Bab 79: Ketika Raja Jatuh di Musim Dingin
Ketiga preman itu saling bertatapan, segera tampak kilatan kebengisan di mata mereka, lalu serempak menerjang maju.
"Aaah!"
"Ahhh!"
Beberapa jeritan pilu terdengar, dan jalanan gelap itu pun kembali sunyi seperti biasa.
Qin Qing memungut tas sekolahnya, menepuk-nepuk debu yang menempel, lalu dengan tenang memasang jam tangan mekaniknya.
Ia menginjak hancur ponsel yang digunakan untuk merekam tadi, lalu pergi dengan tenang.
Sementara ketiga orang itu, sudah babak belur dengan wajah bengkak dan berdarah, dibuang di samping tong sampah.
Keesokan paginya, petugas kebersihan yang datang membersihkan tong sampah, menemukan tiga orang di dalamnya.
Dengan cekatan, ia menghubungi polisi.
"Halo, saya menemukan tiga preman yang babak belur lagi, ya, alamatnya masih yang kemarin itu."
**
Qin Qing awalnya berniat menunggu ujian bulanan selesai, baru kemudian mengurus Wang Weiren.
Namun, keesokan harinya ia sudah mendengar kabar bahwa Wang Weiren bangkrut?
Wang Huan menangis tersedu-sedu, "Kak Qin, keluargaku bangkrut, mulai sekarang aku bukan orang kaya lagi, apa Kakak akan menolak punya adik seperti aku?"
Qin Qing menenangkannya, "Tidak, aku bahkan sudah malas menganggapmu dari dulu."
Tangisan Wang Huan pun semakin keras.
Qin Qing berpikir, mumpung ada kesempatan karena kebangkrutan ini, hasil penyelidikan yang selama ini ia kumpulkan, lebih baik langsung diserahkan ke polisi saja.
Selama bertahun-tahun, demi meraup keuntungan, Wang Weiren telah melakukan berbagai tindakan kotor.
Sorenya, ketika Wang Weiren tengah lelah dan stres karena masalah kebangkrutan, dua polisi pria datang ke rumah yang sudah disita.
Setelah menunjukkan identitas, polisi itu berkata dengan serius, "Kami menerima laporan dari masyarakat bahwa Anda terlibat dalam beberapa kasus penipuan ekonomi. Silakan ikut kami untuk membantu penyelidikan."
Wajah Wang Weiren pucat seketika, kakinya lemas, ia langsung terjatuh duduk di lantai.
Habis sudah dia!
Di saat yang sama, Sun Yun belum tahu apa-apa tentang kejadian itu.
Beberapa hari sebelumnya, karena Wang Weiren memukulnya dan tak kunjung meminta maaf, Sun Yun kesal dan langsung pulang ke rumah orang tuanya.
Ponselnya pun dimatikan.
Ia ngambek, tak mau menghubungi Wang Weiren.
Sun Yun duduk murung, mengadu pada ibunya, Feng Fang, "Bu, Ibu tidak tahu, Wang Weiren itu berani memukulku! Padahal kami baru menikah belum sebulan!"
Feng Fang menasihati dengan sungguh-sungguh, "Yun, Wang itu kan bos besar, wajar saja kalau kadang emosinya meledak. Lagi pula, dari ceritamu, waktu itu Qin Qing memang terlalu keterlaluan! Mungkin Wang cuma kesal pada Qin Qing, jadi pelampiasannya ke kamu. Bukan berarti dia benar-benar marah padamu."
Sun Yun pun mulai luluh oleh bujukan ibunya.
Feng Fang berkata, "Begini saja, Ibu ikut kamu kembali ke kota, nanti Ibu juga akan bicara baik-baik dengan Wang. Dalam rumah tangga, pasti ada saja cekcok kecil. Lagi pula, cuma satu tamparan saja, jangan terlalu dipikirkan."
Sun Yun dalam hati mendongkol: cuma satu tamparan katanya.
Dulu Qin Guangyao tidak pernah memukulnya!
Tunggu dulu.
Sun Yun secara refleks menyentuh pipinya, lalu teringat bahwa di malam perceraian, Qin Guangyao juga sempat menamparnya.
Tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya, Sun Yun bertanya, "Bu, warung makan sudah laku belum?"
Feng Fang tampak ragu saat menyinggung soal warung kecil itu.
Lalu ia menjawab, "Sekarang lagi sepi, kalau dijual pun tidak dapat banyak, pasti rugi. Lagi pula, kamu tahu kakakmu sekeluarga sedang tidak ada pekerjaan, jadi biarkan mereka saja yang kelola warung itu."
Sun Yun mengernyit.
Feng Fang langsung berkata dengan wajah tegas, "Kenapa, kamu tidak rela? Ingat, warung makan itu dulu Ibu yang pinjami lima ribu untuk modal awal! Lagi pula, Bin juga sampai sekarang masih jomblo gara-gara Qin Qing itu! Kalau dia tak punya pekerjaan, makin sulit dapat jodoh nanti!"
Begitu pembicaraan beralih ke Qin Qing, wajah Sun Yun pun langsung mengeras.