Bab 15 Suara Alto Perempuan
"Kapten, syukurlah, kamu masih punya stok lagu?" tanya Sang Wen dengan gembira.
Beberapa anggota lain yang mendengar ucapan Lin Xia juga terlihat sangat antusias.
"Memang luar biasa, Guru Lin Xia!" seru Xie Wanbai.
Melihat semua orang mengelilinginya penuh harap, Lin Xia tersenyum tipis. "Jangan terlalu bersemangat dulu. Dengarkan baik-baik, lagu ini cukup sulit, belum tentu kita bisa menguasainya."
"Tapi, kalau kita berhasil membawakannya dengan baik, lagu ini pasti jadi yang paling mengesankan di seluruh pertunjukan."
Lin Xia bangkit berdiri, melakukan pemanasan suara singkat, mengatur suasana hati, lalu mulai menyanyikan lagunya tanpa iringan musik.
Meski tanpa musik pengiring suasananya terasa agak sepi, lagu ini dinyanyikan secara acapella olehnya malah memunculkan pesona yang berbeda.
Begitu bagian khas opera keluar, para gadis yang duduk di lantai itu tercengang, saling memandang dengan tatapan penuh kekaguman.
Begitu lagu berakhir, tepuk tangan pun bergemuruh.
"Guru Lin Xia, Anda sungguh hebat!" Xie Wanbai mengacungkan dua jempol. "Ibu saya adalah seniman opera klasik, pasti beliau akan sangat suka mendengarnya!"
Lin Xia tak menyangka Xie Wanbai punya latar belakang keluarga seperti itu.
"Kalau tidak, mana mungkin dari kecil saya tumbuh besar sambil main suona..." Xie Wanbai mengangkat bahu.
Penjelasannya begitu masuk akal, Lin Xia pun tak bisa membantah.
"Bagian opera itu, kamu bisa menyanyikannya?" tanya Lin Xia.
"Tidak bisa, jangkauan suara saya tidak sampai," Xie Wanbai buru-buru menggeleng. "Waktu kecil, ibu saya sempat mengajari sebentar, tapi akhirnya sadar saya memang tak berbakat di opera, makanya saya dibiarkan main suona saja."
Lin Xia lalu meminta anggota lain mencoba satu per satu, tapi ternyata hanya dirinya yang mampu membawakan bagian opera itu dengan baik.
Bagian opera adalah jiwa dari lagu ini, juga bagian yang paling menarik perhatian, yang menentukan keberhasilan lagu.
Bisa dibilang, inilah bagian pamungkas lagu tersebut.
Karena dia sudah mengambil bagian paling menonjol, sebagai kapten, demi keadilan, dia juga ingin memberi kesempatan tampil bagi anggota lain.
"Begini saja, bagian opera biar aku yang bawakan, bagian utama kalian yang isi. Xiaoyue dan Sang Wen, kalian ahli menari, jadi urusan koreografi aku serahkan pada kalian, bagaimana?"
"Lalu Xiaobai, kamu bawakan dua bait narasi opera, ya."
Meskipun Xie Wanbai bilang dirinya tidak berbakat di opera, dunia ini memang punya hukum seperti ini: mereka yang suka merendah dan mengaku lemah, biasanya justru hebat.
Selain itu, bisa masuk ke lingkaran orang hebat, mana ada benar-benar orang biasa.
Walau Xie Wanbai tidak pernah benar-benar mendalami opera klasik, dasar-dasar yang dia pelajari sejak kecil masih tertanam.
Penguasaan pernapasan, artikulasi, serta nuansa nada dan gaya sudah cukup baik, sehingga Lin Xia memberinya bagian narasi opera sebagai penghubung antar lagu.
Sementara itu, Jiang Wangyue dan Sang Wen yang memang unggul dalam menari, dibiarkan menunjukkan kelebihan mereka di bidang tari.
Terutama Jiang Wangyue, Lin Xia berencana memberinya bagian tari lengan panjang yang cukup sulit.
Setelah membagi peran untuk ketiganya, Zhang Shiyun menatap Lin Xia penuh harap, seolah menunggu tugasnya.
Kepribadian Zhang Shiyun mirip Jiang Wangyue, agak pemalu, dengan poni tebal dan potongan rambut bob sebahu ala pelajar.
Kalau dikatakan secara halus, dia berjiwa pelajar, kalau to the point, agak kaku dan kurang gaul.
Lin Xia memandangnya, sambil berpikir hendak memberinya bagian mana, tiba-tiba mendapat inspirasi. "Pernah terpikir memangkas rambut lebih pendek lagi?"
Zhang Shiyun kebingungan. "Hah?"
"Maksudku potongan pendek yang pas di telinga, diberi sedikit layer, supaya kesannya seperti remaja laki-laki. Menurutku bentuk wajah dan fitur wajahmu cocok sekali."
