Bab 141: Minum untuk Melupakan Kesusahan
Dia mengibaskan tangannya dengan kuat, membuat tangan Qiao Shanxi terlepas.
"Jangan sentuh aku!" Jiang Haoxiang berbalik, sekujur tubuhnya tampak dipenuhi duri dan ketajaman. Ia menatap Qiao Shanxi dengan kemarahan bagaikan seekor singa.
Tak lama kemudian, Gu Youran berjalan masuk dari luar tanpa disadari. Qiao Shanxi menatapnya dengan terkejut hingga air matanya hampir tumpah, "Youran, dari mana saja kamu? Aku pikir kamu tadi mendapat masalah."
Ia memeluk sahabat karibnya itu, tersenyum di sela-sela air mata.
Begitu ia melepaskan pelukannya, Gu Youran melirik ke arah Jiang Haoxiang, lalu menunjuknya seraya berkata, "Asistennyalah yang membawaku ke mari. Tadi aku mencarimu ke kantor, tetapi tidak melihat siapa pun."
"Ye Dang, ayo kita pergi!" perintah Jiang Haoxiang. Ye Dang mengiyakan, dan keduanya melangkah pergi dalam diam.
"Eh, langsung pergi begitu saja? Terima kasih banyak ya, kamu benar-benar sudah sangat membantuku!" Gu Youran awalnya berniat datang untuk numpang makan, tetapi karena ponselnya hilang, ia menghabiskan waktu sepanjang siang untuk mencari Qiao Shanxi. Untunglah ada Ye Dang yang membawanya ke tempat ini, jadi ia tentu merasa lebih berterima kasih kepada Jiang Haoxiang yang telah menyuruh Ye Dang melakukan hal tersebut.
Qiao Shanxi melirik Gu Youran yang tersenyum lebar, lalu menoleh ke belakang dan mendapati pintu lift di hadapan Jiang Haoxiang perlahan-lahan tertutup.
Ternyata, selama ini pria itu selalu membantunya. Baru saja, ia begitu marah dan menginterogasinya perihal apa yang telah ia lakukan pada Gu Youran. Rasa bersalah perlahan-lahan merayap dari lubuk hatinya, meninggalkan rasa pahit di lidahnya.
Karena waktu sudah semakin sore, Qiao Shanxi dan Gu Youran membuat janji untuk bertemu lagi malam nanti.
Gu Youran menyetujuinya dan langsung tinggal di kamar hotel nomor 718 yang telah dibayar oleh Jiang Haoxiang. Ia berencana meminta izin kepada atasan kantor, lalu menggunakan komputer yang dibawanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
Setibanya kembali di kantor, Qiao Shanxi merasa seolah-olah semua orang sedang memperhatikan dirinya.
Ia meraba wajahnya sendiri, merasa tadi pagi sudah mencucinya dan seharusnya tidak kotor.
Baru saja ia meletakkan tasnya dan duduk di kursi, rekan kerjanya yang bernama Xiaoli tiba-tiba menghampiri dan berbisik di dekat telinganya, "Ikut aku, ada yang ingin kukatakan padamu."
Qiao Shanxi yang merasa kebingungan lantas membuka komputernya agar layarnya aktif, lalu menyampirkan tasnya dan mengikuti Xiaoli menuju tangga darurat di luar.
Xiaoli bertanya kepadanya, "Shanxi, hari ini kamu benar-benar mempermalukan dirimu sendiri. Untung saja kebenaran akhirnya terungkap, kalau tidak, fitnah ini sudah cukup untuk menghancurkanmu!"
Qiao Shanxi yang masih merasa bingung menatap mata Xiaoli yang sipit dan bertanya, "Ada apa denganku?"
Ia hanya ingat dirinya mencari Gu Youran sepanjang siang, dan Gu Youran mencarinya sepanjang siang pula.
"Kamu tidak tahu?" Xiaoli menarik Qiao Shanxi untuk langsung duduk di tangga sebelah mereka. Ia mendeskripsikan dengan sangat hidup tentang kejadian di layar besar ruang rapat yang mendadak menampilkan seorang pria dan wanita, serta memberi tahu Qiao Shanxi bahwa dari belakang, sosok itu sangat mirip dengannya sehingga semua orang mengira itu adalah dirinya.
