Bab 68: Sudah Pasti Tertarik, Kan

Ratu Kekuatan Khusus Terus-Menerus Terungkap Identitasnya Setiap Hari Yu Tujio 1455kata 2026-02-08 01:05:09

Rong Jin tidak langsung menjawab. Ia tahu benar watak ibu Qin Qing, juga kelakuan keluarga besar Keluarga Sun. Maka secara alami, Rong Jin mengira bahwa Qin Qing pasti sejak kecil sering mendapat perlakuan buruk. Bahkan kadang-kadang mungkin tidak cukup makan! Tiba-tiba ia merasa iba. Namun wajahnya tetap tenang tanpa memperlihatkan apa pun. Ia lalu menggerakkan kursi rodanya mendekati Qin Qing, dan tanpa banyak bicara, mengambil sekaleng kola dingin milik Qin Qing yang hanya tersisa setengah.

“Siapa bilang aku tidak terbiasa.”

Itulah jawabannya atas pertanyaan sebelumnya. Qin Qing melihat lelaki itu meminum kola miliknya, tapi ia sama sekali tidak keberatan. Ia memang sudah terbiasa bersikap santai dan tidak menganggap hal itu sebagai masalah. Toh yang meminumnya adalah Rong Jin.

Berbeda dengan Chen Ran, yang kebetulan lewat di dekat mereka sambil membawa tiga sampai empat kotak daging kambing. Melihat pemandangan itu, ia hampir saja menjatuhkan semua daging sapi dan kambing yang ada di tangannya!

Astaga, Tuan Muda-ku! Itu kola sudah diminum sama Qin Qing! Kalau kau minum langsung seperti itu... Kalau dihitung-hitung, itu sama saja seperti berciuman tidak langsung!

Chen Ran memandang Qin Qing dengan tatapan rumit. Jadi, nona yang dipeluk ala putri itu, sebenarnya kau sudah memberinya ilmu hitam apa pada Tuan Muda kita? Kenapa Tuan Muda jadi makin aneh saja belakangan ini? Tapi yang jelas, tidak ada ilmu hitam yang diberikan.

Namun saat itu, Rong Jin sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan tindakan seperti itu. Apa ingin membuktikan sesuatu? Sejak kemarin, semua tindak-tanduknya sudah jauh di luar rencana. Ada perasaan seolah semuanya akan lepas kendali… Kola itu terasa sedikit pahit, sedikit manis. Dua rasa yang bercampur di lidah, membangkitkan sensasi yang membuat ketagihan. Saat menaruh kembali kaleng kola itu, Rong Jin menundukkan pandangan, matanya tanpa sadar terarah pada sepasang kaki jenjang itu. Di sudut hatinya yang tersembunyi, mekar sebuah bunga kecil yang tak kasat mata.

Semuanya sudah siap, saatnya makan.

Qin Qing membawa sebuah panci kecil berisi hotpot, lalu duduk di samping Rong Jin.

Ia berkata, “Yang lain semua mau makan yang pedas, sepertinya kau tidak suka, jadi makan saja yang rebusan bening ini.”

Tuan muda yang terbiasa hidup mewah, mungkin sulit menerima harus makan bersama di panci besar seperti yang lainnya. Karena itu, Qin Qing sengaja menyiapkan jalan keluar agar ia tidak tersudut. Anak yang cantik, memang selalu membuat Qin Qing jadi lebih sabar.

Rong Jin menundukkan kepala sedikit. Bulu matanya bergetar halus. Wajahnya tampak manis dan jinak tanpa sadar. Sebenarnya, Rong Jin tahu benar akan perhatian halus yang ditunjukkan Qin Qing, meski tidak ditampakkan secara terang-terangan. Semua duri di tubuhnya perlahan-lahan menghilang satu per satu.

Ia menjawab, “Baik.”

Melihat sikapnya yang patuh dan manis, juga menahan sifat buruknya yang biasanya arogan, Qin Qing semakin puas memandangnya.

Tak sia-sia ia tadi menyuruh Li Hui pergi keluar membeli panci kecil untuk hotpot.

Sementara itu, Qin Guangyao yang duduk di seberang mereka, melihat kedua anak itu berbicara saling berbisik, tak kuasa menahan pikirannya yang melayang jauh. Bahkan saat keduanya saling berpandangan, ia merasa seolah ada getar-getar cinta di antara mereka.

Qin Guangyao yang gelisah bertanya pada Zhang Feng di sebelahnya.

“Bos Zhang, menurutmu… kalau seorang anak laki-laki begitu baik pada seorang anak perempuan, itu biasanya kenapa?”

“Pasti karena suka,” jawab Zhang Feng, matanya tetap terpaku pada daging kambing di dalam panci. Barusan beberapa potong daging yang baru matang hendak ia ambil, malah dicomot lebih dulu oleh Chen Ran yang menyebalkan itu! Tadi dia sempat mencibir, bilang hotpot semacam ini tidak enak, eh sekarang malah berebut daging juga! Keterlaluan!

Qin Guangyao, mendengar jawaban itu, langsung terkejut.

“Suka? Maksudnya suka itu bagaimana?”

Zhang Feng dengan berat hati melepaskan pandangannya dari panci. Ia benar-benar heran.

“Paman Qin, Anda kan sudah pernah menikah dan jadi orang tua, kenapa masih tanya soal begini? Suka itu artinya jatuh hati dan ingin bersama.”

Saat Qin Guangyao hendak mengambil bakso ikan dengan sumpit, tangannya langsung bergetar. Bakso itu pun terlepas dan tepat masuk ke mangkuk Chen Ran yang tak jauh dari sana.

Chen Ran yang sedang serius makan daging: “……”