Bab 55: Pemuda Tampan yang Menyenangkan Hati
Qin Qing sudah mengulurkan tangan, lalu memasukkan serangkaian alamat ke dalam sistem navigasi mobil. Chen Ran melirik ke arahnya, kemudian menurunkan suara dan menoleh ke arah tuan mudanya, dalam nada bicaranya ada kegembiraan yang berusaha ditekan.
“Tuan muda, akhirnya kau sadar juga, memutuskan untuk membalas kebaikan Qin kecil ya!”
Alis Qin Qing terangkat, ia menoleh menatap Rong Jin.
Wajah tampan remaja itu seketika menjadi sangat gelap.
Suhu di sekeliling pun langsung terasa menurun.
Dengan nada datar, ia berkata, “Chen Ran, kalau kau tak bisa mengemudi, aku bisa minta orang lain.”
Di sisi Rong Jin yang selalu tampak dingin itu, hanya ada Chen Ran dan seorang bibi yang bertugas memasak dan mengurus kehidupannya.
Namun, bagaimanapun juga, ia adalah putra mahkota keluarga Rong, mana mungkin di sekelilingnya tak ada pengawal-pengawal handal?
Orang-orang yang bergerak di balik layar jumlahnya tak sedikit.
Demi mempertahankan posisinya sebagai orang nomor satu di sisi tuan muda, Chen Ran pun langsung berkata dengan tegas, “Tentu saja bisa, bahkan aku mengemudi sangat stabil!”
Rong Jin menundukkan kepala, tak buru-buru bicara.
Aura dingin mengelilingi mereka.
Chen Ran melirik ke kursi penumpang depan, tempat Qin Qing duduk sambil menunduk memandangi ponselnya.
Tiba-tiba ia mendapat ide!
Saat mereka berhenti untuk mengisi bensin di pom bensin, Chen Ran berkata kepada Qin Qing, “Duduk di depan pasti kurang nyaman, Qin kecil, kamu duduk saja di belakang. Kalau mengantuk, bisa tidur sebentar.”
Perjalanan akan memakan waktu beberapa jam, kalau dihitung-hitung, mereka baru akan sampai tengah malam.
Qin Qing sebetulnya ingin bilang bahwa ia tak butuh tidur.
Namun...
Ia langsung menarik pintu mobil, lalu duduk di kursi belakang.
Di sampingnya, pemuda tampan itu bersandar santai dengan selimut tipis di pangkuan.
Duduk diam di sana, memejamkan mata dan beristirahat.
Penampilannya begitu indah dan halus, bagai boneka porselen.
Kalau diperhatikan dengan saksama, bisa terlihat di sudut bibirnya—
Tersungging sedikit senyuman.
Sungguh pemandangan yang menyenangkan.
Mereka tiba di tujuan pada pukul setengah satu malam.
Begitu turun dari mobil, Qin Qing menoleh ke belakang, sorot matanya dalam pekatnya malam menumpahkan kelembutan.
Ia berkata, “Pulanglah.”
Satu kalimat singkat, lalu ia membalikkan badan dan berjalan pergi.
Remaja bermuka dingin itu menatap punggungnya, kemudian tersenyum pelan.
“Benar-benar tak tahu berterima kasih...”
Chen Ran yang sedang menguap sampai air mata menggenang di pelupuk, memandang tuan mudanya, tiba-tiba merasa seperti melihatnya tersenyum?
Bahkan, tersenyum dengan sangat lembut!
Chen Ran langsung tersadar! Ia buru-buru mengucek matanya.
Lalu menoleh lagi, wajah tuan muda tetap sama dinginnya, tanpa ekspresi ramah sedikit pun.
Tadi ia pasti salah lihat!
Chen Ran berkata, “Tuan muda, kita sekarang pulang?”
“Tunggu.”
“Tunggu?”
Chen Ran butuh tiga detik penuh untuk menyadari maksud tuan mudanya.
Ia melihat Rong muda yang begitu terhormat itu menarik selimut tipis lebih tinggi, lalu memejamkan mata.
Chen Ran: “...”
Ya sudah, lebih baik ia lanjut menguap saja.
Ia benar-benar tak paham, apa maksud gerak-gerik tuan muda hari ini!
Tapi Chen Ran tak berani bicara, apalagi bertanya!
**
Qin Qing berjalan sampai ke depan rumah, mendapati pintu utama terkunci.
Namun, dari dalam, cahaya lampu kuning samar menembus keluar.
Rumah ini di kota kecil cukup bagus, awalnya memang tempat tinggal Feng Fang.
Ironis sekali.
Nenek tua itu sangat berpihak pada keluarga anak laki-lakinya, tapi justru memilih tinggal di rumah yang dibangun menantunya!
Katanya, tak ingin merepotkan anak laki-lakinya?
Benar-benar standar ganda!
Selain itu, belakangan keluarga Sun Feng bertiga juga menumpang tinggal di sini.
Dulu seringnya hanya datang untuk meminta ini-itu, sekarang malah langsung mengusir pemilik dan menempati rumah!
Padahal uang untuk membangun rumah ini didapat dari Qin Guangyao dan Sun Yun.
Namun keluarga mereka bertiga justru tinggal di kamar lantai satu yang menghadap utara dan lembap.
Sementara keluarga Sun Feng menempati kamar terbesar di lantai dua yang menghadap selatan.
Sedangkan kamar terbesar di lantai satu, ditempati Feng Fang sendiri.
Qin Qing mengeluarkan kunci dan membuka pintu dengan cekatan.
Ia pun melihat di halaman ada sebuah mobil Mercedes-Benz.
Plat nomornya dari Ancheng.
Saat itu juga, dari ruang tamu yang terang, terdengar suara tajam Sun Yun.
“Aku sudah bilang semuanya dengan jelas, hari ini juga aku pasti akan cerai!”
Bicara duluan, nadanya begitu tegas.
Seolah-olah bukan dia yang bersalah.
Qin Qing tersenyum tipis, lalu mendorong pintu masuk.
Semua orang di dalam rumah menoleh ke arahnya.