Bab 16 Toko Pencuci Mulut
Halaman (1/3) ◎Aku ingin mengejarmu.◎
Setelah Gu Yunhe mendaftarkan diri ke Klub Debat dalam acara perekrutan besar-besaran sebelumnya, ia ditambahkan ke sebuah grup kecil.
Di dalam grup itu diumumkan bahwa sore ini akan diadakan pertemuan anggota baru.
Saat Gu Yunhe tiba, orang-orang yang hadir belum terlalu banyak. Seorang laki-laki yang tampaknya bertanggung jawab mengatur acara meliriknya, lalu tersenyum.
“Wah, tahun ini klub kita merekrut adik tingkat baru yang cantik sekali.”
Beberapa orang lainnya juga menoleh, mata mereka tampak berbinar.
Gu Yunhe merasa sedikit tidak nyaman dan mengalihkan pandangan.
“Bercanda.” Laki-laki itu tersenyum kepadanya. “Aku Jiang Juncheng, ketua Klub Debat. Anggota baru, silakan duduk di sana.”
Gu Yunhe mengangguk, lalu duduk di tempat yang ditunjuknya.
Ia tidak banyak bicara. Sejak kemarin, tenggorokannya masih terasa kering dan nyeri.
Tak lama kemudian, para anggota berdatangan satu per satu hingga lengkap. Setelah memperkirakan jumlahnya, Gu Yunhe mendapati ada lebih dari dua puluh orang.
Karena datang lebih awal, ia duduk di barisan paling depan, cukup dekat dengan Jiang Juncheng yang berdiri di hadapan mereka.
Ia mendengar Jiang Juncheng menghela napas, lalu berkata pelan kepada orang-orang di sekitarnya, “Tahun ini anggotanya sedikit sekali.”
Salah seorang di sampingnya menjawab, “Benar. Mereka saja berhasil kita tarik setelah kita berkeliling mempromosikan klub. Kalau jumlahnya lebih sedikit lagi, klub kita mungkin benar-benar harus tutup.”
Jiang Juncheng memijat keningnya. Pandangannya menerawang.
“Aku masih ingat ketika Zhou Dan dulu masih di sini. Setiap kali perekrutan anggota baru, ruangan ini selalu penuh sesak.”
Gu Yunhe terdiam sejenak saat mendengarnya.
Ia tidak menyangka Zhou Dan pernah menjadi anggota Klub Debat.
Jiang Juncheng membagikan selembar formulir kepada mereka. Berbeda dari formulir yang mereka isi sebelumnya, kali ini ada jauh lebih banyak hal yang harus dilengkapi.
Sebelum berangkat, Ji Siyu memberitahunya bahwa jika ia melamar menjadi pengurus klub, kredit akademiknya akan bertambah lebih cepat.
Pada formulir pendaftaran pengurus, ia harus menempelkan foto formal. Gu Yunhe bahkan sengaja membawa beberapa lembar foto, lalu meminta stik lem kepada Jiang Juncheng untuk menempelkannya.
Foto formalnya diambil bersama Fang Yike di luar kampus ketika mereka baru memasuki tahun pertama.
Tempat pemotretannya adalah studio kecil yang murah. Wajah Fang Yike tampak miring dalam hasil foto, sedangkan ketika tiba giliran Gu Yunhe, fotografer itu membuat wajahnya terlihat mungil, cantik, dan sangat fotogenik.
Fang Yike sudah lebih dari sekali membandingkan foto mereka berdua sambil mengeluh, bagaimana mungkin cara Dewi Nuwa menciptakan manusia bisa begitu tidak merata.
Tanpa sadar, Jiang Juncheng ikut melirik formulir yang sedang diisinya.
Dengan sedikit rasa bersalah, ia berkata, “Posisi ini sudah penuh.” Ia menunjuk jabatan yang dipilih Gu Yunhe, lalu menunjuk kursi kosong di sebelahnya. “Tapi bagian ini masih kekurangan orang. Kredit akademik yang didapat setiap tahun kurang lebih sama dengan pengurus.”
Bagian debat? Bukankah itu berarti harus naik panggung dan berdebat?
