Bab 113

Catatan Asal Usul Dukun Ziyu 1149kata 2026-03-31 21:23:08

Yan Lie mengangguk ke arah Song Yi. Tidak muncul bukan berarti tidak ada. Lagi pula, pintu masuk ruang dimensi hanya ada satu, mustahil pintu masuk berikutnya masih berupa ruang kegelapan, bukan? Jadi, kebenaran dari ucapan Feng Jiyuan tidak terlalu menjadi masalah.

Melihat kapten yang paling kuat sudah bersiap untuk pindah ke tempat lain, anggota kelompok lainnya pun segera bersiap untuk mengikuti Yan Lie meninggalkan tempat itu.

Song Yi mengerutkan kening melihat hal tersebut. Setelah mendengus dingin, ia pun akhirnya mengikuti langkah Yan Lie.

Namun, orang-orang yang bertekad untuk pergi itu tidak menyadari sisa senyum tipis di sudut bibir Feng Jiyuan.

"Apa yang terjadi?! Kenapa kita tidak bisa keluar?" Shen Cheng merasa bingung melihat orang-orang sudah pergi cukup jauh, sementara Feng Jiyuan masih berdiri di tempatnya. Saat ia hendak bertanya, ia mendengar suara dari kelompok di depan sana. (Bukan karena Shen Cheng tidak ingin mengikuti, tetapi kelompok mereka saat ini jelas terbagi menjadi dua kubu: satu kubu yang dipimpin Yan Lie dengan jumlah anggota lebih banyak, dan satu lagi adalah Feng Jiyuan serta rekan-rekannya yang dianggap 'tidak berguna'.)

"Kapten, jalan di belakang sepertinya juga telah tertutup." Suara-suara dari kejauhan terus terdengar.

"Kapten, aku juga berputar kembali ke tempat semula," sahut suara lainnya.

Ternyata, saat Yan Lie mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ia memerintahkan orang-orang untuk berpencar ke berbagai arah. Namun, hasilnya selalu sama: entah terhalang oleh dinding tak kasatmata, atau berakhir kembali ke titik awal seperti sebelumnya.

"Eh, mengapa mereka tidak mengikuti kita?" Akhirnya, seseorang menyadari bahwa Feng Jiyuan dan dua rekannya tidak ikut bersama mereka.

"Apa sebenarnya yang terjadi?!" Yan Lie berjalan menghampiri Feng Jiyuan dengan raut wajah yang sangat masam.

Leng Xi segera maju untuk menghadapi Yan Lie, namun Feng Jiyuan menariknya agar mundur kembali.

"Sudah kukatakan sebelumnya, aku bisa membuka penghalang ini, tetapi setelah terbuka, itu adalah pintu masuk menuju ruang kegelapan. Apakah kalian yakin ingin masuk?" ujar Feng Jiyuan dengan tenang. "Jika kalian tidak ingin memasuki ruang kegelapan, maka tidak perlu membuka penghalang ini. Cukup tunggu di tempat sampai penghalang ini berpindah dengan sendirinya, maka kalian bisa pergi."

"Maksudmu, pilihannya hanya dua: buka dan masuk, atau jangan buka dan tetap tinggal?" Yan Lie akhirnya memahami maksudnya.

"Ya," jawab Feng Jiyuan sambil mengangguk.

Yan Lie mengerutkan kening dan terdiam sejenak untuk berpikir. Semua orang datang ke tempat rahasia ini demi mencari harta karun dan meningkatkan kemampuan diri. Meskipun itu adalah ruang kegelapan, selama berhati-hati, itu jauh lebih baik daripada terus menunggu di sini tanpa hasil.

Sementara itu, Song Yi yang berdiri di belakang Yan Lie menatap Feng Jiyuan dengan tatapan mengejek. Ia merasa Feng Jiyuan hanya sedang bersandiwara agar mendapatkan perhatian dari anggota kelompok.

"Bukalah," ucap Yan Lie kepada Feng Jiyuan setelah berpikir panjang. Mereka tidak mungkin pulang dengan tangan hampa.

Feng Jiyuan tidak terlihat terkejut mendengar keputusan itu. Ia mengangguk pelan, lalu berjalan lurus menuju jasad yang sebelumnya 'dilarang' untuk ia sentuh. Ia berbalik dan bertanya kepada orang-orang, "Sekarang, aku akan menyentuh jasad ini, apakah ada yang keberatan?"

Semua orang terperanjat. Jika mereka tidak bisa memahami petunjuk sejelas itu, maka sia-sialah reputasi mereka sebagai murid pelataran dalam. Ternyata, jasad inilah kunci untuk membuka penghalang tersebut!

Pantas saja, pantas saja mereka sudah lama mencari namun tidak menemukan apa pun. Ternyata semuanya tersembunyi pada kerangka yang sebelumnya tidak berani mereka sentuh.

Hati mereka tiba-tiba bergetar. Itu berarti, sejak awal saat Feng Jiyuan hendak menyentuh jasad itu, ia sudah mengetahui bahwa kunci dari penghalang tersebut adalah kerangka itu sendiri?

Feng Jiyuan tidak memedulikan pikiran orang-orang di belakangnya. Setelah melontarkan kalimat itu, ia memusatkan perhatian sepenuhnya pada kerangka tersebut.