Qiao Shanxi menundukkan kepala dan merenung. Pantas saja tadi begitu banyak orang berkumpul di depan pintu kamar hotel itu, pantas saja mereka semua mengatakan bahwa itu bukan dirinya.
Ternyata sosok wanita yang mereka maksudkan adalah dirinya, Qiao Shanxi.
Jika dipikir-pikir, sepertinya saat itu Jiang Haoxiang sedang menelepon dan memanggil segerombolan orang itu ke sana untuk menyaksikan sendiri. Jika dilihat dari sudut pandang ini, tampaknya pria itulah yang telah membantunya membersihkan kesalahpahaman dan meredakan masalahnya.
Dalam sekejap, rasa bersalah dan rasa terima kasih bergejolak menjadi satu di dalam hatinya. Saat Qiao Shanxi sedang memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada Jiang Haoxiang, pintu partisi terbuka. Liang Shan, asisten direktur utama, menjulurkan kepalanya dan tersenyum sambil mendorong naik kacamatanya sedikit, "Shanxi, Direktur Utama menyuruhmu pergi ke ruangannya."
"Baik, terima kasih!"
Belum sempat obrolannya dengan Xiaoli selesai, Qiao Shanxi sudah berdiri dan mengetuk pintu ruang kerja direktur utama.
"Masuk!"
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, Qiao Shanxi mendapati suasana di dalamnya terasa sedikit tidak biasa. Tampak Jiang Jietian sedang menunduk menulis sesuatu tanpa mengangkat kepalanya sama sekali.
Ia hanya bisa berdiri di sana, diam-diam memperhatikan pria yang tampak sibuk itu.
Setelah cukup lama berlalu, Jiang Jietian baru berdiri. Ia menatap Qiao Shanxi, namun tatapannya tidak lagi ramah seperti biasanya.
"Kemana saja kamu pagi tadi?" tanya Jiang Jietian dengan ekspresi yang cukup serius.
"Aku... pagi tadi bekerja di kantor, lalu pergi ke hotel terdekat untuk menemui sahabatku," jawab Qiao Shanxi singkat, tidak mengerti mengapa Jiang Jietian menanyakan hal semacam itu kepadanya.
"Sahabat pria atau sahabat wanita?" Jiang Jietian bertanya lebih lanjut.
Qiao Shanxi meliriknya, seolah-olah sedang menatap sesosok monster, "Sahabat wanita," jawabnya terus terang.
"Oh?" Jiang Jietian rupanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Tiba-tiba, satu tangannya mencengkeram dagu Qiao Shanxi, lalu mengangkat wajah wanita itu ke atas.
Merasa dagunya dicengkeram dengan begitu kuat hingga sakit, Qiao Shanxi mencoba melepaskan diri, tetapi semakin ia berusaha lepas, Jiang Jietian justru semakin dibuat kesal.
Pria itu dengan sengaja mengibaskan dagu Qiao Shanxi dengan kasar, lalu mencengkeram lengannya dan mendekatkan tubuhnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Qiao Shanxi penuh ketakutan.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu, seperti apa rasanya ketika pria lain mendekatimu. Kamu terus-menerus mengabaikan usahaku mengejarmu, rupanya karena kamu menyukai tipe pria playboy seperti itu, ya?"
Wajah Jiang Jietian menggelap, dan tatapannya kepada Qiao Shanxi jelas menyiratkan sebuah emosi aneh yang lain.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan." Qiao Shanxi meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tetapi lengannya justru digenggam erat oleh Jiang Jietian sehingga tidak bisa bergerak.
"Lepaskan, lepaskan aku..." Tangan Qiao Shanxi yang satu lagi berusaha mendorong, namun ia tetap tidak bisa melepaskan diri dari kurungan Jiang Jietian.
"Kenapa, pria itu boleh menyentuhmu, tapi aku tidak? Kedudukanku jauh lebih tinggi darinya!" Ucapan Jiang Jietian belum selesai ketika pintu ruangan tiba-tiba ditendang terbuka dari luar.
"Haoxiang, bagaimana bisa kamu tidak sopan seperti ini?" Jiang Jietian menoleh, menatap adiknya dengan mata yang menyipit tajam.