Gu Yunhe mengangkat mata menatapnya.
Jiang Juncheng menggaruk kepalanya. “Sebenarnya kegiatan klub kami tidak terlalu banyak. Sekarang, setiap orang paling hanya ikut satu atau dua lomba debat dalam setahun.”
Ia memandang Gu Yunhe dan membujuk, “Adik tingkat, coba saja. Perasaanku, kemampuan bicaramu pasti cukup bagus.”
Dengan tambahan kredit kali ini, jumlah kredit yang dibutuhkan Gu Yunhe untuk lulus seharusnya sudah terpenuhi.
Ia berpikir sejenak, lalu akhirnya mengisi bagian itu.
Setelahnya, Jiang Juncheng mengoceh beberapa kalimat lagi dan mengingatkan mereka agar menerima permintaan pertemanan nanti. Setelah itu, acara pun berakhir.
Setelah seluruh anggota baru pergi, beberapa orang masih sibuk merapikan formulir pendaftaran.
Beberapa laki-laki berkali-kali melirik foto Gu Yunhe.
“Di Fakultas Seni ternyata ada gadis secantik ini?”
“Kenapa sebelumnya aku tidak pernah melihatnya? Dia kelihatan polos sekali. Seharusnya belum punya pacar, kan?”
“Bukankah ada kontaknya? Tambahkan saja, siapa tahu berhasil.”
Jiang Juncheng menarik formulir itu dari tangan mereka.
“Sudah, sudah! Jangan mengintip privasi orang!”
Namun, tanpa mereka ketahui, seorang laki-laki sudah lebih dulu memotret formulir itu dan mengunggahnya ke linimasa.
Ia sengaja memotong bagian yang berisi kontak Gu Yunhe. Yang ditampilkan hanya foto formalnya, disertai tulisan bahwa tahun ini klub mereka kedatangan adik tingkat baru yang manis dan penurut.
Tak lama kemudian, seseorang mengirim pesan pribadi untuk menanyakan apakah ia bisa memberikan kontak gadis itu.
Laki-laki tersebut sama sekali tidak menanggapi.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ia hanya ingin memamerkan sedikit. Biasanya, ia selalu melihat teman-temannya dari klub lain membanggakan berapa banyak gadis cantik yang mereka rekrut tahun itu, sementara klub tempatnya bergabung tidak memiliki apa pun yang layak dibanggakan.
Saat ia baru hendak mematikan ponselnya, sebuah pesan lain muncul.
Pesan itu berasal dari seorang teman yang tidak ia beri nama. Sumber penambahan kontak menunjukkan bahwa orang tersebut ditambahkan dari grup Klub Debat dua tahun lalu.
Ia membuka kotak pesannya.
Orang itu hanya mengirim dua kalimat:
Aku Zhou Dan.
Tolong berikan kontak gadis itu.
_
Dalam perjalanan menuju toko makanan penutup, Gu Yunhe menerima permintaan pertemanan.
Jenis kelaminnya laki-laki. Namanya hanya berupa satu titik sederhana, sedangkan foto profilnya adalah seekor hewan.
Gu Yunhe membuka foto itu dan baru menyadari bahwa hewan tersebut adalah seekor anjing doberman berwarna hitam kecokelatan.
Keempat kakinya tampak kuat dan kokoh, telinganya panjang serta tegak, dan di dadanya tergantung sebuah pelat nama yang berkilauan. Sepertinya ada tulisan terukir di sana, tetapi tidak terlihat jelas.
Gu Yunhe cukup menyukai hewan-hewan kecil. Ia bahkan memperbesar foto itu dan mengamatinya sejenak.
Setelah berpikir, ia menduga orang itu adalah Jiang Juncheng, lalu menerima permintaan pertemanannya.
Demi menjaga sopan santun, ia mengirim sebuah stiker, kemudian menulis, “Salam, Ketua. Tolong simpan namaku sebagai Gu Yunhe.”
Di seberang sana, status “sedang mengetik” muncul cukup lama, tetapi tak kunjung ada pesan yang dikirim.
Setelah sekian lama, “Jiang Juncheng” mengirim sebuah titik.
