Bab 9: Balkon
Menjelang hari kedua terakhir libur Hari Nasional, Gu Yunhe menerima telepon dari rumah saat berada di toko hidangan penutup.
Awalnya, layar ponsel menunjukkan nomor asing. Ia hendak mematikannya, namun saat melihat lokasi nomor tersebut berasal dari Kabupaten Gong, ia pun menekan tombol terima.
Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari seberang telepon: "Halo? Apakah ini Yunhe?"
Gu Yunhe butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa itu adalah Bu Wang, tetangga sebelah rumah yang dulu rekan kerja Ibu Gu di pabrik, hanya saja kini sudah pensiun karena usia.
Firasat buruk muncul di benaknya: "Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Bu Wang?"
"Aduh, untung saja Ibu masih menyimpan nomormu," helaan napas terdengar dari seberang. "Beberapa hari lalu ibumu sepertinya terkilir kakinya. Kemarin saat bertemu di bawah, Ibu lihat kakinya bengkak seperti lobak! Ibu tawarkan obat, tapi tidak tahu apakah dia sudah pergi ke dokter atau belum. Yah, karena perangai ibumu itu, Ibu jadi sungkan untuk bertanya lebih lanjut..."
Bu Wang tidak melanjutkan kalimatnya, namun Gu Yunhe mengerti maksudnya.
"Terima kasih, Bu Wang. Nanti saya akan bertanya padanya." Gu Yunhe menunduk, menatap coretan bentuk tak beraturan yang ia buat tanpa sadar di kertas meja kasir. "Pak Zhao di toko buah Jalan Sifang baru saja mendapatkan stok mangga segar. Nanti saya minta Pak Zhao mengirim satu kotak ke rumah Ibu untuk menyegarkan diri."
"Baguslah, kalau begitu Ibu tidak mengganggu belajarmu lagi ya." Bu Wang menutup telepon.
Gu Yunhe mengirim pesan kepada Pak Zhao untuk mengirim mangga, baru kemudian ia membuka daftar kontak dan mencari nomor "Ibu". Ujung jarinya tertahan lama di atas tombol panggil sebelum akhirnya ia menekannya.
Setelah nada sambung berbunyi lama, barulah Ibu Gu mengangkatnya.
"Bu," ucap Gu Yunhe dengan nada bicara yang agak kaku. "Kenapa kaki Ibu terkilir? Kenapa tidak pergi ke dokter?"
Ibu Gu terdiam sejenak, mungkin menebak bahwa ia telah dilaporkan oleh Bu Wang yang ditemuinya kemarin. "Tadi salah melangkah saat turun tangga, tidak apa-apa kok..."
Gu Yunhe memotong kalimatnya dengan lugas: "Apakah Gu Yunchang membuat masalah lagi?"
Kali ini Ibu Gu terdiam cukup lama sebelum suaranya meninggi dengan tajam: "Yunchang hanya berkelahi dengan teman sekolahnya. Saat Ibu pergi meminta maaf, Ibu didorong oleh wanita gila itu sampai kaki Ibu membentur pagar. Tidak akan mati, kok."
Ujung jari Gu Yunhe yang memegang ponsel memucat karena terlalu kuat menggenggam.
Bibi gemuk dan Zhong Qiao yang sedang sibuk di toko menoleh ke arahnya karena suara tajam dari ponsel itu terdengar sampai keluar. Gu Yunhe membawa ponselnya keluar toko dan bertanya lagi: "Lalu kenapa tidak pergi ke dokter? Untuk apa Ibu menabung uang itu?"
"Aku menabung uang demi masa depan anak laki-lakiku! Kalau aku tidak mengandalkan anakku, siapa lagi? Apa mengandalkanmu, anak perempuan yang nantinya akan menikah dengan keluarga lain?"
Di bawah terik matahari, entah karena sinar surya atau kata-kata Ibu Gu, kelopak mata Gu Yunhe terasa perih.
Ia berkedip beberapa kali dengan paksa, menjauhkan ponsel dari telinganya, dan menarik napas dalam-dalam. Saat kembali berbicara, suaranya tetap tenang: "Nanti saya kirimkan uang untuk Ibu ke dokter. Jika Ibu tidak pergi, saya akan langsung menelepon sekolah Gu Yunchang untuk menuntut penjelasan, dan saya akan menyuruh ambulans menjemput Ibu."
Di kota kecil, masalah sekecil apa pun bisa menjadi buah bibir satu kota. Hal yang paling ditakuti orang-orang di sana adalah aib keluarga yang dibicarakan orang lain. Jika Gu Yunhe benar-benar melakukannya, kabar bahwa putra kesayangan Ibu Gu berkelahi tak lama setelah masuk SMA unggulan akan tersebar ke seluruh tetangga dalam sekejap.
