Bab Dua Puluh Satu: Mencari Tabib
Ye Qing merasa urusannya di kediaman keluarga Feng sudah selesai dan kini bisa kembali pulang. Kebetulan anak muda dari keluarga Lei datang mencarinya, jadi ia pun sekalian berpamitan kepada kepala keluarga Feng. Rombongan mereka pun diantar keluar rumah oleh kepala keluarga Feng.
Namun, Feng Mo tidak ikut bersama. Setelah tiga tahun berpisah dari Feng Jiyuan, wajar saja ia memilih tinggal di kediaman keluarga Feng untuk berbincang dengan adik perempuannya.
Rumah utama keluarga Lei.
"Apa… ini?" Ye Qing terpaku dengan pemandangan di depannya. Di atas ranjang terbaring seorang lelaki tua kurus kering, yang begitu melihat kedatangan Ye Qing langsung tampak sangat bersemangat.
"Tuan Ye, inilah ayahku," jawab Lei Han. Kali ini ia akhirnya terpilih masuk Akademi Tianhan, dan ia sangat gembira. Setelah memilih kamar di kediaman wali kota, ia segera pulang ke rumah keluarga Lei, ingin menyampaikan kabar ini kepada ayahnya. Namun, siapa sangka yang ditemuinya adalah pemandangan seperti ini.
Ayahnya adalah kepala keluarga, namun di halaman hanya ada beberapa pelayan yang tampak enggan bekerja dan malah berkumpul mengobrol, sedangkan yang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah justru ibunya sendiri.
Ibunya yang dulu begitu muda dan cantik, kini... semuanya berubah karena penyakit aneh ini! Ia sangat membenci penyakit itu, karena gara-gara sakit tersebut orang-orang tak tahu diri begitu berani terhadap kedua orang tuanya. Setelah mengetahui semuanya, ia pun segera pergi ke rumah keluarga Feng untuk mencari Ye Qing dan berharap sang guru bisa membantunya.
Ye Qing memandangi situasi itu dengan rasa iba. Ia bukan tabib, masalah seperti ini pun ia tak punya jalan keluar.
Melihat wajah Lei Han yang tampak kecewa, Ye Qing akhirnya bertanya, "Sebelum kepala keluarga Lei tertular penyakit ini, beliau sempat pergi ke mana?"
Lei Han tampak ragu, sulit untuk berkata jujur. Ayahnya terkena penyakit setelah pergi ke kediaman keluarga Feng untuk memaksa mereka melepas tiga jatah masuk Akademi Tianhan. Apalagi putra keluarga Feng itu adalah murid Ye Qing sendiri.
"Sebelum ayahku jatuh sakit, beliau sempat ke rumah keluarga Feng," kata Lei Han akhirnya.
Alis Ye Qing sedikit terangkat. Ada kaitan dengan keluarga Feng? Tapi kalau keluarga Feng punya kemampuan seperti itu, mana mungkin bertahun-tahun ditekan oleh keluarga Lei?
Tunggu dulu! Ye Qing teringat seseorang. Jika wakil kepala akademi sendiri sampai meminta ia menjemput gadis itu sebagai tabib di Akademi Tianhan, berarti kemampuan sang gadis memang luar biasa. Jangan-jangan peristiwa ini terkait dengannya?
Ye Qing menahan rasa penasarannya dan kembali bertanya lebih rinci tentang kondisi kepala keluarga Lei, lalu bersama Qin You kembali ke kediaman wali kota.
Sementara itu, di rumah keluarga Feng, Feng Jiyuan dan Feng Mo berbincang panjang lebar tentang apa saja yang dilakukan dan dipelajari selama tiga tahun terakhir. Feng Mo pun menceritakan segala hal yang ia alami di cabang Akademi Tianhan. Mereka berbincang hingga larut malam, sampai akhirnya keduanya kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.
Malam itu, ketika Feng Jiyuan terlelap dalam tidur nyenyak, ia kembali memasuki dunia aneh yang pernah ia datangi sebelumnya.
Kali ini, buku itu tiba-tiba memancarkan cahaya terang yang lambat laun membentuk sosok manusia. Meski wujudnya tak jelas, Feng Jiyuan langsung mengenali bahwa itu adalah wanita yang selalu mengajarinya.
Wanita itu membuka mulutnya dan berbicara panjang lebar, sementara Feng Jiyuan hanya mendengarkan. Setelah sosok wanita itu menghilang, barulah Feng Jiyuan benar-benar tertidur pulas.
Di kamar lain, Feng Mo juga tidur pulas. Namun, meski tubuhnya tertidur, jiwanya seolah masuk ke suatu ruang kosong, terus-menerus memahami ilmu yang didapat dari buku di cabang Akademi Tianhan.