Jiang Haoxiang tidak menjawab. Ia melangkah lebar-lebar langsung menghampiri Qiao Shanxi, lalu menarik wanita itu menjauh dari kakaknya.
Karena gerakan Jiang Haoxiang yang begitu mendadak tadi membuat Jiang Jietian teralihkan perhatiannya, cengkeraman di tangan Qiao Shanxi pun mengendur. Maka, hanya dengan tarikan ringan dari Jiang Haoxiang, Qiao Shanxi berhasil ditarik ke sisinya.
"Kak, bersikap seperti itu padanya justru menunjukkan kalau Kakak yang tidak sopan!"
Jiang Jietian menatap Qiao Shanxi yang berdiri di sisi Jiang Haoxiang, lalu tertawa dingin, "Apa aku salah bicara? Video itu, semua orang sudah melihatnya, dia telah melakukan apa, dia sendiri yang tahu di dalam hatinya."
Raut wajah Jiang Haoxiang yang tegas dan dingin kini tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hari ini ia sengaja tidak memberitahu kakaknya untuk pergi melihat kebenarannya sendiri; bagaimanapun juga, kakaknya adalah seorang direktur utama, tidaklah mudah baginya untuk menyuruh sang kakak datang begitu saja.
Tanpa diduga, kakaknya justru terus mengingat hal itu dan berniat meminta konfirmasi langsung dari Qiao Shanxi.
"Kak, wanita yang ada di dalam video itu adalah orang lain. Hal lainnya kupikir orang-orang lain di kantor bisa memberitahumu, Kakak bisa tanyakan sendiri pada mereka." Usai berkata demikian, Jiang Haoxiang menggenggam erat tangan Qiao Shanxi dan berjalan keluar dari ruang kerja tersebut.
Ia mungkin bisa membentak Qiao Shanxi dengan marahnya sendiri, tetapi ia tidak sanggup menanggung jika orang lain memperlakukan wanita itu dengan buruk.
Begitu keluar dari ruang kerja, Qiao Shanxi segera melepaskan genggaman tangan Jiang Haoxiang, mengucapkan kata "terima kasih" dengan datar, lalu berjalan tergesa-gesa menuju meja kerjanya.
Malam harinya, di sebuah restoran kecil, Qiao Shanxi mendongak dan meneguk sebotol bir hingga tandas. Gu Youran yang berada di sampingnya tampak cemas, "Minumlah pelan-pelan. Kamu biasanya tidak pernah minum alkohol, kenapa hari ini minum begitu banyak?"
Dua botol bir yang telah masuk ke perut membuat wajah Qiao Shanxi bersemu merah tipis. Ia mengacungkan satu jari, tertawa dalam kondisi setengah mabuk, "Kamu tahu tidak? Hari ini aku diseret ke ruang kerja direktur utama untuk dimarahi. Direktur utama bilang aku menyukai tipe pria playboy. Hah, dia mengiraku sebagai wanita murahan..."
"Jangan dipikirkan, mungkin ini hanya sebuah kesalahpahaman..."
"Kesalahpahaman? Kamu tahu tidak? Kedua saudara itu, yang satu memarahiku seperti anak kecil dan menyuruhku lebih berhati-hati lain kali. Satunya lagi justru mencibir dan menyindirku sebagai wanita tidak benar. Hidup ini sungguh sangat sulit ya, apa yang telah kulakukan hingga mereka harus memperlakukanku seperti ini."
Sambil berkata demikian, Qiao Shanxi tiba-tiba berdiri. Ia melihat seseorang di panggung kecil sebelah sana baru saja selesai bernyanyi dan turun dari panggung, lalu ia berjalan dengan langkah terhuyung-huyung ke sana, menggenggam erat mikrofon di tangannya dan mengetuk-ngetuknya pelan.
"Sekarang, aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk kalian semua!"
Begitu ia selesai berbicara, para pengunjung di dalam restoran langsung bertepuk tangan secara beruntun.
Ia bernyanyi seorang diri, suara merdunya perlahan-lahan mengalir keluar dari mikrofon. Suara Qiao Shanxi sangat manis sekaligus begitu memikat, membuat orang-orang yang hadir serentak mendongak dan mengarahkan pandangan ke arahnya.