Gu Yunhe menatap titik itu cukup lama.
Saat ia baru hendak menutup ponselnya, “Jiang Juncheng” kembali mengirim pesan dan bertanya di mana dirinya berada.
Gu Yunhe merasa curiga. Apa hubungannya keberadaannya dengan klub? Namun, ia tetap menjawab dengan jujur bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja paruh waktu, lalu bertanya apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Jiang Juncheng” tidak membalas lagi.
Kebetulan saat itu Gu Yunhe sudah tiba di depan toko makanan penutup. Ia meletakkan ponselnya di samping, menyapa Zhong Qiao yang berada di dapur belakang, lalu mengenakan seragam kerja dan masuk ke balik meja kasir.
Di atas rak tersusun banyak makanan penutup yang baru selesai dipanggang. Dengan satu tangan memegang nampan dan tangan lainnya memegang penjepit, Gu Yunhe menata makanan-makanan itu dengan rapi di atas rak.
Entah dari mana Zhong Qiao kembali mempelajari beberapa cara memasak baru. Hari ini, rak tersebut dipenuhi banyak jenis makanan penutup yang belum pernah ada sebelumnya.
Ada satu jenis kue kering rendah gula yang rasanya cukup lezat. Tadi di dapur belakang, Zhong Qiao bahkan menyuruh Gu Yunhe mencicipi beberapa potong.
Gu Yunhe tidak terlalu suka makanan manis, tetapi menurutnya kue kering rendah gula itu cukup enak. Ia memotong beberapa bagian dengan pisau kecil, lalu menaruhnya di piring mungil untuk dicicipi pelanggan.
Bel pintu elektronik berbunyi nyaring.
Dengan membelakangi pintu, ia lebih dulu berkata, “Selamat datang,” baru kemudian berbalik.
Begitu pandangannya menyentuh wajah orang yang datang, ia terdiam sejenak, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.
Namun, Zhou Dan seolah-olah telah mengunci sasarannya.
Aroma tembakau bercampur dengan hawa tubuh laki-laki itu, menerpa dari dekat.
Gu Yunhe langsung hendak berjalan ke arah lain.
Zhou Dan mencibir pelan dan bertanya, “Kenapa menghindar?”
Gu Yunhe berhenti. Sengaja menghindari tatapannya, ia menyapa dengan sopan seperti sedang melayani pelanggan asing.
“Makanan penutupnya ada di sana. Silakan ambil piring dan pilih sendiri.”
Suaranya masih sedikit serak.
Sepertinya bahkan lebih serak daripada tadi malam.
Zhou Dan mengangkat kelopak matanya dan melirik makanan untuk dicicipi yang baru saja dipotong Gu Yunhe menjadi potongan-potongan kecil.
Dengan santai, ia berkata, “Masih makan makanan manis? Tidak takut tenggorokanmu semakin sakit?”
Gu Yunhe tanpa sadar membantah, “Itu rendah gula.”
Setelah beberapa saat, ia baru menyadari bahwa seharusnya ia tidak berbicara satu kalimat pun lagi dengan laki-laki ini.
Maka, dengan wajah kecil yang kaku, ia kembali ke meja kasir.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Zhou Dan menyunggingkan senyum, lalu mengikutinya. Ia mengetuk permukaan meja kasir.
“Bahkan melihatku saja tidak mau?”
Gu Yunhe menunduk. Ia mengambil buku catatan keuangan yang sudah selesai dihitung sejak kemarin, lalu pura-pura menghitungnya sekali lagi. Ia bersikeras tidak menatap laki-laki di hadapannya.
Zhou Dan menatap puncak kepalanya yang bulat, tetapi sama sekali tidak marah.
Kebetulan, Bibi Gendut baru saja kembali setelah menyelesaikan urusannya di luar. Begitu melihat Zhou Dan, ia sempat tertegun, tetapi kemudian masuk seperti biasa dengan wajah tenang.
