Bab Empat Puluh Tujuh
“Guru terlalu memuji,” ujar Feng Mo sambil menundukkan kepala.
“Tak perlu merendah. Saat memilih murid, tentu yang kulihat adalah hati mereka. Kau ini sangat tepat,” kata Guru Lin. “Namun, yang lebih membuatku gembira adalah kau bisa membuat Medusa itu benar-benar tunduk padamu.”
“Eh... itu...” Feng Mo sempat tertegun. Ia ingin mengungkapkan kebenaran yang terjadi di dalam formasi Medusa, namun mengingat hal itu berkaitan dengan asal-usul Feng Ji, ia pun ragu untuk bicara.
“Bagaimana kau bisa menaklukkannya, aku tidak bermaksud memaksamu untuk menceritakannya,” ujar Guru Lin sambil mengangkat tangan, menghentikan Feng Mo yang tampak hendak bicara.
Mendengar itu, Feng Mo merasa lega. Untung saja.
“Shuang Er, bawa adik baru ini keluar. Jelaskan padanya aturan yang berlaku di lingkungan asrama ini,” perintah Guru Lin kepada gadis muda di sampingnya.
“Baik, Guru.” Qi Shuang adalah murid yang paling disukai dan diandalkan oleh Guru Lin. Ia satu-satunya murid perempuan di antara semua murid Guru Lin. Hari ini ia berada di sini karena baru saja kembali dari tugas di luar, dan mendengar guru menerima murid baru, ia pun datang karena penasaran.
Sesuai namanya, wajah Qi Shuang terlihat sejuk bak embun beku, namun ia bukan tipe orang yang dingin. Ia ramah dan berperangai baik. Di antara para murid asrama tengah, kemampuannya tergolong menengah ke atas. Ditambah wajah cantik dan tubuh indah, banyak yang mengaguminya. Saat menjalankan tugas, ia juga menjadi rekan pilihan murid dari berbagai guru.
Sayangnya, meskipun banyak yang menyukainya, Qi Shuang lebih senang bertindak sendiri. Tugas yang diambilnya pun biasanya bisa diselesaikan sendiri. Baginya, poin yang didapat lebih banyak dan lebih cepat bila dikerjakan sendiri.
“Ayo, ikut aku,” ujar Qi Shuang ramah kepada Feng Mo.
“Terima kasih, Kakak Senior.” Feng Mo memberi hormat pada Guru Lin, lalu juga pada Qi Shuang.
Qi Shuang mengangguk, lalu melangkah keluar dari ruangan Guru Lin.
Melihat dua muridnya yang sudah pergi, Guru Lin termenung. Hanya tinggal sebulan lagi sebelum pendaftaran ujian menantang asrama dalam. Entah apakah Feng Mo akan mendaftar. Namun ia menggeleng pelan; baru datang, dalam sebulan mungkin belum bisa mengumpulkan cukup poin...
“Adik Feng Mo, di asrama Lin ini ada sepuluh kamar yang ditempati,” di tengah perjalanan, Qi Shuang dengan sabar menjelaskan. “Beberapa kakak dan adik lain masih menjalankan tugas di luar, nanti kalau mereka pulang akan kuperkenalkan satu per satu. Kamar ketiga adalah milikku. Kalau butuh sesuatu, langsung saja temui aku. Aku lebih sering berada di asrama daripada yang lain.” Qi Shuang menunjuk pintu kamar ketiga, sambil memperhatikan sikap Feng Mo yang selalu sopan, membuatnya sedikit penasaran. Misalnya, mengapa ia tidak bisa merasakan kekuatan adik barunya ini?
Feng Mo berterima kasih dengan memberi hormat lagi.
Qi Shuang hanya mengangguk, tak mau terlalu memikirkan. Toh, orangnya sudah di sini, cepat atau lambat akan terlihat juga kemampuannya.
Ketika mereka sampai di depan kamar kesebelas, Qi Shuang berhenti. “Mulai sekarang, kau tinggal di sini.”
“Terima kasih, Kakak Senior,” ujar Feng Mo lagi sambil memberi hormat.
Qi Shuang mengangguk. “Kamar ini belum pernah ditempati. Kau harus membersihkannya dulu. Hari ini, kau bisa bereskan kamar. Besok, aku akan mengajakmu ke tempat lain di asrama tengah, misalnya ke aula tugas.”
“Baik,” jawab Feng Mo. Lalu, seolah teringat sesuatu, ia bertanya, “Di asrama tengah juga ada perpustakaan, bukan?”
Qi Shuang agak terkejut, lalu mengangguk. “Namun, untuk meningkatkan kemampuan, latihan nyata lebih utama. Jadi, tak banyak yang ke perpustakaan. Tapi kalau kau tertarik, besok sekalian akan kubawa ke sana.”
“Terima kasih, Kakak Senior.” Feng Mo tersenyum.
“Hari ini cukup sampai di sini. Aku kembali ke kamarku. Kalau ada keperluan, langsung saja cari aku,” tambah Qi Shuang.
Feng Mo mengiyakan.
Melihat itu, Qi Shuang pun berbalik menuju kamarnya. Sebelum masuk, ia sempat menoleh, melihat Feng Mo berdiri di depan pintu kamarnya yang baru, lalu masuk dan menutup pintu.
Feng Mo menatap lapisan debu tebal di dalam kamar, alisnya sedikit mengernyit. Ia menggulung lengan bajunya dan segera mulai membersihkan kamar tersebut.