Bab Dua Puluh Empat: Menyembuhkan Kepala Keluarga Lei
“Yang mulia Nyonya Penyihir, mohon percaya pada Ziyu, Ziyu pasti tidak akan mengecewakan Anda,” kata Ziyu sambil sekali lagi berlutut khidmat di hadapan Feng Jiyuan.
“Sudah, kau tak perlu terus-menerus berlutut di depanku. Kalau kau memang bisa menghapus kutukan ini, besok ikutlah aku ke Keluarga Lei untuk menghilangkan kutukan yang menimpa kepala keluarga mereka,” ujar Feng Jiyuan dengan alis berkerut saat melihat Ziyu. Namun seolah ia teringat sesuatu, lalu kembali berkata, “Dan, aku ini bukan siapa-siapa, jangan panggil aku Nyonya Penyihir lagi. Cukup panggil namaku saja, aku Feng Jiyuan.”
“Baik, Nyo... Feng Jiyuan,” Ziyu segera membetulkan ucapannya.
Ekspresi Feng Jiyuan tampak sedikit terganggu mendengarnya, namun ia memilih untuk membiarkannya saja...
“Aneh, di antara para penyihir tingkat tinggi, tak ada yang bermarga Feng…” Ziyu tiba-tiba berkata lagi.
Alis Feng Jiyuan kembali berkerut. Tatapannya saat itu tepat tertuju pada sebuah uraian di dalam buku mengenai pemanggilan roh melalui pentagram. Matanya berbinar, jari-jarinya perlahan menyusuri kata demi kata, dan sebuah ide terlintas dalam benaknya.
“Feng... Ji... Jangan-jangan kau...” Tubuh Ziyu tiba-tiba lenyap dari kamar Feng Jiyuan.
Akhirnya, suasana di sekitar Feng Jiyuan kembali sunyi. Ia menghela napas pelan, akhirnya...
Hari pertama perlombaan segera berakhir, dan Feng Mo langsung kembali ke halaman dalam. Hal pertama yang ia lakukan adalah melihat keadaan Feng Jiyuan. Pada dasarnya, ia memang selalu khawatir pada saudari perempuannya, tetapi karena perlombaan kali ini dipimpin oleh gurunya sendiri, sebagai satu-satunya murid, ia tak bisa mangkir begitu saja.
“Yuan’er!” Begitu melangkah masuk ke halaman, Feng Mo langsung memanggil.
Feng Jiyuan, yang akhirnya telah menemukan cara untuk menghapus kutukan kepala keluarga Lei, merasa lega dan beban hatinya terangkat. Rasa lelah yang menumpuk selama beberapa hari terakhir pun datang menyerang, membuatnya tertidur pulas di atas ranjang.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Feng Mo mempercepat langkah dan masuk ke kamar adiknya.
Melihat Feng Jiyuan tertidur lelap di atas ranjang, Feng Mo sempat terkejut dan buru-buru menyentuh dahi adiknya.
Mendapati suhu tubuhnya normal dan tak tampak raut kesakitan di wajah Feng Jiyuan, barulah Feng Mo merasa lega.
Walaupun tak tahu apa yang dikerjakan adiknya, ia tahu belakangan ini Feng Jiyuan memang sering menguap dan tampak kelelahan. Maka, ia pun membiarkan adiknya tidur nyenyak...
Menjelang makan malam, barulah Feng Mo kembali ke kamar untuk membangunkan Feng Jiyuan. Begitu terbangun dan melihat kakaknya, Feng Jiyuan pun langsung menceritakan bahwa ia telah menemukan cara untuk menghapus kutukan kepala keluarga Lei.
Feng Mo baru menyadari, ternyata itulah penyebab adiknya terlihat kurang bersemangat beberapa hari ini. Ia merasa iba, sekaligus bangga karena adiknya telah tumbuh semakin dewasa.
Keesokan harinya, Feng Mo membawa Feng Jiyuan ke rumah keluarga Lei. Namun, kali ini Nyonya Lei tidak lagi bersikap ramah seperti sebelumnya. Sejak Ye Qing dan yang lain pergi hari itu, Nyonya Lei mengetahui dari Lei Han bahwa mereka adalah anggota keluarga Feng.
Di dalam hati Nyonya Lei, bila bukan karena kepala keluarga Lei mengunjungi keluarga Feng, semua ini takkan terjadi. Karena itu, ia sangat membenci keluarga Feng. Kali ini, Feng Mo dan adiknya datang sendiri, dan wajah Nyonya Lei pun makin dingin.
“Feng Mo, sebaiknya kau pulang saja. Keluarga kami… tidak menerima kedatangan orang Feng,” kata Lei Han sambil berusaha menenangkan ibunya, namun juga berbicara pada Feng Mo dengan nada lemah.
“Saudara Lei…” Feng Mo memahami situasi itu, dan segera maju untuk memberi penjelasan.