Lin Xia mengukur-ngukur rambut Zhang Shiyun dengan tangan, semakin lama dipikir semakin terasa pas.
Banyak gadis memang lebih cantik berambut panjang, atau keduanya sama indah. Tapi pada beberapa orang, rambut panjang justru menutupi pesona alami, dan setelah dipotong pendek, wajah mereka jadi lebih bersinar.
Rambut pendek menonjolkan fitur wajah, dan dibanding rambut panjang, lebih mudah dikenali, juga memberi kesan ceria dan muda.
"Biarkan aku lihat!" Xie Wanbai yang sedang mencoba mengingat-ingat dasar opera waktu kecil, tiba-tiba tertarik dengan usulan Lin Xia. Penuh semangat ia mendekat dan mengamati wajah Zhang Shiyun dengan saksama.
"Aku setuju dengan usulan Xiaxia!"
Jadi, di mana ada cewek cantik, kau pasti ikut nimbrung, ya?
Lin Xia memijat kening, sudah malas menertawakan Xie Wanbai yang memang tergila-gila pada kecantikan.
Jiang Wangyue dan Sang Wen juga merasa Zhang Shiyun akan lebih menarik dengan rambut pendek.
"Tenang saja, kalau tak cocok, toh rambut bisa disambung lagi!"
Atas dorongan kata-kata Xie Wanbai, Zhang Shiyun memutuskan mencoba, dan mereka bersama-sama mencari penata gaya dari tim produksi.
Dengan keahlian penata gaya dalam mencuci, memangkas, dan menata, akhirnya Zhang Shiyun tampil dengan rambut pendek berlapis yang sangat memberi kesan muda.
Rambut pendek itu membuat wajahnya tampak lebih kecil dan proporsional, benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Melihat bayangan diri di cermin, Zhang Shiyun nyaris tidak percaya.
"Bagus sekali! Keren banget!" Xie Wanbai langsung berkomentar. "Gaya rambut Shiyun ini bagus sekali, sampai bikin orang penasaran siapa penata gayanya!"
Penata gaya tersenyum rendah hati, tapi jelas bangga dengan hasil karyanya. "Tak sangka hasilnya bisa sebaik ini, memang kapten kalian punya mata jeli."
"Kapten, kapten! Guru Lin Xia yang serba bisa! Kira-kira aku cocoknya pakai gaya rambut apa?" tanya Sang Wen dengan penuh semangat, membuat Lin Xia geli sendiri.
Setelah para gadis itu dengan riang memasuki ruang latihan, Lin Xia kembali membagikan tugas pada Zhang Shiyun.
"Tugasmulah yang paling penting. Kamu harus menyanyikan dua baris pertama di setiap bagian utama, mengajak pendengar masuk ke dalam cerita, dan juga bertanggung jawab untuk vokal harmoni di seluruh lagu."
Zhang Shiyun nyaris tak percaya. Sebelumnya dia hanyalah trainee kelas F, saat pembagian kelompok dia bahkan mengira akan jadi sisaan terakhir.
Tak disangka Lin Xia memilihnya secara langsung, dan kini malah memberinya tugas utama di penampilan publik pertama mereka.
"Aku..." Zhang Shiyun ragu, merasa dirinya terlalu lemah untuk memikul tugas itu.
Lin Xia mengulurkan tangan, menghentikan kata-katanya. "Saat aku memilihmu, aku sungguh-sungguh. Suara dan jangkauan vokalmu sangat istimewa, dan nada suaramu sangat tepat."
"Kamu punya bakat alami dalam bernyanyi, hanya saja kamu terlalu mudah terpengaruh orang lain. Padahal justru kamu yang benar, tapi selalu merasa orang lain lebih baik."
Suara Zhang Shiyun adalah alto yang menenangkan, lembut dan menyejukkan, sedikit mengingatkan pada penyanyi legendaris Jepang, Nakamori Akina.
Perhatian penonton biasanya selalu tertuju pada vokal tinggi, seolah-olah penyanyi yang bisa menaklukkan nada tinggi pasti lebih hebat. Padahal tidak demikian, dalam dunia musik, justru vokal rendah adalah anugerah.
Nada tinggi masih bisa diraih dengan teknik dan falsetto, tapi nada rendah tidak bisa dipaksakan.
Alto perempuan sangat langka, warna suara mereka lebih kaya, memberi dimensi berbeda pada lagu.
Di mata orang lain, Zhang Shiyun hanya trainee kelas F yang biasa saja, dengan jangkauan vokal tidak luas dan kemampuan menari biasa-biasa saja. Namun di mata Lin Xia, dia adalah permata langka yang sangat berharga.
Seperti batu giok yang belum terasah.
Dan kini, Lin Xia sedang membuat permata itu bersinar terang.