Bab 133: Tunggu Kakak Memenangkan Medali Emas untuk Kau Mainkan
Rong Jin sudah untuk kesekian kalinya hari ini melihat ponselnya.
Siang tadi, ia mengirim pesan kepada Qin Qing. Ia tidak menyinggung soal Shen Yin, hanya menanyakan bagaimana hasil ujiannya.
Saat itu, Qin Qing hanya membalas, “Tunggu Kakak pulang sambil membawa medali emas untukmu.”
Nada bicaranya congkak sekaligus menggemaskan.
Jari-jemarinya yang panjang mengusap layar ponsel dengan lembut.
Sesaat kemudian, ponselnya menyala.
Sebuah pesan masuk.
Begitu melihat nama pengirimnya, cahaya penuh harap yang semula berkilat di matanya kembali meredup.
Kekecewaan yang mendalam pun tampak jelas.
Sayangnya, orang di seberang sana sama sekali tidak menyadarinya.
Ia masih sibuk menyampaikan laporan dengan serius.
S: Tuan, kami mendapat kabar terbaru. Orang itu berniat mengirim pembunuh bayaran ke Ancheng.
S: Transaksinya dilakukan melalui pasar gelap.
S: Tuan, haruskah saya kembali untuk melindungi Anda secara langsung?
S: Tuan? Apakah sambungan Anda terputus?
Sudut alis Rong Jin berkedut, tetapi ia segera kembali tenang.
Jin: Kirimkan data pembunuh itu kepadaku. Yang lainnya tidak perlu kau urus.
S di seberang sana berpikir bahwa sang tuan pasti sudah memiliki rencana, jadi ia tidak bertanya lebih lanjut dan segera mengirimkan data pembunuh tersebut.
Tahun baru sudah semakin dekat. Sekalipun orang tua itu telah menghentikan semua gerakannya, pihak lawan tetap tidak akan lengah.
Mungkin, sejak awal mereka memang berharap Rong Jin mati di luar sana.
“Tarif pasar gelap tidak murah. Sepertinya mereka sudah terdesak sampai nekat.”
Pemuda tampan yang wajahnya tiada banding itu duduk diam di atas kursi roda.
Kemudian, dengan satu tangan bertumpu pada sandaran, ia perlahan-lahan berdiri.
Xiaobai, yang berjongkok di sudut ruangan dengan lampu menyala di atas kepalanya dan berpura-pura menjadi lampu meja berjalan, begitu girang sampai hampir mengalami korsleting!
“Tu, Tuan, Tuan bisa berjalan lagi?!”
Robot kecil itu sungguh-sungguh merasa bahagia untuk tuannya!
Bagaimanapun, ia tahu bahwa tuannya selalu sangat tidak bahagia karena harus duduk di kursi roda dan tidak bisa berjalan.
Ia berharap tuannya dapat kembali ceria.
Sayangnya, sudah lama sekali ia tidak melihat tuannya tersenyum bahagia…
Tunggu, itu tidak sepenuhnya benar.
Setiap kali Nona Qin Qing datang, tuannya sepertinya menjadi sangat bahagia.
Keringat dingin sebesar kacang mengalir di pipi Rong Jin.
Rasa sakit di kedua kakinya sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Namun, semakin hebat rasa sakit itu, semakin cemerlang pula sepasang matanya yang indah.
Dengan tenang ia berkata, “Aku hanya sudah bisa berdiri, belum bisa berjalan.”
Namun, hari itu tidak akan lama lagi tiba.
Pada saat itulah ponsel Rong Jin kembali berdering. Sebuah pesan tertera di layarnya.
Pesan dari Qin Qing.
Wajah pemuda itu pucat pasi karena rasa sakit di kedua kakinya, sementara keringat dingin di dahinya belum mengering.
Tubuhnya kurus, hanya terselubung sehelai selimut.
Namun saat membaca pesan tersebut, senyum lembut merekah di sudut bibirnya.
Pemandangan itu begitu indah hingga membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.
Di layar ponsel tampak foto yang dikirim Qin Qing—sebuah medali emas.
Jin: Kakak hebat sekali!
Qin: Besok setelah aku pulang, akan kuberikan kepadamu.
Setelah mengirim pesan itu, Qin Qing menyimpan kembali ponselnya.
Ia mengangkat kepala. Pertandingan perorangan telah berakhir, dan Qin Qing berhasil meraih juara pertama tanpa sedikit pun ketegangan.
Lu Zhi tetap berada di posisi kedua.
Tak seorang pun menyangka bahwa Lu Zhi, yang telah berjaya selama dua kejuaraan berturut-turut, kali ini akan menjadi juara kedua untuk kesekian kalinya.
Bagaimanapun cara mereka bertanding, hasil itu tetap tidak berubah.
Dengan wajah menghitam, ia menerima medali perak.
Pembawa acara terus-menerus khawatir Lu Zhi akan melemparkan medali perak itu ke wajahnya.
Adapun juara ketiga diraih Xiao Xiao, yang kali ini cukup beruntung dan tampil dengan sangat stabil.
Gu Niannian di bawah panggung begitu gembira sampai rasanya hendak terbang!
Juara pertama dan ketiga sama-sama teman sekelasnya!
Mereka semua berasal dari SMA Ancheng, kelas satu tingkat tiga!
Sedangkan Li Yi… Li Yi sudah mengirim pesan kepada Kepala Sekolah Chen, memohon agar hadiah uangnya ditambah sekali lagi.
Bagaimanapun, mereka membawa pulang satu medali emas dan satu medali perunggu.
Acara penghargaan akhirnya selesai. Semua orang meninggalkan tempat itu secara berurutan.
Namun, tepat ketika semua orang sedang keluar satu demi satu, tiba-tiba sekelompok orang masuk.