Ia berjalan menuju dapur belakang. Saat melewati meja kasir, ia melihat Gu Yunhe mengeluarkan buku catatan keuangan kemarin dan menghitungnya lagi. Dengan bingung, ia bertanya, “Yunhe, bukankah itu buku catatan kemarin? Apa yang sedang kamu hitung?”
Tangan Gu Yunhe yang sedang membuat coretan perhitungan langsung berhenti.
Zhou Dan terkekeh pelan.
Telinga Gu Yunhe terasa panas. Dengan suara samar-samar, ia menjawab, “Aku hanya menghitungnya sekali lagi, untuk memastikan tidak ada yang keliru.”
Bibi Gendut pun masuk ke dapur belakang.
Zhou Dan masih menatap Gu Yunhe dengan penuh minat.
Gu Yunhe benar-benar tidak bisa melanjutkan perhitungannya.
Ia meletakkan buku di tangannya ke atas meja, lalu mendongak dengan wajah mungil.
“Teman, kau mengganggu pekerjaanku dengan berdiri di sini.”
Zhou Dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Nada suaranya terdengar malas.
“Jadi, pekerjaanmu seharian hanya menjual makanan penutup ini?”
“Kalau bukan, memangnya apa?” jawab Gu Yunhe dengan kesal.
“Baiklah.” Zhou Dan tersenyum. “Bilang kepada bosmu, semua makanan penutup di toko ini hari ini akan kubeli.”
Gu Yunhe mendongak dan menatapnya dengan terkejut.
Zhou Dan memandangi matanya yang membesar, hidungnya yang mungil dan indah. Pandangannya perlahan turun, hingga akhirnya berhenti pada bibir mungil semerah buah ceri yang tanpa sadar sedikit terbuka.
Ia menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menahan diri dan mengalihkan pandangan.
“Tidak dengar?” Ia mengangkat sebelah alis.
Gu Yunhe mendengarnya dengan jelas.
Ia percaya bahwa jika laki-laki ini sudah berkata demikian, ia pasti akan melakukannya. Ia memang memiliki kemampuan untuk itu.
Dan Zhou Dan benar-benar membeli semuanya.
Beberapa kantong besar dipenuhi beraneka macam makanan penutup, bertumpuk begitu saja di dekat kakinya.
Hari itu, toko makanan penutup tutup jauh lebih awal daripada biasanya.
Zhou Dan melirik barang-barang yang menumpuk di dekat kakinya, lalu tertawa dengan sikap seenaknya.
“Sekarang, aku tidak mengganggu pekerjaanmu lagi, kan?”
Gu Yunhe sudah melepas seragam kerjanya. Ia menunduk dan berpikir sejenak, lalu mengangkat wajah dengan pasrah.
“Sebenarnya kau mau apa?”
Zhou Dan ingin mengatakan sesuatu yang kurang ajar.
Namun, ketika beberapa kata itu sudah sampai di ujung lidah, ia kembali menelannya.
Menghadapi wajah yang begitu putih, lembut, dan bersih, ia benar-benar merasa agak tidak tega.
Ia takut mengotori telinganya.
Jika Guo Ziheng dan yang lainnya ada di sini, mereka mungkin akan terkejut hingga dagunya jatuh.
Dulu, saat berhadapan dengan pacar-pacarnya yang cantik, laki-laki ini selalu mengatakan apa pun yang terlintas di pikirannya. Ia bertindak sesuka hati. Bahkan beberapa kali ia membuat para gadis itu malu hingga hampir menangis, tetapi tidak pernah terlihat begitu enggan menyakiti mereka.
Tatapan Zhou Dan menjadi semakin dalam.
Ia merendahkan suaranya, nadanya tetap santai.
“Benarkah kau tidak bisa melihat apa yang ingin kulakukan?”
Laki-laki itu mendekat, sudut bibirnya terangkat.
“Aku ingin mengejarmu.”
Catatan penulis:
Kak Dan akhirnya resmi memulai perjalanan mengejar Gu Yunhe. Jalan di depannya masih panjang dan penuh rintangan, jadi dia harus terus berusaha!
Omong-omong, Adik Gu Yunhe benar-benar telah “ditipu dan dibujuk” hingga menjadi peserta debat Klub Debat. Ha-ha.