Bab 38 Meskipun Hati Terluka, Senyuman Tetap Menghiasi Wajah
Chen Ran membawa segelas air es, berjalan dengan riang ke arah majikannya. Ia melihat tuan mudanya sedang memegang ponselnya, menatap layar dengan penuh perhatian.
Ternyata tuan muda juga sedang menonton orang-orang itu balapan mobil. Namun, begitu Chen Ran teringat kondisi kaki tuan muda... hatinya langsung terasa pilu.
Jangankan mengemudi. Dengan kondisi kaki tuan muda sekarang, sepertinya seumur hidup hanya bisa duduk di kursi roda saja. Mobil apa pun tak mungkin bisa ia kendarai lagi.
Aduh, kasihan sekali tuan muda.
Dengan perasaan tak tega, Chen Ran berkata, “Tuan muda, sebaiknya jangan ditonton lagi. Mereka itu hanya pembalap amatir, bukan profesional. Kalau Anda suka, kabarnya bulan depan di pinggiran Kota Beijing akan ada lomba F1 profesional. Waktu itu, saya bisa menemani Anda menonton, bagaimana?”
Walaupun pinggiran kota tetap dekat dengan Beijing, selama ia berhati-hati, seharusnya tidak akan menarik perhatian orang lain.
Rong Jin tidak menjawab, pandangannya tajam dan lurus menatap layar. Ketika gambar berganti ke orang lain, ia pun mengerutkan dahi dengan tidak senang.
Tiba-tiba, entah kenapa, tayangan itu terputus dan ruang siaran langsung dipenuhi makian penonton.
Rong Jin pun dengan kesal melemparkan ponsel.
Chen Ran hanya bisa melihat ponselnya jatuh ke sofa, memantul tinggi, lalu membentur lantai dengan suara nyaring, dan sekali lagi memantul sebelum benar-benar terjatuh.
Sungguh ia merasa sakit hati! Namun meskipun begitu, ia tetap harus tersenyum ramah.
Chen Ran tersenyum lembut dan penuh perhatian. “Tuan muda, Anda ingin menonton balapan profesionalnya?”
“Tidak tertarik,” jawab Rong Jin dingin, lalu memutar kursi rodanya pergi.
Namun diam-diam ia mencatat nama streamer di ruang siaran langsung itu. Begitu tiba di kamarnya, ia segera mengambil ponselnya sendiri dan langsung mengikuti akun streamer tersebut.
Nama streamernya terkesan sengaja dibuat imut. Padahal jelas suara laki-laki, tapi kenapa namanya ‘Persik Kecil’?
Pada saat yang sama, Tao Yi sedang memukul-mukul komputer di depannya dengan kesal.
“Sial! Kenapa rusak di saat-saat seperti ini! Argh, penonton di siaran langsung pasti akan memaki aku habis-habisan!”
Di sampingnya, Zhang Feng yang dari tadi khawatir dengan Qin Qing hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir.
“Aku heran, sampai-sampai uang dari siaran langsung pun kamu kejar. Apa kamu benar-benar kekurangan uang? Tabunganmu di rekening sudah delapan digit kan?”
“Siapa yang bisa menolak uang banyak? Hanya kamu saja, ya kan? Waktu itu tim balap pernah menawarimu jadi wakil kapten, kenapa tidak kau terima?” sahut Tao Yi sambil terus mengutak-atik remote control drone pengambil gambar.
Padahal, waktu itu tim tersebut langsung menawarkan gaji tahunan delapan digit untuk Zhang Feng.
Itu gaji setahun!
Zhang Feng menundukkan kepala sedikit. Di bibirnya terbit senyum getir.
Saingan beratnya dulu adalah pembalap andalan tim itu. Mereka sudah bersaing bertahun-tahun.
Posisi wakil kapten dan kapten utama, meski hanya berbeda satu kata, statusnya di tim sangat jauh berbeda. Sebagai musuh bebuyutan sang pembalap andalan, ia bisa diperintah seenaknya kapan saja.
Memang uang itu penting, tapi Zhang Feng tak ingin hidup dengan menunduk dan merendahkan diri.
Ia lebih memilih bekerja di bengkel mobil kota kecil ini, hidup sederhana namun tenang.
Namun sekarang, semua mulai berubah.
Kemunculan Qin Qing mengubah hidupnya. Gadis itu membawa serangkaian perubahan dalam hidupnya.
Yang terpenting, gadis itu membuat Zhang Feng berani bermimpi lagi dan memutuskan untuk kembali berjuang!
Sementara itu, keempat mobil yang sedang berpacu tak mengetahui bahwa drone pengambil gambar mengalami masalah. Kini, balapan sudah melewati setengah lintasan.
Urutan keempat mobil belum berubah. Qin Qing masih memimpin jauh di depan. Lu Yu memang hebat, ia menyusul di posisi kedua.
Meski tak bisa mengejar Qin Qing, ia juga tak terlalu tertinggal jauh.
Setengah putaran di belakang, barulah ada Tan Weiye dan Xiao Jin.
Tan Weiye sudah sangat cemas dan kesal. Kalau begini terus, jelas ia tidak akan bisa jadi juara!
Tidak bisa dibiarkan, harus cari cara!
Memikirkan itu, ia segera mengenakan headset bluetooth dan menekan sebuah tombol pintas.