Ibu Gu tampak benar-benar terintimidasi. Setelah jeda yang lama, ia baru bersuara dengan nada yang masih tajam namun kehilangan keberanian: "Dari mana kamu dapat uang untukku?"
Gu Yunhe tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dengan nada bicara yang menusuk, ia berkata: "Urus saja putra kesayangan Ibu itu."
Tanpa menunggu jawaban Ibu Gu, ia langsung mematikan telepon.
Ia berdiri sendirian di jalanan sambil memegang ponsel. Akibat emosi yang meluap, telinganya berdenging dan jantungnya berdegup kencang seperti genderang. Butuh waktu lama baginya untuk perlahan menenangkan diri.
Kembali ke dalam toko, Gu Yunhe meminta gaji bulan depan lebih awal kepada Bibi gemuk dan meminta izin setengah hari. Saat Bibi bertanya apakah ia sedang mengalami kesulitan, ia hanya menggeleng diam, lalu melepas seragam kerjanya dan pergi ke bank terdekat untuk mentransfer uang.
Saat kembali ke sekolah, hari sudah hampir senja.
***
Libur panjang Hari Nasional berakhir, para siswa berbondong-bondong kembali ke sekolah. Kampus sedang dalam masa paling ramai.
Udara panas di lintasan lari karet stadion belum sepenuhnya hilang, menyisakan bau karet sintetis yang samar. Bayangan gedung sekolah di kejauhan memanjang, menutupi separuh stadion.
Gu Yunhe berjalan berlawanan arah di stadion, wajahnya memerah terkena sisa sinar matahari musim panas. Sesekali, orang-orang yang sedang berolahraga berlari melewatinya.
Teman sekamarnya, Chen An, tahu bahwa ia akan pulang kerja jam segini dan bertanya di grup apakah ia bisa membelikan pembalut. Ada supermarket kecil di sebelah stadion, Gu Yunhe pun masuk ke sana.
Rak perlengkapan wanita berada di bagian dalam. Ia mengambil merek yang biasa digunakan Chen An.
"Empat belas ribu lima ratus, silakan pindai di sini." Kasir menunjuk lokasi QR code pembayaran.
Mengikuti arah yang ditunjuk kasir, matanya menangkap deretan rokok di lemari kasir. Gu Yunhe tertegun sejenak.
Ia pernah melihat banyak orang melampiaskan kesedihan dengan rokok dan alkohol. Meski terlihat buruk, hasilnya ternyata cukup efektif.
Seolah mengumpulkan keberanian yang besar, ia pun bersuara. Mungkin karena belum pernah mencoba membeli barang semacam ini di supermarket, nada akhirnya sedikit bergetar: "Tolong... satu bungkus rokok."
Saat kata-kata itu keluar, ia justru merasakan sensasi kegembiraan yang tersembunyi sekaligus menyayat hati.
Kasir mengangkat kepala, menatapnya dari atas ke bawah, lalu bertanya dengan heran: "Adik, apa kamu sudah cukup umur?"
Gu Yunhe mengeluarkan kartu pelajarnya dari tas. Kasir memeriksanya, menatapnya lagi, dan mengulangi hal itu beberapa kali sebelum akhirnya mengembalikan kartu tersebut sambil bergumam, "Wajahmu membuatku mengira kamu masih di bawah umur." Ia membuka lemari rokok. "Mau yang mana?"
Merah, kuning, putih, dengan label bahasa Inggris atau Mandarin. Ada pula yang memiliki berbagai macam pola.
Ia menunduk dan berbisik: "...Marlboro putih."
***
Malam itu, Gu Yunhe gelisah dan tanpa disangka memimpikan masa lalu.
Ada bayangan mendiang ayahnya yang diam-diam menyelipkan biskuit beruang ke dalam tas sekolahnya, ada pula bayangan Ibu Gu yang memberikan satu-satunya paha ayam ke mangkuk Gu Yunchang, serta pertengkaran orang tuanya karena Ibu Gu terlalu memanjakan anak laki-lakinya.
Tak lama kemudian, mimpinya beralih ke hari ketika ayahnya meninggal dunia dalam kecelakaan tanah longsor saat sedang memotret di pegunungan.
Suara sirine ambulans terdengar memekakkan telinga, roda brankar meluncur di atas lantai keramik, lampu polisi merah biru menyapu wajah dokter, wajah para tetangga, dan wajah Ibu Gu yang menangis histeris... Semua berakhir pada saat terakhir sebelum ayahnya mengembuskan napas terakhir, menggenggam tangannya dan berpesan agar ia menjaga ibu dan adiknya.
Setelah ayahnya berpesan, Gu Yunhe tersentak bangun dari mimpinya.
Ponsel menunjukkan pukul enam pagi, langit baru saja menyingsing. Cahaya fajar menembus pintu kaca, menyinari asrama yang sunyi. Benda-benda di dalam ruangan tampak tertutup tirai tipis, diselingi suara napas yang dalam dan dangkal.
