktor orkestra sejenak, memberi isyarat bahwa mereka siap memulai. Dengan aba-aba sang konduktor, suara flute yang indah mengalun, membawa para pendengar terbuai. Klarinet kemudian masuk, disusul gesekan biola yang membangun suasana megah. Denting lonceng logam yang bening menambah nuansa segar di panggung.
Orkestra berhenti sejenak, suasana menjadi hening, hanya terdengar iringan piano yang jernih. Dalam keheningan itu, Lin Xia mulai menyanyi:
“Bima sakti berputar, waktu melaju. Lihat bunga pir, kobarkan semangat baru.”
Lirik yang asing ini membuat para penonton di ruang siaran langsung tertegun.
“Ini masih ‘Aktor Merah’ yang pernah aku dengar?”
“Liriknya diubah ya?”
“Bukan hanya lirik, aransemennya juga diubah, jadi versi simfoni.”
“Ya ampun, lirik dan musiknya sama-sama digarap ulang, ini seperti menulis lagu baru saja.”
Para juri pun membuka berkas lirik dan latar belakang lagu yang dibawakan Lin Xia. Sebelum tampil, seluruh peserta memang wajib menyerahkan seluruh materi lagu, mulai dari partitur lengkap, lirik, hingga penjelasan latar belakang lagu kepada panitia.
Semua juri kini memegang lirik dan latar belakang versi “Aktor Merah” yang baru ini. Bagi yang pernah mendengar lagu ini sebelumnya, mereka pun sadar bahwa ini adalah versi baru dengan aransemen dan lirik yang berbeda.
“Lagu mengalir deras, gunung bersahutan, sembilan negeri, berbagi bulan dan angin, bersuka ria bersama.”
Seiring Lin Xia menyanyi, alat musik mulai bergabung satu per satu, melodi pun semakin kaya, seolah-olah selaras dengan makna lirik yang dinyanyikan.
Di tengah irama cello dan kontra bass yang dalam, instrumen gesek dan tiup kayu lain membangun suasana yang semakin membara, seperti percikan api yang perlahan menyatu.
“Walau di bawah, tak pernah lupa akan negeri, meski tak ada yang mengenalku.”
Para penonton di ruang siaran langsung pun mendengarkan dengan saksama, sesekali hanya satu dua komentar yang muncul.
“Lirik baru versi ini terasa sangat agung, membuat darahku berdesir.”
“Bagian lirik ini yang paling kusukai, untung masih dipertahankan di versi baru.”
“Perhatian! Gaya opera akan segera muncul!”
Tabuhan orkestra yang gagah dan megah, terutama tiupan trompet dan dentuman drum besar, menggelegar laksana singa yang terbangun dari tidur, memberi atmosfer yang luar biasa. Gaya opera Lin Xia yang memukau pun menggema di studio:
“Seratus tahun badai berlalu, hati tulus tak pernah goyah.”
“Seratus tahun cahaya tetap menyala, satu hati menyinari negeri.”
Setelah Lin Xia menuntaskan dua baris ini, alat musik gesek berubah menjadi pizzicato, suara orkestra perlahan mengecil dan menjadi latar yang lembut untuk harmoni vokalnya.
Dalam keheningan, suara Lin Xia dengan gaya opera terdengar makin jernih dan tajam.
“Cinta yang sejernih embun, jiwa yang luas menyambut siapa pun.”
“Negeriku, Nusantara, sepanjang masa, ke mana pun tetap kudamba.”
“Ah, gaya operanya luar biasa! Dipadukan dengan orkestra simfoni, benar-benar sempurna! Dengan tema semegah ini, aku jadi bergelora!”
“Hanya bisa bilang, aku benar-benar terpesona. Bisa dengar ini tanpa bayar, rasanya seperti mimpi.”
“Rasanya peserta lain yang menonton di belakang panggung pasti ingin menangis, ini benar-benar level yang berbeda.”
Selesai bagian opera, suara roll snare drum bergema, seolah menyuntikkan ruh ke dalam pertunjukan, lalu iringan simfoni yang dahsyat pun meledak. Tongkat konduktor menari, suara orkestra yang megah membanjiri ruangan, dan dentingan celesta yang bening menambahkan nuansa magis.
“Atmosfernya luar biasa! Bagian interlude ini sangat keren, cocok sekali untuk latar adegan besar.”
“Ini benar-benar pesta bagi telinga!”
“Skalanya begitu megah! Ternyata musik pop pun bisa diubah menjadi sekeren ini!”
Kemudian, alunan flute dan lonceng kembali terdengar, Lin Xia melanjutkan ke bagian kedua.
Berbeda dengan bagian pertama, kali ini hanya biola pertama yang istirahat, sementara instrumen gesek lain dan piano mengiringi Lin Xia dengan lembut, membuat suasana semakin dalam.
Pada bagian opera kedua ini, simfoni semakin megah dengan tambahan perkusi dan tiupan logam yang menggelegar. Tidak seperti bagian pertama yang dinamis, kali ini tensi musik terus meningkat tanpa jeda, bagaikan gelombang dahsyat yang menyapu seluruh studio.