Bab 7: Jiang Wangyue

Seniman Serba Bisa: Awal dari Audisi Grup Idola Wanita Senja Membias di Atas Salju 2661kata 2026-03-04 21:50:00

Bagi seseorang dengan latar belakang musik seperti dirinya, menemukan ritme bukanlah hal sulit. Mengikuti irama musik, ia mulai menari pada ketukan berikutnya.

Ia membawakan tarian yang dulu ia persiapkan saat ujian pindah jurusan oleh pemilik tubuh sebelumnya.

Jurusan drama musikal memang dikenal sebagai bidang yang menuntut kemampuan menyanyi, menari, dan berakting secara seimbang. Saat itu, pemilik tubuh sebelumnya juga tidak punya dasar menari, tapi ia berhasil menghapal dan menguasai tarian itu hanya bermodal ingatan otot.

“Wah, tariannya juga hebat banget.”

“Bisa nyanyi, bisa nari, pasti dapat nilai A, kan?”

Melihat penampilan Lin Xia, para peserta pelatihan yang duduk di kursi saling berbisik.

Usai pertunjukan, pelatih tari Guan Qingqing bertanya, “Sebelumnya kamu memang tak punya banyak dasar menari, ya?”

“Benar, saya hanya belajar sedikit tari drama musikal dari mata kuliah di kampus,” jawab Lin Xia.

“Tanpa dasar pun, hasil seperti ini sudah cukup bagus,” Guan Qingqing mengangguk. “Dan memang, girl group butuh seseorang yang bisa mencipta lagu.”

Tiga pelatih lain juga tampak setuju dengan ucapan Guan Qingqing.

Setelah berdiskusi, keempat pelatih memberinya nilai A, sedangkan Qiao An mendapat C.

Lin Xia pun menjadi peserta pertama yang meraih nilai A di episode perdana acara ini.

Mendengar hasil itu, ia sudah bisa membayangkan para penggemar Qiao An pasti akan heboh. Peserta lama yang kalah dari pendatang baru jelas akan menjadi sorotan utama, ia bahkan bisa menebak bagaimana pihak produksi akan mengedit adegan ini.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada para pelatih, ia kembali ke tempat duduknya. Para peserta lain memandangnya dengan rasa ingin tahu, bahkan ada yang mulai mewaspadainya.

Baik itu nama Akademi Musik Pesisir, julukan gadis ajaib biola, maupun lagu yang baru saja dibawakannya, semua meninggalkan kesan mendalam bagi yang lain.

Bahkan Jian Jiangli, yang duduk di posisi tengah dan tampak sangat dingin, tersenyum padanya.

Ia pun membalas dengan anggukan dan senyum sopan, sekadar menyapa.

Di sampingnya, Xie Wanbai yang ramah memandangnya dengan mata berbinar, “Xiaxia, suaramu bagus banget!”

“Kamu juga bisa main biola, hebat banget, deh. Nggak kayak aku, dari kecil cuma diajarin main suling sama orangtuaku, nggak pernah kepakai…”

Lin Xia agak canggung menghadapi anak yang cerewet dan manja seperti ini, jadi ia hanya menanggapi seadanya, sesekali mengangguk untuk menunjukkan ia mendengarkan.

Saat ia sedang berbincang dengan Xie Wanbai, beberapa peserta lain naik ke atas panggung untuk tampil, termasuk dua gadis yang sebelumnya duduk di kursi ketiga dan keempat, namun kemampuan mereka biasa saja.

Hingga akhirnya, naiklah seorang gadis dengan poni rata, rambut lurus panjang berwarna hitam, kulit putih bersih, mengenakan kaus putih sederhana dan celana pendek jins, penampilannya tampak sangat manis dan patuh.

“Selamat siang, para pelatih. Saya Jiang Wangyue dari Perusahaan HA.”

Suara gadis itu sangat khas, seperti suara anak kecil berusia tujuh atau delapan tahun. Begitu ia berbicara, banyak peserta langsung mengerutkan kening.

Suara seperti ini memang sering membuat orang merasa tak nyaman.

Mungkin karena menjaga sikap di depan kamera, tak ada yang langsung mengomentari suaranya, namun ekspresi mereka sudah cukup menggambarkan ketidaksukaan terhadap suara tersebut.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung, tapi dari lahir memang suaramu seperti ini?” tanya Liu Yulin penasaran.

“Benar, sejak kecil memang seperti ini,” jawab Jiang Wangyue sedikit canggung.

“Begitu, silakan mulai penampilanmu.”

Begitu musik dimainkan, Jiang Wangyue yang tadinya tampak kikuk dan pemalu, langsung berubah menjadi sosok yang sangat fokus. Setiap gerakannya penuh pesona, membuat seluruh dirinya tampak bersinar di atas panggung.

Xie Wanbai, sang penggemar wajah cantik, langsung menghentikan obrolan dengan Lin Xia dan menonton Jiang Wangyue dengan penuh perhatian.

Meski wajah Jiang Wangyue hanya bisa dibilang manis, begitu ia mulai menari, Xie Wanbai sendiri pun tak tahu kenapa, matanya tak bisa lepas dari gadis itu.