Bantalnya masih terasa lembap. Gu Yunhe berbaring menatap langit-langit sejenak sebelum bangkit dan turun dari tempat tidur.
Asrama Universitas Ningzhen menggunakan desain standar empat tempat tidur di atas dan meja di bawah. Saat menuruni tangga, ia melirik bungkusan Marlboro yang diletakkannya di sudut meja. Masih utuh, bahkan bungkus plastik luarnya belum dibuka.
Ia benar-benar tidak punya keberanian untuk merokok. Bahkan, ia baru menyadari setelah kembali ke asrama semalam bahwa ia lupa membeli pemantik api.
Gu Yunhe dengan hati-hati membuka pintu lemari, memasukkan rokok itu ke bagian paling dalam, lalu mendorong pintu kaca ke balkon.
***
Udara pagi belum terlalu panas, angin sepoi-sepoi bahkan terasa dingin saat menyentuh kulit. Ia bersandar di balkon sambil memeluk lengannya, membiarkan pikirannya yang kacau perlahan menjernih.
Gedung asrama mereka adalah yang paling luar. Dari balkon, jika tinggal di lantai yang cukup tinggi, ia bisa langsung melihat ke arah stadion. Asrama mereka ada di lantai empat, tidak terlalu tinggi namun cukup untuk melihat orang-orang yang berlalu-lalang di gerbang asrama.
Pintu gerbang asrama dibuka pukul enam, dan sudah ada orang yang mulai keluar masuk. Gu Yunhe melirik sekilas ke bawah dan melihat sebuah mobil sport meluncur dari ujung jalan, lalu berhenti perlahan di depan gerbang asrama mereka.
Ia tidak peduli dan kembali menunduk.
Kamar mandi berada di balkon. Setelah selesai mencuci muka, Gu Yunhe mengelap anak rambutnya yang basah dan menatap dirinya sendiri di cermin yang tertempel di dinding balkon.
Mungkin karena kurang tidur dan sering bermimpi, lingkaran hitam samar muncul di bawah matanya, terlihat kontras di wajahnya yang putih bersih.
Beberapa potong pakaian yang dicuci beberapa hari lalu tergantung di atas, sudah kering. Karena tidak ada pekerjaan di kamar dan takut membangunkan teman sekamarnya, Gu Yunhe mengatupkan bibir, mengambil tongkat jemuran, dan menurunkan pakaian-pakaian itu.
Selain baju dan celana miliknya, ada beberapa kaus dengan gaya aneh yang berlubang-lubang. Itu adalah baju yang dibeli Fang Yike secara daring sebelum libur Hari Nasional dengan alasan gaya "milenial". Setelah dicuci, ia membiarkannya tergantung di sana dan tidak pernah memakainya lagi.
Saat mengambil pakaian terakhir, tangannya tidak stabil, tongkat jemuran bergoyang sedikit, dan gantungan celananya tersangkut di lubang kaus milik Fang Yike. Ia mencoba menusuk-nusuk dengan tongkat, namun justru semakin kusut.
"..."
Untungnya, balkon tidak terlalu tinggi, pakaian itu masih bisa dijangkau. Gu Yunhe berjinjit, mengulurkan tangan untuk memisahkan gantungan celana dan kaus tersebut.
Karena udara musim panas yang terik, ia hanya mengenakan gaun tidur putih longgar saat tidur. Panjang gaun itu tepat selutut dengan bahan yang sangat nyaman. Saat ia berjinjit dan mengulurkan tangan, ujung gaunnya perlahan terangkat, memperlihatkan bagian paha yang putih mulus.
Angin bertiup, membuat bahan gaun yang lembut menempel di kulitnya, membentuk lekuk tubuh gadis itu yang anggun dan mengundang imajinasi.
Setelah bersusah payah cukup lama, ia akhirnya berhasil membebaskan gantungan celananya. Saat baru saja menghela napas lega, sudut matanya menangkap sesosok bayangan berdiri di bawah gerbang asrama.
Sepertinya orang itu sudah berdiri di sana cukup lama.
Mobil sport tersebut memiliki desain yang ramping, atapnya yang tadi tertutup kini sudah terbuka. Sang pria bersandar di pintu mobil, satu tangan memegang rokok, sementara tangan lainnya diletakkan dengan santai di atas pintu mobil yang kacanya sudah diturunkan.
Apa pun posisi atau gerakannya, ia selalu memancarkan aura yang santai dan acuh tak acuh. Zhou Dan tampak tidak melihatnya, ia sedang menatap pintu gerbang asrama mereka dengan tenang.
Pukul enam pagi.
Berhenti dengan mobil sport di depan asrama putri, tidak tahu apakah pria itu sedang menjemput seseorang atau baru saja mengantar seseorang kembali ke asrama.