Karena sudah menenggak beberapa gelas alkohol, ia bernyanyi dengan lebih berani lagi, bahkan langsung membawakan nada tinggi melengking pada bagian reff.
Para pengunjung restoran bertepuk tangan meriah untuknya di bagian puncak lagu tersebut. Pada saat itulah, seorang pria melangkah masuk melalui pintu restoran. Pria itu awalnya merangkul seorang wanita lain berpenampilan seksi dan memikat.
Tiba-tiba, alunan suara nyanyian merasuk ke dalam indra pendengarannya. Mau tidak mau ia mendongakkan kepala, lalu mendengarkan dengan penuh perhatian.
Penampilan Qiao Shanxi di atas panggung saat bernyanyi tampak begitu bebas, lembut, dan penuh perasaan.
Lin Naifeng yang sudah terbiasa mempermainkan banyak wanita tiba-tiba melepaskan rangkulannya dari bahu wanita di sampingnya. Teman kencannya yang baru itu mendongak, menatapnya dengan bingung dan bertanya, "Ada apa, Naifeng? Apa kamu tidak puas dengan restoran ini? Aku dulu sering makan di sini, meskipun tempatnya tidak besar, suasananya sangat bagus sekali. Bagaimana menurutmu?"
Lin Naifeng ingin melihat Qiao Shanxi dari jarak yang lebih dekat lagi. Seolah-olah tidak mendengar perkataan wanita di sampingnya, ia langsung berlari menuju ke arah panggung.
"Naifeng——" Pria itu berlari, dan wanita pasangannya pun ikut berlari mengejarnya.
Pada saat itu, terdengar suara Qiao Shanxi dari atas panggung mengucapkan, "Terima kasih semuanya," sambil membungkukkan badan, lalu ia berjalan turun dari panggung.
"Shanxi, kamu hebat sekali!" Meskipun awalnya Gu Shanxi merasa sangat khawatir saat Qiao Shanxi naik ke panggung untuk bernyanyi, namun setelah mendengarkannya sampai selesai, ia menyadari bahwa sahabatnya itu bernyanyi dengan kemampuan yang bahkan melampaui batas biasanya.
Ia menggandeng tangan Qiao Shanxi, berniat membawanya kembali ke meja mereka. Pada saat itulah Lin Naifeng berjalan menghampiri Qiao Shanxi dari salah satu meja sambil membawa segelas minuman di tangannya, diiringi senyuman di sudut bibirnya.
"Aduh!"
"Maaf, sahabatku ini sedang mabuk, tidak sengaja menabrakmu. Kamu tidak apa-apa?"
Ketika Lin Naifeng berpapasan dengan Qiao Shanxi, ia pura-pura tersenggol hingga minuman di dalam gelasnya tumpah dan memerciki sekujur tubuhnya.
Qiao Shanxi yang sejak awal memang tidak tahan alkohol seketika tertawa melihat Lin Naifeng di hadapannya, "Aku ingat kamu, bukankah kamu pria yang mondar-mandir di antara dua wanita yang sedang bertengkar itu? Ha ha..."
Ia tertawa sambil mendongak, tetapi tiba-tiba hampir terjatuh ke belakang. Lin Naifeng mengulurkan tangannya, namun sebelum jari-jarinya sempat menyentuh pakaian Qiao Shanxi, wanita itu tiba-tiba ditarik ke belakang dan jatuh tersungkur ke dalam pelukan seseorang.
Ia mendongakkan kepalanya, dan sepasang matanya yang jernih bagaikan pualam kebetulan berbenturan dengan sepasang manik mata yang gelap pekat.
Gu Youran yang berada di sampingnya berkata terbata-bata, "Ji... Jiang Haoxiang..."
Merasa heran mengapa pria ini bisa muncul di tempat ini, Gu Youran tidak kuasa untuk tidak memandangnya beberapa kali lagi.
Namun, begitu Qiao Shanxi berdiri dengan tegap, pandangan Jiang Haoxiang justru hanya tertuju pada Lin Naifeng di hadapannya.
"Rupanya Haoxiang. Sudah lama tidak berjumpa, apa kabarmu? Ngomong-ngomong, gadis ini kamu suka? Kalau suka, ambil saja, aku tidak masalah!" Lin Naifeng sebenarnya sudah mengenal Jiang Haoxiang sejak kecil karena mereka dulunya adalah teman sekelas, hanya saja saat itu Jiang Haoxiang adalah ketua kelompok mereka, sementara dirinya hanyalah salah satu anak buah kecil.
