Bab 82: Terlalu Berlebihan dalam Berakting
Sudut bibir Qin Qing terangkat membentuk lengkungan dingin.
“Terakhir, akting Anda tadi terlalu berlebihan. Sekalipun benar-benar patah tulang, posisi tulangnya tidak mungkin membengkok ke arah yang tak wajar seperti itu. Jangan bilang nenek-nenek, bahkan anak muda, jika kakinya dibengkokkan seperti itu pasti tidak akan bisa tetap tenang.”
Nenek itu tertegun sejenak, lalu menundukkan kepala, menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Ia bertanya, “Kalau kamu sendiri? Kamu bisa tetap tenang?”
“Aku harus ikut ujian.”
Setelah berkata demikian, Qin Qing melirik arlojinya, berbalik, lalu melangkah menuju sekolah.
Begitu sosoknya benar-benar menghilang, ‘nenek’ yang duduk di tanah itu tiba-tiba tersenyum.
“Gadis kecil ini, cukup menarik,” gumamnya.
Bahkan terlalu tenang.
Baru saja suara itu lenyap, kaki yang tadinya melengkung aneh itu tiba-tiba berbunyi ‘krek’ dan kembali seperti semula.
‘Nenek’ yang tadi tampak sekarat, dengan cekatan melompat bangkit dari tanah.
Ia menepuk-nepuk debu di bajunya.
Kemudian melepaskan wig putih dan pakaian bermotif bunga beserta perlengkapan penyamar lainnya, lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat.
Ia berbalik.
Terlihatlah wajah muda yang sulit ditebak, laki-laki atau perempuan...
**
Qin Qing tahu, orang barusan bukan orang sembarangan.
Tapi ia berbeda dengan penyamar yang ditemuinya tempo hari.
Mungkin juga ada hubungannya dengan Kelompok Gaib.
Namun yang terpenting bagi Qin Qing sekarang adalah, ujian tak boleh terlambat.
Ia masih menunggu pemuda tampan itu memanggilnya kakak.
Kalau lewat pintu utama sudah tak sempat, ia langsung menuju tembok belakang sekolah dengan lincah dan melompatinya dengan mudah.
***
Pada saat bersamaan, seseorang dari dalam justru memanjat keluar.
Mereka hampir saja bertabrakan!
Di udara, tubuh Qin Qing langsung miring, lalu tanpa terlihat jelas, ia menghindari orang yang sudah membatu itu.
Qin Qing mendarat mulus di dalam pekarangan sekolah.
Ia pun melangkah cepat menuju gedung kelas.
Kejadian itu berlangsung hanya sekejap saja.
Lu Yu, yang hampir jatuh, buru-buru berpegangan pada tembok.
Jantungnya berdebar tak karuan.
Sampai bayangan Qin Qing menghilang, ia masih belum sadar sepenuhnya.
Astaga!
Dia baru saja dibuat terpukau oleh adik Qin kecil!
Jantungnya hampir kram karena deg-degan!
Beberapa hari lalu Lu Yu sempat pulang ke Ibu Kota karena kakeknya sakit.
Baru hari ini ia kembali dan langsung menghadapi ujian bulanan. Dengan sifatnya yang tak bisa diam, mana betah duduk diam?
Mending main game saja!
Jadi ia sudah biasa melompat tembok untuk kabur dari ujian.
Lalu terjadilah peristiwa tadi.
Lu Yu duduk di atas tembok, menahan dadanya yang berdebar keras, lalu dengan tekad bulat, ia melompat turun kembali.
Ia harus mencari adik Qin kecil!
**
Qin Qing masuk ke kelas tepat saat bel berbunyi.
Saat ia duduk, seolah membawa serta hembusan angin yang samar.
Rong Jin mengangkat kepala menatap ke arahnya. Melihat Qin Qing tetap tenang seperti biasa dan tampak tak terluka, barulah ia mengalihkan pandangan lagi.
Begitu soal ujian dibagikan, semua orang langsung fokus dan mulai mengerjakan soal.
Tak terasa, pagi pun berlalu begitu saja.
Saat makan siang, sekelompok murid kelas tiga sambil makan, sambil membahas soal ujian.
Qin Qing sendiri tidak membahas soal.
Karena memang tidak perlu.
Sambil makan, ia membuka-buka pesan di ponselnya.
Alis indahnya sedikit terangkat.
Jelas ia sedang memikirkan sesuatu.
Saat itulah, Lu Yu datang membawa nampan makanan, dengan santai duduk di hadapan Qin Qing.
Qin Qing menengadah, melihat siapa yang datang, karena sudah cukup akrab, ia hanya mengangguk.
Itu sudah dianggap menyapa.
Tapi Lu Yu jelas tak puas dengan cara menyapa itu.
Ia menengok ke kiri dan kanan, matanya berbinar.
Ia berkata, “Qin Qing, trikmu tadi pagi, bisa tidak kau ajarkan padaku?”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Kamu sudah terlalu tua.”
Lu Yu: “……”