Bab 6: Pangeran Kecil dari Keluarga Rong
"Benar sekali, apalagi dia masih kelas satu SMA! Mengatur tes khusus hanya untuknya, bukankah itu terlalu main-main?"
Kepala kelompok bahasa Inggris, Sun Qiyin, juga punya pendapat yang sama.
Kedua orang ini adalah wali kelas dari dua kelas eksperimen di tahun ketiga SMA Ancheng, posisi mereka sangat berpengaruh.
Kepala Sekolah Chen teringat tatapan anak itu yang penuh keteguhan.
Akhirnya, ia berkata dengan sungguh-sungguh, "Saya putuskan untuk memberinya kesempatan."
Semua guru bertanya-tanya, apakah murid ini kerabat Kepala Sekolah Chen?
Mereka tidak menyangka, ternyata Kepala Sekolah Chen bisa seperti ini!
Tapi baik Li Yi maupun Sun Qiyin sudah berniat, sekalipun itu kerabat kepala sekolah, mereka juga pasti tidak akan menerima!
Murid-murid di kelas mereka, semuanya masuk berkat kemampuan sendiri.
Tidak akan pernah mereka terima Qin Qing yang punya koneksi seperti itu!
Tentu saja, Kepala Sekolah Chen tidak tahu apa yang tengah dibayangkan para gurunya.
Kebetulan ponselnya berdering. Melihat nama penelepon, ia langsung bersikap serius dan kembali ke kantor untuk menerima telepon.
Nada suara Kepala Sekolah Chen penuh hormat, "Pak Gao, ada perlu apa menelepon saya?"
"Chen, putra keluarga Rong akan pindah ke sekolahmu. Berkas-berkasnya sudah saya kirimkan. Tolong segera diurus."
Kepala Sekolah Chen tertegun, belum sepenuhnya mengerti.
"Putra keluarga Rong? Maksud Anda, keluarga Rong itu?"
Hening sesaat di ujung telepon.
"Benar, keluarga Rong itu."
Setelah telepon ditutup, Kepala Sekolah Chen lama sekali tidak bisa kembali tenang.
Ia refleks merogoh saku, namun yang didapat cuma kehampaan.
Baru ia teringat, istrinya belakangan ini memaksanya berhenti merokok dan semua rokoknya telah disita.
Akhirnya, Kepala Sekolah Chen meneguk air dingin dalam-dalam agar dirinya sedikit tenang.
Namun di hatinya, tanda tanya terus bermunculan.
Itu keluarga Rong, salah satu konglomerat papan atas di ibu kota!
Kenapa putra sulung keluarga Rong mau sekolah di kota kecil seperti ini?!
Di saat yang sama, sebuah sedan hitam mewah yang tampak sederhana perlahan melaju masuk ke Ancheng.
Jendela mobil dibuka, menampakkan sepasang mata hitam pekat yang dalam.
Walau usianya baru tujuh belas atau delapan belas tahun, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin yang mengusir orang.
Wajahnya putih dan tampan, namun dingin dan acuh tak acuh. Di matanya yang gelap, terpendam amarah yang membara.
Di pangkuannya terhampar selimut tipis berwarna abu-abu muda.
Menutupi kedua kakinya yang meski panjang, kini sudah tak lagi berfungsi.
Chen Ran yang duduk di kursi depan tampak gelisah.
Ia berusaha tersenyum dan menoleh, "Tuan Muda, semua urusan sekolah sudah saya atur. Besok Anda bisa langsung lapor diri ke sekolah."
Pemuda itu tidak menanggapi.
Chen Ran tahu betul suasana hati tuan mudanya sedang buruk.
Namun ia tetap memberanikan diri bicara, "Tuan Muda, sebenarnya semua ini dilakukan Tuan Besar demi kebaikan Anda. Saat seperti ini, lebih baik Anda menjauh dulu..."
Pemuda itu menegakkan kepala, sorot matanya yang tajam menyiratkan ejekan.
"Berapa banyak uang yang wanita itu berikan padamu?"
Meski cuma satu kalimat, Chen Ran langsung merinding!
Walau usianya masih muda dan kedua kakinya tidak bisa berjalan, dia tetaplah pewaris keluarga Rong.
Sang iblis kecil keluarga Rong!
Chen Ran buru-buru berkata dengan lirih, "Tuan Muda, hati dan seluruh hidup saya hanya setia pada Tuan Besar dan Anda! Waktu Tuan Besar menanyakan siapa yang bersedia menemani Anda ke sini, saya yang pertama mengajukan diri! Tuan Muda, percayalah pada saya."
Alis indah Rong Jin kembali mengerut.
Suaranya sangat dingin, "Diam!"
"Tapi, Tuan Muda..."
"Kalau masih banyak bicara, sekarang juga kembali ke ibu kota."
Chen Ran langsung tutup mulut dan berpura-pura mengunci bibirnya dengan ritsleting.
Namun dalam hati, ia menangis pilu.
Ia merasa hari-hari ke depannya pasti tidak akan menyenangkan.
Sedan hitam itu perlahan melewati bengkel mobil sisi barat kota.
Qin Qing menarik pelan topi bisbolnya, lalu dengan tenang menatap pemilik bengkel yang berjanggut lebat.
"Aku sungguh bisa memperbaiki mobil. Kalau kau tak percaya, biarkan aku mencoba dulu."