Inilah manfaat ketiga dari sihir penyembuhan tingkat tinggi yang dikuasai Ji He, yaitu latihan jiwa yang terpisah dari raga.
Karena inilah, selama tiga tahun terakhir, kemajuan Feng Mo begitu pesat. Dengan semangat yang cukup untuk memahami ilmu dan latihan tanpa mengorbankan waktu istirahat, sulit baginya untuk tidak berkembang cepat.
Keesokan harinya, begitu bangun, Feng Jiyuan secara naluriah membuka bukunya dan terkejut ketika menemukan halaman kedua akhirnya berubah, menampilkan tulisan berbeda.
Ia segera duduk dan membacanya dengan saksama. Di halaman kedua tertulis "Mantra Sihir". Feng Jiyuan bertanya-tanya, apa maksudnya?
Di halaman pertama tertulis tentang pentagram, sedangkan di halaman kedua tentang mantra sihir. Apakah ada hubungannya? Feng Jiyuan terus membaca, makin lama makin larut dalam isinya. Tulisan itu sama persis dengan yang dikatakan wanita dalam mimpinya malam tadi...
"Yuan'er, kamu sudah bangun?" Setelah mandi dan menyiapkan sarapan, Feng Mo menemukan adiknya belum keluar kamar, jadi ia berdiri di depan pintu kamar Feng Jiyuan dan memanggil.
"Kak, aku belum," sahut Feng Jiyuan, segera tersadar, lalu menutup buku itu dan mulai bersiap-siap. Halaman kedua itu ternyata jauh lebih mudah dibaca, tidak seperti halaman pertama yang membutuhkan waktu tiga tahun penuh untuk bisa dibaca tuntas.
Tak heran tadi ia sempat terlalu larut hingga lupa waktu.
Setelah selesai bersiap, Feng Jiyuan menenteng bukunya keluar kamar. Sisanya akan ia baca lagi nanti malam. Ia merasa hatinya begitu riang.
"Ada apa? Hari ini kelihatan senang sekali?" tanya Feng Mo sambil menyiapkan sarapan untuk adiknya.
"Hehe," jawab Feng Jiyuan sambil tertawa dan mulai makan.
"Pelan-pelanlah!" tegur Feng Mo sedikit kesal.
Feng Jiyuan tertegun, baru sadar mulai hari ini ia tidak perlu lagi pergi ke balai obat, karena ia telah resmi diterima sebagai murid tabib di Akademi Tianhan. Tak perlu lagi makan terburu-buru.
"Nanti setelah makan, kita ke kota membeli keperluanmu. Beberapa hari lagi kita berangkat bersama ke Akademi Tianhan," kata Feng Mo sambil sarapan.
Tentu saja, Feng Jiyuan sangat setuju.
Maka, hari kedua setelah reuni, kakak beradik itu pun pergi ke kota.
"Eh, sudah dengar belum? Putra sulung keluarga Lei sudah kembali!"
"Iya, aku juga dengar. Begitu pulang, langsung memanggil semua tabib di Kota Shanyang." (Memang kebanyakan tabib direkrut keluarga besar, tapi ada juga yang memilih bebas, membuka praktik sendiri di kota kecil untuk mencari nafkah.)
"Kira-kira dia mau apa, ya?"
"Siapa yang tahu? Ayo, kita lihat saja!"
Feng Mo dan Feng Jiyuan saling berpandangan. Feng Mo ingat, putra sulung keluarga Lei yang dimaksud pasti Lei Han, yang tadi malam datang ke kediaman keluarga Feng mencari gurunya.
"Keluarga Lei? Kak, bukankah itu rumah orang yang kita temui waktu baru balik ke rumah keluarga Feng kemarin?" tanya Feng Jiyuan.
"Ya," angguk Feng Mo, lalu berpikir sejenak dan berkata, "Bagaimana kalau kita juga ikut melihat? Toh Lei Han juga teman seangkatan kita, sudah sepantasnya kita menjenguk."
"Baik, Yuan'er ikut kakak saja," jawab Feng Jiyuan.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan gerbang keluarga Lei. Melihat kerumunan orang yang hilir mudik, Feng Jiyuan refleks bersembunyi di belakang kakaknya.
"Tuan, apakah di dalam..." tanya Feng Mo selangkah lebih maju.
"Kalian juga ingin mencoba?" Tabib yang dicegat di depan pintu memandang kakak beradik itu lalu menggeleng, "Penyakit aneh ini bahkan aku belum pernah dengar apalagi melihatnya. Kalian masih muda, lebih baik pulang saja."