Seksi!

Benar... seksi. Wajah Jiang Wangyue memang manis, tubuhnya juga tak bisa dibilang berisi, bahkan ia punya suara kekanak-kanakan. Jika dilihat sekilas, ia seperti murid teladan yang sangat patuh. Tapi saat menari, ia tampak sangat memesona dan anggun.

Tarian Jiang Wangyue membuat jantung Xie Wanbai berdebar kencang.

Sial, padahal tadi sudah bertekad hanya ingin mendukung Xiaxia saja, tapi kenapa di acara ini banyak sekali kakak-kakak dan adik-adik yang menarik?

Usai pertunjukan bernyanyi dan menari, Jiang Wangyue di atas panggung kembali menjadi dirinya yang pemalu.

Pandangan Xie Wanbai pun kembali ke Lin Xia, ia buru-buru mengaku, “Xiaxia, aku nggak sengaja kok terpesona sama dia, soalnya tarian dia bener-bener menggoda, huhu. Tapi aku masih fans nomor satu kamu, kok.”

...Sebenarnya tak perlu juga menjelaskan sejauh itu.

Lin Xia memegang kening, tak tahu harus berkata apa pada Xie Wanbai.

Anak ini sepertinya memang datang untuk merasakan langsung pengalaman jadi fans idola.

Namun memang harus diakui, tarian Jiang Wangyue sangat memukau. Bahkan menurut Lin Xia yang awam soal tari, kemampuan Jiang Wangyue jauh melampaui para peserta sebelumnya.

Liu Yulin menjadi yang pertama bertepuk tangan, “Luar biasa, Wangyue! Tariannya benar-benar menarik perhatian, sangat ekspresif.”

Guan Qingqing, pelatih yang dikenal galak di acara ini, juga sangat mengapresiasi penampilan Jiang Wangyue. Untuk pertama kalinya ia memberikan nilai A, “Tarianmu sejauh ini yang terbaik. Bahkan kurasa akan sulit ada yang bisa mengalahkanmu.”

“Terima kasih banyak, para pelatih...”

Jiang Wangyue membungkuk kaku mengucapkan terima kasih, tangan yang memegang mikrofon pun sedikit bergetar.

Saat ia baru naik ke panggung, banyak peserta yang tidak suka dengan suara kekanak-kanakannya, namun setelah ia menari, pandangan mereka jadi jauh lebih ramah.

Manusia memang cenderung menghormati yang kuat, dan Jiang Wangyue baru saja membuktikan kehebatannya.

“Tarianmu luar biasa, tapi untuk bernyanyi, kamu masih perlu banyak belajar,” ujar Su Yubai memberikan penilaiannya. “Sekarang kamu masih bernyanyi dengan suara kepala dan suara asli. Karena suaramu kekanak-kanakan, jadi terdengar agak melengking.

“Tapi melengking bukan berarti jelek. Jika kamu menguasai teknik vokal yang tepat, warna suaramu akan jadi sangat khas.”

“Benar kata Pak Su, belajar teknik vokal akan sangat membantu kualitas suara kamu,” ucap Liu Mengzhi dengan nada penuh perhitungan.

“Soal ini, kamu bisa belajar dari Lin Xia, teknik vokalnya bagus sekali. Kalau nanti ada pertandingan tim, kalian bisa satu tim denganku,” tambah Liu Mengzhi.

Ucapan Liu Mengzhi langsung mengundang tawa.

“Pak Liu, Anda terlalu cepat, padahal belum ada segmen pertandingan tim,” kata Liu Yulin mengingatkan.

“Hah? Belum ada? Wah, sebaiknya tim produksi tambahkan saja. Pasti seru, haha.”

“Padahal tadi ada yang bilang, jangan asal masukkan semua bibit unggul ke dalam tim sendiri...” Su Yubai tampak masih kesal atas candaan Liu Mengzhi tadi.

Akhirnya, Jiang Wangyue mendapat nilai B. Karena ucapan Liu Mengzhi, sebelum kembali ke tempat duduk, Jiang Wangyue sempat menyapa Lin Xia.

Saat ia lewat, Xie Wanbai yang mengagumi kecantikan langsung terpaku di tempat.

“Xiaxia, menurut pengalamanku nonton acara-acara seperti ini, pasti nanti bakal ada pertandingan tim. Aku yakin kamu jadi kapten, nanti pilih aku, ya? Terus, coba juga bawa Jiang Wangyue ke tim kita.”

Ucapan itu membuat Lin Xia bingung harus bereaksi seperti apa.

Anak ini pikirannya isinya apa, sih? Sekarang bukan waktunya mikirin hal itu.

“Selanjutnya, peserta individu Xie Wanbai, silakan naik ke panggung.”

Tiba-tiba suara panggilan mengumumkan giliran peserta berikutnya—dan ternyata Xie Wanbai sendiri, yang sejak tadi sibuk mengagumi para peserta lain.

“Ah—Xiaxia, sekarang giliranku…” Xie Wanbai mendesah putus asa dan mulai bersiap naik ke panggung.

Lin Xia menghela napas lega, akhirnya ia bisa menikmati sedikit ketenangan.