Bab Delapan Puluh Empat
Saat pertama kali mendengar kabar bahwa seorang tabib dari dalam akademi bersama dua rohaniwan dari lingkup tengah membawa dua murid dari luar akademi menyelesaikan tugas dengan hadiah kenaikan pangkat itu, ia pun merasa heran. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja masuk ke Akademi Tianhan bisa mengenal orang-orang dari dalam dan tengah akademi?
Namun, setelah mendengar lebih lanjut bahwa selain satu rohaniwan terkenal dari tengah akademi yang sudah lama masuk, sisanya baru saja bergabung sekitar sebulan, ia kembali mencurigai Feng Mo. Ia merasa kecurigaannya beralasan! Kekuatan Feng Mo jelas bukan seperti yang tampak di permukaan, apalagi dia adalah tabib dari dalam akademi...
Dengan membawa keraguan itu, ia pun mencari tahu keberadaan dua orang yang masih di luar akademi. Setelah berulang kali bertanya, akhirnya ia menemukan tempat tinggal keduanya dan baru hari ini bisa datang ke sini.
Tak disangka, sebelum sempat bertemu mereka, ia malah mendapati sekelompok orang yang sedang membuat keributan. Ia bukanlah tipe yang suka ikut campur urusan orang lain, apalagi kini tanpa perlindungan keluarga, wajar jika ia tak mau mencari masalah.
Namun, saat ia hendak pergi, ia mendengar suara yang cukup dikenalnya. Hal itu membuatnya memutuskan untuk mendekat dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi...
"Kakak, kau tak apa-apa?" Orang-orang mengelilingi pemimpin mereka, menanyakan keadaannya.
Pemimpin itu, yang kini sudah pulih karena Ye Li tak lagi menggunakan kekuatan rohaninya, mengangkat tangan memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Ia lalu berdiri dan menatap lurus lelaki yang membantu Qin Yue memapah Lei Han yang pingsan.
"Siapa sebenarnya kau? Kau tahu siapa yang telah mereka buat marah?" Pemimpin itu berkata tegas dengan dahi berkerut.
Ye Li, yang sedang menopang tubuh Lei Han, menoleh ke arah mereka dan berkata, "Justru kalimat itu yang harus kukatakan pada kalian!"
Pemimpin itu makin mengerutkan kening. Jelas lelaki di depannya ini benar-benar berniat ikut campur!
"Hati-hati, saudara-saudara! Anak itu licik, kita serbu bersama-sama!" teriaknya pada kawan-kawannya. Mereka pun langsung bersiap, suasana tegang, siap meledak kapan saja.
"Sepertinya kalian benar-benar keras kepala," ujar Ye Li seraya tersenyum tipis. Sebenarnya ia tak pernah menganggap mereka penting. Kalau bukan karena tak ingin mencolok, ia pun tak perlu menahan kekuatannya.
"Kau masih sanggup bertahan?" Ye Li perlahan merebahkan Lei Han ke tanah dan bertanya pada Qin Yue. Tadi, Qin Yue menggunakan kekuatan rohaninya tanpa menahan diri, seolah hendak menguras seluruh tenaga untuk menyerang lawan. Ini sangat berbahaya, kekuatannya sudah kacau, dan akan sulit pulih jika dibiarkan. Mereka harus segera mencari tabib untuk menyeimbangkan kekuatannya.
Qin Yue mengangguk, lalu berjaga-jaga menatap kelompok lawan, menarik napas dan kembali bersiap mengumpulkan kekuatan rohaninya.
Ye Li maju selangkah, menahan gerakan Qin Yue. "Untuk orang-orang seperti mereka, biar aku saja," katanya.
Qin Yue tertegun sejenak, lalu membatalkan niatnya dan diam berdiri di belakang Ye Li, menjaga Lei Han yang terbaring di tanah.
Melihat itu, pemimpin lawan makin waspada. Saling bertukar pandang dengan rekan-rekannya, ia langsung menyerbu Ye Li, berusaha mendahului sebelum Ye Li sempat menggunakan kekuatannya.
Terdengar suara keras, dan mereka semua justru terluka oleh senjata mereka sendiri.
Begitu berat! Hanya itu yang terlintas di benak mereka.
"Tampaknya kekuatan rohaninya bukan dari tipe Ninghuan. Dia pasti pemilik kekuatan khusus," ujar pemimpin itu setelah merasakan hal aneh tersebut. Ia segera memperingatkan, "Dia pasti membuat benda-benda Ninghuan kita lepas kendali. Jangan pakai kekuatan roh, serang saja secara langsung!"