“Kami tidak menerima kalian! Pergilah dari sini!” Nyonya Lei, yang semula masih ditenangkan oleh Lei Han, langsung naik pitam begitu melihat anaknya mengusir tamu, sementara keluarga Feng masih ingin bicara. Ia pun langsung membentak.
“Nyonya Lei, kami datang hari ini…” Feng Mo mengerutkan kening. Ia tahu asal mula masalah ini, jadi ia tak mempermasalahkan sikap Nyonya Lei, lalu kembali bicara.
“Apa pun maksud kedatangan kalian, keluarga kami tidak akan pernah menyetujuinya!” teriak Nyonya Lei dengan suara lantang.
“Nyonya Lei…” Feng Mo hendak bicara lebih lanjut, namun Lei Han segera memotong, “Feng Mo, sebaiknya kalian pulang saja. Sudah sejak lama kedua keluarga ini tidak akur, tak perlu memaksakan diri seperti ini.”
“Kakak, kalau mereka memang tidak ingin menyelamatkan kepala keluarga Lei, mari kita pergi saja,” kata Feng Jiyuan yang merasa sangat tidak senang melihat perlakuan keluarga Lei pada kakaknya, lantas menarik tangan Feng Mo.
Sejenak suasana di dalam rumah kepala keluarga Lei menjadi hening.
Lei Han menatap Feng Jiyuan tajam-tajam sambil menahan ibunya, sementara Feng Mo menggelengkan kepala ke arah adiknya dan menatap ibu dan anak itu, akhirnya mereka pun sedikit melunak.
“Apa maksudmu? Kalian... kalian ini...” Lei Han dan Nyonya Lei saling berpandangan. Karena merasa baru saja bersikap kurang sopan, Nyonya Lei menarik lengan Lei Han untuk memastikan.
“Benar, kami datang untuk mengobati kepala keluarga Lei,” akhirnya Feng Mo bisa menjelaskan tujuannya.
“Kau sungguh-sungguh?” Nyonya Lei masih ragu. Begitu banyak tabib tak mampu mengobati, mengapa mereka bisa? Jangan-jangan kepala keluarga Lei memang... Terdorong oleh prasangka itu, Nyonya Lei kembali menatap Feng Mo dan adiknya dengan penuh kebencian.
“Nyonya Lei, jangan salah paham. Cara mengobati kepala keluarga Lei ditemukan adik saya dalam sebuah buku kuno,” Feng Mo segera menjelaskan ketika melihat raut wajah Nyonya Lei. Sebenarnya ia tak ingin membicarakan soal adiknya, tapi ia pikir keluarga Lei belum tentu bisa memahami isi buku itu, jadi ia pun berani mencoba. “Soal mengapa kami ingin menolong kepala keluarga Lei, kalian pasti lebih tahu alasannya. Kami keluarga Feng selalu bertindak terang-terangan, kami tak mau menanggung dosa yang bukan-bukan. Memang beberapa tahun belakangan ini kalian selalu menekan keluarga kami, tapi kami berbeda dengan kalian.” Semakin lama, nada bicara Feng Mo terdengar semakin tegas dan dingin.
Feng Mo tahu, sikap lembut yang berlebihan hanya akan membuat ibu dan anak itu semakin curiga. Maka, kadang ia pun harus bicara dengan tegas dan dingin.
“Feng Mo, bukannya kami tak percaya padamu, tapi…” Lei Han tampak ragu, ia memang berat hati bermusuhan dengan Feng Mo. “Tapi, bisakah kami melihat buku kuno itu?”
Feng Mo menatap Feng Jiyuan dengan dahi berkerut, akhirnya perkara ini sampai juga ke tahap itu.
“Tenang saja, Saudara Feng Mo, aku hanya ingin memastikan,” nada bicara Lei Han kini telah berubah.
“Bukan aku tak ingin memperlihatkan, hanya saja kalian mungkin tak akan bisa membacanya,” jawab Feng Mo lalu menoleh ke arah Feng Jiyuan, yang dengan enggan menyerahkan bukunya.
“Buku ini didapat ayah kami saat bepergian ke luar, dan setelah Yuan’er belajar membaca, buku ini dihadiahkan padanya. Sejak kecil Yuan’er sudah tekun mempelajari tulisan-tulisan ini, jadi ia bisa memahaminya,” jelas Feng Mo sambil menyerahkan buku itu kepada Lei Han.
Lei Han dan ibunya segera membuka dan memeriksanya. Melihat halaman demi halaman penuh tulisan asing, mereka baru paham mengapa sebelumnya Feng Mo tampak sungkan.
Lei Han membolak-balik buku itu cukup lama, memastikan tinta tulisan di dalamnya setidaknya telah berusia ratusan tahun, lalu akhirnya menutup buku itu.
“Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan ayahku?”