"Ambil saja?" Alis Jiang Haoxiang sedikit berkerut, sorot matanya menggelap. Seharusnya, Qiao Shanxi adalah miliknya, bagaimana bisa diambil begitu saja.
"Oh, hehe, aku... itu..." Tepat ketika ia merasa canggung dan tidak bisa berkata apa-apa, wanita pasangannya tadi berlari menyusul, "Naifeng, kenapa kamu berlari begitu cepat? Ayo kita pergi memesan makanan!"
Lin Naifeng seolah-olah baru saja mendapatkan pengampunan khusus; ia langsung tersenyum lebar dan mengangguk, "Benar, aku mau pergi memesan makanan bersama teman kencanku. Haoxiang, kalau begitu aku duluan!"
Lin Naifeng yang awalnya berniat mencari suasana baru dengan wanita berwajah polos merasa bahwa hari ini nasib sial benar-benar sedang menimpanya.
Melihat sudah tidak ada ancaman lagi, Jiang Haoxiang berniat melepaskan pegangannya dan menyampaikan beberapa patah kata kepada Qiao Shanxi.
Namun, begitu ia menundukkan kepala, ia mendapati wanita yang bersandar di pelukannya itu ternyata sudah tertidur pulas dengan mata terpejam. Napas yang teratur membuat seluruh wajahnya tampak begitu tenang dan anggun.
Ketika Gu Youran menyadari bahwa Qiao Shanxi bahkan bisa tertidur dalam posisi berdiri, rahangnya hampir terjatuh karena terkejut. Ia tersenyum canggung kepada Jiang Haoxiang, "Biar aku saja yang mengantarnya pulang!" Katanya sambil berniat memapah Qiao Shanxi, namun baru saja tangannya menyentuh lengan baju Qiao Shanxi, Jiang Haoxiang tiba-tiba membungkuk dan langsung mengangkat tubuh Qiao Shanxi dalam gendongan gaya pengantin.
Gu Youran mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali, hampir tidak percaya menyaksikan pemandangan di hadapannya ini.
"Masih melamun saja, cepat bantu!" Meskipun dalam hatinya sangat sebal dengan sahabat karib Qiao Shanxi ini, ia tidak punya pilihan lain; ia membutuhkan seseorang untuk membantunya mengurus Qiao Shanxi.
Jiang Haoxiang melangkah dengan cepat, sementara Gu Youran mengekor di belakangnya.
Ketika ia dengan hati-hati meletakkan Qiao Shanxi yang sedang tidur pulas ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya, Jiang Haoxiang menarik napas panjang lega.
Melihat semuanya sudah beres, Gu Youran berencana ikut masuk ke dalam.
"Pluk", Jiang Haoxiang langsung menutup pintu mobil bagian belakang tanpa ampun, "Di depan!"
Ucapannya bernada dingin.
Gu Youran pun dengan patuh segera duduk di kursi penumpang depan, mengenakan sabuk pengamannya, dan diam tanpa bergerak.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengawasi setiap gerak-gerik Jiang Haoxiang melalui kaca spion tengah.
Sebentar pria itu merapikan rambut poni Qiao Shanxi, sebentar lagi membiarkan kepala wanita itu bersandar di bahunya.
Singkatnya, bagaimana pun caranya agar wanita itu merasa nyaman, begitulah cara ia memperlakukannya agar bisa tidur pulas.
Di dalam tidurnya yang lelap, Qiao Shanxi tiba-tiba bermimpi entah apa. Saat Gu Youran masih sibuk mengamati Jiang Haoxiang, wanita itu tiba-tiba mengulurkan satu tangan dan perlahan-lahan menyusupkannya ke dalam jas Jiang Haoxiang.
Gu Youran sontak menoleh ke belakang dengan kaget, dan mendapati Qiao Shanxi sedang mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, tersenyum begitu lebar seolah-olah sedang memimpikan sesuatu yang sangat indah.
Namun, ngomong-ngomong, apakah boleh bertindak seenaknya seperti itu hanya karena sedang bermimpi indah?