Bab Dua Puluh Satu: Bukan, Itu Bukan Begitu...
“Wah, sudah baca buku sebentar, jadi berani juga ya! Aku memang tidak mau memungutnya, terus kenapa? Mau apa kau padaku?” Lian Xingrui menatap Qiao Shanxi dengan pandangan tajam, lalu mengangkat kakinya dan menginjak-injak buku milik Shanxi beberapa kali hingga sampulnya hampir robek.
Menghadapi anak seumur jagung seperti ini, Qiao Shanxi hanya pura-pura tidak melihat. Ia langsung melangkah pergi, berjalan perlahan menuruni tangga.
“Hei, bukumu!” seru Lian Xingrui dari belakang.
“Tak mau lagi! Kalau suka, ambil saja dan bacalah baik-baik!” Qiao Shanxi meninggalkan kata-kata itu dan perlahan menghilang di balik pintu perpustakaan.
Lian Xingrui begitu marah hingga menginjak-injak buku itu dengan lebih keras lagi. Para mahasiswa yang lewat, kebanyakan pencinta buku, kaget melihat seorang gadis memperlakukan buku seperti itu. Mereka pun mulai menunjuk dan membicarakannya.
Akibatnya, ulah Lian Xingrui menarik perhatian petugas perpustakaan. Ia dipanggil ke ruang kepala perpustakaan, dan karena buku itu merupakan pinjaman atas nama Qiao Shanxi, Shanxi pun ikut dipanggil.
Lian Xingrui menatap Shanxi dengan angkuh, lalu sebelum Shanxi sempat bicara, ia tiba-tiba menangis, mengeluh, “Paman, semua ini gara-gara dia! Dia melemparku dengan buku, jadi aku terpaksa menginjaknya demi membela diri. Sebenarnya aku sangat suka membaca!”
Lian Xingrui, yang berlatar belakang tari, pura-pura tampil menyedihkan, menangis tersedu-sedu sambil menunjuk-nunjuk Shanxi.
Kepala perpustakaan adalah pria paruh baya yang berpenampilan sangat rapi. Ia duduk di tengah bangku panjang, menyesap tehnya, lalu memandang Qiao Shanxi dan bertanya, “Benarkah begitu?”
Faktanya, Lian Xingrui sudah lebih dulu bersekongkol dengan kepala perpustakaan lewat hubungan keluarganya, bermaksud memberi pelajaran pada Qiao Shanxi, meskipun Shanxi tak berbuat apa-apa.
Qiao Shanxi menggeleng pelan. “CCTV di perpustakaan bisa jadi saksi. Bukuku tadi dijatuhkan olehnya, lalu ia menginjak-injaknya.”
Kepala perpustakaan sepertinya lupa akan adanya kamera pengawas. Matanya menyipit, “Itu... nanti akan saya minta rekan saya untuk memeriksanya. Saya tanya, buku itu kau yang pinjam, bukan?”
Ia terus menatap Qiao Shanxi.
“Benar,” jawab Qiao Shanxi tanpa gentar.
“Kalau begitu, kau sudah pinjam, lalu membiarkannya tergeletak di lantai sampai diinjak orang lain. Ini juga tanggung jawabmu, bukan?” Kepala perpustakaan jelas hendak menakut-nakuti Qiao Shanxi.
Tiba-tiba Qiao Shanxi mengeluarkan tiga lembar uang merah dari tasnya, lalu menyerahkannya ke kepala perpustakaan. “Ini cukup, kan?”
“Apa?” Kepala perpustakaan tak menyangka Qiao Shanxi mengambil langkah ini. Ia menatap uang itu dengan mata membelalak.
Siapa pun tak akan menolak uang, maka dengan cepat ia menyelipkan tiga lembar uang merah itu ke sakunya.
“Kalau begitu, aku pergi!” Qiao Shanxi membalikkan badan, menguap, lalu hendak pergi tanpa menoleh.
“Eh, tunggu… Mahasiswa, urusanmu belum selesai!” Kepala perpustakaan awalnya memang berniat memberi pelajaran pada Qiao Shanxi, tak menyangka ia akan pergi secepat itu.
“Bukankah sudah kuberi uang? Kau juga sudah menerimanya! Uang itu sudah lebih dari cukup untuk ganti rugi buku itu, lagipula bukunya masih bisa diperbaiki, cuma sedikit rusak!”
Seketika itu juga kepala perpustakaan bungkam.
Lian Xingrui melihat Shanxi menghilang begitu cepat, hatinya dipenuhi rasa benci.
“Paman! Ini bagaimana urusannya?”