Bab 73: Kurang Dididik
Qin Qing memandang dari atas, “Merusak nama baik seorang gadis, jika mentalnya tidak kuat, kamu bisa jadi pembunuh tidak langsung!”
Kata-kata yang diucapkan Wang Huan di kelas tadi sebenarnya tidak berarti apa-apa bagi Qin Qing.
Namun...
Bagaimana jika itu terjadi pada si cengeng yang dulu? Bagaimana jika teman-teman yang mendengarnya memandangnya dengan tatapan aneh? Maka, seseorang yang berkepribadian tertutup dan lemah bisa saja hancur karena gosip semacam itu!
Terkadang, kekerasan kata-kata jauh lebih menakutkan!
Wang Huan benar-benar lemas kakinya. Ia terisak, “Aku... aku tidak berniat mencelakai siapa-siapa. Aku cuma benar-benar benci Sun Yun, jadi... jadi aku juga ingin mengganggumu.”
Hasilnya, bukan hanya gagal mengganggu, malah dirinya sendiri yang kena batunya.
Bocah gemuk itu tergeletak di atas rerumputan, air mata dan ingus bercampur menandakan penyesalannya.
Qin Qing berkata dingin, “Minta maaf.”
“Maaf, aku salah, Kakak, maafkan aku, aku tidak berani lagi!”
“Pergi minta maaf lewat siaran sekolah. Kalau isi permintaan maafmu tidak memuaskan...”
Wang Huan hampir kencing ketakutan!
Tangannya masih diinjak!
Ia tergagap, “Baik... nanti aku akan minta tolong teman di kelas yang paling jago menulis, suruh buatkan tulisan, lalu aku bacakan di siaran sekolah! Dijamin penuh penghayatan, sepenuh hati dan sangat tulus! Pasti Kak Qing puas!”
Barulah Qin Qing melepaskan kakinya.
“Aku juga benci wanita bernama Sun Yun itu.”
Wang Huan tertegun.
Kelihatannya memang benar-benar benci.
Buktinya dia tidak memanggil ‘ibu’, malah langsung sebut nama.
Begitu tahu kakak ini sama pikirannya, nyali Wang Huan sedikit bertambah. Dalam hati, mereka sama-sama punya musuh bersama.
Ia berkata, “Iya kan, aku juga merasa wanita itu jahat! Katanya dia cinta mati pada ayahku, padahal jelas-jelas matanya tertuju pada uang ayah! Kalau ayahku cuma orang miskin, brewok, perut buncit, kira-kira dia masih mau sama ayahku?”
Sebenarnya Qin Qing pernah berpikir, mungkin Sun Yun memang masih punya sedikit perasaan pada Wang Weiren.
Tentu saja, sekarang Wang Weiren punya uang dan sudah duda.
Karena uang itulah, Wang Weiren masih bisa merawat diri, kelihatan lebih muda dari usianya.
Itu mungkin alasan utamanya.
Keluarga Sun memang terkenal serakah dan mata duitan.
Lihat saja sikap Feng Fang dan yang lain pada Wang Weiren, begitu baik.
Bisa jadi, mereka semua berharap Sun Yun bisa rujuk dengan Wang Weiren.
Apakah itu karena sisa perasaan masa lalu, atau karena keluarga Sun memang mata duitan, yang jelas mereka semua rela mengorbankan Qin Guangyao tanpa ragu.
Tapi, menurut Qin Qing, itu justru bagus.
Sekarang si cengeng akhirnya bebas.
Qin Qing berkata, “Sun Yun sudah menikah dengan Wang Weiren, artinya sekarang dia ibumu.”
Sudut bibirnya terangkat, “Senang nggak?”
Wang Huan: “...”
Melihat wajah Wang Huan yang pucat pasi, Qin Qing berjongkok, lalu menepuk pipi bulatnya dengan buku di tangan.
Ia berkata, “Aku dan Sun Yun sudah tak ada hubungan apa-apa. Sekarang kamu yang harus cari gara-gara sama dia. Mengerti?”
Pipi Wang Huan memerah kena tepukan buku itu.
Ia juga merasa Qin Qing benar sekali!
Wang Huan mengangguk seperti ayam mematuk beras, “Iya, aku nggak akan mengakui dia sebagai ibu tiri, dan tak akan membiarkan dia hidup enak!”
Qin Qing akhirnya puas.
Walau bocah ini nakal, tapi tidak mustahil untuk diperbaiki.
Selesai mendidik, Qin Qing berniat kembali ke kelas melanjutkan pelajaran.
Tiba-tiba Wang Huan di belakangnya berkata lirih, “Sebenarnya, hari ini aku ke sini atas permintaan ayah.”
“Mencariku?”
“Iya, ayah bilang waktu itu mungkin membuatmu takut, jadi dia ingin mengajakmu makan malam bersama, supaya hubungan kalian membaik.”
Qin Qing sama sekali tidak berminat.
Ia berbalik dengan dingin, “Tidak tertarik.”
“Eh, tapi ayah sudah pesan restoran barat terbaik di Kota An malam ini, kamu nggak mau ikut? Masakannya enak banget, lho.”
Qin Qing berhenti melangkah.
Ia mengubah pikirannya.