Bab 83: Siapakah Sebenarnya Penguji Ujian Kedua Dewa yang Bersembunyi
Memang benar, belajar ilmu bela diri harus dimulai sejak kecil.
Namun…
Lu Yu berusaha membela diri, “Bukankah selalu ada pepatah, kerja keras bisa menutupi kekurangan?”
Qin Qing bahkan tidak menoleh, “Apa kau benar-benar rajin?”
Lu Yu yang nilai belajarnya payah langsung terdiam, toh kalau bukan karena prestasinya yang jelek dan hobinya yang tenggelam dalam balapan gim, kakeknya juga tidak akan memaksanya pindah ke Kota An demi menyelesaikan SMA.
Meski jalan untuk menekuni bela diri sepertinya memang sudah tertutup baginya, ada satu hal yang masih ingin Lu Yu perjuangkan demi harga dirinya.
Ia berkata, “Bro, ini bukan tua, ini namanya dewasa!”
Soal penampilan, Lu Yu tetap percaya diri. Tubuhnya tinggi, wajah rupawan, auranya cerah dan menawan. Surat cinta yang pernah ia terima sudah tak terhitung jumlahnya.
Namun Qin Qing tetap tidak menoleh, matanya masih terpaku pada layar ponsel, membaca pesan-pesan yang masuk.
Jadi, segala usaha Lu Yu untuk tampil keren pun berakhir sia-sia, hanya menyisakan kehampaan…
Sambil makan, Qin Qing terus memperhatikan informasi di forum yang sebelumnya ia temui saat menemukan tanda ‘Kehilangan Jejak Dewa’.
Sejak Qin Qing tiba di dunia ini, beserta kekuatan aneh yang ia bawa, ia sudah memikirkan sebuah kemungkinan.
Mungkinkah di dunia ini juga ada orang lain yang memiliki kekuatan seperti dirinya?
Qin Qing tidak suka bersikap pasif dalam menghadapi sesuatu. Ia tidak bisa hanya diam di sudut yang aman, menanti bahaya datang, lalu panik ketika segalanya sudah terlambat.
Itu bukan sifatnya.
Karena itu, ia memilih untuk menyelidiki sendiri, mengisi kuesioner itu dengan inisiatifnya sendiri.
Ia pun mengambil langkah pertama untuk mendekati organisasi Kehilangan Jejak Dewa di dunia ini.
Kenali diri dan lawan, barulah tak terkalahkan.
Dalam balasan yang ia terima dari mereka lewat surat elektronik, disebutkan akan ada ujian lanjutan.
Qin Qing berpikir, dari semua kejadian akhir-akhir ini, hanya dua orang yang bisa jadi terkait dengan Kehilangan Jejak Dewa.
Satu, penyamar yang ia temui di gang waktu itu.
Satunya lagi, perempuan tua yang pagi ini pura-pura terluka.
Yang menarik, Qin Qing menyadari bahwa keduanya sepertinya tidak berasal dari kelompok yang sama.
Apakah artinya di dunia ini ada dua organisasi pengguna kekuatan?
Lalu, siapa yang sebenarnya menguji dirinya untuk ujian lanjutan dari Kehilangan Jejak Dewa?
“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Lu Yu, yang merasa sebal karena usahanya pamer tidak dihiraukan, langsung mendekat.
Wajah mereka pun jadi sangat dekat.
Lu Yu tiba-tiba tertegun melihat wajah gadis itu begitu dekat di depannya; kulitnya halus tanpa pori, bulu matanya lentik, dan sorot mata yang indah berkilauan.
Ia menelan ludah, hendak menunjukkan reaksi lain, tapi di saat itu juga, kursinya tiba-tiba didorong keras!
Tadinya ia menahan tubuh dengan kedua tangan di meja, mendekat ke Qin Qing. Tapi karena lututnya terkena dorongan kursi, ia spontan terduduk kembali.
Dengan kesal, ia menoleh ke belakang, dan melihat seorang pemuda tampan di atas kursi roda.
Aura sombongnya seketika menguap.
“Tuan Rong?”
“Tidak sengaja, maaf,” jawab Rong Jin datar. Nada permintaan maafnya terdengar hambar, tapi Lu Yu hanya bisa menerima nasib.
Apa boleh buat, orang itu memang sulit bergerak, mungkin benar-benar tidak sengaja menabraknya.
Sambil menggaruk-garuk kepala, Lu Yu berkata, “Tidak masalah.”
Rong Jin sudah menggerakkan kursi rodanya ke sisi Qin Qing.
Di sisi lain, Chen Ran sudah melangkah ke jendela untuk mengambilkan makanan bagi tuannya, dengan ekspresi seperti bermimpi.
Ia sendiri heran, kenapa tuannya mau makan di kantin sekolah? Apa mungkin benar makan siang yang tadi dikirim tanpa sengaja terjatuh?
Rong Jin menatap Qin Qing dengan tenang. “Kelihatannya kau mendapat nilai bagus.”
Huh, jadi dia masih punya waktu bercanda dengan laki-laki lain di sini?
Alis Qin Qing terangkat. Bocah ini, kenapa wajahnya seperti penuh amarah? Bibirnya bahkan sudah mengatup menjadi garis tipis, warnanya yang semula pucat kini makin putih.
Qin Qing tetap tenang, melanjutkan makan dari nampannya.
“Tentu saja aku dapat nilai bagus.”
Cahaya di mata Rong Jin sedikit meredup, bulu matanya yang panjang menutupi sorot dingin di matanya. Suhu di sekitarnya pun terasa perlahan menurun.
Di sisi lain, Lu Yu tiba-tiba teringat sesuatu.
Ia bertanya, “Tuan Rong, kau benar-benar memutuskan jadi bos kami? Dengan kondisimu yang seperti itu…”